Yin Chen menemukan papan catur ajaib di hutan bambu—setiap gerakannya mempengaruhi dunia nyata. Saat kekuatan gelap mengancam keseimbangan alam, dia bertemu Lan Wei dari kelompok Pencari Kebenaran dan mengetahui bahwa pemain lawan adalah saudara kembarnya yang hilang, Yin Yang. Bersama mereka harus menyatukan kekuatan untuk mengakhiri permainan kuno yang bisa menyelamatkan atau menghancurkan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: DESA QINGHE YANG BERUBAH
Pada hari kelima perjalanan, Yin Chen dan Lan Wei akhirnya melihat hamparan rumah-rumah yang merupakan desa tua Qinghe. Desa ini terletak di lembah yang dikelilingi oleh bukit-bukit kecil dengan ladang tebu yang luas di sekelilingnya. Namun pemandangan yang ada di depan mereka jauh berbeda dari apa yang mereka bayangkan—desa yang seharusnya tenang dan damai kini terlihat seperti sebuah markas militer dengan pagar kayu tinggi yang mengelilinginya dan penjaga yang berdiri di setiap sudut gerbang utama.
“Perubahan yang luar biasa,” bisik Lan Wei sambil bersembunyi di balik semak belukar dekat jalan masuk desa. “Seolah-olah seluruh desa telah diubah total dalam waktu singkat.”
Yin Chen mengangguk perlahan, matanya fokus mengamati setiap detail di sekitar gerbang desa. Para penjaga yang berdiri berjaga mengenakan baju berwarna hitam dengan simbol yang sama dengan yang ada pada bidak hitam di papan catur ajaib. Mereka tampak waspada dan siap untuk menghadapi setiap ancaman yang mungkin datang, dengan senjata yang siap digunakan di tangan mereka.
“Kita tidak bisa masuk melalui gerbang utama,” kata Yin Chen dengan suara rendah. “Kita perlu mencari jalur lain yang bisa kita gunakan untuk memasuki desa tanpa terdeteksi. Saya ingat dari cerita neneknya bahwa ada jalur tersembunyi di belakang bukit sebelah timur desa yang digunakan oleh penduduk lama untuk keluar masuk desa pada masa darurat.”
Mereka kemudian bergerak dengan hati-hati menjauhi gerbang utama dan mengikuti jalur yang menuju ke bukit sebelah timur. Jalur tersebut sangat sempit dan tertutup oleh rerumputan tinggi, namun dengan keahlian Yin Chen dalam mengenali jalan di alam terbuka, mereka berhasil menemukan pintu masuk tersembunyi yang terletak di belakang sebuah gua kecil di bawah tebing batu.
Setelah masuk ke dalam desa melalui jalur tersembunyi tersebut, mereka menemukan bahwa suasana di dalam desa sama saja dengan yang ada di luar. Semua penduduk tampak sibuk dengan pekerjaan tertentu—beberapa sedang membangun pagar tambahan, yang lain sedang mengumpulkan makanan dan persediaan, dan yang lainnya sedang berlatih bertarung di lapangan terbuka di tengah desa. Tidak ada anak-anak yang bermain atau orang dewasa yang bersantai seperti biasanya ada di desa-desa lain yang mereka kunjungi.
“Semua orang di sini tampak seperti sedang dipaksa untuk melakukan semua ini,” kata Lan Wei dengan suara yang penuh rasa kasihan. Dia merasakan energi yang kuat dari arah tengah desa—energi yang sama dengan yang berasal dari papan catur ajaib namun dengan nuansa yang lebih gelap dan terkendali. “Kekuatan saudaramu sangat kuat di sini. Dia sudah berhasil mengendalikan sebagian besar penduduk desa.”
Mereka bersembunyi di balik sebuah rumah tua yang sudah sebagian rusak dan mulai mengamati aktivitas di sekitar mereka. Saat itu, sebuah kelompok orang yang mengenakan baju berwarna merah tua dengan aksen emas muncul dari rumah besar di tengah desa—rumah yang tampak seperti telah diubah menjadi markas utama. Di tengah kelompok tersebut ada seorang pria muda dengan rambut hitam panjang yang diikat rapi di belakang kepala, mengenakan jubah hitam dengan bordiran emas yang indah. Wajahnya sangat mirip dengan Yin Chen—sangat jelas bahwa ini adalah saudara kembarnya, Yin Yang.
“Dia memang sangat mirip denganmu,” bisik Lan Wei sambil tetap memperhatikan setiap gerakan Yin Yang. “Kekuatan yang dia keluarkan sangat kuat—seolah-olah dia sudah menguasai sebagian besar kekuatan dari papan catur ajaib.”
Yin Chen hanya bisa terdiam, matanya tidak bisa lepas dari sosok saudara kembarnya yang dia lihat untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Meskipun wajahnya mirip, ekspresi yang terpancar dari wajah Yin Yang sangat berbeda—wajahnya tegas dengan mata yang menyala dengan semangat yang kuat namun juga dengan kedalaman kesedihan yang tidak bisa disembunyikan.
Yin Yang kemudian berdiri di atas panggung kecil yang telah dibuat di depan rumah besar dan mulai berbicara kepada penduduk desa yang berkumpul di depannya. Suaranya kuat dan jelas, terdengar ke seluruh sudut desa. “Kalian semua tahu bahwa dunia ini berada di ambang kehancuran,” ucapnya dengan nada yang penuh keyakinan. “Kekuatan alam yang seharusnya melindungi kita telah menjadi lemah, dan manusia terus saling berperang satu sama lain tanpa peduli pada konsekuensinya. Saya telah menemukan cara untuk mengubah semua ini—dengan menguasai Permainan Cermin dan menggunakan kekuatannya untuk membangun dunia yang baru, dunia yang damai dan makmur di mana tidak ada orang yang akan menderita lagi.”
Penduduk desa yang berkumpul memberikan tepukan tangan yang riuh, namun Yin Chen bisa melihat bahwa sebagian dari mereka tampak tidak nyaman dan melakukan gerakan tepuk tangan dengan terpaksa. Seolah-olah mereka tidak punya pilihan lain selain mengikuti apa yang dikatakan Yin Yang.
Setelah pidatonya selesai, Yin Yang masuk kembali ke dalam rumah besar bersama dengan kelompok pengikutnya. Yin Chen dan Lan Wei memutuskan untuk mengikuti mereka dengan hati-hati, menggunakan keahlian mereka dalam menyamarkan diri untuk tidak terdeteksi. Mereka berhasil masuk ke dalam halaman rumah besar melalui celah di pagar belakang dan bersembunyi di balik semak bunga yang tumbuh di sekitar halaman.
Dari tempat persembunyian mereka, mereka bisa mendengar percakapan antara Yin Yang dan pengikutnya yang datang dari dalam rumah. “Kapan kita akan melanjutkan langkah berikutnya?” tanya salah satu pengikutnya dengan suara yang rendah namun jelas terdengar. “Kekuatan kita sudah cukup kuat untuk mengambil alih wilayah sekitarnya.”
“Belum,” jawab Yin Yang dengan suara yang tegas. “Kita perlu menunggu waktu yang tepat. Selain itu, saya merasa bahwa saudara kembar saya sudah dekat. Dia pasti telah menemukan kebenaran tentang permainan ini dan akan datang untuk menghalangi saya. Saya harus siap menghadapinya ketika saatnya tiba.”
“Mengapa Anda tidak menghancurkannya saja ketika dia datang, Pemimpin?” tanya pengikut lain. “Dengan begitu tidak akan ada yang menghalangi rencana Anda.”
Yin Yang terdiam sejenak sebelum menjawab. “Dia adalah saudara saya,” katanya dengan suara yang sedikit melunak. “Saya tidak bisa hanya menghancurkannya begitu saja. Selain itu, menurut legenda, hanya dengan kekuatan kita bersama yang bisa kita benar-benar mengendalikan Permainan Cermin dan menyelamatkan dunia. Saya hanya berharap dia bisa memahami alasan saya dan bergabung dengan saya untuk mencapai tujuan kita yang sama.”
Setelah itu, percakapan mereka terdengar semakin pelan dan tidak bisa lagi didengar dengan jelas. Yin Chen dan Lan Wei memutuskan untuk kembali keluar dari halaman rumah besar dan mencari tempat aman untuk bermalam di desa. Mereka menemukan sebuah rumah kosong yang sudah ditinggalkan oleh penduduknya di sudut desa yang jauh dari markas Yin Yang, dan memutuskan untuk tinggal di sana untuk sementara waktu.
Saat malam mulai tiba, mereka duduk di dalam rumah kosong yang gelap dan mulai membahas tentang apa yang mereka lihat dan dengar. “Dia tidak sepenuhnya jahat,” kata Yin Chen dengan suara yang penuh pemikiran. “Dia benar-benar percaya bahwa apa yang dia lakukan adalah cara yang benar untuk menyelamatkan dunia. Hanya saja dia memilih jalur yang salah untuk mencapainya.”
“Kita harus berbicara dengannya sebelum dia melakukan sesuatu yang tidak bisa diperbaiki,” kata Lan Wei dengan suara yang serius. “Setiap hari yang berlalu membuat kekuatannya semakin kuat, dan semakin banyak orang yang terpengaruh oleh kekuatan gelap dari papan catur ajaib. Kita tidak punya banyak waktu lagi.”
Yin Chen mengangguk dan mengambil kalungnya dari lehernya. Cahaya kebiruan dari kalung tersebut semakin terang saat malam semakin larut, seolah-olah sedang memberikan sinyal bahwa pertemuan antara kedua saudara kembar sudah sangat dekat. Dia tahu bahwa besok paginya adalah saat yang tepat untuk menghadapi Yin Yang langsung—saatnya untuk menunjukkan bahwa ada cara lain untuk menyelamatkan dunia selain dengan kekuasaan dan kontrol.
Di dalam rumah besar di tengah desa, Yin Yang juga sedang melihat ke arah langit yang penuh dengan bintang-bintang. Dia merasakan keberadaan saudara kembarnya yang sudah sangat dekat, dan tahu bahwa pertemuan yang akan menentukan masa depan dunia tidak bisa lagi dihindari. Di tangannya, dia memegang sebuah kalung yang persis sama dengan yang dimiliki Yin Chen—kalung yang diberikan kepadanya oleh orang yang mengasuhnya setelah dia dipisahkan dari saudara kembarnya saat kecil.
Keduanya tahu bahwa besok akan menjadi hari yang menentukan bagi mereka berdua dan bagi seluruh dunia yang mereka cintai. Pertemuan antara dua pemain Permainan Cermin akhirnya akan terjadi, dan pilihan yang mereka buat akan menentukan apakah dunia akan menyaksikan kelahiran zaman baru yang damai atau kehancuran yang tidak bisa diperbaiki.