Malu memiliki suami seorang kuli bangunan, Nadira Maheswari terus mendesak Arga untuk menceraikannya.
Semula permintaan itu ditolak oleh Arga. Ia tidak ingin putri semata wayang mereka tumbuh tanpa orangtua yang lengkap.
Namun, setelah mengetahui istrinya ternyata telah memiliki pria lain, akhirnya Arga menyerah. Ia merasa egois karena menahan wanita yang tidak bisa dia bahagiakan, bahagia bersama pria lain.
"Kalau kamu merasa sanggup bertanggung jawab atas dia, datanglah kemari. Temui aku secara jantan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nelramstrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terpojok
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Nadira yang sontak tertoleh ke samping.
"Mas! Kenapa kamu pukul aku?!" bentak Nadira.
Bukan air mata, melainkan amarah yang terpancar dari sorot matanya.
Bima mencengkram rahang calon istrinya. "Dasar bodoh. Apa kamu masih berhubungan dengan anak kamu itu?!" desisnya.
"Sudah kukatakan, putuskan hubunganmu dengan masalalumu. Apa kamu tau, Mama jadi curiga padamu?!"
Nadira terdiam sejenak, sebelum menepis tangan Bima dengan kasar. "Aku nggak hubungi mereka, Mas. Aku juga nggak tau jika itu Andini yang telpon."
Bima mengibaskan tangan kasar di depan wajah. "Kamu ceroboh, Nadira. Mana hp mu?" tanyanya memaksa.
"Kamu mau apa, Mas?" Nadira mundur ke belakang, berusaha mempertahankan ponsel miliknya.
Bima tidak memberikan kesempatan. Ia langsung menyambar tas miliknya Nadira dan merebut ponselnya.
"Hp ini bakal jadi masalah untuk kita ke depannya," kata Bima sembari memperlihatkan benda pipih itu ke depan wajah calon istrinya.
Nadira berusaha merebut ponsel itu, namun Bima sudah lebih dulu membantingnya ke lantai. "Aku nggak akan ngizinin kamu pegang hp lagi!'
"Mas! Itu hpku. Aku yang membelinya!"
Nadira menjerit, lalu berjongkok dan mengambil ponsel yang sudah retak. Saat berusaha dinyalakan, ternyata benda itu telah mati.
"Hpku... Mas... Hpku!"
Ia menatap ponsel miliknya yang dia dapatkan setelah hampir setengah tahun bayar angsuran. Air mata merebak, mengingat perjuangannya demi mendapatkan benda itu, dia harus makan hanya dengan sayuran liar.
"Itu hanya hp murah. Setelah aku yakin kamu nurut, aku akan belikan yang baru," ucap Bima dengan datar lalu berbalik dan pergi meninggalkan Nadira yang mulai terisak.
Pagi harinya...
Nadira terbangun dengan sekujur tubuh yang terasa pegal. Rasa marah pada Bima dan lelah karena mengurus semua pekerjaan rumah, membuat dia malah untuk bangkit dari ranjang.
Pintu kamar tiba-tiba dibuka dengan kasar, dan Marsinah muncul dengan wajah merah padam.
"Bagus sekali kamu, Nadira. Sudah numpang, terus bisa berleha-leha!" Kalimat tajam itu keluar dari mulut Marsinah.
Wanita tua itu menarik selimut Nadira dengan kasar dan kembali menghardiknya. "Apa kamu berubah pikiran jadi menantu keluarga ini, hah?! Jam segini masih tidur, bukannya menyiapkannya sarapan!"
Nadira mendudukkan tubuh dan memasang wajah memelas. "Aku kurang enak badan, Nek. Badanku rasanya sangat sakit. Beberapa hari ini, aku kesulitan tidur dan capek mengurus rumah."
"Cih! Dasar pemalas. Aku pikir wanita desa itu rajin, ternyata sama saja seperti calon mertua kamu itu. Kalian pemalas dan pandai berbohong!"
"Nek!" bentak Nadira tak terima.
"Sejak aku datang ke rumah ini, apa kalian membiarkan aku istirahat sebentar saja?!" Ia perlahan bangkit, menatap Marsinah menantang.
Dalam benaknya, Marsinah hanya wanita tua yang lemah. Tak akan bisa menang melawannya.
"Aku sudah berusaha menjadi calon menantu yang baik. Tapi, kalian justru keterlaluan. Memperlakukan aku seperti pembantu!" teriak Nadira.
Ia berjalan ke hadapan Marsinah dan mencengkram lengan wanita tua itu. "Aku ini calon istri cucumu, bukan pembantu di rumah ini!"
Marsinah berusaha melepaskan tangan Nadira, namun wanita itu seolah ingin balas dendam atas penghinaan yang dia dapatkan.
"Lepas, Nadira! Apa kamu sudah gila?!"
Nadira mengeratkan cengkraman hingga giginya saling beradu.
Marsinah berteriak kesakitan. Teriakan itu berhasil menarik perhatian Bima dan ayahnya yang berada di ruang makan.
"Aku nggak akan melepaskan kamu, Nenek tua!" desis Nadira.
Langkah kaki terdengar mendekat. Namun, kemarahan sudah akal sehat Nadira. Ia hanya ingin melampiaskan kemarahannya.
Bima dan Mardi merangsek masuk.
Bima mendorong tubuh Nadira dengan keras, membuat cengkramannya spontan terlepas. Tubuhnya jatuh ke lantai dengan cukup keras.
"Apa yang kamu lakukan, Nadira? Apa kamu sudah berubah pikiran menjadi menantu keluarga ini?!" banyak Bima sambil menunjuk wajah Nadira yang tak menunjukkan penyesalan sedikitpun.
"Aku hanya lelah, Mas! Dan, Nenek... dia nggak ngizinin aku istirahat. Aku juga manusia. Aku ingin istirahat!" alibi Nadira.
"Bima, pulangkan saja dia ke kampung halamannya, biar jadi gembel lagi!" sentak Marsinah sambil memegangi dada yang terasa sesak.
Nadira membelalak. Itu bukan pilihan yang tepat untuk saat ini. Bisa-bisa dia diejek habis-habisan oleh Arga.
"Nggak, Mas. Aku nggak mau pulang!" geleng Nadira.
"Aku tetap akan jadi istrimu!"
"Nggak, Bima. Nenek sudah putuskan, kamu harus pulangkan wanita pemalas ini. Hanya modal wajah yang cantik, apa dia kira bisa bersikap seenaknya!" desak Marsinah.
Nadira bangkit. Ia menyentuh tangan Bima, namun ditepis dengan kasar.
"Mas, aku mohon... jangan pulangkan aku. Kalo aku pergi, siapa yang akan mengurusi Mama? Tidak mungkin Nenek, kan?" Nadira memasang wajah sendu sambil melirik ke arah Marsinah.
Marsinah mendengus lalu memalingkan wajah.
Bima masih diam, tak memberikan reaksi apapun. Perbuatan Nadira yang sudah berani melawan neneknya, baginya itu kesalahan fatal. Namun, jika dia memulangkan wanita itu, siapa yang akan mengurusi ibunya.
Membayar perawat, itu membutuhkan biaya lumayan besar.
"Ibu, sudahlah. Biarkan Nadira tetap di sini." Mardi yang biasanya hanya diam, kini mulai membuka suara.
"Mardi, dia udah nyerang Ibu. Kamu mau biarin dia gitu aja?" Marsinah menatap wajah putranya dengan sorot mata tajam.
"Nggak gitu, Bu. Kita kan sebentar lagi akan jadi keluarga. Nadira mungkin belum terbiasa dengan kebiasaan di rumah ini. Jadi, biarkan dia menyesuaikan diri dulu," tutur Mardi berusaha memberi pengertian.
"Tapi dia udah nyerang ibu, Mardi!"
"Kalo gitu, Ibu berikan saja dia hukuman," usul Mardi.
Nadira membelalak. "Hukuman? Hukuman apa yang kalian bicarakan?" Ia mulai panik dan cemas.
Mardi dan Marsinah saling berpandangan dengan penuh arti, sebelum saling menganggukkan kepala.
Bersambung...