NovelToon NovelToon
Dibalik Lampu Sorot

Dibalik Lampu Sorot

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Duniahiburan / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Andreas St. Clair adalah definisi dari kesempurnaan yang arogan. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris dinasti elit New York, ia tidak memiliki toleransi untuk kegagalan atau amatirisme. Baginya, film terbarunya hanyalah bisnis biasa, hingga ia dipasangkan dengan Seraphina Vanderbilt, Terkenal Gadis Manis Manhattan yang reputasinya sebersih salju.
Ketegangan memuncak di lokasi syuting saat adegan ciuman mereka gagal hingga enam kali.
Andreas, yang muak dengan kekakuan Seraphina, menghina bakat dan profesionalitasnya di depan semua orang. Namun, Andreas tidak tahu bahwa di balik sikap dingin Seraphina, tersimpan sebuah rahasia, itu adalah ciuman pertamanya, baik di depan kamera maupun dalam hidupnya.
Terluka dan dipicu amarah, Seraphina melepaskan topeng "gadis baik-baik" miliknya. Dia menantang ego Andreas dengan keberanian yang belum pernah dilihat dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Pagi itu, New York diselimuti kabut tipis yang dingin, seolah mencerminkan suasana hati sang pewaris tunggal St. Clair. Archelo St. Clair turun dari mobilnya di pelataran parkir khusus Elite High School dengan langkah yang begitu tenang namun mengintimidasi.

Tidak ada lagi sisa-mabuk semalam di wajahnya, ia telah membasuh dirinya dengan air es dan mengenakan seragam sekolahnya yang disetrika sempurna, meski ia sengaja tidak mengenakan dasi dan membiarkan kancing teratas kemejanya terbuka, sedikit sentuhan urakan yang justru membuatnya tampak semakin tak tersentuh.

​Di koridor sekolah, ia berjalan seperti hantu yang diagungkan. Siswa-siswi lain menyingkir secara otomatis, memberikan jalan bagi sang jenius yang sebentar lagi akan berangkat ke Harvard. Meski ia menghabiskan malam-malamnya di kelab dan memiliki toleransi alkohol yang gila, otak Archelo bekerja di frekuensi yang berbeda. Ia adalah tipe siswa yang bisa tidur di kelas namun meraih nilai sempurna dalam ujian kalkulus yang paling rumit sekalipun.

Baginya, pendidikan hanyalah formalitas untuk menyenangkan Kakek Arthur dan memenuhi standar keluarga St. Clair.

​"Chello, kau sudah lihat pengumuman pendaftaran asrama Harvard?" tanya seorang teman sekelasnya dengan nada ragu.

​Archelo hanya melirik sekilas, matanya yang tajam dan dingin membuat nyali penanya ciut. "Sudah. Jangan tanya hal yang membosankan," jawabnya pendek, suaranya sedingin es.

​Sepanjang hari, ia tidak banyak bicara. Ia adalah sosok misterius yang duduk di kursi paling belakang, menatap ke luar jendela dengan pikiran yang entah berada di mana. Gurunya pun tidak berani menegur saat ia terlihat tidak memperhatikan, karena mereka tahu Archelo sudah menguasai materi itu jauh sebelum pelajaran dimulai.

​Begitu bel pulang sekolah berbunyi, Archelo tidak langsung pulang ke rumah untuk belajar atau berlatih piano seperti anak-anak elit lainnya. Ia memacu mobilnya menuju sebuah gudang penthouse yang telah disulap menjadi markas rahasia di kawasan industri tua Brooklyn. Itu adalah wilayah kekuasaan Hernand, putra mahkota dari dinasti perminyakan yang hartanya tidak akan habis tujuh turunan, namun jiwanya sudah lama mati.

​Markas itu adalah simbol dekadensi. Lampu neon redup berwarna merah darah menyinari ruangan luas yang dipenuhi sofa-sofa beludru mahal yang sudah terkena noda minuman dan abu rokok. Ada sepuluh orang di sana—sepuluh pemuda paling berkuasa sekaligus paling rusak di New York.

​Saat Archelo masuk, aroma tajam bahan kimia langsung menyengat indra penciumannya. Hernand sedang duduk di tengah ruangan, dikelilingi oleh tiga wanita yang berpakaian sangat minim. Wajah Hernand pucat, matanya cekung dengan pupil yang melebar akibat pengaruh sabu-sabu.

​"Raja kita sudah datang!" seru Hernand dengan tawa serak yang terdengar menyedihkan. Ia melepaskan pelukannya pada salah satu wanita itu dan mencoba berdiri, namun tubuhnya goyah. "Chello, kau melewatkan pesta besar pagi ini. Julian baru saja membawa stok baru dari Meksiko."

​Archelo berdiri di ambang pintu, menyandarkan tubuhnya pada kusen kayu dengan tangan bersedekap. Ia menatap pemandangan di depannya dengan rasa miris yang dalam. Ke sepuluh orang di ruangan ini adalah anak-anak konglomerat atas yang seharusnya menguasai dunia, namun di sini mereka tampak seperti tikus-tikus yang sedang menggali kubur mereka sendiri.

​"Kau terlihat seperti mayat, Hernand," ucap Archelo tanpa ekspresi.

​Hernand tertawa getir, mengambil segelas minuman keras dan menenggaknya dalam sekali teguk. "Memang itu tujuanku. Jika aku mati di sini karena overdosis, mungkin ayahku akan berhenti memikirkan ladang minyaknya selama lima menit untuk datang ke pemakamanku. Bukankah itu romantis?"

​Archelo terdiam. Ia tahu alasan di balik kegilaan Hernand. Pria itu gonta-ganti wanita bukan karena ia haus seks, tapi karena ia haus akan tatapan seseorang yang peduli padanya. Ia memakai narkoba bukan untuk kesenangan, tapi untuk membungkam suara-suara di kepalanya yang mengatakan bahwa ia tidak diinginkan.

​Archelo berjalan menuju pojok bar, menuangkan vodka ke dalam gelas tanpa campuran apa pun. Ia duduk di antara mereka, menjadi bagian dari lingkaran itu, namun tetap terasa sangat jauh. Ia melihat Marcus sedang tertawa tidak jelas dengan seorang model di sofa seberang. Ia melihat kawan-kawannya yang lain sedang menghisap asap dari pipa kaca dengan tangan gemetar.

​"Kenapa kau masih di sini, Chello?" tanya salah satu teman mereka, seorang pewaris bank internasional yang tangannya dipenuhi bekas luka. "Kau pintar, kau akan ke Harvard, orang tuamu menyembah tanah yang kau injak. Kau tidak punya alasan untuk berada di sampah ini."

​Archelo menatap gelasnya, melihat pantulan matanya sendiri di permukaan cairan bening itu. "Mungkin karena di sini aku tidak perlu berpura-pura menjadi pahlawan. Di sini, aku hanya penonton dari kehancuran yang juga kurasakan."

​Meskipun Archelo jago minum dan sudah terbiasa dengan atmosfer kelab malam, ia tetap menjaga batas suci yang tidak akan pernah ia langgar. Ia tidak akan menyentuh jarum suntik, ia tidak akan menghisap serbuk putih itu, dan ia tidak akan tidur dengan wanita mana pun hanya karena pengaruh alkohol. Ia memegang kendali penuh atas dirinya sendiri, sementara teman-temannya sudah kehilangan kemudi sejak lama.

​Tiba-tiba, pintu markas terbuka lagi. Seorang gadis muda masuk, salah satu koleksi baru Hernand. Ia tampak bingung dan takut. Saat matanya bertemu dengan mata Archelo, ia terpaku.

Archelo adalah satu-satunya orang di ruangan itu yang tampak bersih, tajam, dan memiliki martabat, meski di tangannya ada gelas minuman keras.

​"Siapa dia?" tanya gadis itu pelan.

​"Dia? Dia adalah St. Clair. Malaikat pelindung kami yang sombong," ejek Hernand sambil kembali menghisap rokoknya.

​Archelo tidak menanggapi. Ia merasa mual melihat bagaimana Hernand memperlakukan wanita itu. Ada dorongan dalam dirinya untuk menyeret Hernand keluar dan menghajarnya agar sadar, namun ia tahu itu sia-sia.

Mereka semua adalah orang-orang yang sudah menyerah pada hidup.

​Sepuluh anak manusia di dalam markas itu adalah bukti nyata bahwa uang tidak bisa membeli ketenangan jiwa. Mereka adalah para pangeran yang dibuang oleh takhta mereka sendiri.

Dan Archelo, dengan segala kepintarannya dan masa depan cerahnya di Harvard, memilih untuk tetap berada di sana, menjadi saksi bisu bagi kehancuran teman-temannya, sekaligus menguji sejauh mana ia bisa berjalan di atas bara api tanpa ikut terbakar.

​Saat malam semakin larut, Archelo tetap duduk tegak sementara yang lain mulai tumbang satu per satu. Ia menatap bayangannya di cermin besar markas itu, ia tampak seperti Andreas St. Clair, namun dengan luka batin yang lebih dalam. Ia adalah pewaris kesempurnaan yang jatuh cinta pada kegelapan, seorang pemuda yang jago minum untuk melupakan bahwa dunia yang ia miliki sebenarnya sangatlah sepi.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Triana Oktafiani
Terloveh semua ceritamu ❤️❤️
ros 🍂: ma'aciww kak 😍
total 1 replies
isnaini_jk 28
Luar biasa
ros 🍂: Ma'aciww kak😍
total 1 replies
Siti Maryati
bagus .... bagus ..... ceritanya
ros 🍂: Ma'aciww kak 😍
total 1 replies
Siti Maryati
enak bacanya...bahasa tertata, alur cerita nya bagus
ros 🍂: Ma'aciww 😍
total 1 replies
Berlian Nusantara dan Dinda Saraswati
ini tuch bgus banget asli cuma baru nemu aja.... karna gak kepikiran judulnya Inggris gak nyambung di pencarian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!