Zahra tumbuh sebagai pribadi yang tenang dan tertutup.
Ia tidak terluka, hanya terbiasa menjaga jarak dan memilih diam.
Schevenko berbeda.
Di balik sikap dingin dan wibawanya, ada masa lalu yang membentuknya menjadi pria yang tidak mudah percaya, tidak mudah berharap.
Pertemuan mereka tidak pernah dibungkus dengan janji manis. Tidak ada cinta yang datang tiba-tiba, hanya kebersamaan yang pelan, percakapan seperlunya, dan perhatian yang tak terucapkan.
Zahra tidak datang untuk menyembuhkan.
Ia hanya hadir—dan entah bagaimana, kehadiran itu cukup.
Hingga akhirnya, dua orang yang sama-sama dingin, dengan alasan yang berbeda, ditakdirkan untuk saling menggenggam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal kerinduanku
“Ada apa ini?” tanya Ibu lembut.
Schevenko menjelaskan lagi secara singkat tentang telepon tadi—urusan perusahaan yang mendadak, harus berangkat siang ini juga, kemungkinan dua hari baru kembali.
Ibu mengangguk pelan. “Kalau memang penting, pergilah. Zahra di sini aman.”
Setelah Ibu mengatakan itu, tanpa aba-aba aku langsung memeluknya.
Gerakanku tiba-tiba sampai membuat Ayah dan Ibu terkejut. Bahkan Schevenko pun terlihat sedikit kaget, tubuhnya sempat menegang sebelum akhirnya tangannya otomatis membalas pelukanku.
“Kapan perginya?” tanyaku, suaraku tertahan di antara kain kemejanya.
“Siang ini,” jawabnya pelan.
Dadaku langsung terasa sesak.
Aku merapatkan wajahku ke dadanya, mencoba menahan air mata agar tidak jatuh. Aku tidak mau terlihat lemah di depan Ayah dan Ibu. Tapi rasanya sulit sekali.
Ayah dan Ibu hanya diam. Tidak menegur. Tidak menggoda. Seolah mereka mengerti bahwa ada sesuatu yang sedang kucoba tahan.
“Cuma dua hari kok,” katanya lagi, suaranya lebih lembut.
Aku perlahan melepaskan pelukan itu. Menarik napas panjang.
“Yaudah sana,” kataku, berusaha terdengar santai.
Ia menatapku lekat. “Kamu marah ya?” tanyanya sambil mencubit pipiku pelan.
Ayah dan Ibu tersenyum melihat tingkahnya.
“enggak, udah sanaa… aku gak papa,” jawabku pura-pura kesal.
“Ceritanya diusir nih?” godanya. “Nanti kangen loh.”
“Enggak! Siapa juga yang kangen,” jawabku cepat.
Ia tersenyum miring. “Emang iyaa?”
Aku memalingkan wajah agar dia tidak melihat mataku yang mulai berkaca-kaca lagi.
Ibu kemudian berkata, “Yaudah mas siap-siap mas, nanti keburu malem sampai sana.”
Schevenko mengangguk. “Iya, Bu.”
Ia pamit sebentar ke kamar tamu untuk mengambil tasnya yang tadi sempat diletakkan. Aku berdiri diam di ruang tamu, merasa seperti ada waktu yang berjalan terlalu cepat.
Beberapa menit kemudian ia kembali dengan tas di tangannya. Ayah ikut mengantar sampai teras depan. Aku berjalan di belakang mereka.
Udara siang terasa lebih panas dari biasanya.
Mobilnya sudah siap. Pintu bagasi terbuka.
Ia memasukkan tasnya, lalu menutupnya pelan.
Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik.
Ayah akhirnya menepuk bahunya. “Hati-hati di jalan.”
“Iya, Yah.”
Ibu tersenyum. “Jangan lupa makan.”
“Iya, Bu.”
Lalu tatapannya kembali padaku.
Aku berdiri beberapa langkah darinya, mencoba menjaga ekspresi tetap biasa.
Ia mendekat.
“Beneran nggak marah?” tanyanya pelan.
Aku menggeleng. “Nggak.”
Tangannya mengangkat sedikit daguku, memastikan aku menatapnya.
“Dua hari,” ulangnya.
“Iya.”
“Video call.”
“Iya.”
“Jangan pura-pura kuat.”
Aku menelan ludah. “Aku nggak pura-pura.”
Ia tersenyum kecil, lalu mengusap kepalaku pelan—gestur sederhana yang entah kenapa membuat dadaku makin terasa kosong.
“Jaga diri,” katanya.
“Kamu juga.”
Setelah mengatakan itu, pertahananku benar-benar runtuh.
Air mataku jatuh begitu saja.
Sebelum aku sempat berpikir panjang, kakiku melangkah cepat. Tanganku menarik kerah kemejanya sedikit, dan aku mencium bibirnya singkat—refleks, spontan, tanpa peduli siapa yang melihat.
Aku benar-benar tidak peduli kalau Ayah dan Ibu ada di sana.
Dunia terasa mengecil. Hanya ada dia.
Ayah dan Ibu terdiam. Benar-benar diam.
Mungkin kaget.
Mungkin terharu.
Mungkin keduanya.
Aku langsung memeluknya erat setelah itu. Sangat erat. Seolah kalau kulepaskan sedikit saja, ia akan benar-benar hilang dari jangkauanku.
Ia sempat terdiam sesaat, mungkin tidak menyangka aku akan seberani ini. Lalu tangannya membalas pelukanku, satu di punggungku, satu lagi di kepalaku.
“Cuma dua hari kok,” katanya pelan di atas kepalaku.
Aku tidak menjawab. Aku masih memeluknya erat, wajahku tersembunyi di dadanya.
Ibuku akhirnya bersuara, lembut tapi mengingatkan, “Zahra… nanti masnya telat.”
Aku tidak peduli.
Pelukanku justru semakin kencang.
Seolah aku ingin menyimpan hangat tubuhnya sebanyak mungkin sebelum ia benar-benar pergi.
Schevenko menarik napas pelan.
“Kalau kamu peluk begini terus, aku bisa batal berangkat,” godanya lirih.
Aku menggeleng tanpa melepaskan pelukan. “Jangan,” jawabku pelan. “Pergi aja.”
“Loh katanya jangan pergi?” suaranya terdengar tersenyum.
Aku mengangkat wajahku sedikit. Mataku pasti sudah sembab.
“Pergi… tapi cepat pulang.”
Tangannya mengusap air mataku dengan ibu jarinya. “Iya.”
Ayah akhirnya berdeham kecil, berusaha mencairkan suasana. “Sudah, sudah. Dua hari saja.”
Aku perlahan melepaskan pelukan itu, walau tanganku masih menggenggam ujung bajunya.
Ia menunduk sedikit, menatapku lekat.
“Kamu beda banget ya dari pertama kita ketemu,” katanya pelan.
Aku terdiam.
Dulu aku bahkan tak berani menatapnya lama.
Sekarang… aku bahkan berani mencium dan memeluknya di depan orang tuaku.
“Aku cuma nggak mau nyesel,” jawabku pelan. “Kalau nanti di sana aku kangen dan nggak sempat bilang.”
Matanya melembut.
Ia lalu mengecup keningku pelan—singkat, tapi penuh makna.
“Aku pulang cepat.”
Aku mengangguk.
Ia akhirnya benar-benar melepaskan tanganku, masuk ke mobil, dan menutup pintu.
Mesin menyala.
Aku mundur beberapa langkah, berdiri di samping Ibu.
Mobil itu perlahan bergerak keluar dari halaman.
Dan kali ini… aku tidak menahan air mataku.
Tangisku jatuh diam-diam.
Ibu merangkul pundakku. “Baru dua hari sudah begini.”
Aku tertawa kecil di sela tangis. “Aku nggak nyangka bakal begini, Bu.”
Ayah menatap jalan yang sudah kosong. “Itu namanya kamu sudah menemukan tempat pulang.”
Kalimat Ayah membuat dadaku kembali sesak.
Tempat pulang.
Dan sekarang tempat pulangku sedang pergi untuk sementara.
Aku berdiri cukup lama di sana, sampai mobilnya benar-benar tak terlihat lagi.
Hari masih siang.
Tapi rasanya… seperti ada bagian dari hariku yang ikut pergi bersamanya.
Dan di situlah aku sadar—
Kerinduan itu ternyata tidak menunggu waktu lama untuk tumbuh.
Ia lahir tepat di detik mobil itu meninggalkan halaman rumah.