NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Bagi Putra Mahesa Aditama 30 tahun, menikahi Citra Anindya 20 tahun, pramusaji muda yang cengeng dan centil, adalah kesalahan fatal. Ia bersikap dingin, kasar, dan tak menganggap Citra ada.

Namun, Citra tak menyerah. Dengan tingkah manja dan kesabaran seluas samudra, ia terus berusaha meluluhkan hati beku sang suami, meski seringkali harus menyeka air mata akibat ucapan pedas Putra yang merendahkannya setiap waktu.

Mampukah ketulusan Citra meruntuhkan arogansi Putra, ataukah pernikahan ini hanya akan berakhir dengan luka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Aroma khas cairan antiseptik dan obat-obatan adalah hal pertama yang menyapa indra penciuman Citra.

Perlahan, kelopak matanya yang terasa seberat timah mulai terbuka. Cahaya lampu kamar yang temaram membuat Citra harus mengerjapkan mata berkali-kali untuk menyesuaikan pandangan. Rasa kebas menjalar di sekujur lengan kirinya, sementara kepalanya masih menyisakan denyut nyeri yang tumpul.

Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamar berhias lampu kristal yang mewah bukan langit-langit berdebu rumah ibunya, dan jelas bukan sudut plafon di atas sofa kulit tempatnya biasa meringkuk kedinginan. Ia merasakan permukaan di bawah punggungnya sangat empuk, diselimuti selimut goose down berbahan sutra yang hangat. Sangat kontras dengan lantai parket beku tempat ia ambruk semalam.

Citra mencoba menggerakkan tangannya, namun sebuah tarikan kecil menghentikannya. Ia menoleh dan melihat selang infus sudah menancap di punggung tangan kirinya. Sementara tangan kanannya yang melepuh kini sudah dibalut perban putih yang rapi dan tercium bau salep pendingin.

"Kamu sudah sadar, Nak Citra?"

Suara bariton yang berat namun penuh kelembutan itu membuat Citra menoleh ke sisi kanan ranjang. Di sana, Pak Aditama duduk di kursi beludru dengan raut wajah yang sangat lega, sekaligus memancarkan rasa bersalah yang mendalam. Gurat kelelahan terlihat jelas di wajah pria paruh baya itu, matanya sedikit memerah seolah ia menahan beban pikiran yang berat.

"Pa... Papa..." panggil Citra lirih, suaranya serak dan nyaris tak terdengar. Tenggorokannya terasa seperti gurun pasir yang tandus.

"Jangan banyak bicara dulu, Citra. Kamu dehidrasi berat dan kelelahan fisik yang ekstrem," ucap Pak Aditama lembut, mengusap puncak kepala menantunya dengan penuh kasih sayang layaknya pada anak kandung sendiri.

Baru saat itulah Citra menyadari ada sosok lain di ruangan luas tersebut.

Di sudut ruangan, dekat jendela besar yang gordennya sedikit terbuka, Putra berdiri mematung. Pria itu masih mengenakan kemeja kerja yang rapi, namun postur tubuhnya terlihat sangat kaku, bagaikan patung batu. Rahangnya mengeras, dan matanya membuang pandangan ke arah luar jendela, enggan menatap ranjang.

"Putra," tegur Pak Aditama dengan nada suara yang langsung berubah tajam, tegas, dan berwibawa. "Istrimu sudah sadar. Berikan dia minum sekarang."

Mendengar perintah mutlak tak terbantahkan itu, Putra akhirnya menoleh. Langkah kakinya terdengar berat saat ia berjalan mendekati nakas. Ia menuangkan air putih ke dalam gelas kaca, lalu melangkah ke sisi ranjang.

Citra menahan napas, tubuhnya secara refleks menegang merapat ke kasur. Memori tentang bentakan Putra semalam, tatapan jijiknya, dan aturan kejam yang membuatnya pingsan masih terpatri sangat jelas di benak Citra. Gadis itu bersiap memejamkan mata, mengira akan menerima kalimat pedas lagi.

Namun, yang terjadi sungguh di luar dugaan.

Putra menunduk, menyelipkan satu tangannya ke balik tengkuk Citra untuk membantunya sedikit mengangkat kepala agar tidak tersedak. Sentuhan tangan Putra terasa hangat di kulit leher Citra yang masih sedingin es, namun gerakannya kaku, canggung, dan terburu-buru.

"Minum," ucap Putra singkat. Nadanya datar, diusahakan senetral mungkin. Tidak ada kelembutan di sana, namun anehnya, tidak ada pula bentakan kasar seperti biasanya.

Citra meneguk air itu perlahan dengan tangan gemetar yang memegangi gelas. Mata bulatnya menatap lekat ke arah mata Putra dari jarak sedekat ini. Citra mencari-cari sedikit saja pancaran kekhawatiran di mata elang suaminya itu. Nihil. Yang ada hanyalah rasa enggan, keterpaksaan, dan kilat kemarahan gelap yang ditahan kuat-kuat.

Begitu Citra selesai minum, Putra langsung menarik tangannya seolah baru saja menyentuh bara api yang menjijikkan, lalu meletakkan gelas itu kembali ke nakas dengan bunyi sedikit kasar.

"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Putra. Pertanyaannya terdengar sangat mekanis, persis seperti aktor yang sedang menghafal naskah drama murahan di atas panggung.

"Su-sudah mendingan... Mas," jawab Citra pelan, menundukkan pandangannya ke arah selimut.

Citra tidak bodoh. Ia tahu persis mengapa Putra tiba-tiba membiarkannya tidur di kasur king size ini tanpa mengusirnya. Ia tahu mengapa suaminya rela membantunya minum. Ini bukan karena Putra tiba-tiba disadarkan oleh malaikat dan mencintainya. Ini murni karena ketakutan. Ketakutan pada ancaman Pak Aditama yang kini duduk di sana, mengawasi setiap gerak-gerik putra sulungnya bagaikan elang pengawas.

Sandiwara ini membuat dada Citra terasa semakin sesak, lebih sesak daripada saat ia dimaki-maki. Ia lebih memilih Putra yang terang-terangan membencinya daripada Putra yang berpura-pura peduli hanya demi mengamankan harta dan posisinya.

Tok... Tok...

Pintu kamar terbuka perlahan. Putri dan Kinan melongokkan kepala mereka ke dalam. Wajah kedua gadis modis itu awalnya terlihat ditekuk dan malas, namun saat melihat tatapan tajam ayah mereka menoleh ke pintu, ekspresi mereka langsung berubah drastis dalam hitungan detik layaknya pesulap.

"Eh... Mbak Citra udah sadar?" sapa Putri dengan nada riang yang dibuat-buat. Ia melangkah masuk mendekati ranjang, diikuti Kinan di belakangnya.

"Syukurlah kalau udah mendingan," tambah Kinan dengan senyum yang dipaksakan hingga sudut bibirnya terlihat berkedut aneh.

Pak Aditama menatap kedua putrinya dengan pandangan curiga dan penuh selidik. "Kalian berdua, sudah minta maaf pada kakak ipar kalian karena menyuruhnya bekerja berat di dapur saat dia sedang sakit parah?"

Putri dan Kinan saling senggol. Citra bisa melihat dengan jelas bagaimana jemari Kinan yang lentik meremas ujung blus mahalnya dengan kuat, pertanda jelas bahwa gadis itu benci setengah mati harus merendahkan diri meminta maaf pada "benalu kampung" di depan ayah mereka. Sementara itu, rahang Putri tampak menegang meski bibirnya menyunggingkan senyum plastik.

"Iya, Pa..." jawab Putri enggan. Ia menatap Citra, namun dari sudut matanya, ia memancarkan kilat peringatan yang mematikan. "Maaf ya, Citra. Kita kan benar-benar nggak tahu kalau kamu lagi sakit waktu itu. Kita kira kamu cuma... ah, pokoknya cepat sembuh ya."

Kinan menimpali dengan suara yang diayun semanis mungkin, membuat Citra diam-diam merinding mendengarnya. "Iya, Mbak. Maaf ya. Nanti kalau Mbak mau makan, biar Bibi aja yang masak, nggak usah Mbak lagi. Mbak istirahat aja yang tenang di kasur ini."

Citra hanya bisa menelan ludah dan mengangguk lemah. "Tidak apa-apa, Putri, Kinan. Terima kasih."

Di permukaan, semuanya terlihat membaik. Keluarga Aditama berkumpul di sekitar ranjangnya, menjenguk menantu yang sedang terbaring lemah. Namun Citra bisa merasakan aura beracun yang sangat pekat menguar dari suami dan kedua adik iparnya itu. Mereka tersenyum di depan Pak Aditama, namun di balik itu, mereka sedang mengasah pisau, menunggu waktu yang tepat untuk mengulitinya hidup-hidup saat sang pelindung sudah tak ada.

"Kalian semua keluar dulu. Biarkan Citra istirahat total hari ini," perintah Pak Aditama akhirnya, menyadari ketegangan yang kental di udara meski anak-anaknya berusaha menutupinya. "Putra, kamu temani istrimu di sini. Batalkan jadwal pagimu. Kalau dia butuh apa-apa, kamu yang harus turun tangan melayaninya."

Urat-urat di leher Putra menonjol seketika mendengar perintah itu. "Iya, Pa," jawabnya pelan dengan rahang terkunci rapat.

Setelah Pak Aditama, Putri, dan Kinan keluar dari kamar dan pintu tertutup rapat dengan bunyi klik, keheningan yang mencekam kembali mengambil alih. Topeng sandiwara Putra langsung terlepas jatuh ke lantai.

Putra berjalan menjauhi ranjang, berdiri membelakangi Citra. Pria itu mengacak rambutnya frustrasi, menghela napas kasar yang terdengar seperti geraman tertahan seekor singa yang terluka.

"Puas kamu?" desis Putra tajam tanpa menoleh, suaranya kembali sedingin badai es di kutub. "Puas kamu membuat saya terlihat seperti pria berengsek di depan Papa? Puas kamu membuat saya ditampar keras oleh ayah saya sendiri pagi ini gara-gara kelemahan fisikmu yang menyedihkan itu?!"

Mata Citra terbelalak lebar. Jantungnya mencelos. Ia baru tahu kalau Pak Aditama sampai menampar Putra demi membelanya.

"Mas... saya sungguh nggak tahu... saya nggak pernah berniat.."

"Tidur," potong Putra mendesis tajam. Ia berbalik dan menatap Citra dengan kilat kebencian yang menyala-nyala. Tatapannya tidak memancarkan simpati sedikit pun pada selang infus yang menancap di tangan istrinya, melainkan kemarahan mutlak karena otoritas dan harga dirinya telah diinjak-injak. "Nikmati kasur empuk ini selagi Papa masih ada di rumah. Karena begitu Papa pergi... saya akan pastikan kamu membayar semua rasa malu dan tamparan yang saya terima hari ini berkali-kali lipat."

1
partini
lanjut Thor makin penasaran happy ending atau sad ending
atau happy bersama lelaki lain
Rani Manik: semangat thour💪
total 1 replies
Rani Manik
good, tapi buat karakter perempuan nya lebih tanguh lagi for independent women, both in terms of intelligence and revenge
partini
Morgan hemmm
Rani Manik: kiw morgan
total 1 replies
Lenty Fallo
😍😍😍💪
Lenty Fallo
mntap citra saya salut sama kamu, perthankn sifatmu itu. buat putra mnyesal dgn kelakuannya selama ini. bila perlu pergi mninggalkn laki yg sombong dan arogan itu. 💪❤️
Rani Manik
lanjut thour
partini
give coffee
partini
lanjut Thor 👍👍👍👍
partini
bermain cantik itu lebih baik
partini
very good 👍👍👍👍
partini
jangan lama" citra masa harus ad uang buanyakkk baru kabur
partini
good story
partini
nanggung put Siksa Ampe sekarat terus methong kamu jadi bebas
partini
betul"nyesek ini cerita , berakhir luka aja lah Thor pergi jauh mulai dari nol become strong woman and sukses
suaminya bikin dia menyesal kalau bisa sih
Yani Cuhayanih
belum ada pencerahan jangan buat lama lama citra tertindas nanti di ambil orang..begitulah lagu cici paramida...asyickk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!