Pernikahan Zoya Ravendra dan Kalandra Dirgantara adalah perjodohan mutlak tanpa tanggal kadaluarsa. Bagi Kalandra, Kepala Unit Reskrim yang ditakuti, Zoya hanyalah istri pendiam yang membebani karena selalu mengurung diri di kamar.
Namun, pandangan itu hancur saat kasus pembunuhan berantai "The Puppeteer" menemui jalan buntu. Zoya tiba-tiba muncul di TKP, menerobos garis polisi dengan tatapan datar dan berkata:
"Singkirkan tangan kotormu dari leher korban, Komandan. Dia tidak dicekik. Ada residu sianida di kuku jari manisnya dan lebam mayat ini dimanipulasi."
Hanya dalam lima menit, Zoya memecahkan teka-teki itu. Kalandra terlambat menyadari bahwa istri yang ia abaikan ternyata adalah "The Scalpel," legenda forensik dunia. Kini, Kalandra tidak hanya harus memburu pembunuh, tapi juga mengejar cinta istrinya yang hatinya lebih sulit diotopsi daripada mayat manapun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Tragedi Meja Operasi
"Namanya Zara. Dia baru delapan belas tahun waktu itu. Baru lulus SMA, baru dapat SIM, dan lagi semangat-semangatnya mau kuliah kedokteran kayak kakaknya."
Suara Zoya terdengar parau, memecah keheningan kamar yang hanya diterangi lampu tidur remang. Matanya menerawang jauh, menembus dinding kamar, kembali ke masa lalu yang ingin sekali dia kubur dalam-dalam.
Kalandra tidak menyela. Dia masih menggenggam tangan kanan Zoya yang dingin dan bergetar di atas pangkuannya. Dia membiarkan istrinya menumpahkan nanah luka yang selama ini tersembunyi di balik topeng 'Dokter Forensik Berhati Dingin'.
"Malam itu hujan deras. Zara nekat nyetir sendiri mau jemput aku di rumah sakit. Dia mau kasih kejutan ulang tahun buat aku," lanjut Zoya. Air matanya menetes satu per satu tanpa isakan, jatuh membasahi selimut. "Tapi di perempatan jalan, truk rem blong menghantam mobil kecilnya. Hancur, Mas. Mobilnya ringsek parah."
Kalandra mengeratkan genggamannya, merasakan sakit yang tersirat dari cerita itu. Dia bisa merasakan betapa rapuhnya jari-jari Zoya saat ini.
"Dia dibawa ke IGD tempat aku jaga. Waktu itu aku residen bedah terbaik. Semua orang memuji tangan emasku. Aku sombong, Mas. Aku merasa hebat. Aku merasa bisa nyelamatin siapa saja yang masuk ke mejaku."
Zoya menarik napas panjang yang terdengar menyakitkan, seolah oksigen di kamar itu berubah jadi serpihan kaca yang menusuk paru-parunya.
"Protokol rumah sakit melarang dokter mengoperasi keluarga sendiri. Itu kode etik dasar. Emosi bisa mengacaukan logika," Zoya tertawa sumbang, tawa yang penuh kebencian pada diri sendiri. "Tapi aku ngamuk. Aku bentak semua dokter senior. Aku teriak, 'Nggak ada yang boleh sentuh adik gue selain gue! Gue yang paling jago di sini! Kalau dia mati di tangan orang lain, gue bakar rumah sakit ini!'"
"Zoya..." bisik Kalandra pelan, ngeri membayangkan kepanikan saat itu.
"Aku maksa masuk ruang operasi. Aku pegang pisau itu," Zoya menatap telapak tangannya sendiri dengan tatapan jijik. "Awalnya lancar. Aku berhasil hentikan pendarahan di limpa. Tapi tiba-tiba monitor jantungnya bunyi aneh. Tekanan darahnya anjlok drastis."
Tubuh Zoya mulai menggigil lagi. Kalandra bisa merasakan getaran itu merambat ke tubuhnya sendiri. Dia mengusap punggung tangan Zoya dengan jempolnya, mencoba memberi sedikit kehangatan.
"Aku panik, Mas. Aku lihat wajah Zara yang pucat di balik masker oksigen. Tiba-tiba... bayangan masa kecil kami muncul semua. Tangan ini..." Zoya mengangkat tangannya yang gemetar ke depan wajah Kalandra. "Tangan yang harusnya stabil ini tiba-tiba tremor hebat. Aku nggak bisa kendalikan. Ototku kaku."
"Aku mau jahit pembuluh darah yang robek. Harusnya gampang. Aku sudah lakuin itu seribu kali pada pasien lain. Tapi tanganku sentak sendiri. Pisau bedah di tanganku meleset."
Zoya memejamkan mata erat-erat, air mata membanjiri pipinya semakin deras.
"Dua milimeter. Cuma meleset dua milimeter, Mas. Tapi pisau itu menyayat Arteri Hepatika. Darah muncrat ke mana-mana. Kena wajahku, kena mataku, kena lampu operasi. Monitornya langsung bunyi panjang... Tiiiiiiiit."
Kalandra menahan napas. Dia bisa membayangkan horor itu. Ruang operasi yang putih bersih berubah jadi merah. Dan bunyi flatline yang memvonis kematian.
"Aku bunuh dia, Mas," isak Zoya pecah. Pertahanannya hancur total. Dia bukan lagi dokter jenius yang angkuh. Dia hanyalah seorang kakak yang gagal. "Adikku mati di meja operasi karena kakaknya sombong. Karena kakaknya nggak becus pegang pisau. Zara meninggal karena aku."
Zoya menarik tangannya paksa dari genggaman Kalandra, lalu memeluk lututnya sendiri, menyembunyikan wajahnya di sana. Bahunya berguncang hebat.
"Sejak hari itu, aku bersumpah nggak akan pernah bedah orang hidup lagi. Aku nggak pantas. Tanganku ini tangan pembunuh. Makanya aku lari ke forensik. Aku pilih mayat."
Zoya mengangkat wajahnya yang basah, menatap Kalandra dengan tatapan putus asa yang membuat hati Kalandra remuk.
"Mayat itu aman, Mas. Mayat nggak bisa mati dua kali. Mayat nggak bisa teriak kesakitan kalau aku salah iris. Mayat nggak akan nuntut aku. Cuma di depan mayat... tanganku nggak gemetar. Cuma di depan mayat aku merasa tenang."
"Sekarang Mas ngerti kan?" tanya Zoya lirih. "Kenapa aku nggak mau obatin luka Mas waktu di lift itu, tapi akhirnya aku lakukan disini karena Mas maksa? Kenapa aku gemetar pas Hanggara neror kita? Aku ini pengecut, Mas. Aku cuma dokter gagal yang sembunyi di kamar mayat."
Kalandra terdiam kaku. Lidahnya kelu.
Kata-kata Zoya menghantam dadanya seperti palu godam. Dia ingat semua perlakuan buruknya pada Zoya di awal pernikahan mereka.
Dia ingat saat dia membentak Zoya karena terlambat pulang.
Dia ingat saat dia mengejek pekerjaan Zoya yang "main-main sama setan".
Dan yang paling menyakitkan, dia ingat saat dia mabuk dan berteriak pada Raka, menyebut Zoya "istri beban" karena Zoya tidak mau masak atau mengurus rumah layaknya istri normal.
Ternyata, di balik sikap dingin, mulut tajam, dan ketidakpedulian Zoya, ada trauma menganga yang masih berdarah. Zoya bukan tidak peduli, dia terlalu peduli sampai hancur. Zoya bukan beban, dia sedang memikul beban dosa yang sangat berat sendirian seumur hidupnya.
Rasa bersalah yang masif membanjiri hati Kalandra. Dia merasa menjadi suami paling brengsek sedunia. Dia menuntut kesempurnaan dari wanita yang sedang berjuang untuk tetap waras.
"Maaf..." suara Kalandra tercekat. Tenggorokannya sakit.
Tanpa ragu lagi, Kalandra menarik tubuh Zoya ke dalam pelukannya. Dia mendekap istrinya erat, sangat erat, seolah ingin menyatukan kembali kepingan-kepingan jiwa Zoya yang retak. Dia tidak peduli bajunya basah oleh air mata dan keringat dingin Zoya.
"Lepasin, Mas... aku kotor... aku pembunuh..." Zoya memberontak lemah, memukul dada bidang Kalandra pelan.
"Diam," bisik Kalandra tegas, menenggelamkan wajah Zoya di dadanya. Tangannya mengusap punggung Zoya yang bergetar karena tangis. "Kamu bukan pembunuh, Zoya. Kamu manusia. Kamu berusaha nyelamatin dia. Itu kecelakaan."
"Aku gagal, Mas..."
"Nggak. Kamu nggak gagal. Kamu bertahan hidup sampai hari ini aja udah hebat banget," ucap Kalandra sungguh-sungguh. Dia mencium puncak kepala Zoya berulang kali.
"Maafin aku, Zoya. Maafin mulut sampahku selama ini. Aku bilang kamu beban, padahal aku yang buta. Aku nggak tahu kamu nyimpen sakit segede ini sendirian."
Kalandra melonggarkan pelukannya sedikit, menangkup wajah Zoya dengan kedua tangannya. Dia menghapus air mata di pipi istrinya dengan jempolnya yang kasar. Matanya menatap Zoya dengan kesungguhan yang belum pernah dia tunjukkan sebelumnya.
"Mulai sekarang, kamu nggak usah takut tanganmu gemetar lagi," kata Kalandra mantap. "Kalau tanganmu nggak kuat pegang pisau, pakai tanganku. Kalau kamu nggak kuat berdiri, pakai kakiku. Aku suamimu, Zoya. Bebanmu, itu bebanku juga. Kita pikul bareng-bareng."