NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Sang Istri Terbuang

Ruang Ajaib Sang Istri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Angel Abilla

Pernikahan yang kukira pelabuhan cinta, ternyata hanyalah jerat maut yang dirancang suamiku sendiri. Namaku Aruna, putri keluarga Adiwangsa yang dicap lugu oleh dunia. Namun di malam pengantinku yang penuh duri, aku menyaksikan pengkhianatan Tristan dan selingkuhannya tepat di depan mataku.
​Tristan ingin hartaku, ia ingin membuangku ke desa terpencil hingga aku membusuk. Namun, ia melakukan satu kesalahan besar: membiarkan Aruna Adiwangsa pergi dengan liontin warisan ibunya.
​Sebuah Ruang Ajaib terbuka dari tetesan darah rasa sakitku. Di sana, aku membangun kekuatan, mengumpulkan harta, dan menyusun strategi yang tak terduga. Tristan, nikmatilah sisa kejayaanmu, karena saat aku kembali, aku akan memastikan kau berlutut memohon ampun di bawah kakiku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Angel Abilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Siasat di Ruang Steril

Aruna tidak membiarkan dirinya larut dalam kesedihan terlalu lama. Waktu sepuluh detik di dunia nyata yang setara dengan berjam-jam di Hutan Sanubari telah mengajarkannya satu hal: pengkhianat tidak menunggu, jadi ia pun tidak boleh berhenti.

Setelah merapikan riasannya yang sedikit berantakan, Aruna meninggalkan hotel. Tujuannya hanya satu: Rumah Sakit Medika Utama, tempat ayahnya, Pak Adiwangsa, terbaring tak berdaya.

Di dalam mobil, Aruna menghubungi Pak Baskara. "Pak, saya dalam perjalanan ke rumah sakit. Kirimkan dua pengawal terbaik yang Bapak kenal. Saya ingin mereka berjaga tepat di depan pintu ICU. Ingat, hanya saya, Bapak, dan dokter spesialis yang boleh masuk. Tristan atau siapa pun yang mengaku utusannya, usir!"

"Baik, Aruna. Saya segera laksanakan," jawab Pak Baskara tegas. "Tapi Aruna, ada satu hal. Tadi perawat memberi kabar, Tristan sempat datang ke sana satu jam sebelum kamu ke kantor saya. Dia membawa pengacara pribadinya."

Tangan Aruna memegang kemudi lebih erat. "Untuk apa?"

"Dia mencoba meminta dokter menandatangani surat pernyataan bahwa Pak Adiwangsa nggak lagi mampu secara mental untuk mengelola aset, agar perwalian jatuh sepenuhnya ke tangan Tristan sebagai menantu sah."

Aruna menahan marah. "Ular itu benar-benar tidak sabar."

Sesampainya di rumah sakit, suasana lorong ICU terasa begitu dingin. Bau antiseptik yang menyengat seolah mengingatkan Aruna betapa tipisnya batas antara hidup dan mati. Ia berdiri di depan kaca besar, menatap tubuh ayahnya yang dipenuhi kabel dan selang.

​"Ayah," bisik Aruna pelan. "Maafkan Aruna karena sempat buta oleh cinta palsu itu."

Ia menyentuh liontin di lehernya. Kristal itu terasa hangat, seolah merespons kesedihan Aruna. Tiba-tiba, ia teringat bagian lain dari jurnal ibunya: 'Hutan ini bisa menghancurkan lawanmu, tapi ia juga bisa menyembuhkan lukamu. Pergilah mencari Bunga Embun Perak, satu-satunya cara untuk memulangkan nyawa yang telah dicuri maut darimu.'

Aruna memejamkan mata. Di tengah lorong rumah sakit yang sepi itu, ia memutar kunci kristalnya.

Seketika, dunia bergeser.

Aruna kembali berdiri di depan gubuk kecil di Hutan Sanubari Adiwangsa. Namun kali ini, hutan itu tidak lagi berkabut perak. Langit di atasnya berwarna ungu kemerahan, mencerminkan tekad Aruna yang penuh harapan.

Ia berlari menuju bagian belakang gubuk, tempat sebuah taman kecil yang sebelumnya tidak ia sadari keberadaannya. Di sana, di antara tanaman yang tampak seperti kaca, tumbuh setangkai bunga dengan kelopak transparan yang terus menerus mengeluarkan embun bercahaya.

"Bunga Embun Perak," gumamnya.

Saat ia hendak memetiknya, tanah di bawah kakinya bergetar. Akar-akar tanaman di sekitarnya bergerak melilit pergelangan kakinya.

"Kekuatan membutuhkan bayaran," sebuah suara tanpa wujud berbisik di antara suara angin hutan. "Untuk menyembuhkan yang hampir mati, kamu harus memberikan sebagian dari masa lalumu yang paling manis bersama orang itu."

Aruna terdiam. Bayaran itu berarti ia harus merelakan kenangan-kenangan indah bersama ayahnya. Saat-saat ia digendong, saat ia diajari berkuda, atau tawa mereka di taman. Kenangan itu akan hilang dari ingatannya selamanya demi kesembuhan sang ayah.

"Ambil saja," ucap Aruna tanpa ragu. "Kenangan itu tidak ada artinya jika orangnya tidak ada di sini. Berikan aku bunganya!"

​Sebuah kilatan putih meledak begitu terang. Akar yang melilitnya terlepas, dan bunga itu kini berada di genggaman Aruna, Ia menampung tiap tetes cairan perak itu, membiarkannya memenuhi botol kaca yang masih bersih.

Dunia Nyata - Ruang ICU

Aruna kaget saat seorang perawat menyentuh bahunya. "Ibu Aruna? Anda melamun?"

Aruna menggeleng cepat. Ia merasakan botol kecil di telapak tangannya terasa sangat dingin. "Boleh saya masuk sebentar? Saya hanya ingin membersihkan wajah Ayah."

Perawat itu mengangguk ragu, namun karena Aruna adalah pemilik saham terbesar rumah sakit ini, ia tak berani menolak.

​Di dalam ruang steril, Aruna bergerak cepat. Ia tidak membasuh wajah ayahnya dengan air biasa, melainkan meneteskan cairan Embun Perak itu ke bibir ayahnya dan mengoleskannya di kening yang pucat.

Detik berikutnya, monitor detak jantung yang tadinya berbunyi pelan dan tidak berubah, tiba-tiba bergerak cepat naik. Garis-garis di layar itu mulai bergerak lebih stabil dan kuat.

Jari tangan Pak Adiwangsa bergerak sedikit.

Aruna tersenyum penuh kemenangan. "Ronde kedua dimulai, Tristan. Saat Ayah bangun, kamu bukan hanya kehilangan rumah, tapi juga kebebasanmu."

Tiba-tiba, ponsel Aruna bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk:

'Kamu pikir rekaman itu cukup untuk menghancurkanku? Lihat ke luar jendela rumah sakit, Aruna. Aku punya kejutan yang lebih besar.'

Aruna menoleh ke bawah, ke arah parkiran rumah sakit. Di sana, ia melihat Tristan sedang berdiri di samping mobil Siska, melambaikan tangan dan tersenyum, sementara di tangan Siska terdapat sebuah map besar yang sangat familiar.

Map aset keluarga Adiwangsa yang seharusnya ada di brankas rumah.

***

Aruna merasa seluruh badannya mendadak kaku. Bagaimana mungkin? Brankas di ruang kerja ayahnya memiliki sistem keamanan ganda yang hanya diketahui oleh keluarga inti dan Pak Baskara. Ia memegang ponselnya erat-erat, matanya tidak lepas dari sosok Tristan yang kini tertawa puas di bawah sana.

Ingatan Aruna melayang ke kejadian beberapa jam yang lalu, sesaat setelah ia meninggalkan hotel menuju kantor Pak Baskara.

Flashback.

Tristan berdiri di depan pintu rumah besar Adiwangsa dengan napas yang tak karuan setelah diusir dari hotel. Ia tidak punya uang, tapi ia punya kunci cadangan rumah yang diberikan Aruna saat mereka bertunangan.

"Cepat, Siska!" bisik Tristan pada wanita di sampingnya.

Mereka menyelinap masuk ke ruang kerja Pak Adiwangsa. Tristan tidak perlu mengubah sistem digital; ia mengeluarkan sebuah amplop kecil berisi bubuk sidik jari dan isolasi bening. Alat yang sudah ia siapkan berbulan-bulan. Ia menempelkannya pada tombol angka brankas, melihat bekas minyak dari jari Pak Adiwangsa yang tertinggal, lalu mencoba kombinasi tanggal lahir Aruna yang digabung dengan kode rahasia perusahaan.

Klik.

Pintu baja itu terbuka. Mata Siska memancarkan kesenangan saat melihat tumpukan sertifikat tanah, surat saham, dan emas batangan.

"Ambil semua sertifikat aslinya! Selama kita pegang ini, Aruna nggak akan bisa melakukan transaksi aset apa pun meskipun dia punya kuasa hukum," perintah Tristan kejam. "Biarkan dia memegang rekaman suaraku, tapi aku yang akan memegang kendali nasib perusahaan."

Dunia Nyata.

Aruna tersadar dari lamunannya. Kemarahan menyesakkan dadanya lebih hebat dari sebelumnya. Ia segera menekan tombol panggil di ponselnya, menghubungkan langsung ke dua pengawal yang baru saja tiba di lobi.

"Bimo! Raka! Cepat ke area parkir blok B! Di sana ada pria berpakaian jas berantakan dan wanita bergaun merah di samping mobil sedan hitam. Rebut map besar yang mereka bawa! Jangan biarkan mereka pergi!" perintah Aruna dengan suara bergetar karena emosi.

Dari jendela lantai atas, Aruna melihat dua pengawalnya berlari kencang menuju posisi Tristan. Bimo, pengawal yang bertubuh paling besar, hampir berhasil memegang kerah baju Tristan.

"Sialan!" desis Tristan di bawah sana. Ia melihat para pengawal itu dan langsung mendorong Siska masuk ke dalam mobil.

Siska segera menginjak gas. Mobil sedan itu, bannya berdecit keras di atas aspal parkiran. Raka mencoba menghalang di depan mobil, namun Siska tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengerem. Raka terpaksa melompat ke samping untuk menyelamatkan nyawanya.

"Kejar mereka!" teriak Aruna dari balik kaca, meskipun ia tahu suaranya tidak terdengar ke bawah.

Mobil itu berjalan keluar gerbang rumah sakit, menghilang di tengah kemacetan Jakarta yang gila. Bimo dan Raka hanya bisa berdiri terdiam sambil mengatur napas, gagal mendapatkan kembali harta yang dicuri itu.

Aruna memukul bingkai jendela dengan kepalan tangannya. "Sial! Licik sekali kamu, Tristan!"

Ia kesal luar biasa. Seharusnya ia mengganti kode brankas itu lebih awal. Namun, saat ia berbalik dan menatap ayahnya yang mulai bernapas stabil, amarahnya sedikit mereda. Ia teringat cairan perak dari Hutan Sanubari.

​"Kamu pikir kertas-kertas itu akan menyelamatkanmu, Tristan?" bisik Aruna tajam. "Kamu memegang suratnya, tapi aku memegang pemilik sahnya. Dan pemiliknya baru saja kembali dari kematian."

Aruna kembali ke sisi tempat tidur ayahnya. Ia tahu, langkah selanjutnya bukan lagi soal hukum atau uang, tapi soal siapa yang lebih cepat sampai ke garis akhir. Ia perlu kembali ke Hutan Sanubari, mencari sesuatu yang lebih kuat dari sekadar 'kebenaran' atau 'kesembuhan'. Ia butuh sesuatu untuk perlindungan.

1
Ida Kurniasari
seruu bgt thorr😍
Angel: Wah, makasih banyak ya Kak Ida! 🥰 Senang banget kalau ceritanya menghibur. Bagian mana nih yang paling bikin nagih?
total 1 replies
Angel
keren
Nadira ST
💪💪💪💪💪💪☕☕☕☕🥰🥰🥰🥰☕
Angel: Wuih, deretan semangatnya sampai sini nih! Terima kasih ya, Nadira ST. Menurut kamu, apa bagian paling menarik dari bab ini? Ditunggu komentarnya lagi ya! 💪🔥
total 1 replies
Murni Dewita
💪💪💪💪
Angel: Aruna emang makin tangguh nih, Kak! 💪 Tapi kira-kira dia sanggup nggak ya ngadepin Paman Hendrawan yang jauh lebih licik? Pantau terus kelanjutannya ya, Kak Murni!
total 1 replies
Lala Kusumah
good job Aruna 👍👍👍👍
Angel: Terima kasih Kak Lala! Aruna emang pantes dapet apresiasi setelah semua pengkhianatan itu. Tapi ujian sebenarnya baru aja dimulai nih. Stay tuned ya! ✨
total 1 replies
Murni Dewita
👣👣
Angel: Wah, jejak Kak Murni sudah sampai sini nih! Menurut Kakak, apa yang bakal terjadi sama Aruna setelah ini? Stay tuned ya! ✨
total 1 replies
Lala Kusumah
astaghfirullah 😭
Angel: Jangan nangis dulu, Kak! Habis ini Aruna bakal kasih kejutan yang jauh lebih besar buat Tristan. Kira-kira apa yang bakal Aruna lakukan selanjutnya ya? Pantau terus besok jam 7 malam ya! 🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!