NovelToon NovelToon
ISTRI UNTUK SUAMIKU

ISTRI UNTUK SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Wanita perkasa / Cinta Seiring Waktu / Keluarga / Romansa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Alvaraby

"Mencintai bukan hanya soal memiliki, tapi soal memastikan duniamu tetap berputar saat kamu tak lagi ada di sana."

Canida punya segalanya: karir cemerlang sebagai penulis best-seller, suami suportif seperti Alfandy, dan dua anak yang menjadi pusat semestanya. Namun, sebuah amplop putih mengubah hidupnya menjadi nightmare dalam semalam. Vonis kanker serviks stadium lanjut datang tanpa permintaan maaf, merenggut semua rencana masa depannya.

Di tengah rasa sakit yang mulai menggerogoti tubuhnya, Nida tidak takut mati. Ia hanya takut akan satu hal: Kekosongan. Ia takut anak-anaknya kehilangan arah, dan suaminya kehilangan pegangan akidah.

Maka, Nida mengambil keputusan paling gila dan paling menyakitkan yang pernah dipikirkan seorang istri: Mencarikan calon istri untuk suaminya sendiri.

Di satu sisi, ada Anita, ipar ambisius dan manipulatif siap mengambil alih posisinya demi harta. Di sisi lain, ada Hana, wanita tulus yang Nida harap bisa jadi "pelindung surga" bagi keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Topeng yang Terbuka

Hujan badai yang mengguyur Jakarta malam itu seolah menjadi pertanda akan datangnya sebuah pengungkapan besar. Di dalam rumah, suasana terasa begitu hening, kecuali suara rintik air yang menghantam kaca jendela. Nida duduk di sofa ruang tengah, tubuhnya dibalut selimut tebal untuk menghalau dingin yang menusuk tulang. Di depannya, Fandy tampak gelisah, sesekali memeriksa ponselnya. Mereka baru saja melewati hari-hari yang melelahkan setelah insiden Syabila kabur dari rumah, dan malam ini, sebuah kejutan tak terduga mengetuk pintu mereka.

Bel rumah berbunyi. Fandy mengernyit, bertanya-tanya siapa yang bertamu di tengah cuaca seburuk ini. Saat pintu dibuka, sosok Arini berdiri di sana dengan pakaian yang basah kuyup. Wajahnya tegang, tangannya menggenggam sebuah amplop cokelat besar dan sebuah *flashdisk*.

"Arini? Ada apa? Kenapa kamu basah begini?" tanya Fandy heran.

Arini tidak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung masuk, menghampiri Nida yang menatapnya dengan bingung. "Nida, Fandy... aku tidak bisa diam saja. Aku menemukan sesuatu yang akan membuat kalian sadar siapa sebenarnya ular di dalam selimut ini," ujar Arini dengan napas yang masih tersengal.

Arini segera menyambungkan *flashdisk* tersebut ke televisi ruang tengah. Layar besar itu menyala, menampilkan sebuah rekaman CCTV dari sebuah lobi hotel mewah. Di sana, terlihat Anita sedang duduk bersama seorang pria asing yang tampak mencurigakan. Mereka sedang bertukar dokumen dan sejumlah uang.

"Ini adalah orang suruhan Anita, Fandy," jelas Arini. "Pria ini adalah orang yang menyebarkan fitnah di yayasan Hana. Dia yang mengirimkan pesan-pesan gelap kepada orang tua murid TPA, menuduh Hana sebagai perusak rumah tangga."

Nida dan Fandy terpaku menatap layar. Namun, rekaman berikutnya jauh lebih mengejutkan. Audio dari rekaman tersembunyi yang berhasil didapatkan Arini dari salah satu asisten Anita yang merasa dikhianati mulai terdengar.

*"...Tenang saja, semuanya berjalan sesuai rencana. Nida sudah semakin lemah, dia tidak akan bertahan lama. Begitu dia mati, Fandy akan dalam kondisi paling rapuh. Itulah saat aku masuk sebagai pahlawan wanita. Soal dokumen aset perusahaan yang aku palsukan tanda tangannya, pastikan pengacara itu tutup mulut. Begitu aku menikah dengan Fandy, aku akan segera memindahkan semua sahamnya ke rekening kita di luar negeri."* Suara Anita terdengar begitu dingin dan penuh perhitungan, sangat kontras dengan nada manis yang selama ini ia gunakan.

Wajah Fandy memucat. Amarah yang selama ini ia coba kendalikan kini memuncak hingga ke ubun-ubun. "Dia benar-benar ingin menghancurkan segalanya," bisik Fandy dengan suara yang bergetar hebat.

"Tapi ada yang lebih buruk dari itu, Fandy," sela Arini, suaranya kini melirih karena ngeri. "Lihat dokumen ini."

Arini mengeluarkan lembaran kertas dari amplop cokelat. Itu adalah catatan medis. Namun, bukan catatan medis Nida, melainkan catatan medis Mama Rosa. Di sana tertulis bahwa Mama Rosa selama ini diberikan obat-obatan penenang dosis tinggi oleh Anita, yang membuatnya sering merasa linglung dan mudah dipengaruhi. Anita telah meracuni pikiran Mama Rosa, bukan hanya secara psikologis, tapi juga secara fisik, agar Mama Rosa patuh pada segala keinginannya.

Nida menutup mulutnya dengan tangan, air matanya tumpah. "Ya Allah... Mama Rosa. Pantas saja sikap Mama berubah begitu drastis. Dia sedang dimanipulasi habis-habisan."

Di saat yang bersamaan, pintu depan kembali terbuka. Mama Rosa masuk dengan wajah pucat, tampak dipapah oleh Anita. Anita tampak kaget melihat ada Arini dan pemandangan televisi yang sedang menampilkan wajahnya.

"Fandy? Ada apa ini? Kenapa gelap-gelap begini?" tanya Mama Rosa dengan suara yang terdengar tidak fokus.

Anita mencoba tetap tenang, meski matanya menunjukkan kepanikan yang luar biasa. "Mas Fandy, sebaiknya Mama istirahat. Dia tadi mengeluh pusing..."

"Berhenti bersandiwara, Anita!" bentak Fandy. Suaranya menggelegar, membuat Syabila dan Syauqi keluar dari kamar dengan wajah takut. "Aku sudah tahu semuanya. Tentang fitnahmu pada Hana, tentang rencana pencurian asetku, dan tentang apa yang kamu lakukan pada Mamaku!"

Anita ternganga. Ia melihat ke arah layar televisi yang masih menampilkan rekaman pembicaraannya. Wajahnya yang cantik mendadak berubah menjadi mengerikan karena ketakutan yang bercampur dengan kebencian. "Itu... itu semua fitnah! Nida yang menjebakku! Dia ingin menyingkirkanku karena dia tahu aku lebih layak darinya!"

"Diam!" Fandy menghampiri Anita, menatapnya dengan pandangan yang sangat menusuk. "Keluar dari rumah ini sekarang sebelum aku menelepon polisi. Dan jangan pernah berani mendekati Mamaku lagi. Semua bukti ini akan aku serahkan ke pihak berwajib besok pagi."

Anita menyadari bahwa ia telah kalah. Topengnya sudah terbuka sepenuhnya. Ia melepaskan pegangannya dari lengan Mama Rosa dengan kasar hingga wanita tua itu hampir terjatuh. "Baik! Aku memang melakukannya! Kalian semua bodoh! Terutama kamu, Nida! Kamu pikir dengan membawa guru mengaji itu, kamu bisa menang? Kamu akan mati kesepian, dan Fandy akan menderita selamanya karena kenangan tentangmu!"

Setelah Anita lari keluar rumah menembus hujan, suasana menjadi sangat hening. Mama Rosa yang mulai sadar dari pengaruh obatnya, jatuh terduduk di kursi. Ia menatap Nida dengan pandangan yang penuh penyesalan.

"Nida... Fandy... maafkan Mama," isak Mama Rosa. "Mama tidak tahu... Mama merasa pikiran Mama sangat kabur belakangan ini. Mama sudah sangat jahat padamu, Nida."

Nida menggerakkan kursi rodanya mendekati ibu mertuanya. Ia memegang tangan Mama Rosa yang gemetar. "Sudahlah, Ma. Yang penting Mama sudah aman sekarang. Anita sudah pergi."

Kebenaran yang terungkap malam itu menjadi titik balik bagi keluarga mereka. Luka Syabila mulai terobati saat melihat ayahnya begitu tegas melindungi kehormatan ibu dan keluarganya. Fandy pun menyadari bahwa kecurigaannya terhadap strategi Nida selama ini salah besar. Nida bukan sedang bermain-main dengan takdir, tapi ia sedang berjuang melawan serigala yang sedang mengintai di dalam rumahnya sendiri.

Kejutan penutup di bab ini terjadi saat Hana tiba-tiba datang membawa obat-obatan untuk Mama Rosa yang ia tahu sedang tidak sehat dari informasi asisten rumah tangga. Melihat Hana tetap datang untuk membantu di saat ia baru saja difitnah kejam, Mama Rosa menangis sejadi-jadinya.

"Hana... maafkan ibu tua yang bodoh ini," ujar Mama Rosa sambil memeluk Hana.

Fandy menatap pemandangan itu dengan perasaan yang tak menentu. Ia melihat Nida yang tersenyum lemah, seolah tugasnya satu per satu mulai selesai. Topeng Anita telah terbuka, hubungan dengan Mama Rosa mulai membaik, dan Hana kini telah diterima sepenuhnya oleh semua orang. Namun, di tengah kemenangan itu, Nida tiba-tiba batuk darah dengan volume yang lebih banyak dari sebelumnya.

"Nida!" seru Fandy panik.

Nida menatap mereka semua satu per satu dengan pandangan yang mulai mengabur. Ia merasa tugasnya di bumi sudah hampir paripurna. "Tolong... jaga... mereka..." bisiknya sebelum jatuh tak sadarkan diri di pelukan Fandy.

Suara sirine ambulans yang kembali membelah malam. Kebenaran telah terbuka, namun maut kini benar-benar berdiri tepat di depan pintu, siap untuk menjemput sang sutradara yang telah menyelesaikan naskah terbaik dalam hidupnya.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!