NovelToon NovelToon
MAS KADES, I LOVE YOU

MAS KADES, I LOVE YOU

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Cintamanis / Menyembunyikan Identitas / Budidaya dan Peningkatan / Chicklit / Tamat
Popularitas:664.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

ccerita ini hanyalah fiksi . jika ada kesamaan nama, tempat , Desa ataupun kota itu hanyalah kebetulan Semata.

Amelia, putri seorang konglomerat, memilih mengikuti kata hatinya dengan menekuni pertanian, hal yang sangat ditentang sang ayah.

Penolakan Amelia terhadap perjodohan yang diatur ayahnya memicu kemarahan sang ayah hingga menantangnya untuk hidup mandiri tanpa embel-embel kekayaan keluarga.

Amelia menerima tantangan itu dan memilih meninggalkan gemerlap dunia mewahnya. Terlunta-lunta tanpa arah, Amelia akhirnya mencari perlindungan pada mantan pengasuhnya di sebuah desa.

Di tengah kesederhanaan desa, Amelia menemukan cinta pada seorang pemuda yang menjadi kepala desa. Namun, kebahagiaannya terancam karena keluarga sang kepala desa yang menganggapnya rendah karena mengira dirinya hanya anak seorang pembantu.

Bagaimanakah Amelia menyikapi semua itu?
Ataukah dia akhirnya melepas impian untuk bersama sang kekasih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22. Membeli sepeda motor

.

Matahari bersinar keemasan, memantulkan cahayanya pada deretan motor yang dipajang di dealer. Raka mengikuti Amelia yang sedang mengamati satu persatu motor-motor sport terbaru. Diikuti oleh seorang pegawai dealer.

Tadinya, Raka datang ke rumah Bu Sukma dengan niat mengajak Amelia jalan-jalan. Namun, rencana itu berubah ketika Amelia mengatakan bahwa dia sudah ada janji akan pergi ke dealer motor bersama Mang Udin.

Tidak suka membayangkan Amelia dibonceng laki-laki lain, Raka langsung menawarkan diri untuk mengantarkannya. Alhasil, di sinilah mereka sekarang. Di sebuah dealer sepeda motor yang tak begitu jauh dari desa Karangsono.

"Kamu mau beli yang ini?" tanya Raka, sambil memperhatikan Amelia yang sedang mencoba-coba Honda CBR250RR SP terbaru berwarna merah menyala.

Pemuda tampan itu mengerutkan kening melihat Amelia sama sekali tidak kikuk saat mencoba sepeda motor tersebut. Gadis yang duduk di atas jok CBR250RR SP dan memblayer gas berulang kali itu, tampak begitu badas sekaligus mempesona dalam waktu bersamaan. Rambutnya yang panjang tergerai, bergerak tertiup angin, memberikan kesan tomboy namun tetap anggun.

Amelia menggelengkan kepalanya. "Nggak kok, Mas. Cuma nyobain aja," jawab Amelia. Ia memang menyukai jenis motor itu. Desainnya sporty, performanya juga pasti mumpuni.

“Aku kira kamu suka yang ini," ucap Raka.

"Suka sih," ucap Amelia, sambil mengelus tangki CBR250RR SP itu. "Tapi nggak mungkinlah aku beli yang kayak gini."

Raka menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa?" tanyanya.

Amelia tersenyum tipis. "Aku kan beli motor tujuannya supaya kalau Ibu mau ke mana-mana bisa nganterin, biar nggak usah repot nyari tumpangan."

Raka terdiam sejenak. Ia merasa tersentuh dengan perhatian Amelia kepada Bu Sukma. Gadis ini memang memiliki hati yang mulia.

"Oh, jadi kamu cari motor yang nyaman buat boncengin Bu Sukma, gitu?" tanya Raka.

Amelia mengangguk. "Iya, Mas. Yang mesinnya bagus, irit bensin, dan nggak rewel," jawabnya.

Raka tersenyum. "Kalau gitu, gimana kalau yang itu," ujarnya, sambil menunjuk ke arah deretan motor matic. "Cocok sama selera kamu, gak?"

Amelia mengikuti arah telunjuk Raka. Ia mengamati motor-motor matic yang dipajang di sana. Matanya kemudian tertuju pada Honda Beat berwarna biru doff. Motor itu tampak elegan dan nyaman.

"Wah, boleh juga itu, Mas," kata Amelia, sambil menghampiri motor tersebut. "Kelihatannya nyaman buat bonceng Ibu."

Raka mengikuti Amelia dari belakang. Ia memperhatikan gadis itu dengan seksama. Ia merasa semakin kagum dengan Amelia. Selain cantik, pintar, dan baik hati, Amelia juga memiliki selera yang bagus.

"Mau dicoba?" tanya Raka.

Amelia mengangguk. Ia kemudian meminta izin kepada sales yang sejak tadi mendampingi mereka untuk mencoba Honda Beat tersebut.

Setelah mencoba beberapa putaran di area parkir dealer, Amelia tersenyum puas. "Nah, ini dia yang aku cari!" serunya. "Enak banget buat boncengan, suspensinya juga nyaman."

Raka tersenyum lega. Ia senang Amelia akhirnya menemukan motor yang cocok.

"Jadi, mau langsung dibeli?" tanya Raka.

"Iya, aku pilih yang ini," jawab Amelia tanpa ragu.

Raka dan Amelia berjalan menuju kasir untuk melakukan pembayaran, Raka mengatakan biar dia saja yang membayar, tetapi tentu saja langsung ditolak oleh Amelia. Dia punya uang sendiri. Lagipula, ia juga tak mau menerima pemberian dari laki-laki yang jelas bukan apa apanya.

Raka pun menyerah. Saat mereka sedang menunggu giliran, tiba-tiba pemuda tampan itu nyeletuk, "Kenapa sih Mbak harus beli sepeda motor segala? Kan kalau kamu mau ke mana-mana bisa minta tolong aku anterin? Aku juga gak keberatan nganterin Bu Sukma ke mana-mana?" tanya Raka.

Pemuda itu terlihat tidak suka karena Amelia memiliki sepeda motor sendiri. Padahal selama beberapa hari ini dia merasa senang karena tiap pagi bisa menjemput Amelia untuk pergi ke kantor desa bersama-sama lalu kembali berboncengan ketika waktunya pulang. Jika Amelia membeli motor sendiri, pasti dia tidak akan bisa berboncengan lagi dengan gadis incarannya itu.

Amelia tersenyum mendengar pertanyaan Raka. "Ya harus dong, Mas. Kan nggak mungkin aku terus bergantung sama Mas Raka," jawab Amelia. "Mas Raka sendiri kan pasti punya kesibukan."

Raka menarik napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan. "Walaupun sibuk, tapi kalau kamu memanggil, aku pasti akan datang," ucap Raka dengan sorot matanya yang menatap dalam ke wajah Amelia.

Amelia tersenyum dan menggelengkan kepala. "Terima kasih atas kebaikan Mas Raka, tetapi aku tidak bisa bergantung selamanya pada Mas Raka," ujarnya lembut.

"Kenapa?" tanya Raka, dengan nada sedikit kecewa. "Aku suka kamu bergantung padaku."

Amelia terdiam sejenak. Ia merasa bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan Raka.

"Mas Raka terlalu baik," jawab Amelia. "Aku nggak mau memanfaatkan Mas Raka."

"Tapi aku suka dimanfaatkan sama kamu," bantah Raka, dengan nada serius.

Amelia terkejut mendengar jawaban Raka. Dan sebenarnya dia juga paham dengan sinyal yang diberikan oleh Raka.

"Aku tahu, Mas," jawab Amelia. "Tapi. Aku juga ingin mandiri."

Raka menghela napas. Ia tidak bisa memaksa Amelia. Takut Amelia menjadi ilfil.

"Baiklah," ucap Raka akhirnya, dengan nada pasrah. "Tapi, kalau kamu butuh bantuan apa pun, jangan sungkan untuk menghubungiku, ya."

Amelia tersenyum lega. "Pasti, Mas," jawabnya.

Setelah selesai membayar, Amelia menerima kunci dan STNK sementara Honda Beat barunya. Ia tidak sabar untuk segera segera menjajal motor barunya itu.

"Biar motornya diantar aja sama pihak dealer ke rumah, ya?" kata Raka tiba-tiba. Ia bicara pada pihak dealer dan memberikan alamat Bu Sukma.

Amelia menoleh dengan tatapan bingung. "Lho, kenapa Mas? Aku kan pengen langsung nyobain," jawabnya.

"Besok aja nyobanya, pas mau ke kantor. Sekarang aku mau ngajakin kamu ke suatu tempat,’ ucap Raka kemudian segera menggandeng tangan Amelia, menariknya keluar dari dealer.

Amelia sedikit terkejut dengan tindakan Raka. Ia ingin melepaskan tangannya dari genggaman Raka, tetapi pemuda tampan itu berpura-pura tidak tahu. Raka terus saja berjalan, bahkan menggenggam tangan Amelia semakin erat, menariknya hingga mereka tiba di tempat di mana sepeda motor Raka diparkir.

"Mas, mau kemana sih?" tanya Amelia, dengan nada sedikit protes.

"Ikut aja," jawab Raka, sambil tersenyum. "Kamu pasti suka."

Sesampainya di dekat motor Raka, pemuda itu mengambil helm dari bagasi motornya. Ia kemudian memakaikan helm itu untuk Amelia dengan lembut.

Amelia terpaku. Jantungnya berdegup kencang saat Raka memakaikan helm untuknya. Mata gadis itu menatap wajah Raka. Posisi mereka begitu dekat hingga Amelia bisa merasakan hembusan napas Raka di wajahnya.

Setelah selesai membantu Amelia memakai helm, Raka kemudian memakai helmnya sendiri. Ia menatap Amelia dengan tatapan yang sulit diartikan.

Raka kemudian menaiki motornya. Ia menyalakan mesin dan memberikan kode kepada Amelia untuk segera naik.

Amelia dengan ragu menaiki motor Raka. Ia duduk di belakang Raka dengan jarak yang cukup jauh.

"Siap?" tanya Raka.

Amelia mengangguk pelan. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia merasa lidahnya kelu.

"Pegangan, dong," ucap Raka, tanpa menoleh ke belakang.

Amelia terdiam sejenak, lalu menarik napas dalam, kemudian memberanikan diri untuk memegang pundak Raka dengan ujung jarinya.

Raka terkekeh pelan. Tanpa diduga, ia meraih kedua tangan Amelia dan menariknya hingga melingkar di pinggangnya.

"Nah, gini kan lebih aman," ucap Raka.

Amelia tersentak kaget. Wajahnya memerah padam. Jantungnya berdegup semakin kencang.

1
Lita Pujiastuti
jane pengin ngguyu lihat sikap papanya yg sok cuek... 😁
Lita Pujiastuti
pasti itu suruhan alexander yg ditugasi utk mengawasi dan menjaga amelia selama ini
Lita Pujiastuti
Aduh piye ki ngko Amel.... senoga orang² suruhan papanya trs mengawasi shg Amel aman
Lita Pujiastuti
Haduh .. bu Sund jd ruwet hidupnya...
Lita Pujiastuti
Raka khawatir berat iki
Lita Pujiastuti
Kenapa hatiku ikut merasa adem tinggal di rumah bu Sulma dan pak Marzuki ya.. di sebuah desa yg tenang , sejuk ..
Lita Pujiastuti
segera sah ini . 😊
Lita Pujiastuti
Drama lagi.... dasar safitrut...
Lita Pujiastuti
sopo wi sing telpon sund.. el..
May Maya
Thor keong sawah itu bisa d konsumsi kan ya? soalnya dulu aku kecil suka makan keong sawah 🤭 bukan bekecot alias keong racun loh
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: bekicot juga bisa dikonsumsi. tp pengolahan nya lebih mudah keong sawah. karena keong sawah tidak berlendir. nyucinya lebih cepat
total 2 replies
panjul man09
disini sundari merusak cerita sikapnya tdk masuk akal sangat tdk natural , masih menganggap dirinya penting padahal hanya ibu tiri yg tdk di anggap sama sekali tdk ada alasan untuk berpikiran jahat , author perbaiki perannya biar tau dirilah
panjul man09
perhatikan penggunaan kalimat banyak yg kedengaran janggal kalo dibaca , gunakan kalimat yg biasa di pake sehari hari
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: akan saya perhatikan kak. terima kasih atas masukannya 🙏
total 1 replies
Lita Pujiastuti
siip...
Lita Pujiastuti
Cinta gk bisa dipaksa Safitri, semakin kamu nekat, semakin kamu akan malu nantinya.... sdhlah...
Lita Pujiastuti
lanjut
Lita Pujiastuti
Keluarga Sundari itu benalu ya...
Lita Pujiastuti
nikah yuuukk... 😊
Lita Pujiastuti
pasti papanya Amelia yg telepon. waduh... berarti sdh ketahuan dong, kalau amelia berada di rmh bu Sukma...
Lita Pujiastuti
Thor.. waduk apa sungai . kok terdebgar genericik suara air .. 😊
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: eh iya... kalo waduk itu gak gemericik ya ha ha. .. duh jadi malu. maklum Emak gak pernah ke waduk 🤭🤭
total 1 replies
Lita Pujiastuti
Safitri sama bu Sundel.. nanti ngamuk lhoooo... 😀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!