NovelToon NovelToon
MAS KADES, I LOVE YOU

MAS KADES, I LOVE YOU

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Menyembunyikan Identitas / Chicklit / Tamat
Popularitas:887k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Mia

Cerita ini hanyalah fiksi. Jika ada kesamaan nama, tempat, desa ataupun kota, itu hanyalah kebetulan Semata.

Amelia, putri seorang konglomerat, memilih mengikuti kata hatinya dengan menekuni pertanian, hal yang sangat ditentang sang ayah.

Penolakan Amelia terhadap perjodohan yang diatur ayahnya memicu kemarahan sang ayah hingga menantangnya untuk hidup mandiri tanpa embel-embel kekayaan keluarga.

Amelia menerima tantangan itu dan memilih meninggalkan gemerlap dunia mewahnya. Terlunta-lunta tanpa arah, Amelia akhirnya mencari perlindungan pada mantan pengasuhnya di sebuah desa.

Di tengah kesederhanaan desa, Amelia menemukan cinta pada seorang pemuda yang menjadi kepala desa. Namun, kebahagiaannya terancam karena keluarga sang kepala desa yang menganggapnya rendah karena mengira dirinya hanya anak seorang pembantu.

Bagaimanakah Amelia menyikapi semua itu?
Ataukah dia akhirnya melepas impian untuk bersama sang kekasih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

01. Perdebatan di Meja Makan

.

Ruang makan mewah keluarga Bramasta diselimuti cahaya senja yang keemasan, namun atmosfer di dalamnya terasa dingin dan tegang. Di meja makan yang panjang, Alexander Bramasta, seorang konglomerat bertangan dingin, meletakkan tabletnya dengan gerakan tegas. Di seberangnya, Eliza, istrinya yang lembut, tampak cemas. Di antara mereka, Amelia, putri mereka, hanya menatap kosong ke arah piringnya.

Sudah lama Alexander membiarkan Amelia, putrinya, menekuni bidang pertanian. Ia mengira, itu hanya fase yang akan berlalu seiring waktu. Namun, Amelia semakin serius dengan pilihannya, bahkan mengabaikan perintahnya untuk mulai belajar terjun ke perusahaan, dan Alexander merasa kesabarannya sudah mencapai batas. Saatnya mengembalikan Amelia ke jalan yang "benar," jalan yang sudah ia rancang untuk putrinya.

"Amelia," Alexander membuka percakapan dengan nada berat. "Papa sudah cukup bersabar membiarkan kamu kuliah di jurusan pertanian. Tapi, sekarang, saatnya kamu memikirkan masa depan yang lebih pasti. Mulai besok, kamu harus mau ikut belajar terjun di perusahaan!"

Amelia mengangkat kepalanya, tatapannya menantang. "Pa, aku sama sekali gak ada bakat di bidang bisnis. Aku gak tahu seluk beluk perusahaan."

“Itu karena kamu yang tidak mau belajar,” bentak Alexander. "Karena itu Papa minta kamu ikut ke perusahaan mulai besok. Titik!”

“Kenapa sih, Papa selalu maksa aku?" Amelia semakin tidak suka dengan sikap papanya yang menurutnya terlalu otoriter.

“Itu karena kamu anak Papa satu-satunya. Kalau bukan kamu, siapa yang akan meneruskan bisnis Papa? Lagipula itu semua juga untuk kamu nantinya.”

"Tapi tidak sekarang, Pa. Amel masih punya mimpi yang ingin Amel kejar!” Amelia berteriak frustasi. Kenapa sih, papanya tidak bisa mengerti dirinya sedikit saja? Dia itu mencintai alam bebas. Tidak ingin terkekang dengan tumpukan berkas.

Alexander mendengus. "Mimpi apa? Jadi petani? Omong kosong! Kamu putri Bramasta, pewaris kekayaan keluarga. Bukan petani!"

Elizabeth mencoba menenangkan suaminya. "Alexander, jangan terlalu keras pada Amelia. Dia hanya belum dewasa. Berikan dia sedikit waktu lagi."

"Cukup, Eliza!" Alexander membentak, membuat Elizabeth terdiam. "Berhenti memanjakan dan selalu memaklumi sikap putrimu. Yang aku lakukan ini juga demi masa depan Amelia. Dan aku sudah membuat keputusan."

Amelia mengerutkan kening. "Keputusan apa, Pa?"

Alexander menatap putrinya dengan tatapan yang tak terbantahkan. "Papa sudah mengatur pertemuanmu dengan Richard Handoyo, putra Tuan Handoyo, minggu depan."

Amelia terkejut. Jantungnya berdebar kencang. Ia tahu apa maksud dari pertemuan ini.

"Maksud Papa?" tanyanya, dengan suara tercekat. "Papa ingin mengatur perjodohan untuk Amel? Amel tidak mau. Amel masih ingin mengejar cita-cita Amel"

Alexander mengangguk mantap. "Ya. Itu salah satu cara jika kamu tidak mau terjun ke perusahaan. Papa ini semakin tua, dan Papa butuh penerus!”

"Tapi tidak dengan Richard Handoyo juga, Pa.” Amelia menggelengkan kepala.

Alexander menatap putrinya tajam. “Memangnya kenapa dengan Richard? Richard adalah pria yang tepat untukmu. Dia cerdas, ambisius, dan berasal dari keluarga terhormat. Pernikahan kalian akan memperkuat posisi bisnis keluarga kita."

"Dia itu bukan pria yang baik. Apa Papa tidak pernah mendengar berita di luar?” Amelia menatap ayahnya tak percaya.

“Itu hanya gosip. Semakin tinggi posisi seseorang, akan semakin banyak musuh yang ingin menjatuhkan. Dan perjodohan ini sudah kami sepakati. Dengan kamu menjadi menantu keluarga Handoyo, posisi keluarga kita akan semakin kuat.” Alexander tersenyum penuh kepuasan.

Air mata mulai mengalir di pipi Amelia. "Aku bukan barang dagangan, Pa! Aku punya hak untuk memilih dengan siapa aku ingin menikah!"

"Kamu adalah putriku, dan aku berhak menentukan masa depanmu," balas Alexander, dengan nada dingin. "Aku sudah memberikanmu kebebasan untuk memilih jurusan kuliahmu, meskipun itu pilihan yang bodoh. Tapi, untuk urusan pernikahan, kamu harus menuruti kemauan Papa."

"Aku tidak akan menuruti Papa!" Amelia berdiri dari kursinya, wajahnya merah padam karena marah. "Aku tidak akan menikah dengan Richard! Aku punya hak untuk menentukan hidupku sendiri. Apalagi kalau pilihan papa adalah Richard. Aku tidak mau mati karena makan hati."

Alexander menatap putrinya dengan tatapan tajam. "Kalau begitu, bersiaplah untuk menerima konsekuensinya."

"Konsekuensi apa?" tantang Amelia, air matanya terus mengalir.

"Kalau kamu menolak perjodohan ini, Papa akan mencabut semua fasilitas yang selama ini kamu nikmati. Mobil, kartu kredit, apartemen... semuanya akan Papa tarik!" ujar Alexander dengan nada dingin. Matanya menyorot tajam wajah putrinya yang tampak terpukul.

Amelia terdiam. Ia tahu bahwa ayahnya serius dengan ancamannya. Namun, ia juga tahu bahwa ia tidak bisa mengorbankan kebahagiaannya demi kekayaan dan status.

"Aku tidak peduli dengan semua itu," ucap Amelia, dengan suara bergetar namun penuh tekad. "Aku lebih baik tidak punya fasilitas apa-apa, daripada hidup dengan pria brengsek seperti Richard."

Alexander menghela napas panjang, tampak kecewa dengan keteguhan hati putrinya. "Kamu benar-benar keras kepala, Amelia. Kamu membuat Papa tidak punya pilihan lain."

"Apa maksud Papa?" tanya Amelia, hatinya tiba-tiba merasa cemas.

Alexander menatap Amelia dengan tatapan yang belum pernah dilihatnya sebelumnya. Tatapan yang dingin, tanpa belas kasihan, dan penuh perhitungan.

"Kalau kamu menolak perjodohan ini," ucap Alexander, dengan nada datar, "Maka kamu bukan lagi putriku."

Amelia terkejut. Kata-kata ayahnya menghantamnya seperti petir. Ia tidak percaya ayahnya akan mengatakan hal itu kepadanya.

"Apa maksud Papa?" tanya Amelia, dengan suara bergetar.

"Mulai saat ini, kamu bukan lagi bagian dari keluarga Bramasta," jawab Alexander, dengan nada dingin. "Kamu tidak berhak atas nama keluarga, kekayaan, atau apa pun yang berhubungan dengan kami."

Air mata Amelia mengalir semakin deras. Ia merasa seperti dunianya runtuh di hadapannya. Ayahnya, orang yang seharusnya mencintainya tanpa syarat, telah mengusirnya dari kehidupannya.

"Papa... tega melakukan ini padaku?" lirih Amelia, dengan suara tercekat.

"Ini semua karena kesalahanmu sendiri," balas Alexander, tanpa sedikit pun menunjukkan penyesalan. "Kamu yang memilih untuk menentangku. Kamu yang memilih untuk menghancurkan masa depanmu."

Tanpa mengatakan apa pun lagi, Alexander berbalik dan meninggalkan ruang makan. Eliza menatap putrinya dengan tatapan sedih.

"Alex, jangan lakukan ini…" ucap Eliza dengan suara bergetar, ia ikut berdiri bermaksud membujuk suaminya, namun langkahnya terhenti karena tatapan tajam Alexander dari ambang pintu.

Eliza terdiam, tahu bahwa ia tak bisa melakukan apa pun. Ia mendekati putrinya dan memberikan pelukan. “Sayang, jangan masukkan ke hati, ya. Papa pasti tidak bermaksud seperti itu. Papa hanya sedang emosi saja."

Amelia terisak dalam pelukan mamanya, air matanya terus mengalir. Ia merasa hatinya begitu hancur. Ayahnya bahkan tega memutus hubungan hanya demi menaikan pamor keluarga.

Amelia menghapus air matanya dan mengangkat wajahnya. “Richard itu bukan pria yang baik, Ma. Itulah kenapa aku menolak,” ucapnya. “Dari sekian banyak pria di Jakarta, kenapa harus Richard?”

1
Tyaga
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Tyaga
harusnyaaa mikirr, intropeksi
sweetssa
Aku membuat sebuah karya menarik di NovelToon dengan judul “Mas Adimas” mohon dukungannya! ❤️
Tyaga
wkwkwk sokorr 🤣🤣🤣🤦‍♂️
aneh2 ajaa mau ke sawah kok pakai sepatu hak tinggi 🤣
Tyaga
wkwwk sokor
Tyaga
udah tau Raka ga nrima Sundari knpa tetap mau dinikahin
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
busyeett kalau sudah baca tentang klenik² jadi gimana yaa... ngeri thor karna pernah ngalamin, Naudzubillahi Mindzalik.
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: salam kenal kembali dari Ngawi Jawa Timur
total 5 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
di daerah ku masih ada thor termasuk aku dulu pas hamil anak pertama juga gitu ngadain 7 bulanannya cuma pendampingnya di wakilkan sama keluarga dan trauma juga karna ada sodara yg nyiramin airnya ga kira² sampe aku mengap² plus saking banyaknya orang yang hadir nunggu saweran sama uang yg di bambu kurungnya itu sampe rebutan ora karuan.🤭🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
weehhh akhirnyaa... akhirnyaaa ketangkep juga para silumannya.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Amelia juga bandel sih ngikut ke pasar segala, sudah tau kalau pasar itu sudah pasti ramai harusnya pikirkan baik².🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
padahal Amelia tahu sejak dia dekat dengan Raka trs ada yg ngincar keselamatan dia dan papahnya juga sudah tau kalau anaknya dalam bahaya bahkan tau pelakunya tp kenapa ga di beresin daribawal di penjarakan dengan bukti bukan malah memberi peluang pelaku bertindak lebih lagi pak Alex apa lagibRaka ga peka.🫣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
laahh bukannya ada yang ngawasin Amel orang suruhan papahnya kok bisa kecolongan.🤔
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Laaahh ngejek diri sendiri anda Sundari.🤣🤣🤣
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
kalau mau identitas mu di rahasiakan boleh saja Mel tapi harus di rencanain mateng² tanpa harus merendahkan harga diri ortumu juga apa lagi kamu sudah tau lingkungan kampung itu bagai mana nyinyirnya... dari cara kamu manggi papah mamah saja sudah ngambang buat mereka dan jd cibiran mereka jd menurutku percuma.🤭🫣
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Mama Mia: Aaaaa 🤣🤣
total 5 replies
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
aneh Amelia kayaknya lebih suka ortunya di cibir dan di rendahkan orang lain dari pada di hargai, kalau cara berpikirnya trs seperti itu sama saja kamu ga menghormati ortu mu Mel justru menginjak² harga diri mereka sebagai orang tua bukan sebagai orang kaya.. hargai lah ortu mu kasihan mereka harus di permalukan karna permintaan anaknya yg justru ga mencerminkan hormatnya seorang anak....
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
nah mending jujur lagian ngapain di sembunyiin Mel sudah ga ada alasan lagi buat kamu sembunyiin status kamu karna kamu sama papahmu saja sudah baikan.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
Amel sudah mau nikah tapi masih rahasiain keluarganya padahal awal hubungan itu baik ya jujur lebih baik karna keterbukaan itu penting.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
harusnya Amel menghargai ortunya juga, karna mereka yg seharusnya yg di utama kan Amel jangan egois trs, boleh saja ngadain pesta di kampung tapi selanjutnya ngadain pesta lagi di kota untuk mewujudkan keinginan ortu karna kamu satu²nya anak mereka jd jangan kesannya hanya keinginan kamu trs yg harus di utamakan sedari awal.
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
penjaga keamanan kamu maksudnya Amel mereka orang kiriman papahmu.🤭
🤎𝙏𝙚́𝙩𝙚̇𝙝 𝙎𝙪𝙣𝙙@✿︎シ︎
tenang Raka kalau kamu masih khawatir saat dia pulang kamu bisa nyusul minta alamat sama bu Sukma.🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!