Dipaksa menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam untuk menggantikan Kakak tirinya yang pergi melarikan diri menjelang pernikahan, Gia tak bisa menolak.
Gia berdiri di samping Tuan Ardiansyah yang berkuasa, dengan seluruh tubuh gemetar dan air mata yang menggenang di pelupuk mata.
Dia takut kalau Tuan Ardiansyah tau yang ada di balik kain veil itu adalah dirinya, bukan Siska Kakaknya.
Tapi tangan hangat dengan jari yang besar justru menggenggam tangannya.
"Bernapaslah, ikuti kataku. Semua akan baik-baik saja!"
Bagaimana jadinya jika Tuan Ardiansyah yang terkenal kejam itu justru tak seperti yang orang katakan. Dia justru begitu hangat dan perhatian, apa Siska akan menyesal telah meninggalkan pernikahan waktu itu?
Apa Siska akan kembali dan merusak kebahagiaan yang baru saja Gia dapatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia kecil Ares
Setelah sesi kopi pagi itu, suasana di antara mereka menjadi jauh lebih rileks, meski kecanggungan kecil masih sering muncul. Ares memutuskan untuk tidak langsung berangkat ke kantor. Ia mengajak Gia ke perpustakaan pribadi, bukan untuk belajar etika, melainkan untuk memperlihatkan sisi lain dari hidupnya.
"Gia, Mas mau kasih tahu sesuatu" Ucap Ares sambil menarik sebuah laci di meja kerjanya yang sangat rapi. Ia mengeluarkan sebuah kunci kecil berukir.
Gia hanya memperhatikan dengan rasa penasaran yang besar.
"Kunci apa itu, Mas?"
"Ini kunci ruangan di balik rak buku itu" Ares menunjuk ke arah sudut perpustakaan yang gelap.
"Bahkan Mama pun nggak punya kuncinya. Mas cuma mau kamu yang tahu selain Mas!"
Ares tidak langsung melangkah menuju rak buku itu. Ia justru menyandarkan punggungnya di pinggiran meja kerja, memerhatikan Gia yang tampak tegang sekaligus penasaran. Di perpustakaan yang tenang ini, aroma buku tua dan kayu cendana seolah mengunci mereka dalam dunia mereka sendiri.
"Kenapa Mas kasih tahu Gia?" Tanya Gia lirih, matanya melirik kunci di tangan Ares.
"Bukannya Mas bilang itu rahasia?"
Ares terkekeh, lalu menepuk ruang kosong di sampingnya, mengisyaratkan Gia untuk berdiri lebih dekat.
"Karena Mas nggak mau punya rahasia sama kamu. Lagipula, Mas rasa kamu orang yang paling bisa dipercaya di rumah ini"
Gia melangkah mendekat, namun matanya justru tertuju pada sebuah buku sketsa yang tergeletak di meja, buku yang diberikan Ares tempo hari. Di dalamnya, sudah ada beberapa coretan kasar buatan Gia tentang taman belakang mansion.
Ares mengambil buku itu, membolak-baliknya dengan pelan.
"Ternyata kamu beneran jago gambar ya, Gia? Mas suka detail pohon besar di pojok ini!"
Wajah Gia memerah. "Itu cuma coretan iseng pas Gia lagi nunggu Mas pulang kemarin!"
"Iseng tapi bagus begini?" Ares menatap Gia, lalu tiba-tiba ia meraih jemari Gia yang ternoda sedikit bekas pensil. Ia tidak merasa risih, justru mengusap noda hitam itu dengan ibu jarinya secara perlahan.
"Tangan ini... Mas nggak mau lihat tangan ini gemetar lagi kalau ada di dekat Mas!"
Gia tertegun, merasakan jemari Ares yang terasa hangat.
"Gia usahakan, Mas. Tapi Mas Ares sering banget bikin saya kaget!"
"Mas bikin kaget karena Mas galak, atau karena Mas ganteng?"
Gia sontak memalingkan wajah, menyembunyikan senyumnya yang tidak bisa ditahan.
"Dua-duanya, Mas"
Ares tertawa lepas, suara tawanya memantul di dinding-dinding perpustakaan yang tinggi. Ia merasa beban di pundaknya sedikit terangkat hanya karena percakapan ringan ini. Tanpa sadar, Ares menarik Gia ke dalam pelukan singkat, hanya sebuah dekapan satu tangan di bahu, tapi terasa sangat melindungi.
"Mas senang kamu mulai bisa bercanda, Gia. Mas mau kamu betah di sini bukan karena terpaksa, tapi karena kamu merasa ini rumah kamu!" Ares mengusap bahu Gia lembut.
"Oh iya, soal kunci tadi... di dalam sana ada banyak barang masa kecil Mas. Barang-barang yang Mas simpan karena Mas nggak mau Mama buang"
Gia mendongak, menatap Ares dengan mata bulatnya yang jernih.
"Barang apa, Mas?"
"Banyak hal. Mainan lama, foto Papa, sampai koleksi kaset yang Mas suka dengerin kalau lagi pusing" Ares menatap kunci itu sejenak sebelum menggenggam tangan Gia dan meletakkan kunci itu di telapak tangannya.
"Pegang dulu. Mas mau ambil sesuatu di laci bawah buat kita bawa ke dalam!"
Saat Ares berjongkok untuk mencari sesuatu, Gia menatap punggung suaminya dengan perasaan haru. Ares tidak memperlakukannya sebagai wanita asing yang "menumpang", tapi sebagai teman berbagi hal-hal paling pribadi.
Ares bangkit dari posisi berjongkoknya sambil membawa sebuah kotak kayu kecil yang tampak sudah sangat tua. Ia melihat Gia masih menggenggam kunci itu dengan sangat hati-hati, seolah takut benda kecil itu akan hancur jika ia menggenggamnya terlalu keras.
"Kok malah bengong? Sini, ayo bantu Mas buka pintunya!" Ucap Ares sambil menyenggol pelan bahu Gia dengan lengannya.
"Oh, iya Mas!" Gia tersadar dari lamunannya.
Mereka berjalan menuju sudut perpustakaan yang tertutup bayangan rak buku besar. Ares membantu Gia mengarahkan kunci itu ke sebuah lubang tersembunyi di balik ukiran kayu dinding. Dengan sekali putar, terdengar bunyi klik yang dalam, dan sebagian dinding itu bergeser, menyingkap sebuah ruangan kecil yang dipenuhi aroma kertas tua dan kayu cedar.
Di dalamnya tidak ada kemewahan marmer atau lampu gantung kristal. Hanya ada sebuah sofa tua yang tampak empuk, tumpukan kaset pita, dan sebuah pemutar musik kuno. Dindingnya dihiasi beberapa coretan tangan anak kecil yang sepertinya dibiarkan begitu saja.
"Selamat datang di satu-satunya tempat di rumah ini yang nggak diatur sama Mama" Bisik Ares, suaranya terdengar lebih santai, hampir seperti remaja yang menunjukkan markas rahasianya.
Gia melangkah masuk dengan perasaan dan tatapan takjub.
"Ini... tempat Mas Ares sembunyi kalau lagi sedih ya?"
Ares tertawa kecil sambil meletakkan kotak kayu yang ia bawa tadi ke atas meja kecil.
"Tahu saja kamu. Dulu, kalau Mas capek disuruh belajar bisnis terus sama Papa atau diomeli Mama soal nilai sekolah, Mas lari ke sini. Mas cuma mau jadi Ares, bukan calon pewaris Ardiansyah"
Ares kemudian membuka kotak kayu yang ia bawa tadi. Isinya adalah beberapa keping cokelat batangan dan dua botol minuman ringan kaca.
"Mas bawa harta karun buat kita" Ucap Ares sambil menyodorkan satu keping cokelat pada Gia.
"Ini cokelat favorit Mas dari kecil. Mama nggak pernah bolehin Mas makan ini karena katanya nggak sehat, jadi Mas selalu simpan stok rahasia di sini"
Gia menerima cokelat itu, hatinya merasa sangat hangat melihat sisi manusiawi dari suaminya yang biasanya terlihat sempurna ini.
"Mas Ares ternyata nakal juga ya waktu kecil!"
"Ssst... jangan kasih tahu siapa-siapa!" Goda Ares sambil mengedipkan sebelah matanya. Ia duduk di sofa tua itu dan menepuk sisi di sampingnya.
"Sini duduk, Gia. Mas mau dengerin satu lagu yang Mas suka banget"
Gia duduk di samping Ares, jarak mereka sangat dekat hingga bahu mereka bersentuhan. Ares memasukkan sebuah kaset pita ke dalam pemutar musik. Tak lama, melodi piano yang lembut dan sedikit berisik khas kaset lama memenuhi ruangan kecil itu.
"Ini lagu kesukaan almarhum Papa" Suara Ares terdengar lirih, tatapannya menerawang ke arah tumpukan kaset.
"Gia, jujur ya... Mas sebenarnya sering merasa kesepian di mansion sebesar ini. Orang-orang cuma lihat Mas sebagai mesin uang. Tapi sejak ada kamu di dapur tadi pagi, rasanya... tempat ini jadi nggak sesepi biasanya"
Gia menoleh, menatap profil samping wajah Ares yang terkena cahaya remang-remang.
"Gia juga sering merasa kesepian di rumah Bibi, Mas. Gia merasa nggak punya tempat. Mas tau sendiri Gia ini cuma anak haram Papa. Tapi di sini, meskipun Gia baru, Mas buat Gia merasa punya fungsi'"
Ares menoleh, mereka saling menatap dalam keheningan yang nyaman, diiringi melodi piano yang syahdu. Secara perlahan, Ares meraih tangan Gia dan menyandarkan kepala gadis itu ke bahunya.
"Sekarang kita nggak sendirian lagi, kan?" bisik Ares.
Gia tersenyum dalam dekapan Ares, ia merasakan detak jantung suaminya yang tenang. Di ruangan rahasia ini, di tengah tumpukan barang masa lalu, Gia merasa sesuatu yang aneh dalam dadanya mulai tumbuh berakar. Ia bukan lagi sekadar tamu atau pengganti, ia adalah bagian dari rahasia terdalam seorang Ares Ardiansyah.
sabar satria, dah maklumin aja orang lagi bucin mah suka begitu
Tuh semua jadi tahu kalau Gia istri Ares Ardiansyah, gak ada yg berani nganggu tuh di kampus