Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.
Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.
Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: Ritual di Balik Toilet
Arlan melangkah lebar melewati kemewahan kamarnya yang luas, mengabaikan ranjang king size yang empuk, dan langsung membawa Amara ke dalam kamar mandi pribadinya yang megah. Ruangan itu didominasi oleh marmer hitam dan pencahayaan temaram yang memberikan kesan maskulin sekaligus intim.
Dengan gerakan yang tegas, Arlan mendudukkan Amara di atas meja wastafel yang dingin. Punggung Amara seketika bersentuhan dengan cermin besar, sementara kakinya dibiarkan menjuntai, terkunci oleh posisi Arlan yang berdiri tepat di depannya, menutup seluruh jalan keluar.
Amara yang masih setengah linglung oleh pesona pria itu, seketika membelalak saat melihat Arlan membuka laci dan mengeluarkan sebuah alat cukur elektrik yang nampak sangat tajam dan modern.
"T-Tuan... apa yang akan Tuan lakukan dengan benda itu?" tanya Amara dengan suara bergetar. Ia mencoba merapatkan sikapnya karena merasa sangat tidak berdaya di bawah lampu kamar mandi yang terang, namun tatapan Arlan dengan tegas menahannya.
Arlan menekan tombol pada alat itu hingga terdengar suara dengungan halus yang memenuhi ruangan sunyi tersebut. Bunyi getaran itu membuat jantung Amara seolah melompat ke tenggorokan.
"Aku sudah bilang, bukan? Aku suka segala sesuatunya rapi dan tanpa halangan," ucap Arlan dengan suara rendah yang penuh intimidasi sekaligus memikat. Ia menatap lekat-lekat ke arah Amara, memastikan gadis itu tidak bisa memalingkan wajah.
"Aku akan membersihkan semua ini, Amara... agar tidak ada lagi yang membatasi kita."
"T-tapi... di sana?" Amara hampir tidak bisa bernapas. Bayangan kedekatan mereka yang begitu intens sebelumnya kini berpindah ke area yang jauh lebih pribadi, membuatnya merinding hebat.
"Diamlah, atau kau akan terluka," perintah Arlan lembut namun tak terbantahkan.
Arlan mengambil krim busa dan mengoleskannya perlahan di kulit Amara.
Sentuhan jari Arlan yang dingin bercampur busa lembut di atas kulitnya yang hangat membuat Amara mendesah tertahan. Arlan kemudian mulai menggerakkan alat cukur itu dengan sangat telaten dan hati-hati.
Setiap sentuhan alat itu membuat Amara memejamkan mata rapat-rapat. Tangannya mencengkeram pinggiran wastafel marmer hingga buku jarinya memutih. Suasana terasa sangat menegangkan; hanya ada suara dengungan alat dan napas Arlan yang berembus teratur di dekatnya.
"Lihatlah, Amara... kau nampak jauh lebih menawan sekarang," bisik Arlan setelah selesai.
Pria itu membersihkan sisa-sisa busa dengan air hangat, lalu mengeringkannya dengan handuk lembut. Kini, batas di antara mereka seolah telah runtuh sepenuhnya, meninggalkan keintiman yang nyata.
Arlan meletakkan alat cukurnya, lalu ia menatap Amara dengan kilat mata yang dipenuhi hasrat. Pria itu berlutut di lantai marmer, tepat di depan Amara. Tanpa aba-aba, ia kembali mendekatkan dirinya, memulai sentuhan-sentuhan magis yang langsung memburu titik-titik paling sensitif dalam diri Amara.
"AAAKHHH! TUAN!" Amara memekik, kepalanya membentur cermin di belakangnya saat Arlan dengan keahliannya mulai mengeksplorasi dan memanjakannya tanpa ampun.
Setiap kecupan dan sesapan Arlan bekerja dengan presisi yang mematikan. Di atas wastafel marmer yang dingin, Amara merasa seolah-olah seluruh dunianya sedang runtuh. Pendekatan Arlan begitu dalam dan menuntut, memicu sensasi luar biasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Nngghhh... Tu-Tuan... cukup... ahhh!" Amara meracau, jemarinya mencengkeram rambut legam Arlan. Ia berniat mendorongnya, namun tubuhnya justru mengkhianati pikirannya, menarik pria itu semakin dekat.
Arlan tidak berhenti. Ia justru memperdalam intensitasnya, menyesap seluruh pertahanan Amara hingga gadis itu merasa ada gelombang besar yang menghantam kesadarannya. Tubuh Amara menegang kaku, seluruh ototnya gemetar hebat, dan dalam satu hentakan kepuasan yang puncaknya begitu kuat, ia akhirnya berserah sepenuhnya pada sensasi yang meledak di dalam dirinya.
"AAAKKKHHH!" Amara menjerit tertahan, tubuhnya melengkung saat ketegangan itu pecah menjadi kelegaan yang luar biasa. Ia merasa melayang, lemas, dan hampir jatuh dari wastafel jika Arlan tidak segera menangkap pinggangnya dengan sigap.
Arlan mendongak, menatap wajah Amara yang masih merona hebat dengan senyuman kepuasan. "Lihat betapa tidak berdayanya kau, Amara. Kau menyukainya, bukan?"
Namun, Arlan belum selesai. Ia berdiri tegak, napasnya terasa panas menerpa wajah Amara yang masih setengah sadar. Dengan aura dominan yang kembali pekat, Arlan merapikan penampilannya sejenak sebelum menatap Amara dengan tatapan yang menuntut balasan.
"Sekarang, berikan imbalanku," perintah Arlan serak. "Buat aku merasakan hal yang sama."
Mata Amara membelalak gugup. "T-Tuan... saya? Tidak... saya tidak tahu harus berbuat apa..."
"Belajarlah sekarang," Arlan mencengkeram lembut tengkuk Amara, menuntun perhatian gadis itu sepenuhnya pada dirinya. "Mendekatlah padaku, Amara. Rasakan betapa aku menginginkanmu."
Dengan tangan gemetar, Amara perlahan mengikuti arahan pria itu. Saat kedekatan mereka mengikis sisa jarak yang ada, Amara sempat tersentak oleh aroma maskulin yang begitu kuat dan mengintimidasi.
Namun, di bawah tatapan Arlan yang seolah bisa membakarnya, Amara mulai memberanikan diri untuk membalas, memberikan kecupan-kecupan patuh yang awalnya canggung namun perlahan menjadi lebih berani.
"Mmphhh..." Amara menarik napas dalam saat keintiman yang baru ini menuntut seluruh fokus dan energinya.
"Begitu... bagus, Amara. Sentuh aku lebih dalam," geram Arlan, tangannya meremas rambut Amara dengan lembut, membimbing ritme interaksi mereka yang penuh gairah.
Amara mulai menemukan ritmenya. Ia menggunakan instingnya untuk memanjakan Arlan, membalas setiap kebaikan yang pria itu berikan padanya tadi. Suara napas yang memburu memenuhi kamar mandi yang kedap suara itu. Arlan melenguh keras, membiarkan pengasuh polosnya itu memberikan sensasi mendalam yang menggetarkan seluruh jiwanya.
"Ahhh... Amara... kau selalu cepat belajar," bisik Arlan dengan mata terpejam, menikmati setiap detik kepatuhan hangat Amara yang kini menjadi pelabuhan bagi gairahnya yang tak terbendung.