Duo kembar mengajak bermain ke mall di kota agak jauh dari tempat tingal kami dan tidak segaja malah bertemu papanya padahal aku menyembunyikan keberadaan mereka dari papanya
kami di jodohkan orang tua dia tidak pernah menerima perjodohan ini kerena dia punya kekasih bahkan aku sempat di madu
Saat dia menceraikan aku dia tidak tahu kalau aku hamil dan aku sembunyikan kehamilanku dengan bersembunyi di tempat lain memang tak mudah perjuanganku hamil anak kembar tetapi semua aku jalani dengan dukungan adek almarhum ibu yang selalu mendukung ku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama ende, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3 Nasehat Bi Endang
Kami duduk di kursi masing masing dalam diam cukup lama
" Dek Ara izinkan mereka tahu kalau aku bapak nya maafkan aku biarkan aku menebus dosa Ku selama ini aku juga ingin ikut berperan dalam tubuh kembang nya mereka" kata mas Adit
"Maaf mas mereka duniaku jangan bawa mereka, mereka adalah alasan kenapa aku bisa hidup Sampai sekarang jangan pisahkan aku dan mereka" kata ku sambil menangis
" Mas mohon dek mas nggak akan memisah mereka dari adek dan mas nggak akan mengambil mereka mas hanya ingin berperan di kehidupan mereka kerena bagaimanapun mereka tanggung jawab mas sebagai bapaknya" jawab mas Adit
" Om nakal om bikin bunda menangis"kata Bianca tiba tiba datang dan memukuli mas Adit
" Bianca bunda tidak menangis kok hanya kelilipan" jawabku
" Bunda Barra lapar lagi tadi hanya sarapan bubur" kata Barra sambil memelukku
" Bentar bunda masak dulu ya kamu bermain dulu" kata ku
" Mas pulang dulu saja biar aku pikirkan jawabanku anak anak mau minta makan dan aku mau kerja" kata ku memohon
" Ok kamu jangan ingkar janji mas juga akan sering kesini" kata dia
" Anak anak om pamit pulang ya kamu baik baik di rumah besok om ke sini lagi" kata dia kemudian dia pamit pulang
Aku membuatkan makanan untuk anak anak berupa nasi sup ayam dan goreng telur
" Ayo anak anak makan" kataku kemudian aku ambil mangkok besar ku isi yang banyak kemudian aku suapi mereka berdua
" Habis ini sholat dhuhur dan kalian bobok siang biar nanti waktu ngaji gampang di bangunkan" kata ku memberi mereka arahan
Aku lanjut memfoto dagangan ku siapa tahu ada yang laki tiga mobil dan ada lima sepeda motor tiba tiba ada orang yang kemarin tanya tanya beli sepeda motor dan tanpa di tawar jadi Lumayan hasil ku hari ini ada pemasukan tapi aku kok curiga dua orang itu banyak tanya tentang anak anak.
" laku lagi Ra" tanya Bi endang
" lumayan bi mereka tidak menawar jadi aku laba banyak" jawabku
" Anak anak sudah makan" tanya bi Endang
" Sudah bi sekarang mereka bobok" jawabku
" Anak anak senang baru ketemu bapak nya" tanya bi endang
" Iya bi tapi bunda nya yang nggak tenang jadi ingat lagi bagaimana sakitnya di sia siakan" jawabku
" Kalau boleh bibi berpendapat sih mereka itu merindukan seorang bapak jadi Barra sangat lengket minta di pangku Bianca minta di gedong jadi izinkanlah mereka katemu bapaknya" kata bi endang
" Iya sih bik aku juga berfikir seperti itu tapi aku belum bisa ikhlas dengan semua yang terjadi Sampai aku menyembunyikan Mereka kan karena ada ancaman dari Sarah" jawabku
" Kalau gitu kita bicarakan baik baik sama mereka juga ancaman Sarah karena percuma kita menghindar kalau Alloh mempertemukan kita lagi juga bagaimanapun mereka tetap anaknya Aditya" kata bi endang. Air mata ku tidak bisa di tahan dan keluar dengan sendirinya
" Nggak usah nangis masak pendekar kok menangis" kata bi endang sambil terkekeh
" Ara harus bagaimana bi pendekar juga manusia" jawabku
" Ya sebaiknya kamu kenalkan si Adit sebagai bapak nya mereka dan biarkan adit ikut membiayai mereka asal Adit tidak membawa mereka ataupun menculik mereka dan kasih kesempatan anak anak mengenal bapak nya dan bahagia punya bapak" kata bi endang
" Ya bi kau pikirkan dulu dan berfikir juga butuh tenaga" jawabku mengajak bi endang makan
Selesai makan aku istirahat sebentar sambil mencari barang dagangan siapa tahu ada yang cocok. Anak anak ku memang aku didik ikut karate karena aku dulu juga ikut tapi nggak pernah mencapai sabuk yang tinggi pokoknya bisa menjaga diri saja ke dua anak ku juga sering aku ajak ke tempat pelatihan biar mereka bisa menjaga diri ke depan nya karena aku takut ada yang ingin mencelakai mereka.
Aku berfikir keras tentang masa depan anak anak Ku dan juga memikirkan nasehat bi endang bahwa semakin besar mereka juga membutuhkan biaya yang semakin banyak dan Pusing kan
" Berdamai saja dengan keadaan nduk bi endang juga semakin tua nggak bisa dampingi kalian terus dan mereka butuh bapak nya" kata bi endang
Aku menangis kerena aku ingat kelakuan dia di masa lalu tiba tiba si kembar bangun dan bikin gaduh
" Bun hari ini libur ngaji itu Bu ustadzah pergi takziah di rumah saudaranya kakak main bola ya" kata Barra
" Kan ada ustadz lain Barra alasan saja kamu" kata ku
" Itu ada pengumuman di group wa karena ada salah satu ustadz senior meninggal" kata Barra
" Ya udah kamu main bola di lapangan siap siap saja bunda antar" jawabku
Aku siap siap mengantar mereka ke lapangan Barra main bola aku biasanya ikut volley sama ibu ibu di pinggir lapangan Sampai di lapangan pun Barra pemanasan dia ikut main bersama anak lain dan aku ikut passing voli sama ibu ibu sambil mencari keringat Bianca juga bermain sendiri dari jauh ku lihat anak ku berkelahi dengan Surya aku pun mendekat berusaha melerai
" Bunda aku di hina sama Surya katanya aku anak haram jadi aku tonjok dia" kata anakku.
" Eh anak haram kamu apakan anakku itu kepalanya sampai bonyok" kata ibu nya Surya sambil menghina anak ku dan bersiap memukul reflek aku menghalangi dia yang mau memukul anak ku dengan memegang tangan nya dan aku plintir ke belakang
" Aduh sakit kurang ajar kamu jalang punya anak nggak ada bapak nya" kata ibu sambil ngomel ngomel kesakitan eh Suami nya datang sepetinya dia ragu mau menyerangku karena dia preman yang sering aku kasih jatah keamanan
"neng lepaskan istriku maaf kesalahan dia wah nanti Abang jadi bayar tukang urut deh dan alamat Abang nggak di kasih jatah sama istriku" kata bang Mamad bapak nya Surya
" Tolong bang istrimu di aniaya sama jalang yang punya anak haram" kata istrinya
" Iya dek Abang tolong lepaskan dia neng Ara tolong hadapi saya saja" kata bang Mamad
" Ok kita fight bang di mana" tantang ku
" Iya neng di tempat tidur juga boleh" kata dia sambil mengoda
Langsung aku tonjok perutnya dia kesakitan
" Neng aku cuma bercanda biar istriku lega" kata bang Mamad sambil memasang kuda kuda
Tapi tiba tiba ada yang menendang dia dan dia jatuh tersungkur
" Berani nya sama perempuan coba kali berani lawan aku ayahnya Barra dan Bianca" kata mas Adit tiba tiba
Kerena ada keributan pak RT pun datang dan kami di bawa sidang di rumah pak RT dia keluarga di sidang sebenarnya kasihan bang Mamad babak belur kena tonjokan aku juga kena tendangan mas Adit
" Pak RT tolong biar bang Mamad di obati dulu kasihan mungkin bisa panggilan bidan atau perawat atau tukang pijat pasti dia kesakitan" kata ku
" Eh kamu perhatian banget sama suami ku kamu naksir ya" kata suami bang Mamad
" Eh aku suaminya tampan kayak gini masak istriku naksir suami mu udah jelek gendut hitam lagi" kata mas Adit
" Jadi bapak ini suaminya mba Ara" tanya pak RT
" eh ya panji kamu pangilkan lek Slamet biar bang Mamad segera di pijat kasihan kalau tulangnya patah" kata pak RT
"Pak ini sudah mau magrib sidang nya di tunda nanti saja sehabis magrib nanti sidang nya di rumah saya sambil ngopi di tempat bibi saya saya yang traktir" kata ku
" Enak saja kamu mau menghindar " kaya istrinya bang Mamad
" Eh ibunya Surya itu kamu rawat suamimu dulu nanti kami tunggu di rumah mbak Ara sidang dan siapa saja saksinya bisa datang ke rumah mbak Ara dan sekarang bubar dulu waktu ya sholat magrib" kata pak RT menjelaskan. Kami semua bubar pulang ke rumah masing masing. Aku di tinggal oleh duo kembar ku mereka ngintil bapaknya naik mobil nggak tahu di iming imingi apa meraka.
Bersambung .......