Dunia persilatan dipenuhi kepalsuan. Yang kuat menindas, yang lemah hanya bisa menunggu mati.
Dari kegelapan, muncul seorang gadis bermata merah darah, membawa kipas hitam yang memanen nyawa. Ia dikenal sebagai Dewi Kematian. Bukan pahlawan, bukan pula iblis, melainkan hukuman bagi mereka yang kejam.
Setiap langkahnya menebar darah, setiap musuhnya lenyap tanpa jejak. Namun di balik kekuatan terlarang itu, tersembunyi luka masa lalu dan takdir kelam yang tak bisa dihindari.
Ini bukan kisah penyelamatan.
Ini adalah legenda tentang kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 6
Malam turun perlahan di Lembah Teratai. Kabut tipis merayap dari dasar lembah, menyelimuti pepohonan dan bangunan perguruan dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Biasanya, kabut seperti ini membawa ketenangan, namun malam itu, udara terasa berat, seolah dipenuhi niat membunuh yang tak kasatmata.
Para murid telah dipindahkan ke bukit sebelah, meninggalkan halaman utama dalam keadaan sunyi. Di sana, sepuluh sosok berdiri membentuk barisan setengah lingkaran. Mereka adalah para tetua Lembah Teratai, masing-masing memiliki aura Tenaga Dalam yang padat dan stabil. Tanah di bawah kaki mereka bahkan tampak sedikit retak, menandakan tekanan kekuatan yang mereka lepaskan tanpa sadar.
Ziang Guang berdiri di tengah barisan itu, golok panjangnya tergenggam erat. Wajah tuanya tenang, namun sepasang matanya tajam menatap ke arah jalur masuk lembah.
Tidak lama kemudian, kabut di depan bergolak. Satu bayangan muncul, lalu dua, kemudian puluhan. Mereka melangkah keluar dari kabut tanpa suara berlebihan, mengenakan pakaian sederhana berwarna abu-abu dan biru pudar. Tidak ada lambang, tidak ada tanda kebesaran, hanya aura bebas dan dingin yang menguar dari tubuh mereka.
Sepuluh orang maju ke depan, saat mereka berhenti, tekanan Tenaga Dalam langsung saling berbenturan di udara. Daun-daun kering beterbangan, beberapa pilar kayu di halaman retak dengan suara lirih.
“Sepuluh Pendekar Guru Suci.”
Kesepuluh tetua dari Perguruan Awan Mengalir mengangkat kepala mereka. Wajah-wajah itu tenang, bahkan terlihat biasa saja, seolah mereka bukan datang untuk berperang, melainkan sekadar berkunjung.
Salah satu dari mereka melangkah maju setengah langkah.
“Ziang Guang,” ucapnya dengan suara datar. “Akhirnya kami menemukanmu.”
Ziang Guang menghela nafas pelan.
“Sudah sepuluh tahun berlalu. Kalian masih menyimpan dendam padaku.”
“Dendam tidak pernah mengalir pergi,” jawab tetua itu. “Ia hanya menunggu waktu.”
Tanpa aba-aba lebih lanjut, salah satu tetua Awan Mengalir menghentakkan kakinya ke tanah. Ledakan Tenaga Dalam meledak seperti gelombang tak terlihat.
Pertempuran seketika langsung pecah, sepuluh lawan sepuluh, dan para tetua Lembah Teratai bergerak serempak, tubuh mereka melesat cepat, meninggalkan bayangan samar di udara. Pedang, tombak, dan tongkat panjang beradu dengan senjata sederhana milik Awan Mengalir. Dentuman benturan Tenaga Dalam mengguncang halaman, membuat tanah bergelombang dan dinding bangunan retak.
Setiap pukulan mengandung kekuatan yang mampu merobohkan bangunan.
Seorang tetua Lembah Teratai mengayunkan pedangnya, cahaya putih Tenaga Dalam memanjang dari bilah senjata. Lawannya menangkis dengan telapak tangan kosong, namun di telapak itu berlapis energi padat. Benturan itu memuntahkan gelombang udara yang memaksa keduanya terpental mundur.
Di sisi lain, dua pendekar saling bertukar jurus silat tangan kosong. Setiap serangan mengincar titik vital, tanpa gerakan sia-sia, tanpa teriakan.
Ziang Guang tidak ikut campur. Ia melangkah maju perlahan, melewati riuhnya bentrokan, matanya terkunci pada satu sosok yang berdiri tenang di barisan belakang musuh.
Seorang pria berambut panjang diikat longgar, wajahnya kurus, sorot matanya tenang seperti permukaan danau.
Dia adalah Tetua Besar Perguruan Awan Mengalir.
Pria itu tersenyum tipis.
“Aku sudah menunggu hari ini.”
Ziang Guang mengangkat goloknya.
“Kalau begitu, mari kita selesaikan urusan lama.”
Aura keduanya meledak bersamaan, tanah di bawah kaki mereka runtuh, membentuk cekungan besar. Dua Pendekar Tingkat Guru Agung itu pun mulai bertarung.
Begitu Ziang Guang melangkah maju, dunia di sekitarnya seakan menyempit. Suara bentrokan para tetua lain terdorong menjauh oleh tekanan aura dua sosok itu.
Tetua Besar Awan Mengalir mengangkat tangannya perlahan. Tidak ada senjata di tangannya, hanya telapak tangan kosong yang dilapisi Tenaga Dalam berwarna keabu-abuan, berputar pelan seperti kabut yang mengalir.
“Jurus Jalan Mengalir Tanpa Bentuk,”
Ia melangkah maju, satu langkah sederhana, namun tubuhnya menghilang sesaat. Dalam sekejap, telapak tangannya telah berada di depan dada Ziang Guang.
Ziang Guang menghentakkan goloknya ke bawah.
Benturan itu memekakkan telinga. Gelombang Tenaga Dalam menyebar ke segala arah, merobek tanah, membuat bebatuan terangkat dan hancur di udara. Ziang Guang terdorong mundur tiga langkah, telapak kakinya meninggalkan jejak dalam di tanah.
Matanya menyipit.
“Kau cukup kuat,” ucapnya.
Tetua Besar tersenyum tipis.
“Dan kau juga tidak lemah.”
Mereka kembali bergerak.
Golok Ziang Guang berkelebat cepat, setiap ayunan membawa tekanan berat seperti gunung. Namun lawannya bergerak seperti air, mengalir di sela-sela serangan, menangkis dengan lengan, bahu, bahkan siku, setiap sentuhan menghasilkan gelombang energi yang bergetar.
Di sisi lain halaman, pertempuran para tetua semakin brutal.
Seorang tetua Lembah Teratai berhasil menembus pertahanan lawan dan menghantam dada musuhnya dengan telapak tangan penuh Tenaga Dalam. Tulang dada hancur, darah muncrat, namun sebelum tubuh itu jatuh, pendekar Awan Mengalir lain menyerang dari belakang, membuat tetua itu memuntahkan darah dan terlempar.
Tidak ada yang mundur. Tidak ada yang berteriak meminta ampun, kedua belah pihak tahu, malam ini hanya ada dua pilihan. Hidup atau mati.
Ziang Guang memutar goloknya, Tenaga Dalam meledak keluar dari tubuhnya, membentuk lapisan energi tebal. Ia melompat tinggi, mengayunkan golok dari atas, menciptakan bayangan bilah raksasa yang menghantam ke bawah.
Tetua Besar Awan Mengalir mengatupkan kedua telapak tangannya.
“Aliran Kembali ke Kosong.”
Serangan itu berhenti sesaat di udara, seolah ditelan sesuatu. Namun detik berikutnya, ledakan dahsyat terjadi. Kedua pendekar terpental ke arah berlawanan, tubuh mereka menghantam tanah keras.
Ziang Guang bangkit lebih dulu, darah menetes dari sudut bibirnya.
Tetua Besar juga berdiri, nafasnya sedikit berat.
Keduanya saling menatap, tidak ada kebencian di mata mereka, hanya keteguhan dan dendam lama yang tak pernah padam.
Di kejauhan, suara benturan masih terus menggema. Lembah Teratai berubah menjadi medan perang berdarah, sementara Maha Guru masih terkurung dalam pelatihan tertutup, tidak mengetahui bahwa nasib perguruan sedang dipertaruhkan dalam satu malam.
Pertempuran semakin condong ke satu arah, kehadiran dua Pendekar Guru dari Perguruan Awan Mengalir menjadi titik balik yang nyata. Mereka bergerak lincah, Tenaga Dalam mereka mengalir stabil dan kuat, setiap serangan selalu merenggut nyawa atau melumpuhkan lawan.
Seorang Pendekar Ahli Lembah Teratai terpental setelah menerima hantaman telapak tangan di dada. Ia memuntahkan darah sebelum jatuh tak bergerak. Di sisi lain, dua murid tingkat Pendekar Terlatih tertebas hampir bersamaan, tubuh mereka roboh ke tanah dengan mata terbuka penuh keterkejutan.
Tanah lembah mulai dipenuhi jasad, darah mengalir di antara batu-batu, aroma besi bercampur asap bangunan yang terbakar perlahan. Nafas para murid Lembah Teratai menjadi semakin berat, wajah mereka pucat, gerakan mereka melambat.
“Bertahan… bertahan…” gumam seorang murid senior sambil menahan luka di bahunya.
Namun tekanan tidak berhenti, dua Pendekar Guru dari Awan Mengalir bergerak seperti angin, menyapu barisan murid, membuat pertahanan Lembah Teratai runtuh sedikit demi sedikit. Setiap langkah mereka seakan membawa kepastian kematian.
Di pusat pertempuran, para tetua kedua perguruan masih bertarung sengit.
Benturan Tenaga Dalam mereka mengguncang tanah, menciptakan gelombang energi yang membuat anggota tingkat rendah terlempar hanya karena berada terlalu dekat. Tidak ada yang benar-benar unggul. Satu tetua tumbang, satu tetua terluka, namun keseimbangan masih terjaga dengan rapuh.
Ziang Guang sendiri berkeringat dingin.
Di hadapannya, Tetua Besar Awan Mengalir berdiri dengan aura mendominasi. Keduanya sama-sama berada di Tingkat Pendekar Guru Agung, setiap jurus mereka mampu meremukkan batu besar.
Namun Ziang Guang tahu, jika pertempuran ini berlanjut, Lembah Teratai akan kehabisan darah lebih dulu.
Para murid mulai gugur terlalu cepat, harapan mereka untuk menang menipis, beberapa murid muda menatap sekitar dengan mata kosong, tangan mereka gemetar memegang senjata. Tidak sedikit yang mulai berpikir bahwa malam ini adalah akhir dari perguruan mereka.
Namun ketika mereka merasa tidak akan bisa selamat, tiba-tiba saja, sebuah kipas hitam melesat dari kegelapan.
Gerakannya cepat, nyaris tidak terlihat, hanya kilatan hitam yang memotong udara. Dalam sekejap, kipas itu menyayat leher tiga Pendekar Ahli Awan Mengalir yang sedang menyerang bersamaan.
Darah menyembur deras, dan tiga tubuh jatuh hampir bersamaan, mata mereka membelalak sebelum nyawa benar-benar pergi.
Pertempuran terhenti sejenak, semua orang menoleh ke arah datangnya kipas itu.
Kipas hitam itu berputar di udara, lalu kembali ke tangan pemiliknya dengan anggun. Dari balik asap dan api, terlihat sosok seorang gadis melayang turun perlahan dengan sangat anggun.
Gaun hitamnya berkibar lembut. Rambut hitam panjangnya terurai. Pupil matanya merah darah, dingin, dan dalam, seolah menatap langsung ke jiwa siapapun yang melihatnya.
Aura kematian menyebar begitu dia menjejakkan kaki ke tanah.
Para Pendekar Awan Mengalir merasakan tengkuk mereka dingin. Bahkan para tetua ikut menoleh, wajah mereka menegang tanpa sadar.
Ziang Guang sendiri ikut terpaku. Sesaat ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, lalu matanya melebar.
“Kamu akhirnya datang untuk membantu orang tua ini!” ucap Ziang Guang dengan suara berat, namun terselip kelegaan yang tidak bisa ia sembunyikan.
Gadis itu melangkah mendekat, setiap langkahnya membuat udara di sekitarnya terasa semakin dingin. Tatapannya tetap tenang, namun di balik ketenangan itu tersembunyi niat membunuh yang murni.
“Paman Ziang,” ucapnya lembut, namun suaranya menggema di telinga semua orang, “sudah lama tidak bertemu.”
Kipas hitam berputar pelan di tangannya, ujung runcingnya berkilat memantulkan cahaya api.
“Aku akan membantumu,” lanjutnya sambil menatap barisan anggota Perguruan Awan Mengalir tanpa emosi, “mengambil nyawa mereka.”
Keheningan menyelimuti medan perang. Nama itu tidak perlu diucapkan. Dari aura, dari mata merah darah itu, para Pendekar langsung tahu.
Sosok yang berdiri di sana bukan sekadar gadis muda.Dia adalah teror nyata bagi para Pendekar yang memiliki jiwa pembunuh, sekaligus hakim keadilan di balik bayang-bayang kegelapan. Sang Dewi Kematian.