Xavier Rey Lergan hidup dalam sangkar steril akibat dirinya yang mengidap Myshopobia, hingga orang tuanya nekat menjodohkannya dengan Nara, seorang single mom. Pernikahan ini menjadi medan tempur antara si perfeksionis dan wanita tangguh yang tak mau diatur.
"Nara, sudah kubilang jangan diletakkan di sini!" bentak Xavier saat melihat barang berserakan.
"Diam Tuan Bakteri! Ini kamarku, keluar! Kamu kan belok!" balas Nara sengit.
"Aku hanya anti bakteri, bukan anti wanita!" seru Xavier tak terima.
Di tengah pertikaian, hadir Raya seorang putri kecil Nara yang polos. "Papa Laya balu cekalang! Halusnya dali dulu mama cali Papa balu, kenapa balu cekalang? Papa lama, buang aja ke celokan!" ucapnya menggemaskan.
Akankah kesterilan Xavier runtuh oleh kehangatan keluarga kecil ini, ataukah perbedaan prinsip tentang kebersihan akan memisahkan mereka selamanya?
"Bagaimana bisa aku menikahimu, sementara aku tak suka bekas orang lain?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obrolan 2 Ayah
Nara sampai di rumah sakit dalam keadaan yang sangat berantakan. Ia berlari sepanjang lorong dan mendapati orang tuanya sedang menunggu dengan cemas di depan ruang gawat darurat. Putrinya sedang ditangani secara intensif oleh tim dokter di dalam sana. Begitu melihat Nara, Jingga langsung menghampiri dan memeluk putrinya yang gemetar hebat.
"Raya gimana Pa? Raya gimana?!" tanya Nara dengan suara yang hampir habis karena menangis.
"Dokter sedang menangani di dalam, kamu tenang dulu ya sayang. Berharap agar Raya baik-baik saja," ucap Jingga mencoba menenangkan Nara, meskipun hatinya sendiri juga sangat hancur melihat kondisi cucu dan putrinya.
"Ma ...," lirih Nara, ia menyembunyikan wajahnya di bahu Jingga. "Aku gagal membawa dia ke sini. Apa salahku, Ma? Kenapa dia memperlakukanku dan Raya seperti ini? Kenapa aku diperlakukan seperti sampah oleh pria yang dulu sangat aku cintai?"
Jingga hanya bisa menggeleng pelan sambil mengusap punggung Nara. "Enggak sayang, kamu bukan sampah. Kamu adalah berlian yang sangat berharga. Pria itu yang rugi karena telah membuangmu demi wanita lain. Kamu adalah ibu yang hebat, Nara."
Angkasa yang sedari tadi hanya diam menatap pintu ruang gawat darurat pun akhirnya tidak tahan. Ia merasa sesak di d4danya. Tanpa berkata apa-apa, ia memilih untuk berjalan pergi menuju taman rumah sakit untuk mencari udara segar dan mencoba menenangkan emosinya yang meluap-luap. Ia duduk di salah satu kursi taman yang sunyi, menatap kosong ke arah deretan pepohonan. Ada rasa sakit yang luar biasa di hatinya melihat putrinya harus menderita dalam pernikahan yang gagal, persis seperti kegagalan pernikahan pertamanya dulu. Ia menyeka air mata yang sempat menetes di sudut matanya.
"Maaf, numpang bentar ya bro," ucap seorang pria yang tiba-tiba duduk di sebelah Angkasa.
Angkasa hanya menoleh sekilas dan mengangguk pelan, membiarkan pria itu duduk di sana. Ia kembali menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.
"Istri lagi sakit?" tanya pria di sebelahnya itu, yang tak lain adalah Xander Rey Lergan. Xander datang ke rumah sakit itu bukan untuk berobat, melainkan untuk menjemput istrinya yang bekerja sebagai salah satu dokter spesialis di sana.
"Bukan, tapi cucu," jawab Angkasa dengan nada suara yang sangat lemah.
"Oh ya? Sakit apa kalau boleh tahu?" tanya Xander dengan nada penasaran namun tetap sopan. Namun, melihat raut wajah Angkasa yang sangat muram, Xander segera memperbaiki posisinya. "Sepertinya ... wajah kita tidak asing bagi satu sama lain. Kita pernah bertemu sebelumnya di acara pelelangan bulan lalu, bukan? Aah ya! Anda adalah pemilik produk skincare ternama itu, kan? Asga Skincare?!"
Angkasa menoleh sepenuhnya, menatap pria di sampingnya itu dengan dahi yang berkerut dalam. Ia mencoba mengingat-ingat wajah tersebut di tengah kekacauan pikirannya. Hingga akhirnya, ingatan itu muncul. Pria di sampingnya ini bukanlah orang sembarangan. "Tuan Lergan? Dari Lergan Empire?"
"Aah benar! Tak kusangka kita bisa bertemu di kursi taman rumah sakit seperti ini," ucap Xander dengan tawa kecil yang mencoba mencairkan suasana. "Kebetulan aku mau menjemput istriku, dia bekerja sebagai dokter senior di sini."
Angkasa mengangguk pelan. "Cucu saya sedang kritis di dalam. Dia sangat merindukan ayahnya, berharap ayahnya datang menjenguknya. Tapi, ayahnya adalah pria br3ngsek yang lebih memilih selingkuhannya. Saya tidak tahu kenapa semesta seolah sedang menghukum saya. Pernikahan pertama saya dulu gagal, dan sekarang hal yang sama terjadi pada putri saya. Saya merasa telah gagal menjadi seorang ayah yang baik bagi dia," ucap Angkasa dengan nada penuh penyesalan.
Xander meluruskan kakinya, ia bersedekap d4da dan menatap lurus ke arah langit sore. "Kita semua sebagai ayah hanya ingin melihat anak-anak kita bahagia, bukan? Namun terkadang, hidup memberikan pilihan yang sulit bagi mereka. Aku pun sebenarnya sedang memiliki masalah besar dengan putra sulungku. Dia ... sepertinya dia enggan untuk memikirkan soal pernikahan atau masa depannya."
"Apa dia sudah memiliki pilihan sendiri?" tanya Angkasa mencoba mengalihkan rasa sedihnya.
"Bukan begitu. Dia menderita mysophobia yang cukup parah. Dia anti bakteri, anti kotor, dan itu membuatnya sangat sulit untuk bisa dekat dengan siapa pun, apalagi dengan lawan jenis. Aku khawatir dia akan hidup dalam kesendirian seumur hidupnya."
"Pa!"
Suara panggilan itu membuat Angkasa menoleh. Ia melihat Nara berjalan menghampirinya dengan langkah yang lemas. Angkasa segera berdiri dan menyambut putrinya, mengelus pelan kepala Nara untuk memberikan kekuatan.
"Tuan Lergan, maaf saya harus masuk ke dalam. Ini putri saya, Nara. Senang bisa bertemu dengan Anda lagi," ucap Angkasa sambil berpamitan.
Xander mengangguk dan memperhatikan Nara yang berjalan menjauh. Mata Xander membulat sempurna melihat sosok Nara. Meskipun wajah wanita itu tampak sembab dan ia sedang dalam keadaan hancur, aura kecantikan dan ketangguhan seorang ibu sangat terpancar darinya. Xander tertegun sejenak.
"Cantik sekali putrinya ... Kalau dia bisa jadi menantuku, aku tidak bisa membayangkan akan sekeren apa cucu-cucuku nanti. Dan dia tampak seperti wanita yang kuat, yang mungkin bisa menghadapi kegil4an kesterilan Xavier," gumam Xander dengan binar mata yang penuh rencana.
Ia terdiam sesaat, lalu tiba-tiba sebuah ide cemerlang melintas di kepalanya. Xander tersenyum lebar, senyum yang menunjukkan bahwa ia baru saja menemukan solusi untuk semua masalahnya. Ia segera merogoh saku celananya dan mengambil ponsel.
"Sayangkuuu, aku punya berita hot yang sangat luar biasa!" ucap Xander dengan seringai di bibirnya saat menelepon istrinya. Ia sudah tidak sabar untuk memulai rencana besarnya.
___________________________________
Triple dulu yah😆 semoga sukaaaa
Yang mau baca cerita orang tua Nara dan Xavier, di bawah ini yah
Yakin kamu akan bertahan hanya 3 bulan Vier??
mksh kak ditunggu lagi up nya, udah nungguin dr tadi😍