NovelToon NovelToon
Dinikahi Komandan Galak: Istriku Legenda Forensik

Dinikahi Komandan Galak: Istriku Legenda Forensik

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pelakor jahat / Dijodohkan Orang Tua / Mafia / Duda / Berbaikan
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

Pernikahan Zoya Ravendra dan Kalandra Dirgantara adalah perjodohan mutlak tanpa tanggal kadaluarsa. Bagi Kalandra, Kepala Unit Reskrim yang ditakuti, Zoya hanyalah istri pendiam yang membebani karena selalu mengurung diri di kamar.

​Namun, pandangan itu hancur saat kasus pembunuhan berantai "The Puppeteer" menemui jalan buntu. Zoya tiba-tiba muncul di TKP, menerobos garis polisi dengan tatapan datar dan berkata:

​"Singkirkan tangan kotormu dari leher korban, Komandan. Dia tidak dicekik. Ada residu sianida di kuku jari manisnya dan lebam mayat ini dimanipulasi."


​Hanya dalam lima menit, Zoya memecahkan teka-teki itu. Kalandra terlambat menyadari bahwa istri yang ia abaikan ternyata adalah "The Scalpel," legenda forensik dunia. Kini, Kalandra tidak hanya harus memburu pembunuh, tapi juga mengejar cinta istrinya yang hatinya lebih sulit diotopsi daripada mayat manapun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: Kejar-kejaran Mobil

​​"Mana kuncinya! Lempar!"

​Kalandra berteriak pada petugas valet hotel yang gemetaran. Petugas itu melempar kunci mobil sport hitam Kalandra dengan panik. Kalandra menangkapnya di udara, lalu melompat masuk ke balik kemudi.

​"Masuk, Zoya! Cepat!"

​Zoya tidak perlu disuruh dua kali. Dia melempar sepatu hak tingginya ke kursi belakang, lalu masuk ke kursi penumpang tanpa alas kaki. Gaun merahnya yang mahal tersingkap sampai paha, tapi dia tidak peduli. Matanya tertuju lurus ke jalan raya, tempat sebuah van katering putih baru saja melesat keluar gerbang hotel sambil menabrak palang parkir hingga patah.

​"Dia ambil jalur protokol!" teriak Zoya sambil menunjuk arah kanan. "Kejar!"

​Mesin mobil Kalandra meraung ganas. Ban berdecit menggerus aspal saat Kalandra menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil itu melesat seperti peluru, mengejar van putih yang mulai menjauh di tengah kemacetan malam minggu.

​"Sialan! Dia gila ya? Itu lampu merah diterobos semua!" umpat Kalandra sambil membanting setir ke kiri, menyalip bus kota dengan jarak hanya beberapa sentimeter.

​"Fokus, Mas! Jangan sampai kehilangan jejak!" Zoya membuka peta digital di ponselnya, jari-jarinya bergerak lincah. "Van itu berat, dia nggak akan bisa ngebut di tikungan. Tapi dia menang di bodi. Jangan tabrak langsung, mobil kita bisa gepeng."

​"Aku tahu! Terus lewat mana? Depan macet total!" Kalandra memukul setir frustrasi. Di depan mereka, deretan mobil berhenti total karena lampu merah perempatan besar. Van Hanggara nekat naik ke trotoar, melindas pot bunga kota, membuat pejalan kaki berlarian histeris.

​"Jangan ikutin dia naik trotoar, Mas! Mobilmu terlalu ceper, bakal nyangkut!" perintah Zoya cepat. "Banting kanan! Masuk gang di sebelah toko roti itu!"

​"Hah? Itu gang sempit, Zoya! Nggak muat!"

​"Muat! Lebar mobilmu satu koma sembilan meter, gang itu dua meter pas. Percaya sama aku! Jalan itu nembus langsung ke jembatan layang, kita bisa potong jalan dia!"

​Kalandra tidak punya pilihan. Dia mempercayai insting spasial istrinya.

​Ckiiiiiit!

​Kalandra membanting setir ke kanan secara ekstrem. Mobil sport itu meluncur masuk ke gang sempit yang gelap. Spion kanan Kalandra nyaris menggesek tembok rumah warga. Zoya menahan napas, tangannya mencengkram pegangan pintu erat-erat.

​"Terus! Lurus, Mas! Jangan ngerem!" teriak Zoya. "Di ujung gang ada turunan curam, langsung gas pol!"

​Mereka melesat keluar dari gang tepat saat van putih Hanggara sedang melaju di jalan layang di atas mereka. Perhitungan Zoya meleset sedikit—mereka tidak memotong jalan, tapi mereka berhasil menyejajarkan posisi di jalan bawah.

​"Dia mau ke arah pelabuhan lama! Ke jalur tebing!" analisis Zoya cepat. "Jalanan di sana sepi dan berliku. Itu keuntungan buat kita."

​Kalandra mengangguk. Dia memacu mobilnya menyusul van itu menuju jalan akses tebing. Jalanan mulai menanjak dan berkelok. Lampu jalan semakin jarang.

​Di depan sana, van Hanggara terlihat oleng. Pria itu mengemudi seperti orang kesetanan. Kalandra menekan gas lagi, mempersempit jarak.

​"Hanggara! Minggir atau gue tembak ban lo!" teriak Kalandra lewat jendela yang dibuka, meski suaranya hilang ditelan angin.

​Van itu justru membalas dengan membanting setir ke arah mobil Kalandra, mencoba menyerempet mereka ke arah jurang di sisi kiri.

​BRAK!

​Bodi samping mobil Kalandra menghantam pembatas jalan besi. Percikan api memercik.

​"Bajingan!" Kalandra menggeram. Dia membalas dengan menabrak bumper belakang van itu, mencoba teknik PIT maneuver untuk memutarnya.

​"Tahan, Mas! Di depan ada tikungan tajam bentuk U! Dia nggak bakal sempat ngerem!" peringatan Zoya terdengar nyaring. "Jangan ikutin racing line dia! Ambil sisi dalam!"

​Kalandra melihat tikungan maut itu. Jurang menganga di sisi luar tanpa pembatas beton yang kuat, hanya pagar besi tua.

​Van Hanggara melaju terlalu kencang. Lampu remnya menyala terlambat. Ban van itu terkunci, mengeluarkan asap putih dan bunyi decitan mengerikan yang memekakkan telinga.

​"Dia nggak bakal dapat belokannya..." bisik Kalandra ngeri.

​Van putih itu tergelincir lurus. Menghantam pagar pembatas jalan dengan suara benturan logam yang meremukkan tulang.

​KRAAAAK!

​Pagar besi jebol. Van itu melayang di udara sejenak, seperti adegan slow motion film aksi, sebelum akhirnya terjun bebas ke dalam jurang gelap sedalam lima puluh meter.

​Kalandra menginjak rem habis-habisan. Mobilnya berhenti melintang hanya dua meter dari bibir jurang.

​Sedetik kemudian...

​BOOOOM!

​Ledakan dahsyat terdengar dari dasar jurang. Bola api raksasa membumbung tinggi ke angkasa, menerangi malam yang gelap dengan warna oranye menyala. Panasnya terasa sampai ke wajah mereka di atas tebing.

​Hening. Hanya suara api yang berkobar dan napas memburu Kalandra.

​"Gila..." gumam Kalandra, tangannya gemetar di setir. "Dia milih mati daripada ketangkap."

​Sirene mobil polisi mulai terdengar mendekat dari kejauhan. Tim bantuan yang dipanggil Raka akhirnya datang.

​Kalandra membuka pintu mobil, tertatih-tatih keluar. Zoya menyusul, berlari kecil tanpa sepatu menuju pinggir tebing. Mereka melihat bangkai van yang sudah menjadi rongsokan besi hangus di bawah sana.

​"Selesai, kan?" tanya Kalandra lelah. Dia merangkul bahu Zoya. "Kasus ditutup. Si Puppeteer mati panggang."

​Zoya diam. Matanya yang tajam menyipit, menatap kobaran api di bawah. Asap hitam mengepul pekat.

​Beberapa menit kemudian, tim pemadam kebakaran datang dan mulai menyemprotkan busa ke dasar jurang. Raka turun menggunakan tali rappel bersama tim forensik lapangan untuk mengecek kondisi jenazah.

​Kalandra dan Zoya menunggu di atas. Kalandra sudah siap mengajak istrinya pulang dan tidur selama seminggu.

​Tapi radio komunikasi di pinggang Kalandra berbunyi kresek-kresek. Suara Raka terdengar, tapi nadanya aneh. Bingung dan panik.

​"Komandan... Ndan, copy?"

​"Masuk, Raka. Konfirmasi identitas Hanggara. Tinggal abu atau masih ada bentuknya?" tanya Kalandra santai.

​"Itu dia masalahnya, Ndan..." suara Raka terdengar ragu. "Jenazahnya utuh. Terlempar keluar pas mobil meledak. Tapi... Ndan harus lihat ini."

​Zoya langsung merebut walkie-talkie dari tangan Kalandra. "Raka, foto gigi dan jarinya, kirim ke HP saya sekarang!"

​Semenit kemudian, ponsel Zoya bergetar. Sebuah foto jenazah muncul di layar.

​Zoya memperbesar gambar itu. Dia melihat rahang mayat yang terbuka kaku karena rigor mortis panas. Matanya menelusuri susunan gigi yang terlihat.

​Wajah Zoya berubah drastis. Warna merah di pipinya lenyap.

​"Mas..." panggil Zoya pelan, suaranya bergetar.

​"Kenapa? Itu Hanggara kan? Pakai baju pelayan yang sama," kata Kalandra tidak sabar.

​Zoya menggeleng perlahan. Dia menodongkan layar ponselnya ke wajah Kalandra.

​"Lihat gigi geraham bungsunya. Ada empat, lengkap dan tumbuh sempurna," jelas Zoya dingin. "Hanggara pernah operasi odontektomi dua tahun lalu di rumah sakit tempatku kerja dulu. Aku ingat karena dia pamer foto rontgen-nya padaku. Hanggara tidak punya gigi bungsu."

​Kalandra ternganga. "Maksud kamu..."

​"Mayat di bawah sana bukan Hanggara," desis Zoya ngeri. "Itu mayat orang lain yang sudah dia siapkan sebelumnya di dalam mobil. Hanggara... dia masih hidup. Dia melompat keluar sebelum mobilnya masuk jurang."

1
olyv
🤣🤭 pak komandan fall in love bu dok
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
olyv
hahah dadah ulat bulu 🤣
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
olyv
🤣🤣🤣🤣 ngakak...senjata makan tuan
Savana Liora: tau rasa dia
total 1 replies
olyv
👍👍
Yensi Juniarti
mulai posesif mas pol ini 🤣🤣🤣
Savana Liora: hahaha iya
total 1 replies
Warni
Wah sdh di teror gais
Savana Liora: mulai ya
total 1 replies
Warni
🤣
Warni
😫
Warni
🥰😂
Warni
😂
tutiana
hadir Thor⚘️⚘️⚘️
Savana Liora: selamat baca kk
total 1 replies
Warni
😂
Warni
Di sentil
Warni
🥰
Warni
Wauuu🥰
Warni
😱
Warni
🥰
olyv
wokeh thor... semangat 👍👍💪💪💪
Savana Liora: siap kk
total 1 replies
Warni
Akur🤣
Warni
Wau
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!