di bawah umur di larang membaca.
Rina adalah definisi dari "anak muda zaman now"—ekspresif, jahil, dan sedikit re-og. Baginya, dunia sosial adalah tempat bermain untuk menggoda siapa saja, termasuk seorang pria misterius di aplikasi HelloTalk yang ia panggil dengan sebutan "Mas Arab". Rina mengira ia sedang memegang kendali, sampai akhirnya takdir membawanya bertemu langsung dengan sosok tersebut.
Ternyata, "Mas Arab" adalah Rohman, seorang Ustadz muda yang kaku, alim, namun memiliki tingkat kesabaran setebal kamus bahasa Arab. Pertemuan pertama mereka langsung meledak dengan kekonyolan Rina yang mencoba mengetes iman sang Ustadz.
Namun, Rina salah besar. Di balik sikap tenangnya, Rohman adalah tipe pria "sat-set" yang tidak suka membuang waktu. Saat Rina terus-menerus menguji batasan kesabarannya, Rohman justru membalas dengan sebuah langkah skakmat: Mempercepat akad nikah sore itu juga!
Kini, Rina terjebak dalam status sebagai istri sah. Niat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13
Mobil terus melaju membelah jalanan aspal yang cukup lengang. Namun, pikiran Rina tiba-tiba berkecamuk. Ada rasa tidak percaya diri yang terselip di balik keceriaannya. Ia menoleh ke arah Rohman yang terlihat sangat fokus menyetir dengan profil wajah yang begitu sempurna dari samping.
"Mas... eh, Rohman! Bisa tidak berhenti sebentar di pinggir jalan? Aku mau ngomong penting," ucap Rina tiba-tiba dengan nada yang mendadak serius.
Rohman sempat terkejut sesaat, namun ia segera menyalakan lampu sein kiri dan meminggirkan mobilnya di bawah deretan pohon peneduh yang rindang. Ia mematikan mesin, lalu memutar posisi duduknya menghadap Rina sepenuhnya.
"Ada apa? Kamu pusing? Atau ada yang tertinggal lagi?" tanya Rohman lembut, suaranya terdengar penuh perhatian.
Rina meremas jemarinya di atas pangkuan, tepat di atas jajaran kitab Hilyatul Aulia yang baru diterimanya. Ia menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian yang entah lari ke mana.
"Sayang... kamu sebenarnya sayang gak sih sama aku?" tanya Rina pelan, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Rohman. "Aku gak mau ya cinta sendirian. Kalau entar kamu jahat sama aku, aku racun kamu biar mampus! Tapi... tapi aku kan cinta sama kamu."
Rohman terdiam. Ia tidak menyangka gadis yang tadinya meledak-ledak ini bisa menunjukkan sisi rapuh dan rasa takut kehilangan yang begitu besar. Ia tersenyum sangat tipis, sorot matanya mengunci pandangan Rina.
"Rina, dengar saya," ucap Rohman rendah. "Kalau saya tidak sayang, saya tidak akan ada di sini. Saya tidak akan menempuh perjalanan jauh dari Jawa Tengah hanya untuk mencari gadis yang memarahi saya di masjid. Racunmu mungkin mematikan, tapi tatapanmu jauh lebih mematikan buat saya."
Rina menggigit bibir bawahnya. Perasaan haru dan gemas bercampur jadi satu. Tanpa sadar, ia mencondongkan tubuhnya ke arah Rohman.
"Pokoknya aku mau kamu! Cium boleh gak?" pinta Rina polos, matanya mengerjap-ngerjap menatap bibir Rohman yang sejak tadi hanya mengeluarkan kalimat-kalimat manis.
Rohman tersentak. Ia refleks mundur sedikit, menahan dada Rina dengan telapak tangannya secara halus agar ada jarak di antara mereka. Wajah ustadz muda itu mendadak sedikit kaku, namun tetap terlihat berusaha mengendalikan diri.
"Kita belum sah, Sayang," bisik Rohman dengan suara yang sedikit parau. "Ada batasan yang harus kita jaga sampai akad itu tiba. Saya ingin mencium kamu sebagai istri, bukan sebagai calon."
Rina cemberut, ia kembali duduk tegak di kursinya sambil menyilangkan tangan. "Emang kamu gak mau cium aku? Apa aku kurang cantik? Apa karena kejadian 'tembus' kemarin kamu jadi ilfeel?"
Rohman tertawa kecil, kali ini tangannya bergerak mengusap puncak kepala Rina yang tertutup kerudung dengan sangat lembut.
"Bukannya tidak mau, Rina. Justru karena kamu terlalu cantik dan berharga, saya ingin melakukannya dengan cara yang paling mulia di mata Allah. Sabar sedikit, ya? Tinggal menghitung hari," hibur Rohman. "Sekarang, kita lanjut ke butik. Kalau kamu makin lama di sini dan menatap saya seperti itu, bisa-bisa pertahanan saya runtuh sebelum akad."
Rina akhirnya tersenyum malu-malu, hatinya merasa sangat aman karena pria di depannya ini ternyata sangat menjaga kehormatannya. "Ya sudah, jalan lagi! Tapi nanti habis akad, aku mau nagih bunga-bunganya ya!"
"Siap, Tuan Putri," jawab Rohman sambil menyalakan mesin mobil, melanjutkan perjalanan mereka menuju babak baru kehidupan mereka.