Di Benua Timur, di mana pegunungan menusuk awan dan kabut spiritual menyelimuti hutan purba, nyawa manusia biasa seringkali tidak lebih berharga daripada rumput di tepi jalan.
Desa Sungai Jernih adalah tempat yang damai, tersembunyi di lembah kecil di kaki Pegunungan Kabut Hijau. Penduduknya hidup sederhana bertani, berburu, dan menyembah "Para Abadi" yang terkadang terlihat terbang melintasi langit dengan pedang cahaya. Bagi mereka, para kultivator itu adalah dewa pelindung.
Namun bagi Li Wei, hari ini, dewa-dewa itu membawa neraka.
Li Wei, pemuda berusia lima belas tahun dengan tubuh kurus namun sorot mata tajam, sedang menuruni bukit dengan keranjang anyaman di punggungnya. Ia baru saja selesai mencari tanaman obat liar. Ibunya sakit batuk sejak musim dingin lalu, dan tabib desa berkata akar Ginseng Roh tingkat rendah mungkin bisa membantu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27: Api Penyucian
Suara lonceng peringatan bergema di seluruh Aula Penempaan, memecah kesunyian malam dengan nada yang mendesak.
TENG! TENG! TENG!
"Penyusup! Ada penyusup di Ruang Harta!"
Teriakan para penjaga Sekte Darah terdengar bersahut-sahutan. Langkah kaki puluhan kultivator bergemuruh mendekat, mengepung satu-satunya pintu keluar dari ruang rahasia Tetua Ou Ye.
Di dalam ruangan, Tie Shan menyimpan Kotak Giok berisi Kristal Api Guntur ke dalam jubahnya. Wajahnya yang penuh abu kini keras membatu.
"Mereka datang," kata Li Wei, menggenggam Tongkat Penembus Langit. Ia berdiri di ambang pintu, menghadap lorong yang mulai dipenuhi cahaya obor musuh. "Saudara Tie, jalan keluar kita tertutup. Kita harus menerobos."
Tie Shan menggelengkan kepalanya pelan. Matanya menatap ke arah tengah aula besar di luar sana, tempat Tungku Sembilan Naga tungku raksasa setinggi tiga tombak sedang menyala dengan api merah darah yang menjijikkan.
"Tidak hanya menerobos, Saudara Li," suara Tie Shan berat. "Lihat api itu. Mereka menggunakan Darah Yin kotor untuk membakar tungku suci ini. Bagi seorang penempa, ini adalah penghinaan yang lebih buruk daripada kematian."
Tie Shan mengangkat palu besinya.
"Jika aku tidak bisa menyelamatkan tungku ini, maka aku akan memusnahkannya agar tidak menjadi alat iblis. Aku akan memicu Gejolak Api Pembalik Langit."
Li Wei mengerti maksudnya. Tie Shan ingin meledakkan tungku itu.
"Berapa lama waktu yang kau butuhkan?" tanya Li Wei.
"Sepuluh napas," jawab Tie Shan. "Tapi aku harus mencapai pusat tungku."
"Maju," perintah Li Wei. "Aku akan membuka jalan."
Li Wei melesat keluar dari bayangan.
"Itu mereka! Bunuh!" teriak seorang Tetua Tamu Sekte Darah yang memimpin pasukan.
Puluhan pedang terbang dan jimat api melayang ke arah Li Wei.
Li Wei tidak melambat. Ia memutar tongkat besinya, menciptakan pusaran angin yang mementahkan semua serangan itu.
TRANG! TRANG!
"Minggir!"
Li Wei menghantamkan tongkatnya ke lantai batu. Gelombang kejut meretakkan lantai, membuat para penjaga kehilangan keseimbangan.
Di belakangnya, Tie Shan berlari menerjang bagaikan banteng gila, mengabaikan musuh di kiri-kanannya, matanya terkunci pada Tungku Sembilan Naga.
"Hentikan si besar itu!" teriak musuh.
Dua kultivator Lapis 6 mencoba menghadang Tie Shan.
"Enyah!" Tie Shan mengayunkan palunya.
DUM!
Satu kultivator terpental dengan dada remuk. Namun, kultivator kedua berhasil menyabetkan pedangnya ke punggung Tie Shan.
Srekk!
Darah muncrat. Tapi Tie Shan bahkan tidak berkedip. Rasa sakit hanya membuatnya semakin beringas. Ia terus berlari dan melompat naik ke bibir tungku raksasa itu.
Di sana, panasnya luar biasa. Cairan besi bercampur darah mendidih di dalamnya.
"Guru, maafkan muridmu..." bisik Tie Shan.
Ia merogoh saku penyimpanannya, mengeluarkan segenggam Batu Roh Air Dingin (Batu yang berlawanan sifat dengan api tungku).
Ia melemparkan batu-batu itu ke dalam lautan api cair.
Pada saat yang sama, Tie Shan menghantamkan palunya ke Mata Formasi Api di dinding luar tungku.
"Teknik Penempaan Terlarang: Pembalikan Arus Lima Elemen!"
KRAK!
Mata formasi pecah. Aliran Qi api yang seharusnya stabil kini menjadi kacau. Batu Roh Air di dalam tungku bereaksi dengan api darah, menciptakan tekanan uap yang tak terbayangkan.
Tungku raksasa itu mulai bergetar. Warna apinya berubah dari merah menjadi putih menyilaukan. Suara gemuruh seperti naga yang mengamuk terdengar dari perut tungku.
"Lari!" teriak Tie Shan, melompat turun.
Para murid Sekte Darah terdiam, merasakan hawa panas yang meningkat drastis. Dinding tungku mulai retak, memancarkan cahaya yang menyakitkan mata.
"Gila! Dia mau meledakkan Puncak Besi!" Tetua Tamu Sekte Darah berteriak panik. "Mundur! Semuanya mundur!"
Formasi pertahanan Puncak Besi tidak dirancang untuk menahan ledakan dari dalam.
Li Wei menangkap lengan Tie Shan yang baru mendarat. "Lewat sini!!"
Mereka berlari ke arah lubang pembuangan asap di dinding utara jalan yang sama saat mereka masuk.
Namun, sebelum mereka mencapai lubang itu, sesosok bayangan turun menghalangi jalan.
Seorang pria tua dengan jubah klan Wang, memegang pedang api yang membara.
Tetua Wang Huo (Api). Lapis 7 Awal.
"Kalian tikus-tikus kecil ingin menghancurkan pabrik senjata kami?" Tetua Wang Huo menyeringai kejam. "Tinggallah di sini dan jadilah abu!"
Ia menebaskan pedangnya. Gelombang api raksasa menutup jalan menuju keluar.
Waktu habis. Tungku di belakang mereka sudah mencapai titik kritis.
"Kita tidak bisa menembus apinya tepat waktu!" teriak Tie Shan.
Li Wei melihat sekeliling. Ia melihat sebuah Lonceng Perunggu Raksasa artefak kuno yang dulu digunakan untuk upacara tergantung di langit-langit, tepat di atas mereka.
Li Wei mendapat ide gila.
"Tie Shan! Putuskan rantai lonceng itu!"
Tanpa bertanya, Tie Shan melempar palunya ke atas.
TANG!
Rantai penyangga putus. Lonceng raksasa seberat seribu jin itu jatuh.
Li Wei menarik Tie Shan, dan mereka berdua melompat berlindung di bawah jatuhnya lonceng itu.
BUM!
Lonceng itu mendarat, mengurung mereka di dalamnya seperti tempurung kura-kura.
Detik berikutnya...
KABOOOOOM!
Tungku Sembilan Naga meledak.
Bukan ledakan biasa. Itu adalah pelepasan energi murni yang setara dengan serangan penuh Kultivator Core Formation.
Atap Aula Penempaan hancur berkeping-keping. Dinding-dinding batu meleleh. Gelombang api putih menyapu seluruh puncak gunung.
Tetua Wang Huo, yang berdiri di tempat terbuka, tidak sempat berteriak. Tubuhnya menguap seketika ditelan lidah api penyucian.
Puluhan murid Sekte Darah yang terlambat lari ikut musnah menjadi abu.
Di dalam Lonceng Perunggu, Li Wei dan Tie Shan merasakan dunia berputar.
Suara ledakan diredam oleh dinding perunggu tebal, tapi panasnya merambat masuk.
Li Wei menekan kedua tangannya ke dinding dalam lonceng, menyalurkan Qi Air dan Tanah sekuat tenaga untuk mendinginkan logam agar mereka tidak terpanggang hidup-hidup.
"Bertahanlah!" geram Li Wei, kulitnya memerah.
Gelombang ledakan itu begitu kuat hingga melemparkan lonceng raksasa itu keluar dari reruntuhan aula, melayang di udara, dan jatuh menggelinding menuruni tebing Puncak Besi.
Glong... Glong... Glong...
Lonceng itu berguling ratusan meter ke bawah, menghantam bebatuan dan pohon, sebelum akhirnya berhenti di sebuah sungai dangkal di kaki gunung.
Cesssss...
Uap panas mengepul saat logam panas bertemu air sungai yang dingin.
Hening.
Beberapa saat kemudian, sisi lonceng itu terangkat sedikit.
Li Wei merangkak keluar, terbatuk-batuk, tubuhnya penuh memar dan luka bakar ringan. Ia menarik Tie Shan yang setengah sadar keluar dari bawah lonceng.
Mereka berdua terbaring di pinggir sungai, menatap ke atas.
Di puncak gunung sana, Aula Penempaan sudah tidak ada. Hanya tersisa kawah raksasa yang masih membara. Tempat senjata musuh telah musnah total.
Tie Shan tertawa lemah, meski darah mengalir dari keningnya.
"Guru..." bisiknya serak. "Tungku itu... sudah bersih sekarang."
Li Wei tersenyum tipis, menyeka darah di wajahnya.
"Ya. Bersih sekali."
Li Wei memapah Tie Shan berdiri. Di tangan Tie Shan, Kotak Giok berisi Kristal Api Guntur masih tergenggam erat. Misi berhasil.
"Ayo pulang," kata Li Wei. "Kita punya meriam yang harus dibuat."