NovelToon NovelToon
Hiraeth

Hiraeth

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:25.8k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di sebuah mansion megah di perbukitan Bel-Air, nama Leonor Kaia hanyalah sebuah bisikan yang memudar, sebuah kesalahan statistik dalam silsilah keluarga Gonzales yang terobsesi dengan Anak Laki-laki.

"Kau lihat dia, Leonor?" suara dingin itu menghentikan langkah Leonor di bordes tangga.
Sang Ayah, David Gonzales berdiri di sana, menyesap wiskinya. Pria itu adalah pengusaha terkaya nomor empat di Los Angeles, namun di mata Leonor, dia hanyalah pria tua yang jiwanya telah membusuk oleh patriarki.

"Ethan adalah masa depan perusahaan. Dia adalah apa yang seharusnya kau jadikan cermin."

David Gonzales tidak pernah memanggilnya putriku. Baginya, Leonor adalah pengingat akan kegagalan kedua. Setelah istri pertamanya hanya memberikan seorang anak perempuan, David mengira menikahi "gadis miskin yang dia pungut" begitu istilah kejam keluarga besarnya, akan memberinya keberuntungan berbeda. Namun, Leonor lahir. Seorang bayi perempuan dengan mata yang terlalu mirip ibunya, lembut, namun tajam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#3

Cahaya lampu neon di kantin eksklusif fakultas bisnis terasa lebih menyilaukan daripada biasanya. Tempat ini bukan sekadar kantin, ini adalah arena gladiator bagi para pewaris takhta korporat.

Di meja panjang berlapis marmer di tengah ruangan, berkumpullah "The Untouchables" anak-anak dari daftar Forbes yang masa depannya sudah tertulis di atas kertas saham sebelum mereka lahir.

Di sana ada Ethan, yang tampak sibuk memamerkan jam tangan Patek Philippe terbarunya, dan beberapa putra pemilik bank ternama. Namun, pusat gravitasinya tetap satu, Edgar Castiel Martinez.

Leonor Kaia melangkah masuk dengan sisa noda air di roknya yang belum sepenuhnya hilang. Ia mencoba mengabaikan bisik-bisik yang mengikuti setiap langkahnya. Baginya, ruangan ini berbau keserakahan dan parfum mahal yang menyesakkan. Ia hanya ingin segelas jus jeruk dingin untuk mendinginkan kepalanya yang mendidih setelah pengumuman kolaborasi paksa itu.

"Satu jus jeruk, tanpa gula," ucap Leonor lembut pada pelayan.

Saat ia menunggu, sebuah bayangan tinggi menutupi pantulan cahaya di konter marmer. Aroma kayu cendana dan citrus yang mahal menyeruak, aroma yang kini Leonor kenali sebagai aroma masalah.

"Jus jeruk? Kau butuh vitamin C untuk memulihkan syaraf mu yang tegang, hm?"

Sebuah tawa remeh menyusul kalimat itu. Leonor menoleh dan mendapati Edgar berdiri tepat di sampingnya, bersandar pada konter dengan satu tangan di saku celana kainnya yang sempurna. Pria itu tampak sangat maskulin, sangat berkuasa, dan sangat menyebalkan.

Di meja elit, Ethan dan teman-temannya berhenti bicara soal indeks saham gabungan. Mereka semua menonton.

"Jangan ganggu aku, Martinez," desis Leonor, suaranya rendah namun tajam. "Bukankah kau punya jutaan dolar untuk dihitung di mejamu?"

Edgar justru melangkah satu tindak lebih dekat, menginvasi ruang pribadi Leonor. "Aku sedang menghitung kerugian ku, sebenarnya. Kerugian waktu karena harus bekerja sama dengan seorang desainer yang bahkan tidak bisa menjaga kebersihan pakaiannya sendiri."

Tangan Edgar terangkat, dengan gerakan yang sangat pelan dan berani, ia menyelipkan sehelai rambut panjang Leonor yang berantakan ke belakang telinga gadis itu. Tindakan itu terlihat sangat intim, sangat protektif, jika orang melihatnya dari jauh.

"Lihat mereka," bisik seorang mahasiswi di meja sebelah. "Edgar Martinez tidak pernah menyentuh wanita di depan umum selembut itu. Apa mereka punya hubungan?"

Leonor tersentak, wajahnya memanas bukan karena malu yang manis, tapi karena murka. Ia menepis tangan Edgar dengan kasar. "Jangan sentuh aku dengan tangan yang kau gunakan untuk membuang-buang uang haram mu!"

Edgar tidak marah. Ia justru tersenyum miring, jenis senyum yang membuat para wanita di ruangan itu menahan napas. "Kau galak sekali. Apakah itu cara pengrajin kain sepertimu menggoda pria? Dengan berpura-pura benci?"

"Aku tidak menggoda! Aku muak!" suara Leonor naik satu oktav.

"Oh, ayolah, Leonor," sahut Ethan dari meja utama, memancing tawa dari teman-temannya. "Semua orang tahu kau hanya mencari perhatian Edgar. Ayah pasti bangga jika kau bisa mendekati keluarga Martinez, meskipun kau bukan seorang Gonzales."

Kalimat Ethan seperti tamparan bagi Leonor.

Di ruangan itu, ia merasa telanjang. Rahasia bahwa ia tidak diakui ayahnya dilemparkan ke udara seperti sampah.

Edgar menatap Leonor yang matanya mulai berkaca-kaca, namun ia tidak berhenti. Ia justru membungkuk, mendekatkan wajahnya ke telinga Leonor sehingga napas hangatnya menyentuh kulit gadis itu.

"Jangan dengarkan adikmu," bisik Edgar, namun dengan volume yang cukup untuk didengar meja terdekat. "Kau terlalu cantik untuk menangis karena urusan saham. Bagaimana jika kita bicarakan proyek kita di tempat yang lebih... privat? Aku suka caramu melawan. Itu jauh lebih menarik daripada model-model yang biasanya mengejarku."

Bagi orang-orang di kantin, pemandangan itu terlihat seperti adegan film romantis, Sang pangeran kaya yang angkuh sedang membisikkan kata-kata cinta pada gadis jelita yang malu-malu. Mereka melihat Leonor yang wajahnya merah padam sebagai tanda jatuh cinta, padahal itu adalah tanda penghinaan yang luar biasa.

"Kau... kau pria paling rendah yang pernah kutemui!" teriak Leonor, suaranya bergetar.

Tepat saat itu, pelayan memberikan gelas jusnya. Tanpa berpikir panjang, Leonor meraih gelas itu, namun tangannya yang gemetar karena marah membuat gelas itu tergelincir.

Prang!

Bukan Edgar yang terkena tumpahan, melainkan Leonor sendiri. Jus jeruk itu membasahi bagian depan kemeja sutranya yang tipis, membuatnya tampak transparan dan melekat pada tubuhnya.

Edgar terdiam, matanya menatap tajam pada Leonor. Namun, bukannya mengejek, ia dengan cepat melepas jas designer-nya dan menyampirkan nya ke bahu Leonor, menutupi tubuh gadis itu dari tatapan lapar pria-pria di meja elit.

"Jangan dilepas," perintah Edgar, suaranya tiba-tiba menjadi sangat berat dan otoriter.

"Lepaskan aku!" Leonor mencoba meronta, namun Edgar mencengkeram bahunya dengan lembut tapi kuat, memaksanya untuk tetap tertutup jas tersebut.

"Wohoo! Edgar sang penyelamat!" sorak salah satu teman Ethan. "Romantis sekali! Sepertinya pernikahan bisnis antara Martinez dan putri yang tanpa nama akan segera terjadi!"

Tawa pecah di seluruh kantin. Leonor merasa bumi seolah runtuh di bawah kakinya. Ia merasa seperti bidak catur yang sedang dimainkan. Di mata semua orang, ia adalah gadis beruntung yang sedang dirayu oleh Edgar Martinez. Padahal baginya, jas yang tersampir di bahunya itu terasa seperti rantai yang mengikatnya pada pria yang paling ia benci di dunia.

Leonor tidak tahan lagi. Dengan wajah yang basah oleh air mata malu, ia berlari keluar dari kantin, masih mengenakan jas Edgar yang beraroma maskulin, sebuah pengingat bahwa ke mana pun ia lari, bayang-bayang pria itu dan kekuasaannya tidak akan pernah melepaskannya.

🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear 😍

1
Triana Oktafiani
Ga bisa berkata2 lagi, semua karyamu luarrrrr biasa 👍
ros 🍂: Ma'aciww, Terharu kak😍
total 1 replies
Dian Erawati
👍👍👍❤️
Dian Erawati
👍👍👍💞
Dian Erawati
👍👍👍/Heart/
Amiera Syaqilla
artistik💕🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!