Mirasih gadis yatim piatu yang di tinggal orang tuanya karena kecelakaan, di adopsi Pamannya.Tapi di balik kebaikan semu pamanya,ternyata semua harta ayah ibu nya di ambil semua ,dia dijadikan pembantu,kerap di siksa dan di pukuli hingga di jadikan tumbal pesugihan nya kepada genderuwo.Hanya secercah harapan kepada Aditya yang membuatnya kuat dan sabar menghadapi semuanya.. Apakah Aditya jujur dan setia janjinya kepada Mirasih?Sampai kapanpah Mirasih menjadi pengantin Ki Ageng sang Genderuwo itu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gelisah di Tanah Rantau
Di sebuah proyek pembangunan gedung bertingkat di sudut kota Jakarta yang bising, matahari terasa membakar kulit lebih ganas dari biasanya. Suara mesin pengaduk semen, dentuman palu yang menghantam paku, dan teriakan para pekerja bangunan menciptakan kegaduhan yang seharusnya bisa menenggelamkan pikiran siapa pun. Namun, bagi Aditya, semua kebisingan itu terasa jauh. Pikirannya tidak berada di atas perancah bambu setinggi sepuluh meter tempatnya berdiri sekarang. Pikirannya tertinggal di sebuah desa kecil di Jawa Tengah, di bawah pohon randu alas tempat ia meninggalkan separuh jiwanya.
Sudah tiga malam berturut-turut, Aditya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Setiap kali ia memejamkan mata di atas kasur tipis di barak pekerja, sebuah mimpi yang sama selalu datang menghantuinya.
Dalam mimpi itu, ia melihat Mirasih. Namun, itu bukan Mirasih yang tersenyum saat mereka berbagi kacang rebus. Ia melihat Mirasih yang mengenakan kebaya hitam usang, berdiri di tengah kegelapan hutan yang pekat. Wajah gadis itu sangat pucat, matanya sembab karena tangisan yang tak kunjung henti. Mirasih mengulurkan tangannya yang gemetar ke arah Aditya, mulutnya bergerak seolah memanggil namanya, namun tidak ada suara yang keluar kecuali isakan yang menyayat hati. Lalu, dari balik punggung Mirasih, muncul sepasang mata merah menyala yang sangat besar, dan sebuah tangan hitam berbulu menarik gadis itu masuk ke dalam kegelapan.
"Mirasih!" teriak Aditya dalam mimpinya.
"Aditya! Heh, Aditya! Kamu mau mati, hah?"
Sebuah teriakan keras membuyarkan lamunan Aditya. Ia tersentak, kakinya hampir saja terpeleset dari pijakan bambu yang sempit. Di bawahnya, Mandor darto berdiri sambil berkacak pinggang dengan wajah merah padam.
"Turun kamu! Cepat turun!" perintah sang mandor.
Aditya turun dengan tubuh yang gemetar, bukan karena takut ketinggian, tapi karena jantungnya masih berdegup kencang akibat bayangan mimpi itu. Begitu kakinya menginjak tanah, Mandor Darto langsung menghampirinya dan memukul pundaknya dengan gulungan kertas cetak biru.
"Kamu ini kenapa, Dit? Sudah tiga kali hari ini kamu hampir celaka! Tadi kamu salah pasang besi kolom, sekarang kamu melamun di atas perancah. Kalau kamu jatuh, aku yang repot lapor ke perusahaan!" bentak Mandor Darto.
"Maaf, Kang. Maaf... saya kurang enak badan," jawab Aditya sambil menunduk.
Mandor Darto mendengus. "Kurang enak badan atau kurang tidur? Kalau tidak fokus, mending kamu istirahat saja di barak. Jangan sampai nyawamu melayang sia-sia cuma karena melamun."
Setelah mandor pergi, seorang pemuda sebaya Aditya bernama Bagas mendekat. Bagas adalah teman satu desa Aditya yang juga ikut merantau. Ia memberikan sebotol air mineral dingin kepada Aditya.
"Kamu kenapa toh, Dit? Tumben banget. Biasanya kamu yang paling semangat kerja, paling rajin lembur supaya tabungannya cepat penuh. Tapi hari ini kamu kayak mayat hidup," tanya Bagas dengan nada prihatin.
Aditya meneguk air itu dengan rakus, mencoba membasahi tenggorokannya yang kering. "Aku merasa tidak tenang, Gas. Perasaanku tidak enak sekali."
"Soal apa? Uang kiriman buat ibumu sudah sampai, kan?"
"Bukan soal Ibu. Soal Mirasih," bisik Aditya.
Bagas menarik napas panjang. Ia sudah tahu cerita tentang Mirasih. Ia tahu bagaimana Aditya sangat mencintai gadis itu dan bagaimana janji yang mereka buat sebelum berangkat. "Mimpi lagi?"
Aditya mengangguk lemah. "Kali ini lebih nyata, Gas. Aku dengar dia memanggil namaku. Suaranya perih sekali. Aku punya firasat dia sedang dalam bahaya besar. Kamu tahu kan Paman Broto itu orangnya seperti apa? Aku takut setelah aku pergi, dia semakin semena-mena pada Mirasih."
"Ya, tapi kita baru di sini beberapa bulan, Dit. Tabunganmu belum seberapa. Kalau kamu pulang sekarang, apa yang mau kamu bawa untuk melamar dia? Sabar sedikit lagi," bujuk Bagas.
Jam istirahat pun tiba. Suara sirine berbunyi nyaring, menandakan para pekerja boleh melepas lelah sejenak. Aditya dan Bagas berjalan keluar dari area proyek menuju sebuah warung makan kecil di pinggir jalan yang biasa disebut Warteg. Warung itu cukup sederhana, dindingnya dicat hijau dengan deretan piring berisi lauk pauk di balik kaca.
Warung itu milik Bu dewi, seorang wanita paruh baya yang ramah. Namun, yang paling menarik perhatian para pekerja bangunan di sana adalah anak gadis Bu Dewi yang bernama Ningsih. Ningsih adalah gadis kota yang manis, kulitnya bersih dan selalu tersenyum ramah kepada para pelanggan, terutama kepada Aditya.
Begitu Aditya dan Bagas masuk, mata Ningsih langsung berbinar. Ia segera mengambil piring dan menyendokkan nasi tanpa perlu ditanya.
"Mas Aditya, ya? Tumben agak telat istirahatnya," sapa Ningsih dengan nada bicara yang lembut. Ia memberikan piring berisi nasi dengan porsi yang sengaja dibuat lebih banyak untuk Aditya. "Lauknya apa? Ayam bumbu bali atau telur dadar kesukaan Mas?"
"Apa saja, Ningsih. Terima kasih," jawab Aditya singkat. Ia duduk di bangku panjang kayu tanpa gairah.
Ningsih memberikan potongan ayam yang paling besar ke piring Aditya. "Mas Aditya kok mukanya pucat? Capek ya kerjanya? Ini, Ningsih buatin teh manis hangat juga, spesial buat Mas. Gratis deh."
Bagas yang duduk di sebelah Aditya menyikut lengan temannya sambil berbisik, "Tuh, ada yang perhatian. Ningsih itu cantik, Dit. Banyak anak proyek yang naksir, tapi cuma kamu yang dikasih porsi lebih."
Aditya hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman formalitas. Ia menghargai kebaikan Ningsih, tapi di dalam hatinya sama sekali tidak ada ruang untuk gadis lain. Baginya, secantik apa pun gadis di kota ini, tidak ada yang bisa menggantikan posisi Mirasih di hatinya.
Saat mereka mulai makan, Aditya kembali terdiam. Ia menatap piringnya, tapi yang terbayang adalah wajah Mirasih yang sedang memakan nasi sisa di dapur paman Broto.
"Gas," panggil Aditya pelan. "Aku ingat waktu terakhir aku di sungai sama Mirasih. Dia bilang dia takut ditinggal sendirian. Aku janji bakal bawa dia keluar dari rumah itu. Tapi sekarang, aku malah di sini, makan enak di warung, sementara aku tidak tahu dia sedang apa di sana."
Aditya mulai bercerita tentang kekejaman paman dan bibi Mirasih. Tentang bagaimana harta orang tua Mirasih dirampok habis, dan bagaimana Mirasih dijadikan pembantu di rumahnya sendiri. Bagas mendengarkan dengan serius, sementara Ningsih yang berpura-pura sedang mengelap meja di dekat mereka, diam-diam mencuri dengar.
Hati Ningsih berdenyut nyeri. Ia baru tahu kalau alasan Aditya selalu bersikap dingin dan tidak pernah menanggapi perhatiannya adalah karena ada seorang gadis di desa yang sangat ia cintai. Ada rasa cemburu, namun juga ada rasa kagum melihat kesetiaan Aditya.
"Setiap kali aku pegang cangkul atau angkat semen, aku selalu bayangkan wajahnya, Gas," lanjut Aditya, suaranya mulai serak. "Aku ingin cepat-setiap hari aku hitung tanggal. Tapi mimpi-mimpi itu... mimpi itu seperti peringatan buatku. Aku merasa Mirasih sedang menangis, dan tidak ada siapa-siapa yang memeluknya."
Bagas menepuk pundak Aditya. "Sabar, Dit. Doakan saja dia baik-baik saja. Kamu di sini berjuang buat dia juga, kan?"
"Iya, tapi kalau dia sudah tidak ada atau sudah hancur sebelum aku pulang, buat apa uang ini, Gas?" tanya Aditya dengan nada putus asa. Ia meletakkan sendoknya, nafsu makannya benar-benar hilang.
Ningsih mendekat, mencoba memberikan penghiburan meskipun hatinya sendiri sakit. "Mas Aditya... jangan terlalu banyak pikiran. Kalau Mas tulus, pasti Tuhan jaga gadis itu di sana. Diminum tehnya, Mas, biar badannya agak enakan."
Aditya menatap Ningsih, lalu mengangguk kecil. "Terima kasih, Ningsih."
Namun, di dalam kepalanya, suara Mirasih yang meminta tolong kembali terngiang. Suara itu begitu memilukan, seolah-olah Mirasih sedang berada di balik pintu kematian. Aditya mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia merasa ada sesuatu yang salah, sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar perlakuan kasar paman dan bibinya. Ia merasa ada kekuatan gelap yang mulai menyelimuti Mirasih, dan ia merasa sangat tidak berdaya karena terhalang jarak ratusan kilometer.
Malam itu, setelah pulang dari proyek, Aditya duduk di depan barak, menatap bulan yang sama dengan yang dilihat Mirasih di desa. Ia tidak tahu bahwa di saat yang sama, Mirasih sedang dimandikan air kembang untuk melayani mahluk ghaib. Ia tidak tahu bahwa gelang talinya sudah putus.
"Tunggu aku, Mir. Aku akan cari jalan untuk pulang lebih cepat," bisik Aditya pada angin malam yang berhembus ke arah timur.
Di balik pintu warung, Ningsih menatap punggung Aditya dari kejauhan dengan perasaan campur aduk. Ia menyukai Aditya, tapi ia tahu, cinta pemuda itu sudah mati dan terkubur di desanya bersama seorang gadis bernama Mirasih.
apa pasrah bgtu saja hidupmu
di permainankan paman bibi mu ??
sia sia pengorbanan orangtua mu selama hidup
bangkit donk
balas perbuatan busuk mereka
manusia busukk