Jetro Julian Wisesa, pengusaha sukses, masih single.
"Aku yang akan menikahimu."
Febi Karindra, bekerja di kantor polisi, sudah dijidohkan dengan rekan kerjanya hanya bisa mematung. Semua tamu yang awalnya kasihan karena pengantin prianya tidak datang, sekarang menatap iri. Karena pengganti pengantinnya lebih segala galanya dari pada pengantin aslimya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gibahin Jetro
Setelah menaruh hati hati bunga indah itu di atas mejanya, Febi bersama teman temannya makan siang di kafe depan.
"Tadi kakakmu jemput Pak Cakra, ya?" tanya Juwita mengalihkan topik buket bunga Febi. Pusing kepalanya mendengar puja puji dan harapan besar untuk Febi.
Harusnya kalo kalo kinerja mereka yang baik, bukan hanya Febi saja yang diberikan bunga. Tapi satuan unitnya yang menangkap wanita paruh baya yang baru melek itu.
Febi hanya bagian dari unit, sama seperti dirinya dan rekan rekan yang lain. Mungkin Febi beruntung karena tadinya berinteraksi langsung dengan laki laki high quality itu.
Hati Juwita masih sewot dan panas. Dia selalu merasa bersaing dengan Febi sejak kuliah di Akpol. Nilai mereka juga selalu bersaing dan selisih sedikit saja.
"Iya.'
"Kakak kamu makin cantik aja, ya," puji Hana kagum.
"Tapi udah agak jarang nemuin Pak Cakra. Kayaknya jam terbangnya tinggi," sela Nashwa.
Febi kembali mengiyakan. Kakaknya tambah jarang di rumah sejak beberapa tahun terakhir ini. Katanya dia sering dicall jadi pramugari untuk pesawat pesawat pribadi.
Kakaknya selalu memamerkan semua kegiatannya di medsosnya.
Febi kagum, apalagi saat kakaknya bergaya di pesawat pesawat yang rata rata milik konglomerat itu. Kalo artis biasanya menyewa dengan uang ratusan juta sekali terbang.
Bahkan kakaknya membuka open jastip kalo dia sedang berada di luar negeri. Tapi Febi dan teman temannya tidak pernah nitip untuk tas atau pakaian, karena harganya yang wow banget. Paling hanya nitip coklat atau hiasan hiasan murah khas pengrajin lokal di sama.
Mereka bisa dikira korupsi kalo memesan chanel atau gucci. Walaupun ingin, tapi rasanya sayang menguras abis tabungan buat masa depan.
Sebagai kakak, Fiola termasuk pelit membelikan Febi tas bermerek. Padahal tas milik kakaknya udah ada dua lemari di rumah, bercampur dengan koleksi sepatunya. Walaupun dia boleh meminjam, tapi Febi sudah kapok. Karena pernah sekali dia menggunakan kaos kakaknya, tapi karena kecerobohan temannya yang menumpahkan sambal, Febi harus merelakan gaji beberapa bulannya untuk menggantinya.
Sejak itu Febi jadi alergi, lagi pula papanya masih mampu membelikannya. Karena sekarang papanya berkecimpung di dunia bisnis.
"Aku kepengen loh merasakan naek di pesawat mewah begitu," cuit Cica.
"Kelas bisnis aja jarang, ya," tawa Hana berderai mengejek temannya dan juga dirinya sendiri.
Yang lain pun tergelak. Kebiasaan war tiket ekonomi.
"Hebat bisa dapat network ke sana," sambung Nashwa.
"Bisa cepat dapat jodoh miliarder," sarkas Juwita.
"Wi.... Ngga perlu kerja di pesawat mewah buat nyari miliarder. Buktinya ada miliarder yang kesengsem dengan Polwan." Cica mensarkas balik ucapan Juwita. Temannya itu selalu saja iri dengan pencapaian Febi. Padahal Febi anteng anteng saja.
"Maksudnya Juwi kesempatan kakaknya lebih besar." Hana mencoba meredakan ketegangan yang mungkin akan berlanjut.
Cica mendengus, sedangkan Juwita tetap menampilkan wajah sinis.
"Tapi buktinya zonk. Kakaknya Febi malah masih tetap aja sama Cakra." Nashwa menjeda ucapannya.
"Pasti susahlah narik perhatian miliarder. Mereka, tuh, ngga kekurangan apa pun. Cewe cantik pasti sudah banyak banget yang seliweran, jadi biasa aja. Tapi kalo dia sampai ngirim bunga buat Febi, pasti bagi dia Febi, tuh, spesial," jelas Nashwa panjang lebar.
"Aku bukannya sirik, ya, sama Febi. Hanya ngga ingin dia terlalu berharap, siapa tau Jetro hanya iseng aja. Mau maen maen. Siapa, sih, perempuan yang ngga suka dikasih bunga. Mungkin bentar lagi kamu dibeliin tas mahal, baju mahal atau bahkan disewain apartemen mewah. Setelah bosan, kamu bakal dicampakkan, Feb." Juwita mencoba meluruskan prasangka buruk Cica padanya, walaupun sebagian besarnya benar.
Kalo diia masih ingin stay di circle yang berapa tahun ini dia jalani, dia harus bisa sedikit menahan egonya.
Hening. Mungkin penjelasan Juwita yang hampir sama panjangnya dengan argumen Nashwa masuk akal juga.
"Tapi Jetro bukan player, lho. Ngga ada cap buruk tentangnya. Malah dia seorang enterpreneur yang sukses dan sering dianggap jenius." Hana memperlihatkan layar ipadnya yang berisi tentang Jetro.
Tidak susah mencari datanya, tinggal ketikkan saja di kotak pencairan, Jetro Airlangga Wisesa maka akan keluar sejumlah informasi dan prestasinya.
"Oooh, nama panjangnya Jetro Julian Wisesa. Keren banget, cocoklah nama sama rejekinya," tukas Cica membuat beberapa yang lain melebarkan senyum.
Febi tidak bisa tersenyum selepas teman temannya, karena yang dikatakan Juwita mengganggu pikirannya.
Lagi pula statusnya yang ngga jelas ini membuat keadaan akan semakin membingungkan kalo nanti terbongkar.
"Kamu agak jual mahal dikit, Feb. Biarkan si Jetro ini yang ngejar ngejar," saran Hana.
"Setuju," sahut Cica dan Nashwa berbarengan.
Juwita menyibukkan dengan nasi pecelnya saja. Berharap kata kata yang dia ucapkan benar benar kejadian pada Febi.
*
*
*
Terimakasih bunganya.
Jetro tersenyum membacanya. Dia sedang makan siang bersama kliennya di salah satu restoran yang ada di roof top hotel.
Jetro mengetikkan pesan sebagai balasan.
Sama sama
Jetro ingin menambahkan emot love tapi dia urungkan. Dia sudah bukan remaja alay lagi, batinnya mengingatkan.
Pesan itu dengan cepat sudah terbaca, tapi sudah tidak dibalas lagi.
Ketika Jetro masih menatap pesannya, ponsel itu bergetar. Abiyan menagih janji.
Jetro heran, naluri Abiyan tokcer banget kalo menyangkut hal memperkaya dirinya sendiri.
"Saya angkat telpon dulu," pamitnya pada dua orang rekan kerjanya yang lebih tua darinya.
"Silakan, mas."
"Ranita bisa menjelaskan selama saya pergi," ucapnya lagi.
"Siap, mas. Santai saja." Kedua laki laki berumur empat puluh tahunan itu tersenyum agar Jetro tidak merasa bersalah.
Mereka memahami kesibukan Jetro.
Ranita, sekretaris Jetro, gadis berusia dua puluhan segera melanjutkan pekerjaan Jetro.
Jetro segera menjauh untuk menerima telpon dari Abiyan.
"Udah buka pesan yang aku kirim?" Suara Abiyan terdengar tidak sabar.
"Sebentar." Jetro membuka pesan Abiyan yang ngga sengaja dia abaikan.
Ternyata screenshoot dari Levi, yang isinya kalo.Febi sudah mengabarkan lebih dulu pada Jetro.
"Bagaimana?" tanya Abiyan makin ngga sabar dengan derai tawa kemenangannya yang terdengar kemudian.
"Aku transfer sekarang," jawab Jetro singkat, padat dan jelas.
"Ke nomor ini aja. Nanti kirimkan buktinya buat aku ambil yatchnya."
Ngga lama kemudian deretan angka muncul di pesan yang dikirim Abiyan. Rupanya nomer tempat dia membeli yatch.
Dasar, maki Jetro dalam.hati. Sudut bibirnya sedikit berkedut
"Oke."
Setelah mengakhiri komunikasi pemalakan uang terhadap dirinya, dia pun melakukan transfer, dan mengirimkan bukti transfer itu pada Abiyan.
Sip 🔥🔥🔥🔥
Selagi Jetro menyimpan ponselnya suara teguran lembut perempuan menyapanya.
"Pak Jetro."
Jetro menatap pada paras cantik yang sedang tersenyum amat manis dengan binar jackpot di matanya.
"Saya, Fiola. Yang pernah jadi pramugari di pesawat jet anda." Fiola mengenalkan dirinya ketika dia merasa Jetro lupa padanya.
Jetro hanya mengangguk samar kemudian melangkah pergi, meninggalkan Fiola yang sudah siap membuka mulutnya untuk mengeluarkan kata katanya lagi.
Fiola sampai terbengong karena diacuhkan Jetro begitu saja. Selama ini dialah yang mengacuhkan banyak laki laki yang ingin dekat dengannya.
Bukannya marah, tapi Fiola malah tersenyum tipis. Dia semakin suka dengan karakter Jetro.
Pesan Abiyan muncul ngga lama kemudian.
lagian kan mereka dah tau gimana sifat aslinya Fiola,
jalan bareng aja jetro enggan ini malah berharap jadi istri keduanya 😂