"Ketika seorang anak ingin dicintai tapi selalu dijadikan alasan"
Kanaya ditinggalkan ibunya sejak bayi berumur 14 bulan dan tumbuh bersama ayah yang selalu menyalahkannya atas setiap kegagalan hidup.
Saat ayahnya menikah lagi, kasih sayang yang dulu sempat ia rasakan perlahan hilang.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang berubah menjadi sumber luka.
Kanaya hanya ingin diakui sebagai anak, bukan beban.
Namun semakin ia berusaha, semakin ia disalahkan.
Sampai akhirnya ia hanya bisa bertanya dalam diam—
Ayah, apa salahku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DIBALIK PAGAR DIBAWAH KASIH
Malam itu, suasana rumah terasa sangat berbeda. Mbah Akung sebenarnya sudah berpesan kepada Mbah Uti dan Mbok Darmi untuk merahasiakan kejadian siang tadi; ia tidak ingin Maya yang baru mulai tenang kembali meledak, atau Bagas merasa gagal lagi sebagai seorang ayah. Namun, perilaku Kanaya tidak bisa berbohong. Biasanya, begitu Maya pulang sekolah, Kanaya akan langsung menyerbu dan menempel seperti prangko ke kakinya, tetapi sore ini, balita itu justru terus bersembunyi di balik sarung Mbah Akung dan menolak digendong oleh Maya.
"Naya, sayang... ini Ibu pulang. Lihat, Ibu bawa buku stiker baru buat Naya. Sini sayang, peluk Ibu," panggil Maya sambil merentangkan tangan dengan senyum paling manis yang ia miliki.
Namun, Kanaya justru menggeleng kuat-kuat dan semakin erat memeluk kaki Mbah Akung. Matanya yang bulat tampak sembap dan ia terus menunduk, menghindari kontak mata dengan Maya. Maya terdiam, senyumnya perlahan memudar digantikan rasa heran yang bercampur cemas. Ia menoleh ke arah Bagas yang juga baru sampai, yang sama bingungnya melihat perubahan sikap putrinya.
"Naya kenapa? Kok mau sama Mbah terus, nggak mau sama Ibu? Ibu ada salah ya sama Naya?" tanya Maya dengan nada suara yang mulai bergetar karena sedih. Ia berlutut di depan Kanaya, mencoba menyentuh tangan mungil itu, namun Kanaya justru menarik tangannya menjauh.
"Naya... bukan anak Ibu," ucap Kanaya lirih, suaranya hampir menyerupai bisikan namun terdengar seperti ledakan di telinga semua orang yang ada di sana.
Maya seketika membeku. Jantungnya serasa berhenti berdetak sesaat. Ia menatap Kanaya dengan wajah pucat pasi, lalu beralih menatap Mbah Akung dan Bagas dengan tatapan menuntut penjelasan. "Naya bicara apa? Siapa yang bilang begitu? Naya, dengar Ibu... siapa yang bicara begitu sama Naya?!" tanya Maya dengan nada yang mulai meninggi karena kaget sekaligus hancur hatinya.
Mbah Akung menghela napas panjang, ia tahu rahasia ini tidak mungkin disimpan lagi. Sambil mengusap kepala Kanaya, ia akhirnya angkat bicara dengan suara berat. "Tadi siang... si Nina, tetangga sebelah, bicara sembarangan di depan pagar saat Naya lagi main. Dia bilang ke orang-orang kalau Naya cuma anak pungut dan kamu bukan ibunya yang beneran. Naya dengar semuanya, May."
Mendengar itu, Maya menutup mulutnya dengan tangan, air matanya tumpah seketika. Rasa sakit karena ditolak calon suaminya kemarin tidak ada apa-apanya dibandingkan melihat luka di mata anak sekecil ini. Bagas yang berdiri di belakang Maya langsung mengepalkan tangannya kuat-kuat, rahangnya mengeras menahan amarah yang luar biasa hebat.
"Jadi itu sebabnya Naya nggak mau sama Ibu? Naya percaya sama kata-kata orang itu?" tanya Maya sambil terisak, ia menarik napas panjang dan memegang kedua bahu Kanaya dengan lembut namun pasti. "Dengar Ibu, Naya. Ibu yang pilih Naya, Ibu yang jaga Naya dari bayi, dan Ibu yang bakal selalu ada buat Naya. Nggak ada anak pungut di rumah ini. Naya adalah anak Ibu, selamanya. Naya percaya sama Ibu atau sama orang jahat itu?"
Kanaya mendongak, melihat air mata ibunya yang mengalir deras, lalu perlahan ia melepaskan pegangannya dari sarung Mbah Akung dan menghambur ke pelukan Maya sambil menangis kencang, seolah baru saja menyadari bahwa sejauh apa pun orang mencoba memisahkan mereka, ikatan itu tidak akan pernah bisa putus.
Malam yang seharusnya tenang itu berubah menjadi badai. Maya, yang biasanya selalu menjaga martabatnya sebagai seorang guru, kali ini benar-benar kehilangan kendali diri. Rasa sakit hatinya melihat Kanaya menjauhinya tadi sore telah berubah menjadi api yang berkobar. Tanpa alas kaki, ia melangkah lebar keluar rumah, diikuti oleh Bagas yang wajahnya tampak luar biasa gelap dan mengintimidasi.
"Nina! Keluar kamu, Nina! Jangan jadi pengecut!" teriakan Maya membelah kesunyian komplek, membuat lampu-lampu teras tetangga satu per satu menyala.
Bagas tidak tinggal diam, ia menggedor pagar besi rumah Bi Nina dengan keras hingga menimbulkan suara dentuman yang memekakkan telinga. "Keluar sekarang! Jelaskan apa maksudmu meracuni pikiran anak kecil!"
Mbah Akung yang baru menyadari situasi itu langsung berlari mengejar dari belakang, berusaha meredam emosi kedua anaknya. "Maya! Bagas! Sudah, jangan pakai cara begini!" seru Mbah Akung terengah-engah, namun suaranya tenggelam oleh keributan yang terjadi.
Pintu rumah Bi Nina terbuka sedikit, menampakkan wajahnya yang ketakutan. "Ada apa sih? Malam-malam kok teriak-teriak begini, nggak sopan!"
"Sopan kamu bilang?!" Maya maju selangkah, menunjuk tepat ke wajah Nina. "Mana sopan santunmu saat bicara soal status anakku di depan wajahnya? Kamu tahu apa soal keluarga kami? Kamu pikir kamu siapa, bisa-bisanya menghancurkan perasaan anak umur tiga tahun hanya untuk memuaskan mulut sampahmu itu?!"
Keributan itu begitu hebat hingga warga sekitar berkerumun. Tak lama, Pak RT datang dengan tergesa-gesa mencoba menengahi. "Ada apa ini? Mbak Maya, Mas Bagas, tolong tenang dulu. Kita ini bertetangga!"
"Tidak bisa, Pak RT!" Bagas menyambar dengan nada tegas yang membuat suasana makin mencekam. "Orang ini sudah keterlaluan. Dia menyebut putri saya anak pungut di depan wajahnya sendiri. Anak saya sampai trauma tidak mau memeluk ibunya. Kalau urusannya sudah menyangkut mental anak saya, saya tidak peduli lagi soal urusan bertetangga!"
Maya menangis sesenggukan namun suaranya tetap tajam, "Dengar ya, Nina. Sekali lagi kau sebut kata 'pungut' atau kau usik status Kanaya, aku tidak akan segan-segan membawa ini ke jalur hukum atas pencemaran nama baik dan perlindungan anak. Aku bisa kehilangan segalanya, tapi aku tidak akan biarkan anakku kehilangan identitasnya karena mulutmu!"
Bi Nina hanya bisa tertunduk malu di hadapan Pak RT dan kerumunan warga yang kini mulai berbisik-bisik menyalahkan kelakuannya. Mbah Akung akhirnya berhasil merangkul bahu Maya dan Bagas, menuntun mereka kembali masuk ke dalam rumah sementara Pak RT memberikan teguran keras kepada Bi Nina di depan umum.
Malam itu, seluruh komplek tahu satu hal: Jangan pernah berani menyentuh atau menyakiti Kanaya, karena ada keluarga yang siap berubah menjadi macan untuk melindunginya.
Setelah badai teriakan di luar mereda, suasana di dalam rumah terasa sangat kontras—hening, namun berat oleh sisa-sisa emosi yang masih bergetar. Maya terduduk lemas di kursi ruang tamu, napasnya masih memburu dengan air mata yang terus mengalir membasahi wajahnya yang memerah. Sementara itu, Bagas berdiri di dekat jendela, kedua tangannya masih terkepal erat dengan rahang yang mengeras, berusaha meredam amarah yang seolah ingin meledak lagi.
"Sudah, May... Gas... minum dulu," ucap Mbah Uti dengan tangan gemetar, menyodorkan dua gelas air putih ke meja. Ia sendiri tampak sangat syok melihat kedua anaknya yang biasanya tenang bisa beraksi sedemikian hebat demi melindungi Kanaya.
Mbah Akung duduk di antara mereka, menghela napas panjang untuk menenangkan suasana. "Kalian sudah mengeluarkan semuanya. Seluruh orang di komplek ini sekarang sudah tahu kalau kita tidak main-main soal Kanaya. Tapi sekarang, tolong tenang. Naya sedang tidur di dalam, jangan sampai dia bangun dan takut melihat kalian begini."
Mendengar nama Kanaya disebut, Maya seolah tersadar. Ia segera menyeka air matanya dengan kasar, lalu bangkit berdiri dan melangkah menuju kamar. Di dalam, ia mendapati Kanaya sedang tidur meringkuk dengan boneka lumba-lumbanya, sisa-sisa isak tangis tadi siang masih terlihat dari dadanya yang sesekali naik turun dengan tidak teratur.
Maya perlahan naik ke tempat tidur, merebahkan tubuhnya di samping gadis kecil itu dan mendekapnya sangat erat, seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatan yang ia miliki. Bagas menyusul masuk, ia duduk di pinggir ranjang, menatap kakak dan putrinya dengan tatapan yang dalam.
"Mbak... maafkan aku," bisik Bagas parau. "Gara-gara kesalahanku dulu, Mbak Maya harus menanggung semua fitnah ini. Mbak harus melabrak orang, harus kehilangan calon suami... aku benar-benar gagal jadi adik."
Maya menoleh ke arah Bagas, matanya yang sembap menatap adiknya tanpa amarah sedikit pun. "Jangan bicara begitu lagi, Gas. Tadi di depan rumah Nina, aku sadar satu hal. Aku tidak peduli lagi soal laki-laki itu atau omongan orang. Saat Naya bilang dia bukan anakku, rasanya jauh lebih sakit daripada ditinggal menikah sepuluh kali pun. Dia anakku, Gas. Entah apa kata dunia, dia anakku."
Bagas terdiam, ia mengulurkan tangan mengelus rambut Kanaya yang terlelap. Di dalam kamar yang remang itu, ketegangan perlahan mencair berganti menjadi tekad baru. Mereka menyadari bahwa serangan dari luar justru semakin mengukuhkan bahwa di dalam rumah itu, hidup Kanaya memang sudah lengkap: ada Ayah, Ibu, Mbah Akung, dan Mbah Uti yang siap menjadi benteng dari kejamnya dunia.
Matahari pagi menembus celah gorden, menyinari wajah mungil Kanaya yang masih terlelap. Begitu matanya terbuka, hal pertama yang ia lihat adalah Mbak Maya yang sedang duduk di tepi ranjang sambil memperhatikannya dengan senyum lembut. Seolah badai hebat semalam dan tangisan pilu siang kemarin hanyalah mimpi buruk yang tertiup angin, Kanaya bangun dengan keceriaan yang murni.
Anak kecil memang memiliki anugerah luar biasa: kemampuan untuk melupakan luka dengan sangat cepat dan kembali memeluk dunia dengan tangan terbuka.
"Ibuuu! Lihat, lumba-lumbanya mau makan luti (roti)!" seru Kanaya riang, langsung menyodorkan bonekanya ke wajah Maya seolah tidak pernah terjadi ketegangan apa pun di antara mereka.
Maya bernapas lega, hatinya yang sempat hancur kini perlahan tertata kembali melihat binar di mata Kanaya. "Iya, Sayang. Ayo bangun, kita sarapan sama-sama. Ayah sudah belikan bubur ayam kesukaan Naya," jawab Maya sambil mencium kedua pipi Kanaya dengan penuh gemas.
Di meja makan, suasana terasa jauh lebih ringan. Mbah Akung dan Mbah Uti tertawa melihat Kanaya yang sibuk menceritakan mimpinya tentang lumba-lumba yang bisa terbang. Bagas, yang tadinya khawatir putrinya akan trauma, kini bisa tersenyum lebar sambil menyuapkan sesendok bubur ke mulut Kanaya.
"Ayah, nanti Naya ikut ke kantol (kantor) Ibu lagi?" tanya Kanaya dengan mulut penuh makanan.
Bagas melirik Maya, lalu kembali menatap putrinya. "Hari ini Naya di rumah dulu sama Mbah ya? Kan Ayah nggak kerja, Ayah mau ajak Naya main bola di halaman belakang. Mau?"
"Mauuu! Ayah jadi kelinci, Naya jadi galimau (harimau) ya!" seru Kanaya sambil melompat-lompat kecil di kursinya.
Maya menyesap tehnya, menatap kerumunan kecil di meja makan itu dengan perasaan syukur yang mendalam. Ia sadar, meski di luar sana ada orang-orang seperti Bi Nina yang mungkin masih berbisik, di dalam rumah ini, Kanaya tetaplah putri kecil yang merasa hidupnya paling sempurna. Bagi Kanaya, selama ada Ayah yang siap jadi kelinci, Ibu yang menciumnya setiap pagi, serta Mbah yang selalu punya donat, dunia adalah tempat yang baik-baik saja.
Sore itu, halaman depan rumah berubah menjadi arena bermain yang meriah. Beberapa anak tetangga datang berkunjung, dan Kanaya dengan semangat mengeluarkan koleksi "harta karun" miliknya ke atas tikar. Ada berbagai macam boneka, mulai dari yang berbulu halus sampai yang bisa bersuara, serta deretan mobil-mobilan berbagai ukuran.
"Wah, Kanaya... mainan kamu banyak banget! Bagus-bagus lagi, pasti mahal-mahal ya?" ucap salah satu teman mainnya sambil menatap kagum ke arah boneka beruang besar yang memakai pita cantik.
Kanaya mengangguk mantap dengan wajah yang sangat serius, seolah sedang memberikan laporan penting. "Iya, ini boneka-boneka yang bagus semuanya Ibu yang beli. Ibu belinya banyak sekali di toko besar, soalnya Ibu punya uang banyak di dompet," ucapnya polos sambil menunjuk Mbak Maya yang sedang duduk santai di teras.
Lalu, Kanaya meraih sebuah mobil-mobilan plastik sederhana yang warnanya sudah agak kusam dan ukurannya jauh lebih kecil dibandingkan deretan mainan lainnya. Ia menunjukkannya kepada teman-temannya dengan ekspresi datar. "Kalau mobil-mobilan ini dari Ayah. Ayah belinya sedikit, lihat deh... mobilnya kecil. Ayah belinya pelit ya?" tambahnya dengan nada jujur yang luar biasa.
Sontak saja, ucapan polos itu membuat Mbah Akung yang sedang menyiram tanaman di dekat sana langsung tertawa terbahak-bahak sampai pundaknya terguncang. Bagas, yang baru saja keluar dari rumah membawa nampan berisi sirup dingin untuk anak-anak, langsung mematung dengan wajah merah padam. Ia merasa "terhianati" oleh kejujuran putrinya sendiri di depan umum.
"Aduh, Naya... jujur sekali kamu, Nak," ucap Mbah Akung sambil memegangi perutnya yang kaku karena tertawa. "Dengar itu Gas, kamu kena komplain! Katanya kamu pelit kalau beli mobil-mobilan!"
Bagas meletakkan nampan sirup itu di meja sambil geleng-geleng kepala, mencoba membela diri di tengah tawa keluarganya. "Ya ampun Naya, Ayah kan pilih mobil yang itu supaya bisa masuk ke kantong baju Naya kalau kita jalan-jalan. Lagipula, mobil kecil itu yang paling sering Naya tabrak-tabrakin sampai rodanya copot, kan?" goda Bagas sambil mencubit gemas pipi putrinya.
Maya yang duduk di kursi teras pun tak bisa menahan tawa kecilnya. Ia merasa lucu melihat bagaimana Kanaya secara gamblang membedakan "kasta" mainannya berdasarkan siapa yang membelikan. Padahal, meski boneka dari Maya mahal dan cantik, mobil-mobilan "pelit" dari Ayah itulah yang selalu menemani Kanaya tidur setiap malam.
"Nggak apa-apa Ayah belinya sedikit, yang penting Ibu belinya banyak buat Naya," celetuk Kanaya lagi dengan santai sambil kembali asyik menyusun mobil-mobilannya, sama sekali tidak merasa bahwa ucapannya baru saja menjadi bahan tertawaan satu rumah.