Raisa terpaksa tinggal sendirian di rumah tua warisan neneknya di sebuah kampung terpencil. Sejak malam pertama, rumah itu seperti mengenalinya—terlalu mengenalinya. Setiap pukul 02.17, ada langkah berhenti di depan pintu kamarnya. Ada bau tanah basah yang muncul tanpa hujan. Dan ada sandal merah kecil yang selalu kembali, meski sudah dibuang berkali-kali. Orang kampung berbisik bahwa dulu pernah ada anak bernama sama persis dengannya—anak yang hilang tanpa jejak dua puluh tahun lalu. Semakin Raisa mencari kebenaran, semakin rumah itu menunjukkan sisi aslinya: sentuhan dingin di tengah malam, luka yang muncul tanpa sebab, dan suara anak kecil yang memanggil namanya dari balik dinding. Jika masa lalu belum selesai, siapa yang sebenarnya sedang tinggal di rumah itu—Raisa, atau “dia”?
Rekaman yang Tidak Pernah Ada
Foto itu masih ada di tanganku ketika malam mulai turun.
Tulisan tinta merah di belakangnya seperti bernapas pelan, makin lama makin terasa bukan sekadar kalimat, tapi ancaman yang sabar menunggu giliran.
“Satu pergi, satu datang.”
Dini duduk di sampingku, memandangi foto yang sama seolah berharap ada bagian yang tiba-tiba berubah dan menjelaskan semuanya. Arga berdiri di dekat pintu, menatap lorong belakang dengan wajah tegang.
Tidak ada yang bicara lama sekali.
Aku yang akhirnya memecah keheningan.
“Kalau memang aku pengganti… berarti dari awal aku nggak pernah benar-benar punya pilihan.”
Arga menoleh cepat.
“Bukan begitu. Janji lama bisa diputus. Tapi harus tahu akar ceritanya dulu.”
“Akar ceritanya ya keluargaku sendiri,” balasku pelan.
Di luar, angin menggoyang daun mangga. Suaranya seperti orang menggesekkan kain basah ke tembok—pelan, berulang, membuatku ingin menutup telinga.
⸻
Malam itu Ayah menelepon lagi.
Suaranya lebih panik dari biasanya.
“Sa, dengarkan Ayah. Besok Ayah pulang. Apa pun yang terjadi, jangan keluar rumah malam ini.”
“Kenapa baru sekarang Ayah takut?” tanyaku, berusaha menahan amarah.
“Ayah bukan nggak takut. Ayah cuma pengecut,” jawabnya lirih. “Tapi kita harus selesaikan ini bareng.”
Telepon ditutup tanpa sempat kujawab.
Dini memeluk bahuku.
“Besok semuanya kebuka, Sa. Tahan satu malam lagi.”
Satu malam.
Kalimat itu terdengar ringan, tapi bagiku seperti diminta menahan napas di dasar sungai.
⸻
Sekitar pukul sepuluh, listrik mulai tidak stabil.
Lampu ruang tengah berkedip pelan seperti mata lelah. Arga memasang lampu darurat dan menabur garam di depan pintu belakang lagi, lebih tebal dari biasanya.
“Kita jaga sampai pagi,” katanya.
Aku mengangguk, walau tubuhku sudah lebih dulu gemetar.
Sejak kejadian di Bab 7—saat aku hampir melangkah sendiri menemui Ranti—aku merasa ada yang berubah di dalam diriku. Kadang pikiranku bukan lagi suaraku. Ada bisikan tipis yang ikut menyela setiap kali aku mencoba berdoa.
Gantian ya, Kak…
Aku menggeleng keras, berusaha mengusir kalimat itu.
⸻
Jam menunjukkan 02.10 ketika televisi tiba-tiba mengeluarkan bunyi desis.
Padahal tidak ada yang menyalakannya.
Aku menoleh pelan, begitu juga Dini dan Arga. Layar menyala sendiri, menampilkan gambar hitam putih bergaris-garis.
“Jangan lihat terlalu dekat,” kata Arga.
Tapi mataku sudah lebih dulu tertarik.
Di layar muncul halaman belakang rumahku—sudut yang sangat kukenal: pohon mangga, sumur tua, dan tembok dapur yang catnya mengelupas.
Bedanya, gambar itu seperti berasal dari masa lain. Hujan turun deras, tanah berlumpur, dan beberapa orang berdiri melingkar di bawah mangga.
Jantungku berhenti sekejap.
“Itu… Nenek,” bisikku.
Aku mengenali sosoknya meski wajahnya kabur. Di sampingnya ada seorang laki-laki muda—mirip Ayah, tapi lebih kurus dan ketakutan.
Di tengah lingkaran ada lubang besar.
Dini menutup mulutnya.
Suara dari televisi mulai terdengar, putus-putus seperti pita rusak. Ada tangisan anak kecil, lalu suara orang dewasa berbisik:
“Yang pergi menjaga yang tinggal…”
Anak perempuan bergaun putih dituntun mendekati lubang. Rambutnya dikepang dua.
Dia menoleh ke arah kamera.
Ke arahku.
“Jangan lupa namaku.”
Layar langsung mati.
Lampu ikut padam.
⸻
Gelap menelan ruang tamu.
Aku baru sadar napasku tersengal seperti habis berlari.
“Itu bukan rekaman biasa,” kata Arga pelan. “Itu ingatan yang dipaksa muncul lewat benda di rumah ini.”
Dini menangis tanpa suara di sebelahku.
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Di kepalaku hanya ada satu wajah: anak itu, menatap lurus seolah menagih janji yang bukan kubuat.
⸻
Pagi datang dengan bau lumpur yang masih tertinggal.
Di depan televisi aku menemukan pita rambut putih—basah dan kotor. Tidak ada satu pun dari kami yang tahu kapan benda itu muncul.
Bu Mira datang lagi siang itu, seperti sudah merasa dipanggil.
Begitu melihat pita tersebut, lututnya langsung lemas.
“Itu punya Ranti,” katanya hampir berbisik. “Aku yang mengikat rambutnya malam itu.”
Aku menatap benda kecil di tanganku.
Rasanya seperti memegang potongan tubuh seseorang.
“Bu harus cerita semuanya,” kata Arga tegas. “Nggak bisa setengah-setengah lagi.”
Bu Mira akhirnya mengangguk.
⸻
Cerita yang keluar dari mulutnya lebih menyakitkan dari versi mana pun.
Tentang kampung yang kelaparan, tentang lelaki asing yang menawarkan penjagaan, tentang Nenek yang takut kehilangan anak-anaknya.
“Ranti dipilih karena namanya dianggap ‘pintu’,” katanya. “Mereka bilang cuma sementara. Tapi sementara itu nggak pernah selesai.”
Aku memejamkan mata.
“Dan aku dilahirkan untuk meneruskan sementara itu.”
Bu Mira tidak menyangkal.
Tanganku bergetar memegang pita rambut.
Di luar, daun mangga kembali bergesekan—lebih keras, seperti ada yang berjalan di atasnya.
⸻
Sore menjelang ketika Ayah akhirnya tiba.
Begitu melihatku, dia langsung memeluk erat seolah takut aku menghilang di detik berikutnya.
“Ayah akan cerita semuanya,” katanya.
Dan dia benar-benar bercerita.
Tentang malam dua puluh tahun lalu yang dilihatnya sebagai anak kecil. Tentang Ranti yang menangis memanggil ibunya. Tentang lubang yang ditutup kembali dengan cepat setelah suara dari dalam berhenti.
“Ayah pikir itu untuk menyelamatkan kita,” katanya dengan suara hancur.
“Tapi ternyata cuma menunda.”
Aku mendengarkan tanpa air mata. Rasanya sudah habis.
⸻
Malam keenam sejak kemunculan Ranti di bawah mangga tiba.
Rumah terasa seperti menahan napas bersama kami.
Jam mendekati 02.17, detak dari bawah lantai muncul lagi—lebih keras, lebih teratur.
Dari dapur terdengar pintu terbuka sendiri.
Bau tanah masuk seperti gelombang.
Ranti berdiri di ambang pintu, kali ini lebih nyata dari sebelumnya. Di belakangnya sosok perempuan tanpa wajah ikut mengintip.
Ayah langsung jatuh berlutut.
“Maafin Om, Nduk…”
Ranti memandangnya sebentar, lalu menatapku.
“Tinggal satu malam lagi, Kak Raisa.”
Aku menggenggam pita rambut di tanganku.
“Kita pulangkan kamu dengan benar,” kataku gemetar. “Bukan dengan hidupku.”
Dia tersenyum tipis.
“Besok malam. Buka lagi pintunya.”
Lampu meledak satu.
Angin memutar ruangan.
Lalu mereka hilang.
Televisi menyala untuk terakhir kalinya malam itu, menampilkan gambar lubang di bawah mangga, sangat dekat, seolah menunggu digali.
Suara dari layar berbisik:
“Malam ketujuh memilih tuannya.”
Layar mati.
⸻
Aku berdiri lama menatap pohon mangga dari jendela.
Besok adalah malam terakhir.
Malam di mana utang lama harus dibayar—dengan kebenaran atau dengan tubuhku.
Dan untuk pertama kalinya aku tahu arah langkah berikutnya:
kami harus membuka tanah itu,
bukan untuk memanggil,
tapi untuk mengakhiri.