Di mata dunia, Banyu hanyalah seorang pemuda desa putus sekolah yang tidak memiliki masa depan. Kehilangan kakeknya dan divonis memiliki penyakit bawaan membuat hidupnya seolah menemui jalan buntu. Namun, roda nasib berputar 180 derajat ketika Banyu secara tak sengaja mewariskan sebuah artefak kuno Kendi Penyuling Jiwa milik sang kakek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Juragan Tanah Baru
Setengah jam kemudian, Banyu keluar dari Toko Obat Candra dengan tas ransel yang terasa jauh lebih berat.
Di dalamnya, ada tumpukan uang tunai senilai Dua Ratus Juta Rupiah.
Ko Asun menepati janjinya. Seratus juta per batang. Dua batang, dua ratus juta. Tunai.
Meskipun zaman sekarang sudah ada M-Banking atau cek, Banyu yang norak sengaja meminta uang tunai. Ada kepuasan batin tersendiri saat memegang gepokan uang kertas berwarna merah yang masih wangi bank itu.
Namun, kepuasan itu segera berubah menjadi paranoia.
Sepanjang perjalanan menuju bank untuk menyetor uang itu, Banyu merasa setiap orang di jalanan menatapnya. Tukang parkir terlihat mencurigakan, ibu-ibu yang lewat terlihat seperti intel, bahkan kucing liar pun terlihat seperti komplotan begal.
Dia mendekap tas ranselnya erat-erat di dada seperti mendekap bayi, berjalan cepat dengan keringat dingin mengucur.
"Aman... aman... jangan liatin gue..." gumamnya.
Baru setelah dia masuk ke bank, menyetorkan uang itu ke teller yang cantik, dan melihat saldo rekeningnya bertambah nol-nya, Banyu bisa bernapas lega.
Saldo akhir: Rp 200.000.000,- lebih.
Banyu menatap layar buku tabungannya (dia masih tipe kuno yang suka cetak buku) dengan mata berbinar-binar. Dia ingin joget TikTok saking senangnya.
Tapi sedetik kemudian, senyumnya lenyap. Dia teringat ginseng yang dia kasih ke Pak Wijaya.
"Aduh... sakitnya tuh di sini," Banyu memegang dadanya. "Itu seratus juta melayang, Bos. Seratus juta! Bisa buat beli Xpander bekas!"
Namun, Banyu memang dasarnya orang yang optimis (dan agak gampang move on). Dia segera menghibur diri.
"Ah, ya udahlah. Anggap aja sedekah Sultan. Lagian ginseng di dalem kendi masih banyak. Itung-itung gue orangnya dermawan, ngasih kado seratus juta ke pejabat tanpa pamrih. Keren kan?"
Meski begitu, Banyu tidak berniat menjual sisa ginsengnya secara massal. Dia tahu hukum ekonomi dasar: Supply and Demand. Kalau dia banjiri pasar dengan Ginseng Liar, harganya bakal anjlok. Biarkan ginseng itu jadi aset cadangan devisa saja.
Dengan uang di tangan, Banyu memutuskan untuk tidak membeli giok dulu. Produksi Cairan Ajaib saat ini (sekitar 10 tetes per siklus) sudah cukup. Masalah utama sekarang adalah lahan. Halaman kosan sudah tidak muat menampung ambisinya.
Banyu butuh tanah. Luas, subur, dan aman.
Dia sadar dia tidak punya koneksi di bidang properti. Untungnya, dia punya sohib kental yang kerjanya keliling Jabodetabek: Herman.
Herman adalah anak juragan ekspedisi truk. Kerjanya mengawasi rute logistik, jadi dia kenal banyak orang di pinggiran kota. Begitu Banyu curhat butuh tanah, Herman langsung gerak cepat.
Dan benar saja, tak butuh waktu lama, Herman datang membawa kabar gembira.
"Nyu! Dapet gue!" seru Herman lewat telepon. "Ada tanah nganggur di daerah Desa Sukamakmur, kaki Gunung Pancar, Bogor. Katanya mau disewain!"
Banyu langsung semangat. "Gas! Anterin gue sekarang!"
---
Hari H survei lokasi.
Herman menjemput Banyu dengan mobil Pajero Sport putih miliknya (mobil wajib anak juragan). Mereka meluncur ke arah Sentul, Bogor. Perjalanan cuma memakan waktu satu setengah jam dari Jakarta karena lewat tol.
Desa Sukamakmur terletak di kaki gunung. Udaranya sejuk, beda jauh dengan Jakarta yang penuh polusi. Setengah wilayahnya adalah sawah produktif, setengahnya lagi perbukitan hijau yang asri. Ada sungai jernih yang membelah desa itu.
Begitu turun dari mobil, Banyu langsung jatuh cinta.
"Gila... adem bener, Man," Banyu menghirup napas dalam-dalam. "Ini sih surga. Cocok banget buat nanem sayur premium."
Herman, yang dasarnya anak kota yang suka dugem, juga ikut kagum. Dia menepuk bahu Banyu.
"Nyu, kalau lo beneran jadi juragan di sini, gue bakal sering-sering main ah. Sumpah, udaranya enak banget buat healing."
"Halah, gaya lo healing," cibir Banyu. "Lo emang betah ninggalin cewek-cewek lo di kelab malem Jakarta buat nemenin nyamuk di sini?"
Herman tampak berpikir keras, lalu menyeringai mesum. "Ya kan bisa gue bawa ke sini, Nyu. Gantian tiap minggu. Villa vibe gitu lho. Lo nggak keberatan kan kalau gue bawa 'temen' nginep?"
Banyu mengangguk mantap. "Tentu saja boleh. Tapi ada tarif per jam!"
"Anjir! Dasar mata duitan!"
"Biarin, daripada lo mata keranjang!"
Dua sahabat itu tertawa lepas sambil berjalan menuju Kantor Kepala Desa (Balai Desa).
Di sana, mereka disambut oleh seorang pria paruh baya dengan rambut klimis disisir ke belakang (pakai pomade kebanyakan), dan mata yang agak bengkak seperti kurang tidur. Dia memakai seragam safari PNS yang agak kekecilan di bagian perut.
Namanya Pak Jarkasih, Kepala Desa (Kades) setempat. Di desa ini, titah Pak Jarkasih adalah hukum.
Setelah basa-basi standar dan kopi disajikan, Pak Jarkasih langsung ke inti bisnis.
"Jadi begini, Mas Banyu, Mas Herman," suara Pak Jarkasih terdengar berat karena rokok. "Tanah bengkok desa yang mau disewakan itu ada sekitar satu hektar sawah produktif. Tapi... ada syaratnya."
"Syaratnya apa, Pak?" tanya Banyu.
"Kalau mau ambil sawah yang bagus itu, harus satu paket sama tanah bukit di sebelahnya. Luasnya sama, satu hektar juga. Jadi total dua hektar. Take it or leave it."
Banyu dan Herman saling pandang. Herman sudah memberitahu soal ini sebelumnya, jadi mereka tidak kaget. Tanah bukit itu sebenarnya lahan tidur yang agak sulit diolah, makanya Desa maksa menyewakannya satu paket biar laku.
"Nggak masalah, Pak. Bisa liat lokasinya dulu?" tanya Banyu.
"Boleh, mari saya antar."
Pak Jarkasih membawa mereka ke lokasi. Letaknya di ujung desa, sangat strategis. Sawahnya subur, dialiri irigasi teknis dari sungai yang jernih. Di belakang sawah itu, tanah langsung menanjak menjadi bukit kecil yang rimbun oleh pepohonan liar.
Banyu melihat potensi besar di sini. Sawah untuk sayuran, bukit untuk... well, mungkin untuk kandang ayam atau tanaman keras seperti pohon buah. Plus, lokasinya agak terpencil, jadi rahasia "teknologi pertanian" Banyu bakal aman dari mata-mata.
"Saya suka, Pak," putus Banyu cepat setelah kembali ke kantor desa. "Berapa sewanya?"
Begitu bicara soal uang, mata Pak Jarkasih yang bengkak langsung bersinar licik. Dia membetulkan posisi duduknya.
"Nah, karena ini tanah desa yang paling subur, harganya spesial. Untuk sawah, Dua Puluh Juta per tahun. Untuk bukit, Lima Juta per tahun. Sewa minimal lima tahun, bayar di muka per tahun."
Banyu menghitung cepat. 25 juta setahun.
"Tapi," lanjut Pak Jarkasih, menaikkan telunjuknya. "Ada deposit jaminan sebesar satu tahun sewa. Dan satu lagi... saya cuma terima CASH. Nggak terima transfer bank, apalagi cek. Ribet administrasinya."
Buru-buru di update biar cepet bab 20.
Next seperti biasa 3 bab per hari. :D