NovelToon NovelToon
Istri Nakal CEO Dingin

Istri Nakal CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / CEO / Diam-Diam Cinta / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Nikah Kontrak
Popularitas:26.1k
Nilai: 5
Nama Author: hofi03

Ziva Putri Willson, putri bungsu keluarga Willson, adalah perpaduan sempurna antara kecantikan, kecerdasan, dan kepercayaan diri setinggi langit. Di usianya yang masih muda, dia telah menjadi desainer ternama yg namanya menggema hingga ke mancanegara.

Damian Alexander, CEO muda yang dikenal kejam dan dingin. Baginya, hidup hanyalah deretan angka dan nilai saham. Dia sangat anti pada wanita karena menganggap mereka makhluk paling merepotkan di dunia.

"Dengar, Tuan CEO, kamu mungkin bisa membeli saham dunia, tapi kamu tidak bisa membeli hak untuk mengatur kapan aku harus bernapas. Jadi, simpan wajah sok kuasamu itu untuk rapat, bukan untukku." -Ziva.

"Aku sudah menghadapi ribuan musuh bisnis yang licin, tapi menghadapi satu wanita bermulut tajam seperti dia jauh lebih menguras energi daripada akuisisi perusahaan. Tapi justru itu yang membuatnya berbeda." — Damian.

Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Si Tuan Dingin yang mulai kehilangan akal sehatnya, atau Nona cerewet berwajah manis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TELUR GULUNG DATE

"Baik, Tuan. Segera dilaksanakan!" jawab Riko dengan nada semangat, seolah ini adalah makanan sehari-harinya.

Tut

Damian memutuskan sambungan telepon, lalu kembali fokus ke jalan raya seolah baru saja memesan segelas kopi, bukan membeli sebuah perusahaan tekstil di luar negeri.

"Kamu gila ya? Kamu mau beli perusahaannya cuma karena masalah kainku?" tanya Ziva masih tidak percaya, dengan apa yang dilakukan Damian.

"Aku tidak suka kalau ada orang yang mengganggu jadwal milikku. Dan karena kamu sekarang adalah tanggung jawabku, maka masalahmu adalah gangguan bagi jadwalku," jawab Damian melirik Ziva sebentar.

"Tapi itu berlebihan, Damian!" protes Ziva, meski di dalam hatinya dia merasa sangat tersentuh, dan sedikit ngeri dengan kekuatan pria di sampingnya ini.

"Anggap saja ini investasi," ucap Damian datar.

"Dan sebagai gantinya, kamu berhutang satu hal padaku," lanjut Damian, tersenyum miring.

"Apa? Jangan bilang kamu mau minta tas Paris juga?"tanya Ziva langsung waspada.

"Gak ya! Itu mahal! Nanti harta ku berkurang!" lanjut Ziva, menggeleng kan kepala nya panik.

Damian terkekeh rendah, bahkan dia hampir meledakan tawa nya, saat mendengar penuturan calon istri nya itu.

"Tidak. Aku ingin kamu menemaniku ke acara gala tahunan pengusaha besok malam. Dan kali ini, tidak ada drama kabur-kaburan atau akting pura-pura tidak kenal. Kamu harus berdiri di sampingku sebagai Calon Nyonya Alexander yang sah," ucap Damian, suara nya terdengar sangat seksi di ruang mobil yang sempit itu.

Ziva terdiam, dia menatap Damian dari samping, wajah Damian yang tegas, ternyata di balik sifat kaku dan dinginnya, pria ini adalah predator bisnis yang sangat efisien dan entah kenapa, hal itu membuat Ziva merasa sedikit aman.

"Oke," jawab Ziva pelan.

"Tapi dengan satu syarat lagi," lanjut Ziva, tersenyum licik.

"Apa lagi?" tanya Damian mendesah pelan.

"Jangan pakai dasi warna hitam terus. Besok malam, aku yang akan menentukan pakaianmu, kamu harus terlihat seperti manusia, bukan robot penjaga bank," ucap Ziva dengan senyum licik yang kembali muncul.

Damian terdiam sejenak, lalu mengangguk kecil.

"Terserah kamu, Kucing Kecil."

Mobil Ferrari itu terus melaju membelah kemacetan Jakarta, membawa dua orang yang saling bertolak belakang namun perlahan mulai menemukan irama dalam langkah mereka yang penuh percikan api.

Di pertengahan jalan tiba-tiba Ziva meminta berhenti, karena melihat penjual telur gulung di pinggir jalan, walaupun Ziva anak dari orang kaya, tapi dia sangat senang dengan jajanan gerobak kaki lima.

"Damian berhati, aku mau itu," ucap Ziva, menunjuk Abang tukang telur gulung.

"Apa?" tanya Damian, mengerut kan kening nya.

"Itu, aku mau beli itu, udah lama aku gak makan telur gulung," jawab Ziva, menelan ludahnya.

"Tidak," tolak Damian, saat menyadari kemana arah pandang calon istri nya.

Tiga puluh tahun hidup di dunia ini, Damian belum pernah makan makanan pinggir jalan.

"Tidak? Apa maksudmu tidak?!" tanya Ziva menoleh dengan mata membulat, seolah baru saja mendengar Damian menyatakan perang dunia ketiga.

"Makanan itu tidak higienis, Ziva. Kita tidak tahu kualitas minyaknya, belum lagi debu jalanan. Kalau kamu lapar, aku bisa membawamu ke restoran bintang lima manapun sekarang juga," jawab Damian melirik sekilas ke arah gerobak sederhana di pinggir jalan yang dikerumuni asap dan beberapa anak sekolah.

"Aku nggak mau fine dining, Damian! Aku mau telur gulung! Itu beda sensasinya!" ucap Ziva, hampir berteriak.

"Berhenti sekarang atau aku loncat dari mobil!" ucap Ziva, mengeluarkan ancaman nya.

Damian menghela napas panjang, rahangnya mengeras, di melirik spion, memastikan keadaan aman sebelum memutar kemudi dengan gerakan tajam dan memarkir Ferrari hitamnya di bahu jalan, tepat beberapa meter di depan gerobak tersebut.

"Cepat buka pintu nya," perintah Ziva ketus, karena pintu mobil masih terkunci.

"Aku ikut," jawab Damian pendek sambil mematikan mesin.

"Hah? Kamu mau ikut antre? Tuan Muda Alexander yang terhormat mau berdiri di pinggir jalan berdebu demi sebatang telur seharga lima ribu rupiah?" sindir Ziva dengan nada meremehkan.

Damian tidak menjawab, dia turun dari mobil, mengancingkan satu kancing kemeja hitamnya, dan berjalan memutari mobil untuk membukakan pintu bagi Ziva.

Sosoknya yang tinggi, atletis, dan berwajah tegas tampak sangat kontras dengan lingkungan sekitarnya, membuat orang-orang di sekitar gerobak mulai berbisik, mengira ada syuting film atau kunjungan pejabat dadakan.

Ziva melangkah menuju gerobak dengan semangat, mengabaikan tatapan heran orang-orang.

"Bang! Beli dua puluh tusuk ya, bumbunya campur, pedasnya sedang!" seru Ziva, dengan mata berbinar.

"Siap, Neng Cantik!" jawab si Abang penjual semangat.

Abang penjual telur gulung itu melirik Damian yang berdiri kaku di belakang Ziva seperti seorang pengawal pribadi yang sangat mahal.

"Pacarnya mau juga, Neng?" tanya Abang si penjual.

Ziva melirik Damian yang sedang menatap wajan berisi minyak panas dengan dahi berkerut, seolah-olah sedang menginspeksi limbah beracun.

"Dia? Oh, dia cuma supir saya, Bang. Kasih saja dia satu yang polos, biar dia tahu rasanya jadi manusia," canda Ziva sambil tertawa kecil.

Damian mendengus, namun dia tetap diam, lalu mengeluarkan dompet kulitnya, namun Ziva langsung menahan tangannya.

"Eits! Di sini tidak terima kartu kredit atau transfer bank internasional, Tuan Alexander. Pakai uang tunai," ucap Ziva sambil merogoh tasnya dan menyerahkan selembar uang dua puluh ribuan yang sudah agak lecek.

Damian menatap horor, uang tunangan nya itu, entah dari mana si desainer cantik itu memiliki uang itu.

Setelah menunggu beberapa menit, dua plastik berisi telur gulung hangat yang berlumuran saus merah sudah di tangan Ziva.

Gadis cantik itu langsung mengambil satu tusuk dan memakannya dengan lahap.

"Hmm... Perfect!" gumam Ziva terpejam saking nikmatnya.

"Nih, coba satu, jangan jadi robot terus, sesekali nikmati hidup," ucap Ziva, menyodorkan satu tusuk ke arah mulut Damian.

Damian menatap tusukan telur itu dengan ragu.

"Ziva, itu sausnya terlihat sangat mencurigakan-"

"Buka mulutmu atau aku akan mengoleskan saus ini ke kemeja mahalnya," ancam Ziva dengan mata berkilat.

Terpaksa, Damian membuka mulutnya sedikit.

Begitu telur gulung itu menyentuh lidahnya, seketika Damian terdiam, teksturnya yang kenyal, rasa gurih telur, dan pedas manis sausnya meledak di mulut, dia mulai mengunyah perlahan, matanya sedikit melebar.

"Gimana? Enak kan? Ngaku saja!" goda Ziva sambil menyikut lengan Damian.

"Rasanya... unik, meski aku masih meragukan kandungan nutrisinya," ucap Damian datar, namun dia tidak menolak saat Ziva menyodorkan tusukan kedua.

Pemandangan itu benar-benar ajaib, seorang miliarder paling berpengaruh di negara ini, berdiri di samping mobil mewah miliaran rupiah, sambil asyik mengunyah telur gulung pinggir jalan bersama seorang gadis yang terus-menerus mengoceh.

1
axm
😄😄
Noey Aprilia
Ga sbr nunggu mreka ktmu.....
abang posesif vs clon suami kutub....🤣🤣🤣
Mommy Ayu
para singa penjaga keluarga Willson sangat kompak melindungi si kucing nakalnya Damian 🤣🤣🤣
Mommy Ayu
aku langsung ngebayangin Damian yang kaku seperti robot sedang memakan telur gulung 🤣🤣🤣🤣
Mommy Ayu
waaaa.... keren Damian... langsung tindakan tanpa banyak pertanyaan
zylla
Hayo loh, gimana nasib Damian 🤣
zylla
little monster 🤣🤣🤣🤣
Siti Nurjanah
daddy ziva tau ternyata soal vendor..
crazy up dpng thorrrrr
Maria Lina
kok cuman 2 thor kmrn 3 hadeh
Tiara Bella
abangnya ziva posesif semua....awas km Damian siap² km
Ilfa Yarni
waw asyik ya kluarga Wilson Ziva punya abang2 yg keren
Tiara Bella
lama² suka sm suka...lama² pd bucin.....
Tiara Bella
foto wallpaper nya berubah jd aku gk engeuh Thor.....
el 10001
namanya kadang berubah ubah ya thor
koreksi ya semangat
Husen
jd pengin punya Abang..
tia
lanjut thor
Lyvia
🤣🤣🤣🤣🤣 konyol n lucu ni ziva
Narti Narti
luar biasa
Haryati Atik Atik
lama" jg bucin ni dua org🤣🤣
Noey Aprilia
Ziva mau nyerah ga????
bru brbgi air mnum aja udh baper...
kbyang nnti kl udh nkah,trs tnggal srumah....atw sekamar pula.....🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!