NovelToon NovelToon
KULTIVATOR 5 ELEMEN

KULTIVATOR 5 ELEMEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Spiritual / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: roni alex saputra

Arkan, seorang pemuda yang dianggap sampah kultivasi, ternyata menyimpan kekuatan terlarang di telapak tangannya. Saat 5 elemen bersatu dengan kehampaan Void, satu galaksi pun harus tunduk. Saksikan perjalanan Arkan

Body Tempering

Qi Gathering

Qi Foundation

Core Formation

Soul Realm 2 pengikut nya

Earth Realm

Sky Realm cici

Nirvana Realm arkan

Dao Initiate

Dao Master Dao arkan& cici

Sovereign

Divine

Universal (Kaisar Drak)

Eternal Ruin (Puncak Arkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roni alex saputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERJAMUAN RACUN DI PADANG TERLARANG

Lembah Embun Abadi telah menjadi kenangan mati di belakang mereka. Kini, di hadapan Arkan dan Tiga Pilar Kehampaannya, terbentang wilayah yang dikenal sebagai Padang Alkemis Terlarang. Jika Lembah Embun adalah paru-paru logistik kekaisaran, maka tempat ini adalah empedu beracunnya.

Langit di sini tidak mengenal warna biru. Awan-awan menggantung rendah seperti gumpalan kapas yang direndam dalam cairan tembaga berkarat. Udara tidak lagi membawa oksigen, melainkan partikel mikroskopis bernama Miasma Atma—sebuah mahakarya racun dari Senopati 2, Vaelen Sang Alkemis Gila.

"Berhenti," suara Arkan memecah keheningan yang menyesakkan.

Srikandi-Tan, Liem-Banyu, dan Cici langsung menghentikan langkah. Mereka berdiri tepat di garis perbatasan di mana rumput hijau berubah menjadi tanaman ungu kehitaman yang berdenyut seperti pembuluh darah.

"Tuan," Liem-Banyu maju satu langkah, matanya yang bersinar dengan percikan petir biru menatap jauh ke depan. "Sensor spiritualku mendeteksi distorsi biologis dalam skala masif. Udara di depan bukan lagi elemen alam. Vaelen telah mengubah atmosfer menjadi sebuah 'cairan' pencerna jiwa. Bahkan seorang Kultivator tingkat Nirvana Awal akan mencair menjadi genangan nanah dalam sepuluh tarikan napas."

Srikandi-Tan mendengus, tangan kekarnya mencengkeram gagang tombak beratnya. "Hanya pengecut yang bertarung dengan udara. Biarkan hamba meratakan kabut ini dengan satu tebasan, Tuan."

Arkan menatap kabut hijau pekat yang berputar-putar di depan mereka. Matanya yang hitam pekat, tanpa pupil yang jelas, seolah-olah sedang membaca struktur atom dari racun tersebut.

"Jangan gegabah, Srikandi," ucap Arkan tenang. "Racun ini bekerja dengan cara mengikatkan diri pada energi kehidupan (Qi). Semakin besar tenaga yang kau keluarkan untuk menyerangnya, semakin cepat racun ini masuk ke dalam sirkulasi darahmu. Vaelen ingin kita melawan, karena perlawanan adalah katalis bagi senjatanya."

Arkan melangkah maju, melintasi garis perbatasan tanpa menggunakan pelindung energi apa pun.

"Tuan!" Cici memekik kecil, namun ia segera terdiam saat melihat fenomena yang mustahil.

Saat kaki Arkan menyentuh tanah Padang Terlarang, tanaman berdenyut di bawahnya langsung layu dan berubah menjadi abu kelabu. Kabut hijau yang kelaparan itu menerjang Arkan, mencoba masuk melalui pori-pori kulitnya, mencoba membakar paru-parunya. Namun, begitu partikel miasma itu menyentuh radius satu inci dari tubuh Arkan, mereka berhenti.

Partikel-partikel hijau itu gemetar, lalu warnanya berubah menjadi hitam pekat sebelum akhirnya hancur menjadi ketiadaan.

[Skill Pasif: Kehampaan Absolut]

"Apa yang tidak ada, tidak bisa dicemari," gumam Arkan. Suaranya tidak terdengar keras, namun merambat melalui getaran ruang hingga ke sudut-sudut terdalam padang tersebut. "Vaelen, kau mencoba meracuni Kehampaan dengan materi? Itu seperti mencoba mewarnai kegelapan dengan tinta hitam. Sia-sia."

[Di Puncak Benteng Kuali Raksasa]

Ribuan mil dari perbatasan, di dalam sebuah benteng yang dibangun menyerupai kuali alkimia raksasa, seorang pria kurus dengan jari-jari panjang yang cacat tersentak. Di depannya, sebuah bola kristal yang menampilkan perbatasan wilayahnya retak.

Vaelen Sang Alkemis menarik napas tajam. Bau belerang dan ramuan memenuhi ruangan laboratoriumnya. "Bagaimana mungkin? Miasma Atma adalah hasil ekstraksi dari sepuluh ribu jiwa budak yang mati dalam penderitaan. Tidak ada hukum di dunia ini yang bisa menahannya tanpa sirkulasi energi!"

Ia menatap sosok Arkan di bola kristal yang retak itu. Sosok yang berjalan dengan tenang di tengah badai racun, seolah-olah ia sedang berjalan di taman bunga.

"Gunakan Legiun Ghouls!" perintah Vaelen kepada asistennya yang gemetar. "Aktifkan Protokol Ke-7! Jangan biarkan mahluk itu mendekati gerbang kedua!"

[Kembali ke Padang Terlarang]

Tanah mulai bergetar. Dari balik gundukan tanah beracun, ribuan mahluk mulai merangkak keluar. Mereka adalah Ghouls—mantan prajurit elit yang telah dimodifikasi secara biologis oleh Vaelen. Kulit mereka berwarna abu-abu pucat, otot-otot mereka menonjol secara tidak wajar, dan dari mulut mereka keluar cairan asam yang mampu melubangi baja.

Jumlah mereka ribuan, mengepung Arkan dan Tiga Pilarnya dari segala arah.

"Sampah-sampah hasil eksperimen," Cici maju ke depan Arkan, sayap hitam-emasnya membentang megah, menciptakan hembusan angin yang membelah kabut. "Tuan, izinkan hamba yang membersihkan hama ini. Mereka terlalu kotor untuk menyentuh ujung jubah Anda."

Arkan mengangguk pelan. "Lakukan. Tapi ingat, jangan biarkan satu tetes pun darah mereka menyentuh tanah. Darah mereka adalah bahan peledak alkimia."

Cici tersenyum sinis. "Darah? Di hadapan api hamba, bahkan darah pun akan lupa cara untuk mencair."

Cici melesat ke udara. Ia mengangkat tangannya ke langit, dan seketika, sebuah pusaran energi hitam-emas terbentuk di atas kepalanya.

[TEKNIK DAWARA: API KEHAMPAAN KOSMIK]

Bola api itu jatuh ke tengah-tengah legiun Ghouls. Tidak ada ledakan api merah yang panas. Yang terjadi adalah ledakan api dingin yang berwarna hitam pekat. Api itu tidak membakar daging, melainkan membakar "konsep" keberadaan mahluk-mahluk itu

Setiap Ghoul yang tersentuh api tersebut tidak berteriak. Mereka hanya membeku, lalu tubuh mereka mulai terurai menjadi partikel cahaya hitam yang kemudian terhisap masuk ke dalam sayap Cici. Dalam hitungan detik, ribuan prajurit modifikasi itu hilang tanpa menyisakan jasad, tanpa menyisakan bau darah.

Liem-Banyu dan Srikandi-Tan juga tidak tinggal diam. Liem bergerak seperti kilat, pedangnya tidak lagi menebas fisik, melainkan memotong jalur energi di atmosfer, membuat sisa-sisa racun di sekitar mereka terkondensasi menjadi kristal padat yang kemudian dihancurkan oleh tombak Srikandi.

Arkan terus berjalan di tengah pembantaian yang sunyi itu. Matanya terkunci pada benteng kuali di cakrawala.

"Vaelen," suara Arkan kembali menggema, kali ini lebih berat dan penuh tekanan yang sanggup meretakkan mental siapa pun yang mendengarnya. "Kau telah menghabiskan ratusan tahun mencoba menciptakan 'Kehidupan Abadi' melalui botol-botolmu. Hari ini, aku datang untuk menunjukkan padamu satu-satunya hal yang abadi di alam semesta ini."

Arkan berhenti sejenak, lalu mengangkat tangan kanannya ke arah langit. Di ujung jarinya, muncul sebuah titik hitam kecil—sebuah Singularitas yang jauh lebih besar dari yang ia gunakan pada Elara-Vento.

"Keabadian yang sesungguhnya... adalah Kehampaan."

[TEKNIK KOSMIK: DISTORSI CAKRAWALA]

Seketika, seluruh langit di atas Padang Terlarang melengkung. Awan hijau tembaga itu terseret masuk ke satu titik di atas jari Arkan. Tekanan gravitasi meningkat jutaan kali lipat. Tanah di bawah mereka mulai amblas, membentuk kawah raksasa yang sempurna melingkar.

Vaelen yang melihat hal itu dari bentengnya hanya bisa jatuh terduduk. Ia melihat "dunia" yang ia ciptakan sedang diperas seperti kain basah oleh satu orang. Semua ramuan, semua racun, dan semua hasil eksperimennya tidak lebih dari sekadar mainan anak-anak di hadapan kekuatan murni kehampaan.

"Persiapkan dirimu, Alkemis," bisik Arkan, suaranya kini terdengar tepat di belakang leher Vaelen, meski Arkan masih berada bermil-mil jauhnya. "Perjamuanmu telah usai. Sekarang, saatnya kau menjadi bahan dasar dari ketiadaan-Ku."

Arkan melangkah kembali, setiap jejak kakinya kini memancarkan cahaya ungu pekat yang menandakan bahwa ia telah mencapai puncak kemurkaan yang dingin. Gerbang ke-2 sudah berada di depan mata, dan dunia sekali lagi akan menyaksikan bahwa tidak ada tempat bersembunyi bagi mereka yang berani melawan sang Sovereign Kehampaan.

1
RYUU
keren
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
etdah nama guru gurunyaa
RYUU: kalau aku gass dan trobos aja nanti rame sendiri orang bisa masa iya kita ngak 🤣
total 22 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!