NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Gadis Desa Mengguncang Istana Yogyakarta

Ruang Ajaib Gadis Desa Mengguncang Istana Yogyakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Menjadi Pengusaha / Ruang Ajaib / Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:12.2k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Masuk ke lingkaran istana, Sekar justru disambut teror mental, racun kecubung, hingga fitnah ilmu hitam.

Berbekal teknologi Ruang Spasial, ia membalas telak: mengubah ulat sutra menjadi emas dan membungkam angkuh bangsawan dengan sains.

Namun, musuh tidak tinggal diam. Wabah mematikan menyerang Pangeran Arya, memaksanya bertaruh nyawa. Di saat kritis, hantaman terakhir justru datang dari ayah kandungnya sendiri: Gugatan hukum di Pengadilan Agama demi memeras harta sebagai syarat restu nikah.

Di antara ambisi GKR Dhaning, nyawa kekasih, dan keserakahan keluarga, Gadis desa ini siap mengguncang pilar istana Yogyakarta.

⚠️ PENTING:
🚫 PEMBACA BARU: STOP! Wajib baca SERI 1 dulu agar paham alurnya.
🔥 PEMBACA SETIA: Level musuh naik drastis! Dari nenek dan bibi julid ke politisi keraton. Siapkan hati untuk "Face-Slapping" yang jauh lebih brutal!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hadiahnya Saya Kembalikan

Sekar duduk di meja kerjanya, menatap secangkir teh melati yang uapnya mengepul tipis.

Di hadapannya, Bu Sasmi sedang menyapu lantai dengan gerakan yang terlalu rajin.

Sapu ijuk itu bergesekan dengan ubin tegel kunci, menciptakan irama srek-srek yang konstan.

Analisis Perilaku Subjek: Bu Sasmi.

Frekuensi kontak mata: < 10%, Menghindar.

Aktivitas motorik: Meningkat dan Overkompensasi.

Kesimpulan sementara: Rasa bersalah atau ketakutan pasca-insiden kemarin.

Sekar menyesap tehnya. Rasanya sepat, tidak senikmat racikan herbal dari Ruang Spasial.

"Bu Sasmi," panggil Sekar datar.

Wanita paruh baya itu tersentak kaget, sapu di tangannya nyaris terlepas. "I-iya, Non Sekar? Mau tambah gula batu?"

"Tidak. Saya hanya ingin tahu, laporan apa yang Ibu tulis untuk Gusti Dhaning pagi ini?"

Wajah Bu Sasmi memucat instan. "L-laporan? Saya tidak mengerti maksud Non..."

Sekar meletakkan cangkir tehnya dengan bunyi klak pelan namun tegas. "Sudah tidak perlu lagi Ibu berbohong."

Bu Sasmi membuka mulut untuk menyangkal, namun suara deru mesin mobil halus di halaman depan menghentikan kalimatnya.

Sebuah SUV hitam berplat AB dengan kode khusus keraton berhenti tepat di depan pintu rumah.

Pintu mobil terbuka. Yang turun adalah Gusti Arya.

Pangeran itu mengenakan kemeja batik tulis sogan lengan panjang yang digulung sebatas siku, memadukan kewibawaan tradisi dengan gaya kasual modern.

Namun, wajahnya tidak tersenyum. Garis rahangnya tegas, matanya memancarkan aura dingin yang jarang terlihat.

Dia tidak datang sendiri.

Seorang wanita lain turun dari pintu penumpang.

Wanita itu mengenakan kebaya kutubaru lurik biru tua yang sangat pas badan, jarik wiron sebatas betis, dan sepatu pantofel hitam datar yang praktis. Rambutnya disanggul tekuk rapi tanpa hiasan apapun.

Sekar berdiri menyambut mereka.

"Selamat pagi, Gusti Arya," sapa Sekar.

Arya mengangguk singkat pada Sekar, matanya menyiratkan permintaan maaf sekilas, sebelum tatapannya beralih tajam ke arah Bu Sasmi yang kini berdiri mematung di sudut ruangan.

"Pagi, Sekar," jawab Arya, suaranya berat. Dia melangkah masuk, diikuti wanita misterius itu. Langkah mereka berdua tegap dan senyap.

Arya berhenti tepat di hadapan Bu Sasmi.

"Bu Sasmi," sapa Arya. Nadanya halus, krama inggil yang sopan, namun memiliki tekanan intimidasi yang membuat udara di ruangan itu terasa berat.

"Sugeng enjang, Gusti Pangeran," Bu Sasmi membungkuk dalam-dalam, tangannya gemetar.

"Saya tahu Mbakyu Dhaning 'menitipkan' Ibu di sini untuk membantu Sekar mempelajari unggah-ungguh."

"B-benar, Gusti. Gusti Dhaning sangat peduli pada Non Sekar..."

"Peduli," ulang Arya, seolah mengecap kata itu dengan rasa pahit.

"Begitu pedulinya, sampai Ibu harus memotret setiap tamu yang datang dan mencatat jam berapa Sekar tidur?"

Bu Sasmi ternganga. "S-saya... saya hanya..."

"Saya sudah melihat log chat di ponsel yang disita tim keamanan kemarin, Bu," potong Arya dingin. Dia tidak membentak, tapi suaranya mematikan argumen.

"Foto Sekar saat meditasi. Laporan stok bahan baku. Bahkan sampel rambut yang Ibu ambil dari sisir Sekar."

Sekar mengangkat alisnya. Sampel rambut? DNA profiling? Dhaning benar-benar paranoid atau sangat teliti.

"Kemas barang-barang Ibu," perintah Arya.

"Tapi Gusti... saya ini abdi dalem titipan Gusti Dhaning. Gaji saya dari Keputren... Saya hanya bisa diperintah oleh beliau..." Bu Sasmi mencoba berlindung di balik nama majikan aslinya.

Arya maju selangkah. Aura dominasinya menguar kuat.

"Sebagai wakil Sultan yang mengawasi proyek ekonomi kreatif, saya memiliki wewenang untuk mencabut akses siapa pun yang mengancam stabilitas mitra kerja Keraton."

Arya menoleh pada wanita di sebelahnya.

"Nyi Ratri."

"Sendika, Gusti," wanita itu menjawab tegas. Suaranya rendah dan berwibawa.

"Bantu Bu Sasmi mengemasi barang pribadinya. Pastikan tidak ada aset toko, data, atau sampel biologis apapun yang terbawa. Antar beliau sampai ke gerbang Keputren. Sampaikan pada Mbakyu Dhaning: 'Hadiahnya saya kembalikan karena cacat produksi'."

Wajah Bu Sasmi merah padam karena malu dan takut. "Baik... baik Gusti..."

Tanpa perlawanan lagi, Bu Sasmi digiring ke belakang oleh Nyi Ratri. Gerakan Nyi Ratri efisien, memegang lengan Bu Sasmi dengan cengkeraman yang terlihat sopan namun mengunci persendian, memastikan wanita itu tidak bisa macam-macam.

Sepeninggal mereka ke ruang belakang, Arya menghela napas panjang. Bahunya yang tegang sedikit rileks. Dia berbalik menatap Sekar.

"Maafkan aku, Sekar."

"Untuk apa?" Sekar bersandar di kursi, melipat tangan di dada.

"Membersihkan hama adalah bagian dari manajemen ekosistem."

"Karena keluargaku lah hama itu ada di sini," Arya menatap Sekar dengan tatapan intens.

"Seharusnya kau fokus pada risetmu, bukan bermain petak umpet dengan mata-mata kakakku."

Sekar mengedikkan bahu. "Variabel gangguan eksternal. Sudah diperhitungkan."

Tak lama kemudian, Nyi Ratri kembali. Bu Sasmi sudah diserahkan kepada sopir di luar untuk diantar pulang.

Nyi Ratri berdiri tegak di hadapan Arya dan Sekar, lalu melakukan sembah, salam hormat keraton yang sangat presisi.

"Lapor, Gusti. Area sterilisasi selesai."

Arya mengangguk. "Sekar, perkenalkan. Ini Nyi Ratri Sasmita."

"Dia... pengganti Bu Sasmi?" tanya Sekar ragu. Matanya memindai sosok Nyi Ratri.

Analisis Fisik:

Postur: Tulang belakang tegak sempurna.

Otot trapezius: Sedikit menonjol, indikasi latihan fisik intens.

Telapak tangan: Ada kapalan tipis di pangkal jari telunjuk dan ibu jari, indikasi pengguna senjata/benda keras rutin.

"Dia bukan sekadar akan jadi asisten pribadimu," jelas Arya.

"Nyi Ratri adalah komandan regu Prajurit Estri Langenkusumo. Pasukan pengawal elite wanita yang bertanggung jawab langsung pada keamanan ring satu."

Sekar terbelalak. "Prajurit? Untuk seorang petani?"

Nyi Ratri tersenyum. Senyum itu mengubah wajah kakunya menjadi sangat ramah dan keibuan, seolah dia hanyalah bibi yang suka membuat sambal.

"Jangan khawatir, Mbak Sekar," suara Nyi Ratri lembut.

"Saya terlatih dalam pembukuan, menyeduh jamu, melipat kain jarik, dan... mematahkan lengan penyusup jika diperlukan."

Sekar mengerjap. Multitasking level ekstrem.

"Gusti Dhaning bermain kotor dengan menyusupkan mata-mata," lanjut Arya serius.

"Maka aku menjawabnya dengan menempatkan perisai. Mulai hari ini, Nyi Ratri dan dua anggotanya, yang akan bekerja di sif malam ditoko-mu adalah pegawai resmimu. Gajinya, aku yang tanggung pribadi."

"Tidak," potong Sekar cepat.

Arya menoleh heran. "Sekar?"

"Kalau dia dan timnya bekerja padaku, Aku yang bayar. Aku tidak mau berhutang budi yang bisa dikonversi menjadi leverage politik di masa depan," jawab Sekar logis.

"Tapi aku terima perlindungannya. Simbiosis mutualisme."

Arya terdiam sejenak, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. Senyum yang mencapai matanya.

"Kau dan logika transaksional-mu itu... kadang menakutkan, tapi sangat adil. Baiklah, Profesor. Kau yang bayar gajinya sesuai standar UMR, sisanya tunjangan keamanan dari kantongku. Sepakat?"

"Sepakat."

Arya melirik jam tangannya. Ekspresinya kembali serius.

"Sekarang, bersiaplah. Bapak... maksudku, Sri Sultan... ingin bertemu denganmu nanti siang."

Jantung Sekar berdegup satu ketukan lebih cepat. Bukan karena takut, tapi karena antisipasi.

"Audiensi resmi?"

"Lebih dari itu," Arya menatap mata Sekar lekat-lekat.

"Beliau mendengar tentang analisismu kemarin soal 'Deep Sleep' dan regenerasi sel. Bapak punya ketertarikan khusus pada botani kuno. Beliau ingin memberimu tes."

"Tes?"

1
Annisa fadhilah
bagus bgt
tutiana
ya ampun mimpi apa semalam Thor, trimakasih crazy up nya
lope lope lope ❤️❤️❤️⚘️⚘️⚘️
tutiana
gass ken arya,,, tumbangin rangga
🌸nofa🌸
butuh energi buat menghadapi Dhaning
🌸nofa🌸
mantap arya
tutiana
wuenakkk banget kan ,,Rangga,,Rangga kuapok
Aretha Shanum
upnya good
borongan
lin sya
keren sekar, bkn hnya jenius tp cerdik, mental baja, pandai membalikan situasi yg hrusnya dia kalah justru musuhnya yang balik menjdi pelindung buat para kacungnya daning 💪
gina altira
menunggu kehancuran Rangga
🌸nofa🌸
waduh malah nantangin😄
🌸nofa🌸
judulnya keren banget😄
sahabat pena
kapan nafasnya? teror trs .hayo patah kan sayap musuh mu sekar.. biar ga berulah lagi
INeeTha: seri 2 ini memang di stel mode tahan nafas ka🙏🙏🙏
total 1 replies
INeeTha
Yang nyariin Arya, dia nungguin kalian di bab selanjutnya 🤣🤣🤣
gina altira
Aryanya kemana inii,, kayakanya udah dijegal duluan sama Dhaning
sahabat pena
kurang greget sama Arya ya? kasian sejar selalu berjuang sendiri
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
Sekar keren banget 😍😍😍😍😘
sahabat pena
rasakan itu rangga 🤣🤣🤣🤣rasanya mau bersembunyi di lubang semut🤣🤣🤣🤣malu nya.. euy🤣🤣
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
Rangga terlalu bodoh untuk melawan seorang profesor 😏😏🙄🙄
🌸nofa🌸
wkwkwkwkwk
kena banget jebakan sekar buat rangga😄
🌸nofa🌸
kebalik padahal😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!