NovelToon NovelToon
Pelindung Cinta: Kisah Ibu Tiri Yang Tak Tergoyahkan

Pelindung Cinta: Kisah Ibu Tiri Yang Tak Tergoyahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Duda / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

desainer muda yang mandiri, tak pernah menduga bahwa pertemuan tak sengaja dengan Raka—seorang CEO tampan, sukses, dan penuh kasih—akan mengubah hidupnya selamanya. Raka bukan hanya pria idaman, tapi juga ayah tunggal dari Arka, anak kecil yang ditinggalkan oleh mantan istrinya, Lita, seorang wanita ambisius yang selingkuh dan tak peduli pada buah hatinya. Saat Aira memasuki kehidupan mereka sebagai ibu tiri yang penuh dedikasi, dia harus menghadapi badai godaan: para pelakor licik yang mengincar Raka karena ketampanan dan kekayaannya, serta ancaman utama dari Lita yang kembali dengan agenda rahasia untuk merebut semuanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 11: Perangkap Pertama

Seminggu setelah pesta ulang tahun Arka, Jakarta diguyur hujan setiap sore. Bukan gerimis, tapi hujan deras yang membuat macet di mana-mana. Air menggenang di jalan-jalan utama. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. Jakarta seperti kota yang kalah perang melawan air.

Aira sedang menjahit di butik ketika ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Raka.

"Nona Aira, selamat sore. Maaf mengganggu. Bisa bicara sebentar? Ada yang perlu saya tanyakan."

Aira mengernyit. Pesan itu formal. Seperti pesan pertama Raka dulu. Bukan seperti pesan dari pria yang beberapa kali sudah berbagi cerita dan air mata.

"Bisa, Pak. Ada apa?"

Beberapa menit kemudian, ponselnya berdering. Raka menelepon.

"Halo, Pak?"

"Halo, Nona Aira." Suara Raka terdengar berat. Berbeda. "Maaf mengganggu. Saya hanya ingin tanya... apa Nona bicara sesuatu dengan Lita? Tentang Arka? Tentang saya?"

Aira terkejut. "Maksud Pak Raka?"

"Maaf, saya akan terus terang. Semalam Lita datang ke rumah. Dia bawa rekaman. Rekaman percakapan Nona dengannya. Di balkon, pas pesta Arka."

Aira diam. Jantungnya berdetak cepat.

"Di rekaman itu, Nona bilang... Nona akan lakukan apa pun untuk Arka. Nona bilang, 'Arka butuh aku, bukan Lita.' Dan Lita menangis. Menunjukkan rekaman itu pada saya."

Aira terbelalak. "Pak, itu tidak benar! Saya tidak pernah bilang begitu! Saya hanya bilang Arka butuh ibunya. Saya bilang saya senang Lita kembali!"

Raka diam. Suasana hening beberapa detik.

"Nona Aira, saya... saya ingin percaya Nona. Tapi rekaman itu jelas. Suara Nona jelas."

"Pak, itu rekaman editan! Zaman sekarang apa pun bisa diedit!"

"Aku tahu. Tapi Lita juga punya saksi. Bi Inah. Dia bilang, Lita minta tolong kabari kalau Nona datang. Seperti Nona diam-diam mau mendekati Arka tanpa sepengetahuan Lita."

Aira merasa dadanya diremas. Tuduhan-tuduhan itu datang bertubi-tubi.

"Pak Raka, dengar. Saya tidak pernah punya niat buruk. Saya hanya sayang Arka. Itu saja. Saya tidak pernah bicara buruk tentang Lita. Bahkan saat dia kirim pesan ancaman, saya diam saja."

Raka terkejut. "Pesan ancaman?"

Aira diam. Ia tak sengaja membocorkan itu.

"Pesan apa, Nona?"

Aira menghela nafas. Mau tak mau, ia harus cerita.

"Setelah Lita pertama kali datang, dia kirim pesan ke saya. Ngancem. Suruh saya jauhi Arka. Katanya dia bisa hancurkan saya. Saya simpan semua pesan itu, Pak."

Raka diam. Lama.

"Nona, bisakah Nona kirimkan saya pesan-pesan itu?"

"Bisa, Pak. Tapi percuma. Lita pasti bilang itu rekayasa saya."

"Aku ingin lihat. Tolong kirim."

Aira menghela nafas. "Baik, Pak. Saya kirim."

Telepon ditutup. Aira segera membuka galeri screenshot-nya. Semua pesan Lita ia simpan. Sejak awal, ia punya firasat suatu saat akan berguna.

Ia kirim semua ke Raka. Lima belas pesan. Dari ancaman halus hingga kasar.

Lalu ia menunggu.

---

Satu jam. Dua jam. Tak ada balasan.

Aira gelisah. Jahitannya berantakan. Beberapa kali ia salah menusuk jarum. Maya yang melihat, mendekat.

"Mba, ada apa? Dari tadi enggak fokus."

Aira bercerita. Tentang rekaman. Tentang tuduhan. Tentang pesan-pesan yang ia kirim.

Maya marah. "Dasar perempuan licik! Mba, jangan diam saja! Lawan!"

"May, aku capek. Capek dituduh. Capek dicurigai. Aku cuma sayang Arka. Apa salahnya?"

Maya meraih tangan Aira. "Mba, salahnya bukan di Mba. Salahnya di orang jahat yang memanfaatkan kebaikan Mba. Tapi Mba jangan menyerah. Kalau Mba menyerah, mereka menang."

Aira diam. Kata-kata Maya masuk, tapi tak cukup kuat mengusir rasa sakit di dadanya.

Ponselnya bergetar. Raka.

"Nona Aira, saya sudah lihat pesan-pesan itu. Saya minta maaf. Saya... saya bingung. Ada dua bukti berbeda. Saya tak tahu mana yang benar."

Aira membalas:

"Pak, saya hanya bisa bilang, saya tidak pernah berniat buruk. Saya serahkan semuanya pada Bapak. Kalau Bapak lebih percaya Lita, saya terima. Saya akan mundur. Tapi tolong, jaga Arka. Dia anak baik."

Balasan Raka masuk cepat:

"Jangan bilang mundur. Saya butuh waktu. Saya akan cari kebenaran."

Aira tak membalas. Ia matikan ponsel. Menatap Maya dengan mata berkaca-kaca.

"May, aku pulang."

"Mba, masih jam tiga."

"Aku enggak bisa kerja. Kepalaku pusing."

Maya mengangguk. "Aku anterin, Mba."

"Tak usah. Aku naik angkot aja."

Aira mengemasi tasnya. Melangkah keluar butik. Hujan sore itu baru reda. Jalanan basah. Bau tanah dan aspal bercampur.

Ia berjalan ke halte angkot. Pikirannya kacau.

Kenapa Lita tega? Kenapa ia fitnah aku? Apa maunya?

Ia tak tahu. Tapi yang ia tahu, hatinya sakit. Sakit sekali.

---

Di apartemen The Rosewood, Raka duduk di ruang kerjanya. Di hadapannya, dua ponsel tergeletak. Satu berisi rekaman dari Lita. Satu berisi screenshot pesan dari Aira.

Ia memutar rekaman itu lagi.

"Arka butuh aku, bukan Lita."

Suara itu mirip Aira. Tapi ada sedikit aneh. Seperti ada sambungan yang tak mulus.

Ia membaca pesan-pesan Lita ke Aira.

"Kau hanya desainer miskin dari Tanah Abang. Aku bisa hancurkan kau."

"Jangan coba-coba menghalangi. Atau kau akan menyesal."

Dua hal ini kontras. Di depan Raka, Lita menangis minta maaf. Tapi di belakang, ia mengancam Aira.

Siapa Lita sebenarnya?

Pintu ruang kerja diketuk. Bi Inah masuk.

"Tuan, Lita datang. Katanya mau ketemu Arka."

Raka menghela nafas. "Suruh tunggu di ruang tamu. Aku segera ke luar."

Bi Inah mengangguk. Pergi.

Raka memandangi kedua ponsel itu sekali lagi. Lalu menyimpannya di laci. Ia berdiri. Melangkah ke ruang tamu.

Lita duduk di sofa. Hari ini ia memakai gaun bunga-bunga. Sederhana. Wajahnya cerah.

"Rak, pagi. Arka di mana?"

Raka duduk di hadapannya. Tak menjawab pertanyaan itu.

"Lita, aku mau tanya sesuatu."

Lita mengernyit. "Tanya apa?"

Raka mengeluarkan ponselnya. Menunjukkan screenshot pesan Lita ke Aira.

"Ini apa?"

Lita melihat. Wajahnya berubah. Tapi cepat ia kendalikan.

"Rak, itu... itu rekayasa Aira. Dia edit pesan-pesan palsu. Aku tak pernah kirim begitu."

Raka menatap Lita tajam. "Kau yakin?"

"Ya, aku yakin! Aira itu licik, Rak! Dia ingin rebut Arka dariku! Dia cemburu aku kembali!"

Raka diam. Lalu berkata pelan, "Lita, aku sudah cek ke operator. Pesan-pesan ini asli. Nomor pengirimnya adalah nomormu."

Lita tertegun. Wajahnya pucat.

"Rak, itu... itu..."

"Itu apa, Lita?"

Lita terdiam. Matanya bergerak cepat, mencari alasan.

"Aku... aku kirim itu waktu aku masih marah. Waktu pertama datang. Aku cemburu lihat Aira dekat Arka. Tapi setelah itu, aku minta maaf. Aku bilang langsung ke Aira. Di balkon, waktu pesta. Itu rekaman yang aku kasih ke kamu, Rak. Di situ aku minta maaf."

Raka menghela nafas. "Lita, aku bingung. Kau bilang Aira rekayasa pesan, tapi pesan itu asli. Kau bilang Aira fitnah kau di rekaman, tapi kau sendiri punya rekaman yang menguntungkanmu. Mana yang benar?"

Lita menangis. "Rak, percaya padaku. Aku ibunya Arka. Aku takkan bohong."

Raka berdiri. "Lita, aku tak percaya siapa-siapa sekarang. Aku akan cari tahu sendiri. Sampai saat itu, kurangi dulu datang ke sini. Beri aku waktu."

Lita terkejut. "Rak, jangan! Aku mau ketemu Arka!"

"Arka baik-baik saja. Kau bisa telepon. Tapi untuk sementara, jangan datang dulu."

Lita menangis lebih keras. Tapi Raka tak bergeming.

"Bi Inah, antar Lita keluar."

Bi Inah datang. Lita berdiri, masih menangis. Tapi di matanya, ada kilatan marah.

"Kau akan menyesal, Rak. Kau akan lihat siapa yang benar."

Lita pergi. Pintu tertutup keras.

Raka duduk lemas di sofa. Kepalanya pusing.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.

"Pak Raka, saya Maya, asistennya Aira. Saya tahu ini lancang. Tapi saya harus bilang. Mba Aira baik. Dia enggak pernah berniat jahat. Saya lihat sendiri dia nangis semalem karena dituduh. Tolong percaya sama Mba Aira. Dia sayang Arka tulus."

Raka membaca pesan itu. Dadanya sesak.

Ia membalas:

"Terima kasih, Maya. Saya sedang mencari kebenaran."

Maya membalas:

"Kebenaran itu sederhana, Pak. Lihat saja siapa yang paling dirugikan kalau Mba Aira pergi. Arka. Arka yang paling rugi. Karena dia kehilangan orang yang benar-benar sayang dia."

Raka diam. Kata-kata Maya sederhana. Tapi menusuk.

Ia ingat bagaimana Arka dulu. Pendiam. Takut. Susah senyum. Dan setelah Aira datang, semuanya berubah. Arka ceria. Arka mau main. Arka mau tertawa.

Dan sekarang, jika Aira pergi, Arka akan kembali seperti dulu.

Atau lebih parah.

Raka memejamkan mata. Ia harus bertindak cepat. Sebelum semuanya hancur.

---

Di Tanah Abang, Aira berbaring di kamar kost. Demam. Kepalanya panas. Badannya meriang.

Mungkin ini efek hujan kemarin. Atau efek patah hati.

Ibu kos datang membawa bubur dan obat.

"Neng, makan dulu. Minum obat."

"Makasih, Bu."

Ibu kos duduk di sisi Aira. Menatapnya iba.

"Neng, ibu lihat neng akhir-akhir ini sedih. Ada apa? Cerita sama ibu, boleh?"

Aira menatap ibu kos. Wanita sederhana dengan daster lusuh itu selalu baik padanya. Seperti ibu kedua.

Aira bercerita. Tentang Arka. Tentang Raka. Tentang Lita. Tentang fitnah.

Ibu kos mendengarkan dengan sabar. Sesekali menghela nafas.

"Neng, ibu ini cuma orang tua enggak sekolah. Tapi ibu tahu satu hal. Orang jahat itu biasanya kalah sama waktu. Sekarang dia menang, tapi nanti pasti kebongkar. Asal neng sabar."

Aira tersenyum getir. "Tapi Bu, aku capek."

"Ibu tahu, Neng. Capek itu wajar. Tapi jangan menyerah. Neng itu baik. Tuhan pasti lihat."

Aira diam. Air matanya jatuh.

"Ibu, aku takut. Takut kehilangan Arka. Anak itu... dia sudah seperti anakku sendiri."

Ibu kos mengusap rambut Aira. "Neng, kalau memang jodoh, enggak akan kemana. Percaya sama Tuhan."

Aira mengangguk. Ia minum obat. Berbaring lagi.

Ibu kos pergi. Meninggalkan Aira dengan pikirannya.

---

Malam harinya, ponsel Aira bergetar. Sebuah pesan dari Raka.

"Nona Aira, apa Nona bisa datang ke rumah besok? Saya ingin Nona dan Lita bertemu. Saya ingin dengar langsung dari kalian berdua. Saya ingin selesaikan ini."

Aira membaca. Tangannya gemetar.

Ia membalas:

"Baik, Pak. Jam berapa?"

"Jam 10 pagi."

"Saya datang."

Aira meletakkan ponsel. Menatap langit-langit kamar.

Besok, semuanya akan ditentukan.

---

1
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
Pena Biru: terimakasih tapi yang ini sudah tamat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!