"Aku tidak membelimu untuk dicintai. Aku membelimu untuk menghancurkan ayahmu."
Aria Vane hanyalah tumbal. Dijual oleh ayahnya sendiri untuk melunasi utang darah kepada Dante Moretti, pria paling kejam yang pernah memimpin sindikat Milan.
Dante tidak butuh istri. Dia butuh senjata.
Aria tidak butuh perlindungan. Dia butuh balas dendam.
Di atas ranjang yang sama, mereka saling mengincar nyawa. Namun, saat rahasia masa lalu mulai terkuak, Aria menyadari bahwa sang Iblis yang menikahinya adalah satu-satunya peluru yang ia miliki untuk bertahan hidup.
Satu pernikahan. Dua pengkhianatan. Ribuan peluru yang mengintai.
Di dunia Moretti, hanya ada satu aturan: Jangan jatuh cinta, atau kau akan menjadi orang pertama yang mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coldmaniac, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Pelarian di Bawah Langit Alpen
TUNISIA menyambut mereka dengan debu yang berterbangan dan aroma rempah yang menyengat di pasar-pasar sempit Tunis. Di sebuah pelabuhan nelayan kecil yang kumuh, perahu motor mereka yang kehabisan bahan bakar ditarik oleh kapal kargo gelap milik jaringan penyelundup manusia yang bekerja untuk Katerina Volkov.
Dante turun ke daratan dengan langkah yang goyah. Bahunya yang tertembak kini sudah mulai menunjukkan gejala infeksi—demam tinggi mulai membakar kesadarannya. Aria, yang masih merasa nyeri di bekas pendarahannya, tidak memedulikan dirinya sendiri. Ia memapah suaminya menuju sebuah klinik bawah tanah yang terletak di gudang penyimpanan tekstil.
"Tahan sebentar lagi, Dante," bisik Aria, keringat dingin membasahi dahinya.
"Aku... aku baik-baik saja, Aria," gumam Dante, meskipun napasnya terasa berat dan panas.
Di dalam klinik yang remang-remang, seorang dokter tua yang telah lama dicabut izin praktiknya bekerja dengan cepat. Ia mengeluarkan proyektil peluru dari bahu Dante tanpa obat bius yang memadai—hanya tegukan vodka keras untuk menahan rasa sakit. Dante tidak berteriak; ia hanya mencengkeram pinggiran meja operasi hingga kayu jati itu retak, matanya menatap Aria seolah wanita itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak tenggelam dalam kegelapan.
Tiga hari kemudian, di sebuah rumah aman di pinggiran kota Tunis, Marco masuk membawa tumpukan dokumen baru. Wajahnya tampak sangat suram saat ia meletakkan sebuah tablet di meja depan Aria dan Katerina.
"Dunia sedang menggila," ucap Marco. "Interpol telah merilis Red Notice untuk kalian berdua. Foto kalian terpajang di setiap bandara dari Tokyo hingga New York. Valerio memberikan kesaksian yang sangat merugikan di Roma. Dia menuduh kalian menculik Letizia sebagai sandera untuk mengamankan data Phoenix."
Aria melihat layar tablet itu. Wajahnya dan Dante disejajarkan dengan para teroris paling dicari. "Valerio benar-benar ingin kita mati melalui tangan hukum, karena dia gagal melakukannya dengan tangannya sendiri."
Katerina melemparkan empat paspor baru ke meja. "Paspor diplomatik dari negara kecil di Afrika Barat. Ini akan membawa kita masuk ke Swiss melalui jalur darat dari Prancis. Tidak ada pemeriksaan biometrik di pos perbatasan kecil Jura. Tapi begitu kalian masuk ke Swiss, kalian adalah hantu. Jika satu saja kamera pengenal wajah menangkap kalian, tamatlah sudah."
"Berapa lama sampai kita mencapai biara itu?" tanya Dante, suaranya sudah lebih stabil meskipun ia masih tampak pucat.
"Empat puluh delapan jam jika cuaca mendukung," jawab Marco.
Perjalanan melintasi Eropa dilakukan dengan sebuah van pengangkut bunga. Dante dan Aria bersembunyi di dalam kompartemen rahasia yang dingin, dikelilingi oleh ribuan mawar putih yang baunya kini terasa menyesakkan. Di dalam kegelapan yang sempit itu, mereka hanya bisa mendengar detak jantung satu sama lain.
"Dante," panggil Aria pelan saat van mereka mulai mendaki jalur pegunungan Jura yang terjal.
"Ya?"
"Setelah kita menjemput Letizia... apa kita akan terus seperti ini? Bersembunyi di balik mawar dan identitas palsu?"
Dante mengambil tangan Aria, menciumnya dengan lembut. "Untuk sementara, ya. Tapi aku sudah menghubungi beberapa kontak lama di Argentina. Di sana, pegunungan Andes cukup luas untuk menyembunyikan sebuah keluarga kecil selamanya. Kita akan membangun hidup baru, Aria. Letizia akan bersekolah, dan kau bisa membaca buku hukummu tanpa perlu khawatir tentang musuh."
Aria tersenyum, meskipun ia tahu bahwa janji itu adalah sebuah mimpi yang sulit digapai. Namun, di dunia yang kini memburu mereka, mimpi adalah satu-satunya hal yang gratis.
Biara itu berdiri dengan megah di puncak tebing yang tertutup salju abadi, di pinggiran kanton Graubünden, Swiss. Arsitektur batunya yang tua tampak menyatu dengan alam, memberikan kesan bahwa tempat ini telah ada sejak awal waktu dan akan tetap ada setelah dunia berakhir.
Van mereka berhenti di gerbang kayu raksasa yang tertutup rapat. Marco turun dan memberikan kode ketukan yang telah disepakati. Tak lama kemudian, gerbang terbuka, memperlihatkan Agostino yang berdiri dengan jubah biarawan yang tebal.
Aria melompat keluar dari van, mengabaikan udara dingin yang menusuk paru-parunya. "Di mana dia, Agostino?"
"Dia di dalam kapel, Nyonya. Sedang mendengarkan nyanyian Gregorian," jawab Agostino dengan senyum tulus.
Aria dan Dante berlari menuju kapel. Begitu mereka membuka pintu besar yang berat itu, suara nyanyian merdu yang menenangkan menyambut mereka. Di barisan depan, seorang gadis kecil dengan jaket bulu merah sedang duduk diam, menatap lilin-lilin yang menyala di altar.
"Letizia!" panggil Aria.
Gadis kecil itu berbalik. Matanya yang abu-abu badai seketika berbinar. Ia turun dari bangku dan berlari sekencang mungkin ke arah orang tuanya.
"PAPA! MAMA!"
Dante mengangkat Letizia tinggi-tinggi, membenamkan wajahnya di leher putrinya, menghirup aroma sabun bayi dan susu yang sangat ia rindukan. Aria memeluk mereka berdua, menangis bahagia di tengah keheningan kapel yang suci itu. Untuk sesaat, dunia luar yang memburu mereka—Interpol, Valerio, Bratva—seolah-olah menghilang. Hanya ada cinta yang murni di antara mereka.
Malam itu, mereka menginap di dalam biara. Dante duduk di dekat perapian, mengamati Letizia yang tertidur di pangkuan Aria. Suasana begitu damai, hingga ia hampir lupa bahwa mereka masih berada di dalam daftar merah internasional.
Namun, Marco masuk ke dalam ruangan dengan langkah yang sangat terburu-buru. Wajahnya tampak sangat pucat.
"Bos, kita punya masalah besar."
Dante segera berdiri, tangannya secara insting mencari senjata di pinggangnya yang kini kosong. "Apa? Apakah polisi menemukan kita?"
"Bukan polisi. Satelit pengawas yang dipasang Katerina mendeteksi pergerakan di luar perimeter biara. Ada sekelompok pria yang bergerak menggunakan pakaian kamuflase salju. Mereka bukan Interpol. Cara mereka bergerak... mereka menggunakan taktik unit khusus Rusia, Spetsnaz."
Katerina masuk ke ruangan, wajahnya kaku. "Viktor Volkov. Dia tidak tertangkap di Isola di Sangue. Dia berhasil melarikan diri sebelum polisi mendarat. Dan dia membawa unit pembunuh pribadinya ke sini."
Aria mendekap Letizia lebih erat. "Bagaimana dia bisa melacak kita secepat ini?"
"The Last Key," jawab Katerina. "Letizia. Mereka tidak butuh satelit untuk melacaknya jika mereka memiliki sensor DNA jarak dekat yang dikembangkan Bratva. Mereka tahu kunci itu ada di dalam biara ini."
Dante menatap istrinya, lalu menatap putrinya yang masih terlelap. Kemarahan yang tenang mulai membakar kembali di dalam matanya.
"Agostino, bawa Aria dan Letizia ke ruang rahasia di bawah altar," perintah Dante. "Marco, Katerina... ambil posisi di menara lonceng. Jika mereka ingin darah Moretti di tengah salju ini, kita akan berikan mereka banjir darah yang akan membekukan seluruh Alpen."
Aria berdiri, ia mengambil Beretta peraknya dari tas. "Aku tidak akan masuk ke ruang rahasia, Dante. Aku akan bersamamu. Jika mereka ingin mengambil putriku, mereka harus melangkah melewati mayat ibunya."
Dante menatap Aria, melihat kobaran api yang sama di mata istrinya. Ia mengangguk. "Kalau begitu, mari kita tunjukkan pada mereka mengapa Moretti adalah nama yang paling ditakuti di Italia, dan mengapa Volkov adalah nama yang akan dihapus dari sejarah malam ini."
Di luar, butiran salju mulai turun lebih lebat, menutupi jejak-jejak sepatu bot para pembunuh yang mulai merayap naik ke tebing biara. Cahaya bulan yang dingin menyinari moncong senapan yang bersiap untuk menyalak. Perang di puncak Alpen baru saja dimulai.