Kevin adalah definisi pekerja korporat yang malang: terjepit di antara makian bos yang toksik dan tumpukan dokumen yang tak ada habisnya. Pelariannya hanyalah dunia anime dan manga di sela waktu lembur yang menyiksa.
Namun, hidupnya berubah total saat sang ayah kalah judi dan terlilit hutang raksasa pada rentenir. Sebagai penebusan dosa finansial ayahnya, Kevin "dijual" dalam sebuah pernikahan kontrak kepada Ashley—pewaris konglomerat yang dingin, perfeksionis, dan terobsesi pada kemewahan.
Kevin mengira hidupnya akan menjadi neraka di bawah telapak kaki Ashley. Namun, kenyataannya justru terbalik.
Di mansion megah itu, Kevin menemukan surga bagi seorang wibu introvert. Tanpa tekanan kantor, tanpa bos yang marah, dan didukung uang bulanan yang melimpah, ia resmi menjadi "pengangguran kaya" yang dilayani 24 jam. Di balik dinding marmer dan kemewahan Ashley, Kevin bebas menikmati hobi dan kemalasannya.
Tapi, apakah Ashley benar-benar hanya butuh suami pajangan, atau ada harga mahal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WesternGirl10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
09
Pagi itu, sinar matahari yang lembut menembus jendela kamar utama yang luas, menciptakan garis-garis cahaya di atas karpet beludru. Hari ini adalah tonggak sejarah baru bagi Kevin; hari pertamanya resmi menyandang status sebagai mahasiswa jurusan Bisnis di Universitas Collux.
Kevin berdiri mematung di depan cermin besar yang terbingkai emas, menatap tumpukan pakaian di atas etalase perhiasannya Ashley dengan ekspresi bimbang.
Tak lama kemudian, suara pintu kamar mandi yang terbuka memecah keheningannya. Ashley melangkah keluar, rambutnya masih basah dan dibalut jubah mandi sutra berwarna putih salju yang elegan. Aroma sabun bergamot yang mewah segera memenuhi ruangan.
"Ah, Ash... menurutmu, mana yang lebih pantas kupakai hari ini?" Kevin berbalik, memegang dua buah kemeja di tangan kanan dan kirinya. "Biru atau putih?"
Ashley menatap Kevin sekilas melalui pantulan cermin sembari meraih pengering rambut. Suara desing mesin itu terdengar pelan saat ia mulai mengeringkan rambutnya yang panjang.
"Keduanya terlihat bagus di tubuhmu," jawab Ashley dengan nada tenang yang menjadi ciri khasnya. "Tapi karena ini hari pertamamu, kemeja putih akan memberikan kesan yang lebih profesional dan bersih."
"Putih, ya?" Kevin kembali menatap bayangannya. "Tapi aku merasa biru akan membuatku terlihat lebih santai dan tidak terlalu kaku sebagai mahasiswa baru."
Ashley mematikan pengering rambutnya, suasana mendadak hening. Ia menoleh ke arah suaminya dengan satu alis terangkat. "Lalu, untuk apa kau bertanya pendapatku kalau pada akhirnya kau sudah punya keputusan sendiri?"
Kevin meringis kecil, merasa sedikit konyol. "Yah, kau benar. Tapi sepertinya aku tidak akan memakai keduanya." Ia meletakkan kembali kemeja itu dan mengambil sebuah setelan kasual berwarna cokelat tanah dengan motif mosaik minimalis yang sangat modern.
Ashley memperhatikannya sejenak sebelum berujar pendek, "Kau punya proporsi tubuh yang bagus, Kevin. Kau cocok memakai apa pun, jadi berhentilah membuang waktu hanya untuk bingung memilih baju." Kalimat itu terdengar seperti pujian dingin, namun bagi Kevin, itu adalah suntikan kepercayaan diri yang cukup besar.
Sesi sarapan kemudian berlangsung dalam keheningan yang familiar. Tidak ada percakapan berat; hanya denting sendok yang beradu dengan mangkuk porselen. Kevin kini mulai terbiasa dengan menu sayuran hijau yang melimpah di piringnya. Bahkan jamu berwarna hijau pekat yang biasanya ia benci, kini terasa lebih bisa diterima oleh lidahnya. Semua itu berkat campur tangan Ashley yang secara pribadi menginstruksikan kepala koki untuk menyeimbangkan rasa pahitnya tanpa menghilangkan nutrisinya.
"Jonathan masih akan mengawalmu hari ini," ucap Ashley tiba-tiba, memecah kesunyian tanpa mengalihkan pandangan dari tablet di tangannya. "Dan begitu juga untuk hari-hari seterusnya."
Kevin tersedak potongan brokoli. "Apa? Kenapa harus selamanya?"
"Aku hanya ingin memastikan keamananmu tetap terjamin, Kevin. Dunia luar tidak sesederhana yang kau bayangkan," jawab Ashley tegas.
Melihat raut wajah Kevin yang mulai muram, ia menambahkan, "Jika kau merasa risih, aku sudah memerintahkannya untuk mengenakan pakaian kasual. Dia akan mengawasimu dari jarak tiga meter secara diam-diam. Tidak ada yang akan menyadari bahwa dia adalah pengawal pribadimu."
Kevin menghela napas pasrah, menyadari bahwa berdebat dengan Ashley dalam hal keamanan adalah sia-sia. "Baiklah, asal dia tidak berdiri tegak seperti patung di samping bangku kuliahku."
Setelah sarapan, Kevin bersiap di ruang tamu. Ia merapikan ranselnya, memasukkan beberapa buku literatur bisnis dan laptop keluaran terbaru yang lagi-lagi dari Giotech Titan—perangkat super tipis yang dikirimkan kurir tempo hari. Benda itu benar-benar sebuah kemewahan yang bahkan mahasiswa senior di fakultas teknologi pun akan iri melihatnya.
Kevin dan Ashley berangkat dengan mobil berbeda karena arah kantor C&T dan kampus Collux berlawanan. Bagi Kevin, ini adalah awal dari rutinitas baru. Sopir pribadinya kini akan bekerja setiap hari untuk antar-jemput, sebuah perubahan drastis mengingat biasanya sang sopir hanya bekerja sekali dalam empat atau lima bulan saat Kevin merasa perlu keluar rumah.
Setibanya di depan gerbang megah Universitas Collux, kehadiran Kevin langsung menjadi magnet perhatian. Begitu ia keluar dari mobil mewah tersebut, puluhan pasang mata langsung tertuju padanya. Dengan setelan cokelatnya yang elegan dan wajah yang segar setelah perawatan rutin, Kevin terlihat seperti model yang salah masuk ke area pendidikan.
Ia sudah menjadi topik hangat di kalangan mahasiswi sejak kunjungannya bersama Mike beberapa hari lalu. Kevin sempat tidak sengaja mendengar bisikan-bisikan saat ia berjalan melewati koridor.
"Lihat, itu dia si 'Pangeran Misterius' itu," bisik seorang mahasiswi sambil pura-pura sibuk dengan ponselnya.
"Kudengar dari anak hukum, dia itu anak tunggal Direktur Bank Nasional," timpal temannya dengan mata berbinar.
"Bukan, aku dengar dia itu putra mahkota sultan minyak dari Timur Tengah. Lihat saja jam tangan dan laptopnya, semuanya edisi terbatas yang belum rilis!"
Kevin hanya bisa menggelengkan kepala dalam hati. Ia merasa ironis; mereka menganggapnya sebagai anak konglomerat, padahal realitanya ia hanyalah seorang pria yang "diselamatkan" oleh seorang wanita tangguh melalui sebuah pernikahan yang rahasia. Anak sultan? Direktur Bank? Kevin ingin tertawa sekaligus merasa tertekan oleh ekspektasi yang salah sasaran itu.
Kelas pertamanya ternyata jauh lebih berat dari yang ia bayangkan. Sebagai universitas elit, tidak ada waktu untuk basa-basi atau perkenalan yang manis. Dosen langsung membombardir mahasiswa dengan teori ekonomi makro yang rumit.
Saat jam makan siang tiba, Kevin merasa otaknya sudah hampir mendidih. Sesuai janji, ia menemui Mike di kafetaria kampus yang luas dan bising. Ia menemukan sosok sahabatnya itu duduk di sudut dekat jendela besar yang menghadap ke taman.
"Bagaimana kelas pertamamu, Tuan Muda?" tanya Mike dengan nada mengejek saat Kevin duduk di depannya.
"Berantakan," keluh Kevin sambil menyandarkan punggung. "Dosennya tidak punya perasaan. Dia langsung memberikan materi berat yang sama sekali tidak ada yang tersangkut di otakku."
Mike tertawa terbahak-bahak, menarik perhatian beberapa orang di sekitar mereka. "Hahaha! Selamat datang di realita Collux, kawan. Aku sudah sering mendengar keluhan serupa dari mahasiswa baru di setiap fakultas. Kau akan terbiasa."
Kevin kemudian membuka tas ranselnya dan mengeluarkan sebuah kotak bekal mewah yang disiapkan oleh kepala koki pagi tadi. Mike menatap kotak itu dengan alis terangkat tinggi, ekspresinya antara bingung dan geli.
"Kau... membawa bekal sendiri? Serius?"
"Hm. Ini perintah 'tante kaya' yang kau maksud waktu itu," jawab Kevin dengan nada malas sambil membuka tutup kotaknya. Harum sayuran segar menguar, menampakkan susunan sayuran hijau yang sangat rapi dan estetik.
"Hahaha! Jangan bilang kau sedang menjalani program diet ketat?" Tawa Mike kembali pecah, kali ini lebih keras. "Pria dengan jam tangan jutaan dolar tapi makan bekal sayuran hijau di kafetaria? Ini benar-benar pemandangan yang langka, Kev!"
Kevin hanya bisa menghela napas panjang, menatap potongan asparagus di dalam kotaknya dengan pasrah.
"Tertawalah sepuasmu, Mike. Aku sendiri pun tidak punya kekuatan untuk membantahnya."
Kevin mulai menyantap makanannya, mengabaikan tatapan penasaran dari orang-orang di kafetaria yang mungkin sedang bertanya-tanya mengapa "anak sultan minyak" memakan bekal sayur di tengah keramaian. Di tengah riuhnya kafetaria, Kevin menyadari bahwa hidup barunya ini memang penuh dengan kepura-puraan yang mahal, namun entah mengapa, perhatian kecil Ashley lewat bekal dan pengawalan itu memberikan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.