NovelToon NovelToon
My Kaisar

My Kaisar

Status: tamat
Genre:Romantis / Percintaan Konglomerat / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Bagi Freya Aurelia, mahasiswi seni yang hidupnya penuh warna dan kebebasan, Istana Welas adalah labirin kuno yang membosankan. Namun, sebuah insiden "salah masuk kamar" menyeretnya ke dalam pusaran protokol kerajaan yang kaku.
Di sana ada Kaisar Welas, sang putra mahkota yang perfeksionis, dingin, dan kaku layaknya robot. Dua dunia yang bertolak belakang ini dipaksa bersatu saat titah Buyut menjodohkan mereka demi sebuah stabilitas tradisi.
Satu bulan. Itulah waktu yang mereka miliki untuk membuktikan bahwa perjodohan ini adalah sebuah kesalahan besar. Namun, di antara perang urat syaraf, noda saus sambal di kemeja mewah, dan pelarian ke warung mie ayam, garis-garis benci itu mulai memudar.
Dapatkah Freya mewarnai hidup Kaisar yang hitam-putih? Atau justru Freya yang akan terbelenggu dalam kaku-nya adab istana?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27

Kesadaran Freya kembali secara perlahan, diawali dengan rasa denyut yang hebat di tengkuknya. Matanya terasa berat, seolah kelopak matanya ditempeli beban timah. Hal pertama yang ia rasakan adalah dinginnya lantai semen yang lembap dan bau apek yang menusuk hidung—campuran antara debu tua, karat, dan bensin.

Ia mencoba menggerakkan tangannya, namun sebuah sentakan keras di pergelangan tangannya menyadarkannya. Ia terikat di sebuah kursi kayu tua. Kedua tangannya ditarik ke belakang, diikat dengan tali tambang kasar yang mulai menggores kulitnya yang halus.

"Ssshh..." Freya merintih. Ingatannya kembali berputar seperti film rusak. Truk besar, motor, belati... dan wajah Ethan.

"Ethan..." bisiknya lirih. Air mata langsung mengalir deras di pipinya saat membayangkan tubuh adik Kaisar itu tergeletak bersimbah darah di aspal. Rasa bersalah menghantamnya lebih keras daripada pukulan di tengkuknya tadi. Harusnya gue nggak maksa pergi. Harusnya gue nurut sama Kai.

Ruangan itu hanya diterangi oleh satu lampu bohlam kuning yang berayun pelan di langit-langit, menciptakan bayangan yang menari-nari di dinding yang mengelupas. Suasananya begitu sunyi, sampai suara tetesan air dari atap yang bocor pun terdengar seperti dentuman jam kematian.

Tiba-tiba, suara derit pintu besi yang berkarat terbuka di kejauhan. Langkah kaki terdengar mendekat. Bukan langkah kasar sepatu bot para penculik tadi, melainkan langkah sepatu pantofel yang teratur, elegan, dan penuh percaya diri.

Freya menegang. Ia menundukkan kepalanya, mencoba mengatur napasnya yang mulai memburu karena takut.

"Sudah bangun, Nona Calon Permaisuri?"

Suara itu... Freya mengenalnya. Suara yang sering ia dengar di koridor istana, suara yang selalu terdengar sinis namun biasanya penuh dengan kepura-puraan. Freya perlahan mengangkat kepalanya, matanya menyipit mencoba menembus cahaya bohlam yang silau.

Sosok itu muncul dari kegelapan. Ia mengenakan setelan jas yang masih sangat rapi, seolah ia baru saja pulang dari perjamuan minum teh, bukan dari lokasi penyekapan.

"K-Kholid?" desis Freya. Suaranya serak.

Kholid tersenyum. Tapi itu bukan senyum miring menyebalkan yang biasa ia tunjukkan saat menjadi Aspri. Ini adalah senyuman dingin, tanpa emosi, mata yang biasanya penuh iri kini terlihat kosong dan gelap.

"Kecewa karena bukan Kaisar yang datang menyelamatkanmu?" Kholid berjalan mengitari kursi Freya, menyeret sebuah kursi besi dan duduk tepat di hadapannya.

"Lo... lo yang ngelakuin ini? Lo nusuk Ethan?!" teriak Freya, amarahnya mulai mengalahkan rasa takutnya. "Dia sepupu lo, Kholid! Dia nggak salah apa-apa!"

Kholid tertawa kecil, suara tawanya menggema hambar di ruangan kosong itu. "Ethan hanya... kecelakaan kecil. Dia terlalu setia pada kakaknya yang 'sempurna' itu. Aku hanya ingin memberikan pelajaran pada Kaisar bahwa dia tidak bisa memiliki segalanya."

Kholid mencondongkan tubuhnya, menatap Freya dengan tajam. "Aku muak, Freya. Muak jadi asistenmu, muak jadi bayang-bayang di istana itu. Selama bertahun-tahun aku merencanakan cara untuk mengguncang tahta Kaisar, dan tiba-tiba kamu datang. Kamu adalah kelemahannya yang paling nyata."

"Kai nggak bakal lepasin lo," ancam Freya dengan gigi tertekun.

"Oh, dia harus menemukanku dulu," sahut Kholid santai. "Saat ini, seisi istana sedang sibuk menyelamatkan nyawa Ethan yang sekarat. Kaisar sedang kalap, mencari tanpa arah. Dan di sini kita, di gudang tua bekas pabrik tekstil milik kakekku yang bahkan sudah dihapus dari peta resmi."

Kholid meraih dagu Freya dengan kasar, memaksanya menatap matanya. "Hari ini adalah hari ke-30, kan? Harusnya ini jadi hari kemenanganmu. Tapi aku akan mengubahnya jadi hari di mana Kaisar harus memilih: menyerahkan hak waris tahtanya, atau melihat lukisan terakhirmu dilukis dengan darahmu sendiri."

Keteguhan di Tengah Keputusasaan

Freya meludahi sepatu Kholid. Ia tidak peduli jika pria ini akan menyakitinya. "Lo boleh ikat tangan gue, lo boleh sembunyiin gue. Tapi lo nggak bakal pernah bisa jadi kayak Kai. Lo cuma pecundang yang bersembunyi di balik masker orang lain."

Wajah Kholid mengeras. Ia berdiri dan melayangkan sebuah tamparan keras ke pipi Freya, membuat sudut bibir gadis itu berdarah.

"Kita lihat seberapa berani mulutmu saat Kaisar melihatmu dalam keadaan hancur," desis Kholid. Ia berbalik dan berjalan menuju pintu. "Jangan beri dia makan. Biarkan dia merasakan dinginnya malam ini. Aku harus kembali ke istana untuk berakting sebagai sepupu yang sedang berduka atas kondisi Ethan."

Pintu besi itu tertutup kembali dengan dentuman keras, meninggalkan Freya dalam kegelapan total.

Di dalam kesunyian itu, Freya mencoba menggerakkan tangannya lagi. Tali itu sangat kuat, namun ia merasakan sesuatu yang keras di jarinya. Cincin safir biru pemberian Kaisar. Ia teringat kata-kata Kaisar di danau: "Aku janji, aku sendiri yang bakal nemenin kamu..."

"Kai... tolong..." bisik Freya sambil menangis dalam kegelapan. "Tolong temuin aku... tolong Ethan..."

Ia tidak tahu bahwa di luar sana, badai sedang mengamuk. Kaisar tidak sedang mencari tanpa arah. Ia sedang mengikuti jejak sekecil apapun, siap menghancurkan siapapun yang menghalangi jalannya untuk menjemput bidadarinya kembali.

Ceritanya masih pelan dan makin dalam nih... Mau lanjut ke mana?

1
Nita Aprika Nita
🤣🤣🤣🤣MasyaaAllah.. 👍
Nita Aprika Nita
🤣🤣
Nita Aprika Nita
Ya Allah.. karya mu bagus banget kak.. tapi kok sepi yang baca dan like y..
Nadhira Ramadhani: bantu kasih bintang 5 dong kak🤣
total 1 replies
Thata Ayu Lestary
bagusss bgttt karya nya kak , besttttt
Nadhira Ramadhani: baca ceritaku juga yang lain kak 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!