Dulu aku adalah sampah di Sekte Awan Azure, sampai sistem 'Night Crawler' merobek kemanusiaanku dan menggantinya dengan insting predator. Sekarang, aku bisa bertransformasi menjadi monster dan melahap kultivasi siapa pun yang berani menghalangi jalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Guncangan keras itu membuat tubuhku yang belum pulih sepenuhnya terjerembap ke lantai kereta. Rasa nyeri di punggung terasa seperti dihantam palu godam, membuatku mendesis tertahan. Aku memegangi dada, berusaha sekuat tenaga agar energi Asura di dalam diri tidak meledak karena kaget.
Suara teriakan di luar tadi begitu lantang, penuh dengan getaran tenaga dalam yang membuat telinga berdenging.
Nyonya He Ran sama sekali tidak beranjak dari kursinya. Ia hanya merapikan lipatan gaun ungunya dengan gerakan yang sangat tenang, seolah-olah ledakan energi di depan hidung kami hanyalah gangguan lalat belaka. Ia menatapku dengan sorot mata yang mengisyaratkan agar aku tetap diam dan tidak melakukan gerakan tambahan.
"Tetua Penegak Jang Mu-deok," ucap He Ran dengan nada bicara yang sangat santai, hampir menyerupai bisikan namun entah bagaimana suaranya menembus dinding kereta dengan sangat jelas.
Aku mendengar suara langkah kaki yang berat mendekat. Setiap injakan kakinya di tanah terasa seperti dentuman kecil yang bergema di ulu hati. Seseorang dengan kekuatan sebesar ini pasti memiliki kedudukan yang sangat tinggi di Sekte Awan Azure.
"Nyonya He Ran, saya tidak bermaksud tidak sopan kepada Divisi Bayangan," sahut pria di luar sana dengan nada bicara yang sedikit melunak, namun tetap terasa angkuh. "Namun, kami sedang mengejar seorang pembunuh keji yang baru saja membantai Tetua Agung kami. Jejaknya mengarah tepat ke jalur kereta Anda."
He Ran tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat sangat berbahaya di mataku. "Pembantai Tetua Agung? Maksudmu sampah dari sekte kalian yang bahkan tidak bisa berkultivasi itu?"
"Dia bukan lagi sampah, Nyonya. Dia adalah iblis yang menyamar," timpal Jang Mu-deok dengan suara yang bergetar karena amarah.
Aku mencengkeram kain seprai ranjang hingga buku jariku memutih. Deskripsi itu terasa begitu pas namun sekaligus memuakkan. Di dalam kegelapan kereta ini, aku bisa merasakan sisik di lenganku mulai berdenyut, seolah-olah mereka ingin keluar untuk menyambut tantangan dari luar.
[Peringatan: Detak jantung meningkat drastis. Segel sistem dalam kondisi kritis.]
"Lalu, apakah kau menuduhku menyembunyikan iblis di dalam keretaku?" tanya He Ran sembari menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi yang empuk.
"Saya hanya ingin memastikan. Aturan adalah aturan, dan Kota Guntur berada di bawah pengawasan ketat menjelang turnamen," tegas Jang Mu-deok.
Pintu kereta tiba-tiba bergetar. Aku bisa merasakan ada aliran energi tipis yang mencoba merembes masuk melalui celah-celah kayu. Teknik pemindaian. Pria itu mencoba melihat apa yang ada di dalam tanpa harus membukanya.
He Ran mendengus pelan. Ia mengangkat tangan kanannya, lalu menjentikkan jarinya sekali saja.
Seketika, energi pemindaian dari luar itu terputus dengan paksa. Aku mendengar suara erangan tertahan dari luar, diikuti oleh langkah kaki yang mundur beberapa tindak.
"Jangan pernah mencoba teknik murahan itu pada propertiku, Mu-deok," ujar He Ran dengan nada bicara yang kini berubah menjadi dingin dan menusuk. "Atau aku akan menganggapnya sebagai deklarasi perang terhadap Divisi Bayangan."
Suasana di luar mendadak menjadi sangat sunyi. Para penjaga kota dan murid-murid sekte yang tadi berisik kini seolah-olah menahan napas mereka. Tekanan udara di sekitar kereta menjadi sangat berat, membuatku sulit untuk sekadar menghirup oksigen.
"Maafkan kelancangan saya," ucap Jang Mu-deok akhirnya, meski nada suaranya terdengar penuh dendam. "Silakan lanjutkan perjalanan Anda, Nyonya."
Kusir kereta segera memacu kuda kembali. Gerobak kencana ini mulai bergerak perlahan melewati gerbang kota yang besar. Aku bisa melihat bayangan Jang Mu-deok melalui celah tirai yang sedikit terbuka. Ia berdiri tegak dengan wajah yang kaku, matanya menatap tajam ke arah kereta kami seolah ingin menembus dinding kayu ini.
"Kau aman untuk saat ini," cetus He Ran sembari kembali menyesap tehnya yang kini sudah mulai dingin.
"Dia tidak akan menyerah begitu saja," sahutku sembari berusaha mengatur napas agar kembali stabil.
"Memang tidak. Tapi di dalam Kota Guntur, dia tidak bisa bertindak sembarangan," timpal He Ran sembari menatapku dengan saksama. "Sekarang, fokuslah pada pemulihanmu. Kau akan membutuhkan setiap tetes kekuatanmu untuk babak penyisihan besok pagi."
Aku terdiam, membiarkan tubuhku kembali bersandar pada bantal. Kota Guntur ternyata jauh lebih besar dan lebih ramai dari yang kubayangkan. Suara hiruk pikuk pedagang dan dentingan senjata para kultivator mulai terdengar masuk ke dalam kereta.
Namun, di tengah kebisingan itu, sistem tiba-tiba memberikan notifikasi baru yang berwarna ungu gelap.
[Analisis lingkungan selesai. Terdeteksi kehadiran tiga individu dengan esensi yang mirip dengan 'Night Crawler' di area kota.]
Aku langsung terduduk tegak. Jantungku berdebar kencang bukan karena takut, melainkan karena rasa penasaran yang mengerikan. Jika esensi itu mirip denganku, artinya aku bukanlah satu-satunya monster yang sedang bersembunyi di kota ini.
"Ada apa?" tanya He Ran sembari mengerutkan kening melihat reaksiku.
"Sepertinya turnamen ini akan jauh lebih menarik dari yang kau rencanakan," balasku sembari menatap telapak tanganku yang masih terasa panas.
Kereta akhirnya berhenti di depan sebuah kediaman mewah yang tersembunyi di balik gang-gang sempit kota. Saat aku melangkah turun dengan bantuan tongkat kayu, aku bisa merasakan ada sepasang mata yang mengawasi dari atas atap bangunan seberang. Sosok itu bergerak sangat cepat, menghilang di balik kegelapan sebelum aku sempat memastikan wujudnya.
Apakah itu salah satu dari mereka yang dideteksi oleh sistem?
"Masuklah. Jangan memancing perhatian," perintah He Ran sembari berjalan mendahuluiku.
Aku mengikuti langkahnya masuk ke dalam bangunan itu. Ruangannya sangat luas dengan dekorasi yang minimalis namun elegan. Namun, baru saja aku melewati ambang pintu, seorang pria muda dengan pakaian serba hitam sudah berdiri menungguku di ruang tengah. Ia membawa sebilah pedang pendek dan menatapku dengan senyum yang sangat merendahkan.
"Jadi, ini 'sampah' yang kau bawa jauh-jauh dari Awan Azure itu, Nyonya?" tanya pria muda itu dengan nada suara yang sangat mengejek.
"Jaga bicaramu, Li Chen," sahut He Ran tanpa menoleh.
Pria bernama Li Chen itu justru berjalan mendekatiku, lalu sengaja menabrak bahuku dengan keras. "Kota Guntur bukan tempat untuk orang cacat. Sebaiknya kau pulang sebelum kepalamu berakhir di ujung tombak penjaga."
Aku hanya diam, menahan diri agar tidak mencabik wajahnya saat itu juga. Namun, saat Li Chen hendak melangkah pergi, sistem tiba-tiba memberikan sebuah opsi yang sangat menggoda.
[Misi Sampingan: Berikan pelajaran pada Li Chen tanpa menggunakan transformasi.] [Hadiah: Peningkatan kontrol esensi sebesar 5%.]
Aku menghentikan langkahku dan menoleh ke arah punggung Li Chen. "Kau menjatuhkan sesuatu, Kakak Senior."
Li Chen berhenti dan berbalik dengan wajah bingung. "Apa maksudmu?"
"Harga dirimu," jawabku datar sembari menatap matanya dengan tajam.
Wajah Li Chen seketika berubah menjadi merah padam. Ia mencengkeram gagang pedangnya dengan kuat, sementara He Ran hanya berdiri di sudut ruangan dengan tangan bersedekap, seolah ingin melihat apa yang akan kulakukan tanpa kekuatan monstertu.