Ethan dan Dira berpisah karena salah paham. Semuanya di mulai dari Kara, keponakan kesayangannya jatuh ke jurang. Belum lagi saat ia melihat Dira dan Jeremy bercumbu dalam keadaan telanjang. Hubungan keduanya hancur
6 tahun kemudian mereka dipertemukan kembali. Dira kebetulan bekerja sebagai asisten dari adik Damian bernama Zora. Ethan masih membencinya.
Tapi, bagaimana kalau Dira punya anak dan anak itu adalah anak kandungnya? Bagaimana kalau Dira merahasiakan sesuatu yang membuat Ethan merasa bersalah dan benar-benar hancur? Akankah Ethan berhasil mengejar cinta Dira lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan deras
Itu dia tanamannya.
Dira bergumam dalam hati. Ia ingin segera mengambil tanaman tersebut namun langkahnya tertahan. Tidak mungkin melangkahi Ethan bukan? Laki-laki itu yang lebih dulu sampai, lebih dulu melihat. Walau jumlahnya banyak, bisa saja pria itu langsung ambil semuanya tanpa menyisakan beberapa untuk dia.
Ia melihat Ethan berjongkok di depan tanaman itu, tangannya terulur hati-hati menyentuh daun hijau gelap dengan serat keperakan di bagian tengahnya. Tanaman yang selama ini hanya Dira lihat lewat jurnal dan foto-foto penelitian Zora.
Ethan melirik sekilas ke arahnya, kemudian mulai menggunting tanaman tersebut dengan gunting yang ia keluarkan dari ransel yang dia gendong. Dalam hati Dira terus berdoa agar pria itu sedikit berbaik hati menyisakan untuk dia.
Pria itu terus menggunting, sampai ...
Sisakan pleasee, sisakan ...
Dira menahan nafas. Ethan melirik sekilas sekilas ke arahnya. Hanya sekilas, lalu lanjut menggunting sampai habis.
Dira langsung kesal dalam hati.
Dasar laki-laki gak ada hati. Haruskah dia sedendam itu padaku? Ethan sialan, iblis, manusia dingin, laki-laki bi ...
Umpatan yang terus Dira ucapkan dalam hati itu terhenti begitu Ethan mendekatinya dan mengulurkan beberapa tanaman yang baru dia gunting tadi. Dira menatap pria itu dan tanaman yang entah apa namanya tersebut, dia lupa.
"Tidak mau? Kalau tidak mau aku akan buang sekarang." Ethan sudah siap-siap membuang tanaman di tangannya namun Dira segera merampasnya dalam kecepatan tinggi.
Tingginya yang hanya sebahu Ethan membuatnya agak kesusahan. Namun ia berhasil mengambil benda tersebut. Ethan tersenyum miring menatapnya.
"Jangan dibuang!" Seru Dira spontan, refleks, bahkan suaranya terdengar sedikit panik.
Ia memeluk tanaman itu seperti barang berharga. Pipinya terasa panas ketika menyadari betapa cepat reaksinya tadi.
Ethan menatapnya dengan alis sedikit terangkat, lalu mendengus pelan. Setelah itu, tanpa bicara apa-apa lagi, Ethan berjalan melewatinya, berbalik kembali menuju desa. Langit semakin gelap. Dira cepat-cepat memasukkan tanaman tersebut ke dalam kotak yang dia bawah, lalu dimasukkan lagi ke ranselnya, dan berjalan ke arah yang sama dengan Ethan.
Dalam hati ia menarik kembali umpatannya tadi. Ternyata pria itu masih punya hati, walau hanya sekian persen. Baru setengah perjalanan, belum sampai desa, hujan lebat tiba-tiba mengguyur hutan itu. Dira segera membuka payung yang selalu dia bawah dalam ranselnya. Sementara di depan sana, ia melihat Ethan telah masuk di pondokan tua. Kebetulan sekali ada pondokan.
Sebenarnya Dira ingin jalan terus dengan payung di tangannya. Tapi hujannya kencang sekali, disertai angin kencang yang menerpa dan akhirnya merusakkan payung Dira. Payung tersebut terangkat atasnya, lalu robek. Dira yakin Ethan pasti sedang melihat dan menertawainya sekarang.
Ya ampun, malu sekali. Dira menutup matanya dalam-dalam. Ia cepat-cepat berlari ke arah pondokan yang sama tempat Ethan berada. Tapi ia tidak masuk, hanya berdiri di pinggir. Batas hujan jatuh di depannya. Setidaknya tidak basah. Itu saja.
Entah sudah berapa menit dia berdiri. Kakinya mulai terasa pegal. Sementara itu di belakang sana, pandangan Ethan tidak pernah beralih sedikitpun dari wanita itu. Sesekali ia akan mendengus.
"Kau tidak naik?" Akhirnya Ethan tidak tahan untuk bicara. Nada suaranya datar.
Dira yang sejak tadi berdiri membelakanginya menoleh sedikit. Tatapan tajam itu lagi-lagi mengintimidasinya.
"Ah?"
"Kau merusak pemandangan dengan berdiri di situ."
Kesal? Jelaslah kesal. Tapi itu Ethan, Dira tidak berani melawannya. Akhirnya dia pun naik. Duduk di sisi yang berlawanan dengan Ethan. Mereka kembali diam-diaman. Tidak ada yang mulai pembicaraan, canggung, dan rasanya hening itu justru makin berat.
Hujan menghantam atap seng pondokan dengan suara berisik, seolah sengaja menegaskan jarak di antara mereka. Angin sesekali menyusup dari celah dinding kayu yang sudah lapuk, membuat udara makin dingin. Dira merapatkan jaket yang baru ia keluarkan dari dalam tas-nya.
Ia duduk memeluk lutut, pandangannya lurus ke depan. Berusaha keras tidak menoleh, tidak memperhatikan keberadaan Ethan yang duduk hanya beberapa langkah darinya. Terlalu dekat untuk diabaikan, terlalu jauh untuk dijangkau.
"Payungmu rusak," suara Ethan akhirnya terdengar lagi, datar seperti biasa.
Dira mengangguk kecil.
"Iya. Sepertinya memang sudah waktunya diganti."
"Payung murah."
Hah? Rasanya Dira ingin memaki Ethan sekarang. Tapi dia belum gila. Akhirnya dia pura-pura menguap dan menutup mata. Akhirnya malah ketiduran beneran.
Kepalanya miring sedikit, napasnya teratur. Jaket yang ia kenakan jelas tidak cukup tebal. Tanpa sadar, tubuhnya menggigil pelan.
Ethan menyadarinya.
Sejak tadi ia memang memperhatikan, meski berusaha terlihat acuh. Tatapan Dira yang canggung padanya, bahu yang sedikit bergetar, hingga kini, perempuan itu tertidur dalam posisi tidak nyaman. Ethan menghela napas pelan, nyaris tak terdengar di tengah suara hujan.
"Bodoh," gumamnya lirih. Entah ditujukan pada Dira … atau pada dirinya sendiri.
Ia bangkit perlahan, agar tidak menimbulkan suara. Mendekat satu langkah, lalu berhenti. Ia ragu sesaat. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia melepas jaket luarnya dan menyampirkannya ke bahu Dira dengan hati-hati.
Dira bergerak sedikit, mengerang pelan, tapi tidak terbangun. Ethan refleks membeku, lalu mengendurkan napas ketika perempuan itu kembali diam. Ia membetulkan posisi jaket itu agar menutupi lebih baik. Kali ini Ethan memilih duduk di samping wanita yang sudah ketiduran seperti mayat itu.
Dari dulu Dira kalau tidur memang begitu. Dia masih ingat. Dan wanita itu memang belum berubah. Ethan terus memperhatikannya, lalu ia kaget saat kepala Dira jatuh ke bahunya. Ethan menegang seketika.
Tubuhnya refleks ingin menjauh, tapi ia menahannya. Kepala Dira kini bersandar di bahunya, rasanya hangat, bertolak belakang dengan udara dingin yang menyusup dari celah pondokan. Napas perempuan itu teratur, wajahnya tampak lebih lembut saat tidur, tanpa ekspresi waspada.
Tanpa sadar senyum tipis terpampang di wajah pria itu. Sudah lama sekali mereka tidak berada dalam posisi sedekat ini. Tangan Ethan terangkat, lalu mengusap-usap rambut Dira lembut. Ia melakukannya tanpa sadar. Pria itu cepat-cepat menurunkan tangannya begitu sadar.
Apa yang kau lakukan Ethan? Kau membenci wanita ini, dia sudah berkhianat padamu. Ingat itu.
Ucapnya dalam hati. Berusaha mengingat semua kesalahan Dira padanya. Meski ia terus mengucapkan kata-kata tersebut, matanya terus menatap Dira. Orang-orang yang melihatnya akan mengartikan itu sebagai tatapan penuh kerinduan kepada kekasihnya. Tapi Ethan, tentu saja dia terus menyangkalnya.
Tring! Tring!
Ponsel Dira yang ada di lantai pondokan berdering. Pandangan Ethan otomatis tertuju ke ponsel tersebut. Rahangnya mengeras ketika ia melihat nama penelepon.
My baby?
Detik itu juga Dira terbangun. Ethan dengan cepat mengambil mantel miliknya di tubuh Dira dan bergerak menjauh. Rahangnya masih tegang.