NovelToon NovelToon
Ibu Yang Tak Pernah Dipanggil Mama

Ibu Yang Tak Pernah Dipanggil Mama

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Ibu Tiri / Ibu Mertua Kejam / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aure Vale

Helena kira setelah ia memilih menikah dengan seorang duda beranak 3 dan juga menjadi seorang mualaf kehidupannya akan membaik, namun ia salah, karena setelah menikah pun keluarga dan saudaranya tidak pernah berhenti mengusik kehidupannya belum lagi kedua anak tirinya tidak pernah menyukai keberadaannya bahkan Helena tidak pernah mendengar kata 'mama' keluar dari bibir mereka.

Dan suatu ketika, ia mengetahui niat Farhan menikahi dirinya, bahkan alasan mengapa tidak ada satupun keluarga besar Farhan menyukak dirinya. Hatinya benar-benar terluka, cinta yang tulus ia berikan kepada Farhan ternyata hanya dianggap sampah yang menjijikan olehnya.

Helena bertekad, ia akan membalas semua orang yang melukai hatinya agar mendapatkan hal yang setimpal dengan dirinya, karena mulai saat itu, ia akan berpura-pura menjadi lemah dan memaklumi banyak hal demi bisa membalas semua rasa sakit hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aure Vale, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perasaan aneh

Helena mengerutkan dahinya ketika melihat suaminya yang memakai pakaian rapih di tengah malam begini. Apa Farhan sedang menginggau? Apalagi melihat bagaimana rapihnya pakaian yang digunakan Farhan, celana hitam dipadukan dengan dengan kemeja warna hitam, tanpa dasi juga tanpa jas.

Helena hendak bertanya, tapi keburu suaminya keluar dari dalam kamar, cepat-cepat Helena bangkit, memakai kerudung dan berlari keluar kamar, ia celingak celinguk mencari keberadaan Farhan, tapi tidak menemukannya. Kemana suaminya itu pergi.

Suara deruman mobil terdengar dari luar rumah, cepat-cepat Helena berlari ke luar, tapi lagi-lagi mobil hitam itu sudah melewati gerbang, dan kembali di tutup oleh satpam yang menjaganya.

Tidak biasanya Farhan pergi tanpa memberitahunya, apa mungkin karena ia pergi di tengah malam ketika dirinya sudah terlelap, lalu tidak tega membangunkannya dan karena memberitahu Helena kemana Farhan akan pergi? Tapi rasanya sangat tidak mungkin, Farhan akan selalu bilang jika ia akan pergi bahkan ketika Helena tidak sedang bersamanya.

Perasamnya tiba-tiba saja gelisah, entah karena apa, karena suaminya pergi di tengah malam atau pergi tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Dengan perasaan campur aduk, Helena kembali masuk ke dalam, dan menutup pintu kembali tanpa menguncinya, kuncinya sepertinya di bawa oleh Farhan, karena tidak tersangkut di daun pintu.

Helena bergerak gelisah di atas kasurnya, matanya tidak berhenti melirik ke arah jam yang sudah menunjukkan jam 02.40, hampir jam 3 dini hari, tapi suaminya tak kunjung kembali. Kemana sebenarnya ia pergi? Kenapa harus di tengah malam, tidak mungkin untuk bertemu klien kan? itu terlalu larut.

Detik demi detik berlalu, kini jam pun sudah menunjukkan jam 03.30,tapi Helena masih belum bisa tidur, pikirannya selalu tertuju kepada suaminya yang masih belum kembali ke rumah.

Helena hendak bangun untuk sholat malam, kini ia memang sudah membiasakan diri untuk sholat di tengah malam, bacaan sholatnya pun sudah lancar tidak seperti di awal menikah yang melakukan gerakan sholat tapi tidak membaca apapun.

Tapi suara langkah kaki di luar kamar terdengar begitu nyaring, mungkin karena suasana yang sangat sunyi membuat suara langkah kaki yang berjalan di luar kamar terdengar begitu jelas.

Suara knop pintu terdengar di putar, Helena langsung pura-pura tertidur menghadap pintu, berlaga seakan ia masih terlelap dalam tidurnya.

Jantung Helena berdetak begitu cepat begitu suara pintu terbuka terdengar jelas, lalu kembali tertutup, langkah kaki menjauhi ranjang dan berakhir masuk ke dalam kamar mandi.

Helena kembali membuka matanya, dan melihat pantopel hitam tergeletak di bawah meja rias, suara air yang mengalir mengenai lantai terdengar, tidak sampai lima menit, suara air itu mati, dan Helena kembali untuk pura-pura tidur.

Helena menahan napasnya begitu ranjang kasur bergoyang kecil, lalu selimut yang ia pakai sedikit bergeser, Helena ingin membuka matanya karena tidak tahan, tapi Farhan sepertinya belum tertidur, karena Helena belum mendengar suara deru napas orang terlelap.

"Hei, kamu tidak tidur? Kenapa kelopak matamu bergerak-gerak?"

Helena menahan napasnya ketika sebuah jati menyentuh kelopak matanya yang terpejam, apa ia ketahuan jika sedang pura-pura tidur? Tidak, tolong biarkan Farhan tidak mengetahuinya.

"Helena," panggil Farhan lembut, mengusap pipinya lembut, dan itu malah semakin membuat jantung Helena berdetak lebih cepat.

"Kamu terbangun?"

Akhirnya Helena membuka kedua matanya dan langsung bertatapan dengan mata Farhan.

"Kamu terbangun?" tanya Farhan menyingkirkan anak rambut Helena yang menutupi sebagian wajahnya.

Helena mengangguk kaku, "aku terbangun karena mendengar suara air dari dalam kamar mandi, ku kira siapa, ternyata kamu yang di kamar mandi," ucap Helena tersenyum kecil.

Farhan terkekeh pelan, "maaf, kamu jadi terganggu tidurnya,"

Helena mengangguk, "Tak apa, aku juga akan sholat malam,"

"Memangnya tidak mau tidur lagi?" tanya Farhan memeluk pinggang Helena.

"Aku sedang mencoba membiasakan diri sholat malam, kata mas, Allah dan para malaikat akan turun langsung ke bumi untuk melihat hambanya yang sedang sholat di saat orang lain masih terlelap,"

"Ya ampun, istri mas sholihah sekali, mas beruntung bisa menikahi kamu," kekeh Farhan mengecup lembut pipi Helena, hingga meninggalkan bekas kemerah-merahan di pipi Helena, jujur saja ia masih tidak terbiasa jika mendapatkan perlakuan manis dari suaminya.

Di umurnya yang masih 27 tahun, untuk pertama kalinya Helena bisa merasakan jantungnya berdebar bukan karena ketakutan ataupun was-was, tapi lebih ke perasaan senang, bahagia dan juga gerogi.

"Aku yang beruntung bisa menjadi istri mas,"

"Ya sudah, kita berdua sama-sama beruntung," ucap Farhan yang disetujui oleh Helena.

"Ya sudah kamu sholat dulu ya, mas baru selesai begadang mengerjakan pekerjaan kantor, jadi tidak bisa ikut sholat malam dulu," beritahu Farhan.

Helena mengangguk, klau bangkit dari ranjang dengan otak yang kembali berpikir keras. Jadi suaminya itu keluar tengah malam untuk mengerjakan pekerjaan kantor? Tapi kenapa tidak membawa laptop?

Helena kembali menoleh pada suaminya yang ternyata sudah tertidur, terlihat sekali guratan lelahnya, mungkin memang benar jika Farhan begadang ke luar untuk mengerjakan pekerjaannya. Helena saja yang terlalu banyak berfikir dan juga curiga.

Tapi begitu sholat selesai pun, Helena masih merasakan perasaan yang mengganjal di hatinya, ia sendiri bahkan tidak tahu apa penyebabnya, tapi mengapa rasanya sangat tidak enak, pikirannya kembali tertuju kepada suaminya. Padahal tidak seharusnya Helena mencurigai suaminya.

Perasaannya semakin terasa tidak enak ketika ia mencoba melupakannya, tapi malah semakin membuatnya berpikir yang tidak-tidak, apalagi mencium bau parfum perempuan dari kemeja suaminya.

Helena bukan sengaja mengambil kemeja suaminya, tapi ia sendiri tidak tahu, tubuhnya bergerak ke arah keranjang baju kotor dan mengambil kemeja yang di gunakan suaminya saat pergi, wanginya samar-samar tercium parfum seorang wanita, Helena hafal dengan wangi parfum yang di pakai Farhan, Farhan memiliki 3 parfum dan yang menempel di bajunya itu parfum dengan merek chanel bercampur dengan parfum segar khas wanita.

Perasannya semakin campur aduk, ingin tidak curiga, tapi parfum wanita menempel di jasnya bercampur dengan parfum milik Farhan.

Helena sampai hanya terduduk diam di sofa sembari menunggu adzan shubuh datang, pikirannya menjadi kalut, Helena takut ada seorang wanita yang berusaha mendekati suaminya, mengingat bagaimana suaminya yang yang memiliki rupa menawan dengan rahang yang begitu tegas.

Bahkan ketika adzan shubuh berkumandang pun, Helena masih belum bisa mengalihkan pikirannya, rasanya masih begitu mengganjal di hatinya, Helena akan bertanya nanti pagi jika suaminya akan berangkat ke kantor, agar ia tidak lagi berpikiran buruk kepada suaminya.

Selesai melaksanakan sholat shubuh, ia bergegas membangunkan suaminya dan juga kedua anaknya, Kenzo dan Freya, tapi biasanya Freya lah yang paling sulit di bangunkan saat shubuh dengan alasan masih mengantuk, jika sholat pun, ia selalu kembali tertidur dan akan Helena bangunkan kembali begitu jam sudah menunjukkan jam enam pagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!