Langit ingin aku mati, tapi aku menolak untuk berlutut!"
Di Benua Awan Merah, kekuatan adalah satu-satunya hukum. Ye Chen, Tuan Muda Klan Ye yang jenius, kehilangan segalanya dalam satu malam. Keluarganya dibantai oleh Sekte Pedang Darah, Dantian-nya dihancurkan, dan harga dirinya diinjak-injak.
Tiga tahun lamanya, ia hidup lebih rendah dari anjing sebagai budak penambang Nomor 734 di Lembah Kabut Hitam. Tanpa masa depan, tanpa harapan.
Namun, takdir berubah ketika sebuah reruntuhan gua tambang mengungkap benda terlarang dari era purba: Mutiara Penelan Surga. Benda pusaka yang mampu melahap segala bentuk energi—batu roh, senjata pusaka, darah iblis, hingga esensi kehidupan musuh—dan mengubahnya menjadi kekuatan murni.Dengan Sutra Hati Asura di tangannya dan kebencian membara di hatinya, Ye Chen bangkit dari neraka. Dia bukan lagi budak. Dia adalah sang Penakluk.
Satu per satu, mereka yang menghinanya akan membayar dengan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Pasar Hantu dan Lelang Kematian
Malam di Kota Angin semakin larut, namun di bawah tanah, kehidupan baru saja dimulai.
Di sebuah lorong tersembunyi di bawah saluran pembuangan Distrik Utara, terdapat sebuah pintu besi berkarat yang dijaga oleh dua raksasa bisu. Di balik pintu itu, terbentang dunia yang sama sekali berbeda dari permukaan:Pasar Hantu (Pasar Hantu).
Tempat ini adalah zona tanpa hukum. Barang curian, budak, racun terlarang, hingga informasi rahasia diperjualbelikan secara bebas di sini. Cahaya matahari tidak pernah menyentuh lantai batu yang lembap ini; hanya obor-obor api hijau (Api Hantu) yang mengeluarkan wajah-wajah tertutup topeng dan jubah.
Ye Chen melangkah masuk. Jubah hitamnya yang lebar menutupi seluruh tubuhnya, dan caping bambu menyembunyikan wajahnya dalam bayangan. Di punggung, pedang raksasa yang terbungkus kain lusuh memberikan aura intimidasi yang berat, membuat para pencopet dan penipu di lorong masuk menyingkir dengan sendirinya.
"Tiket masuk," geram salah satu penjaga pintu, mengulurkan tangan kapalan.
Ye Chen tidak bicara. Dia melemparkan sepuluh Batu Roh ke tangan penjaga itu. Jumlah yang dua kali lipat dari harga standar.
Penjaga itu menimbang roh batu tersebut, lalu memancarkan lebar menampilkan gigi kuningnya. "Silakan masuk, Tuan Pendekar. Semoga malam Anda penuh keberuntungan... dan darah."
Ye Chen melewati pintu besi itu. Aroma dupa yang menyengat bercampur dengan bau besi dan keringat langsung menyebar ke indra penciumannya.
Aula utama Pasar Hantu sangat luas, dibangun di dalam gua alami yang tebal. Ratusan musuh dari berbagai aliran—baik putih maupun hitam—berkumpul di sini. Sebagian besar menyembunyikan identitas mereka. Di dunia ini, memamerkan kekayaan tanpa kekuatan adalah undangan untuk dirampok.
Ye Chen berjalan menuju area tengah, di mana sebuah panggung batu tinggi berdiri. Ini adalah Rumah Lelang Bawah Tanah.
“Asura sudah di sini,” batin Ye Chen. Dia memilih sudut yang gelap di barisan belakang, bersandar pada pilar batu. Posisi ini memberikan pandangan luas ke seluruh ruangan dan akses cepat ke jalur keluar darurat.
Dia bolong Kantong Penyimpanan-nya. Total ada sekitar 2.800 Batu Roh. Jumlah yang cukup besar untuk ukuran yang kuat Pemadatan Qi biasa, tapi di pelelangan ini, mungkin hanya cukup untuk satu atau dua barang bagus.
TENG!
Sebuah gong berbunyi, menghentikan kasak-kusuk di aula.
Dari balik tirai merah di atas panggung, seorang wanita cantik dengan gaun merah ketat berjalan keluar. Dia memegang kipas bulu, dan setiap langkahnya memancarkan aura Qi yang menggoda namun mematikan.
Nyonya Hong. Pemilik rumah lelang ini. Kultivator Pemadatan Qi Tingkat 8.
"Selamat datang, para tamu terhormat, para penjahat, dan para pahlawan," suara Madame Hong lembut namun bergema jelas di telinga setiap orang berkat teknik transmisi suara. "Malam ini, kita memiliki barang-barang istimewa. Tanpa basa-basi lagi, mari kita mulai."
Barang pertama dikeluarkan. Sebuah pedang Tingkat Kuning Atas yang bersinar kebiruan.
"Pedang Gelombang Biru. Ditempa oleh Master Li dari Ibukota. Tajam, ringan, dan memperkuat teknik air sebesar 20%. Buka harga 300 Batu Roh!"
"350!"
"400!"
Tawaran bersahutan. Ye Chen hanya diam. Dia sudah punya Pemecah Gunung. Pedang "tusuk gigi" seperti itu tidak menarik minatnya.
Barang kedua, ketiga, dan keempat berlalu. Pil racun, baju zirah kulit badak, dan kitab teknik tinju biasa.
Baru pada barang kelima, mata Ye Chen sedikit terbuka.
Seorang pelayan membawa nampan berisi sepotong kayu hitam legam yang tampak hangus, namun ada kilatan petir ungu yang merambat di permukaannya sesekali.
"Kayu Sambaran Petir Ribuan Tahun," kata Madame Hong. "Ini adalah inti dari pohon persik tua yang disambar petir kesengsaraan surgawi namun tidak hancur. Mengandung Essence Petir murni. Sangat cocok untuk menempa senjata elemen petir atau melatih teknik tubuh."
Jantung Ye Chen berdetak lebih cepat.
Sutra Hati Asura miliknya berfokus pada kekuatan fisik dan penghancuran. Salah satu teknik lanjutannya, Tubuh Guntur Asura, membutuhkan material ini untuk dilatih.
"Buka harga 500 Batu Roh!"
Ruangan hening sejenak. Material ini langka, tapi hanya berguna bagi sedikit orang.
"550," tawar seorang pria tua di barisan depan.
"600," sahut suara lain.
Ye Chen mengangkat tangannya yang terbalut sarung tangan hitam.
"800."
Lonjakan harga yang tiba-tiba membuat orang-orang menoleh. Siapa orang berjubah hitam ini? Langsung menaikkan 200 batu?
"800 sekali... 800 dua kali..." Madame Hong tersenyum ke arah Ye Chen. "Terjual!"
Ye Chen menghela napas lega. Dia mendapatkan bahan penting untuk evolusi fisiknya nanti.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
BRAK!
Pintu utama aula lelang tiba-tiba ditendang terbuka hingga engselnya lepas dan terbang ke tengah ruangan, nyaris mengenai para peserta lelang.
Debu mengepul. Dari balik debu itu, puluhan murid Sekte Pedang Darah berbaris masuk, membentuk koridor manusia.
Dan di tengah-tengah mereka, berjalan seorang pemuda berjubah merah darah dengan wajah sedingin es.
Han Feng. Tuan Muda Han.
Aura pembunuh yang dia pancarkan begitu pekat hingga suhu di dalam gua itu terasa turun beberapa derajat. Matanya yang tajam menyapu seluruh ruangan seperti elang mencari mangsa.
"Tuan Muda Han," sapa Madame Hong, senyumnya sedikit kaku namun tetap profesional. "Anda datang dengan cara yang... meriah. Apakah pintu kami kurang lebar untuk ego Anda?"
Han Feng tidak mempedulikan sindiran itu. Dia berjalan lurus menuju Ruang VIP Langit di lantai dua, menginjak kursi-kursi penonton yang menghalangi jalannya.
"Aku tidak datang untuk basa-basi, Hong," suara Han Feng berat. "Aku datang untuk dua hal. Pertama, Peta Reruntuhan Dewa Pedang. Kedua..."
Han Feng berhenti di tangga. Dia berbalik, matanya menatap tajam ke arah kerumunan di lantai bawah.
"...Untuk mengambil kepala seseorang bernama Asura."
Hening.
Para peserta lelang menundukkan kepala, takut bertatapan mata dengan tiran Kota Angin ini. Tidak ada yang berani bernapas.
Ye Chen, yang duduk di pojok gelap, hanya menyeringai di balik capingnya. Dia menekan auranya hingga titik nol, tampak seperti kultivator lemah biasa.
"Silakan nikmati lelangnya, Tuan Muda," kata Madame Hong, mencoba mencairkan suasana. "Barang utama akan segera keluar."
Han Feng mendengus dan naik ke ruang VIP. Dia duduk di kursi berlapis kulit harimau, menatap ke bawah dengan angkuh.
Lelang berlanjut, tapi suasananya berubah tegang. Setiap kali ada barang bagus, jika Han Feng mengajukan penawaran, tidak ada yang berani melawannya.
"Pil Pemulih Jiwa... 500 Batu Roh," tawar Han Feng bosan.
"Terjual pada Tuan Muda Han!"
"Armor Sisik Naga Tanah... 1000 Batu Roh."
"Terjual pada Tuan Muda Han!"
Dia memonopoli lelang. Orang-orang hanya bisa menggerutu dalam hati. Ini bukan lelang, ini perampokan terselubung.
Hingga akhirnya, barang terakhir dikeluarkan.
Seorang pelayan membawa kotak kaca yang dijaga oleh empat pengawal. Di dalamnya, terdapat secarik kulit binatang purba yang sudah lapuk dan robek.
"Inilah yang kalian tunggu," seru Madame Hong, suaranya naik satu oktaf. "Pecahan Peta Reruntuhan Dewa Pedang. Legenda mengatakan, Dewa Pedang meninggalkan warisan teknik pedang Tingkat Langit dan pedang pusakanya di sana. Siapa yang mendapatkannya, bisa menguasai Benua Awan Merah!"
Suasana meledak.
"Buka harga... 2.000 Batu Roh!"
"3.000!" teriak seorang Tetua sekte kecil.
"3.500!"
"4.000!"
Harga meroket gila-gilaan. Ini adalah kesempatan mengubah nasib.
"10.000 Batu Roh."
Suara Han Feng dari lantai dua membungkam semua orang.
Sepuluh ribu. Itu adalah jumlah kekayaan klan menengah selama sepuluh tahun. Han Feng benar-benar membuktikan kekayaan Sekte Pedang Darah.
Para penawar lain langsung lemas. Siapa yang bisa melawan uang sebanyak itu? Dan kalaupun punya uangnya, apakah mereka berani melawan Han Feng?
"10.000 sekali..." Madame Hong mengangkat palunya. Dia tahu tidak akan ada yang menawar lagi.
"10.000 dua ka—"
"10.001."
Sebuah suara serak dan tenang memotong hitungan itu.
Seluruh kepala di ruangan itu berputar serentak ke arah pojok belakang. Ke arah sosok berjubah hitam dengan pedang besar di punggungnya.
Ye Chen mengangkat satu jari.
Hening. Benar-benar hening.
Di ruang VIP, tangan Han Feng yang memegang gelas anggur berhenti di udara. Dia perlahan menoleh ke bawah.
"Siapa..." Han Feng berbicara dengan nada rendah yang berbahaya. "...Yang baru saja bosan hidup?"
"Apakah ini lelang atau tempat bermain anak-anak?" sahut Ye Chen tenang, suaranya disamarkan. "Jika kau tidak punya uang, pulanglah menyusu pada ayahmu. Jangan mengancam orang."
GASP!
Seluruh penonton menahan napas. Orang ini gila! Dia menghina Tuan Muda Han di depan umum?
Wajah Han Feng memerah padam, lalu berubah menjadi ungu karena marah. Gelas di tangannya hancur menjadi debu.
"Kau..." Han Feng berdiri, meremas pagar balkon hingga bengkok. "Bagus. Sangat bagus. Aku ingin melihat seberapa banyak uangmu. 15.000!"
Ye Chen bahkan tidak berkedip. "15.001."
Satu batu. Dia hanya menaikkan satu batu setiap kali. Ini adalah penghinaan mutlak.
"20.000!" teriak Han Feng, urat lehernya menonjol.
"20.001."
Madame Hong di panggung berkeringat dingin. Dia senang harganya naik, tapi dia takut tempatnya akan hancur menjadi medan perang.
"30.000! DAN AKU AKAN MEMBUNUHMU SETELAH INI!" raung Han Feng.
Ye Chen terkekeh pelan. "30.000? Wah, Tuan Muda Han benar-benar kaya. Sayangnya, aku hanya membawa 2.800 batu."
Ye Chen merentangkan tangannya dengan santai.
"Aku menyerah. Silakan ambil peta itu, Tuan Muda. Semoga harganya sepadan dengan kebodohanmu."
Keheningan kembali melanda.
Han Feng terdiam. Otaknya memproses apa yang baru saja terjadi.
Dia baru saja menghabiskan 30.000 Batu Roh... untuk barang yang seharusnya bisa dia dapatkan dengan 10.000? Dia ditipu? Dipermainkan? Dipaksa membuang uang oleh orang miskin?
Rasa malu yang luar biasa meledak di dada Han Feng. Dia merasa seperti badut yang menari di telapak tangan orang lain.
"KAU..." Han Feng menunjuk Ye Chen, jarinya gemetar karena amarah yang tak tertahankan.
Aura Pemadatan Qi Tingkat 9 miliknya meledak keluar tanpa kendali, menghancurkan kaca jendela ruang VIP.
"TANGKAP DIA! JANGAN BIARKAN DIA MATI DENGAN MUDAH! AKU AKAN MENGULITINYA HIDUP-HIDUP!"
Puluhan murid Sekte Pedang Darah yang menjaga pintu langsung mencabut senjata mereka dan menyerbu ke arah Ye Chen.
"Membunuh di dalam Rumah Lelang?" teriak Ye Chen, berdiri perlahan. Dia memegang gagang pedang di punggungnya. "Madame Hong, apakah ini cara Anda memperlakukan tamu?"
Madame Hong ragu sejenak. Melindungi tamu adalah aturan, tapi melawan Sekte Pedang Darah...
Sebelum Madame Hong bisa memutuskan, Ye Chen sudah bertindak.
Dia tidak menunggu dikepung.
WUUUNG!
Kain pembungkus pedang di punggungnya meledak hancur. Pedang hitam raksasa Pemecah Gunung terungkap, menyerap cahaya di sekitarnya.
"Han Feng!" teriak Ye Chen, suaranya kembali ke suara aslinya yang muda dan tegas. Dia mendongak menatap Han Feng di lantai dua.
"Kau mencari Asura? Buka matamu lebar-lebar!"
Ye Chen menghentakkan kakinya. Lantai batu di bawahnya hancur.
Langkah Kilat Hantu!
Bukannya lari, Ye Chen melompat lurus ke atas, menuju balkon ruang VIP tempat Han Feng berdiri.
Dia menerjang langsung ke sarang singa!
"Gila!" seru Han Feng, refleks memunculkan Perisai Darah.
Ye Chen memutar tubuhnya di udara, memanfaatkan momentum lompatan dan berat pedangnya.
Teknik Pedang Asura: Hantaman Meteor!
Pedang seberat 500 kilogram itu, dilapisi Qi merah dan hitam, jatuh menghantam balkon VIP.
BOOOOOOM!
Seluruh bangunan Rumah Lelang berguncang hebat. Balkon VIP runtuh seketika. Debu dan puing-puing berjatuhan menimpa para penonton di bawah.
Di tengah kekacauan itu, terdengar tawa gila Ye Chen.
"Malam ini, Pasar Hantu akan berubah menjadi Sungai Darah!"
Perang terbuka antara Dewa Asura muda dan Tuan Muda Kota Angin telah dimulai, tepat di jantung dunia bawah tanah.
(Akhir Bab 14)