NovelToon NovelToon
Bayangan Di Ujung Takdir

Bayangan Di Ujung Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: dyrrohanifah

Di bawah kaki Pegunungan Abu, terdapat sebuah desa kecil bernama Desa Qinghe. Desa itu miskin, terpencil, dan nyaris dilupakan dunia. Bagi para kultivator sejati, tempat itu tidak lebih dari titik tak berarti di peta Kekaisaran Tianluo.

Di sanalah Qing Lin tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dyrrohanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5 - malam yang memilih

Lolongan itu tidak berhenti.

Satu… lalu dua… lalu lebih banyak lagi, saling bersahutan di balik hutan. Suaranya tidak terburu-buru, tidak liar. Justru teratur, seolah mereka sedang berkomunikasi.

Qing Lin duduk diam di dalam gubuk.

Tangannya diletakkan di atas lutut, punggung lurus, napas terjaga. Qi di tubuhnya bergerak pelan, membentuk siklus yang semakin akrab. Namun setiap kali lolongan terdengar, aliran itu bergetar halus—seperti permukaan air yang disentuh batu kecil.

Mereka mencari.

Bukan sekadar mangsa.

Mereka mencari jejak.

Qing Lin membuka mata.

Ia bangkit tanpa suara, mengambil kapak yang disandarkan di dinding, lalu menyelipkan pisau kecil di pinggang. Ia melirik ke arah bibinya yang tertidur.

Wajah wanita itu pucat, napasnya rapuh.

Qing Lin mengepalkan tangan.

Ia tidak boleh membawa bahaya ke desa.

Jika serigala-serigala itu datang karena dirinya, maka—

ia harus menjauh.

Pintu gubuk dibuka perlahan. Udara malam langsung menyergap, dingin dan basah. Bulan tertutup awan, membuat desa hanya diterangi cahaya lampu minyak yang redup.

Qing Lin melangkah keluar.

Tidak ke hutan.

Ia berjalan ke arah ladang kosong di pinggir desa—tempat terbuka, jauh dari rumah warga.

Lolongan kembali terdengar.

Kali ini, lebih dekat.

Qi di tubuh Qing Lin bergerak lebih cepat. Bukan liar, tapi terdesak. Ia berhenti di tengah ladang, berdiri tegak, membiarkan dirinya terlihat.

Angin berembus.

Rumput bergoyang.

Lalu satu bayangan muncul dari kegelapan.

Seekor Serigala Abu bertubuh besar melangkah pelan. Matanya menyala kuning redup. Di belakangnya, dua… tiga… lima bayangan lain bergerak, membentuk setengah lingkaran.

Mereka tidak menyerang.

Belum.

Pemimpin kawanan maju satu langkah. Di dahinya, terdapat bekas luka lama—bekas sabetan senjata manusia.

Ia mengendus udara.

Tatapannya tertuju pada Qing Lin.

Dan berhenti.

Geraman rendah keluar dari tenggorokannya.

Bukan marah.

Mengakui.

Qing Lin merasakan tekanan aneh di dadanya. Qi di tubuhnya berputar sendiri, seolah merespons sesuatu yang sejenis.

“Pergilah,” ucap Qing Lin pelan.

Suaranya tidak bergetar.

Ia tidak tahu apakah binatang itu mengerti. Namun ia tahu satu hal—niatnya jelas.

Pemimpin kawanan menurunkan kepala sedikit.

Lalu melompat.

Serangan datang cepat.

Qing Lin sudah bergerak lebih dulu. Ia melangkah ke samping, kapak berayun rendah, bukan untuk membunuh, melainkan memaksa jarak.

Serigala lain ikut menyerbu.

Tanah ladang menjadi medan kejaran. Qing Lin bergerak dengan efisiensi kasar—tidak anggun, tidak indah, tapi tepat. Setiap langkah mengikuti napasnya. Setiap ayunan mengikuti aliran qi.

Ia terlambat sepersekian detik.

Cakar menyayat lengannya.

Darah mengalir.

Rasa panas menyengat.

Dan saat darah itu keluar—

sesuatu di dalam tubuh Qing Lin menjawab.

Qi yang sebelumnya tenang mendadak berdenyut. Bukan meledak, tapi memadat, seperti kabut yang diperas menjadi cairan gelap.

Sutra Darah Sunyi bergetar lebih kuat.

Untuk pertama kalinya—

ia memberi arah.

Bukan suara.

Bukan kata.

Melainkan dorongan naluriah yang jelas:

Serap… atau mati.

Qing Lin terhuyung.

Ia menggertakkan gigi.

“Tidak…” bisiknya.

Namun serigala itu tidak menunggu.

Pemimpin kawanan menyerang langsung ke arah dadanya.

Qing Lin mengangkat kapak—terlambat.

Tubuh mereka bertabrakan.

Darah muncrat.

Namun bukan darah Qing Lin.

Pisau kecil di tangannya telah menembus leher serigala itu dari jarak dekat.

Tubuh besar itu roboh.

Dan bersamaan dengan itu—

kabut merah pekat keluar deras, jauh lebih banyak dari sebelumnya. Ia langsung diserap ke tubuh Qing Lin.

Rasa panas menyebar liar.

Penglihatan Qing Lin menggelap sesaat.

Qi di tubuhnya melonjak—kasar, berat, tidak stabil.

Serigala-serigala lain mundur serempak.

Mereka tidak melolong.

Mereka menunduk.

Takut.

Qing Lin berlutut.

Darah menetes dari lengannya ke tanah. Napasnya berat. Tubuhnya gemetar hebat, bukan karena luka, melainkan karena pertarungan di dalam dirinya sendiri.

Ia memaksa duduk bersila.

Di ladang.

Di tengah bau darah.

Tarik napas.

Tahan.

Hembuskan.

Qi liar itu ditarik paksa masuk ke siklusnya. Menolak. Menghantam. Mengikis.

Namun perlahan—

ia patuh.

Kabut merah memudar, bercampur, lalu tenggelam ke dalam aliran yang lebih dalam.

Waktu terasa berhenti.

Ketika Qing Lin akhirnya membuka mata, langit mulai memucat.

Serigala-serigala telah pergi.

Di hadapannya, hanya tersisa satu bangkai.

Dan jejak darah yang tidak bisa disembunyikan.

Qing Lin berdiri tertatih.

Tubuhnya terasa lebih kuat.

Lebih berat.

Lebih asing.

Ia menatap tangannya sendiri lama sekali.

“Aku tidak memilih ini,” katanya pelan.

Namun malam telah memilih untuknya.

Dan dunia—

telah mencatat keberadaannya.

1
asri_hamdani
jauh sekali lompat ceritanya 🙏
Rohanifah: biar cepet end ga sih,
total 1 replies
asri_hamdani
Hmmm🤔 awal yang menarik
asri_hamdani
Awal mula yang menarik 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!