"Jangan sentuh apa pun. Jangan duduk di sofa sebelum mandi. Dan singkirkan remah kerupuk itu dari jangkauan radar saya!" — Calvin Harvey Weinstein.
Nirbita Luminara Rein mengira hidupnya sudah berakhir saat orang tuanya pergi dan kakaknya, Varro, menyatakan mereka bangkrut. Tapi ternyata, penderitaan yang sesungguhnya baru dimulai saat ia "digadaikan" oleh kakaknya sendiri kepada Calvin—CEO jenius yang punya alergi akut pada segala sesuatu yang tidak rapi.
Bagi Calvin, Nirbi adalah sumber kuman berjalan. Bagi Nirbi, Calvin adalah kulkas dua pintu yang cerewetnya minta ampun. Namun, di balik semprotan disinfektan dan aturan ketatnya, Calvin menyimpan rahasia: Ia sudah jatuh cinta pada "si kuman kecil" ini sejak insiden pelukan salah sasaran di kampus dulu.
Bisakah rumah super steril Calvin bertahan dari badai keberantakan Nirbi? Atau justru hati Calvin yang akhirnya "terkontaminasi" cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Istana Kayu dan Pasukan Berkaki Enam
Pesawat perintis itu meninggalkan mereka di sebuah dermaga kayu yang sudah berlumut. Di depan mereka, seorang pemandu lokal bernama Thiago menunjuk ke atas pohon raksasa yang tingginya setara gedung lima lantai. Di sana, bertengger sebuah struktur kayu terbuka yang disebut "penginapan".
"Ini... tempat tinggal kita?" suara Calvin bergetar, nada suaranya naik dua oktaf.
"Iya, Tuan! The Ultimate Amazon Experience! Tanpa dinding beton, agar Anda bisa menyatu dengan alam!" seru Thiago dengan bangga.
Calvin menatap tangga tali yang menjuntai. "Tanpa dinding? Maksud Anda, partikel debu, spora jamur, dan kotoran burung bisa masuk ke ruang pribadi saya tanpa filter HEPA?"
"Kak, keren banget!" Nirbi sudah lebih dulu memanjat dengan lincah. "Ayo Kak! Liat, ada monyet kecil di atas!"
"MONYET?! Nirbita, turun! Monyet adalah pembawa virus yang sangat produktif!" Calvin berteriak sambil menyampirkan tas punggungnya yang penuh berisi cairan pembersih.
Begitu sampai di atas, Calvin hampir jatuh pingsan. Tempat tidur mereka hanya beralaskan dipan kayu dengan kasur tipis yang ditutupi kelambu berwarna putih kekuningan. Di sekeliling mereka hanya ada jaring kawat tipis sebagai pengganti tembok. Suara hutan Amazon yang bising—teriakan burung macau dan dengung serangga—terdengar seperti konser musik metal bagi telinga Calvin yang terbiasa dengan kedap suara.
"Nirbita, jangan sentuh kelambu itu! Warnanya sudah tidak murni putih. Ini pasti sudah terkontaminasi keringat tamu-tamu sebelum kita!" Calvin segera mengeluarkan "senjata" andalannya: semprotan disinfektan ukuran jumbo.
Srat-sret-srat-sret!
"Uhuk! Kak, bau alkoholnya bikin mabuk!" Nirbi mengibas-ngibaskan tangan. "Lagian kelambunya emang warnanya krem, Kak, bukan kotor!"
"Jangan berargumen dengan saya soal gradasi warna kotoran, Nirbita," sahut Calvin ketat sambil memeriksa setiap inci kasur dengan senter ultraviolet yang ia bawa. "Lihat ini! Ada bintik kecil di sini! Ini pasti ulah Cimex lectularius alias kutu busuk!"
"Itu cuma serat kayu, Kak Calvin sayang..." Nirbi menghela napas, lalu merebahkan dirinya di kasur. "Ahhh, sejuk banget! Anginnya asli!"
"Bangun! Jangan merebah dulu!" Calvin menarik tangan Nirbi. "Kita harus memasang 'Zona Steril'. Saya sudah membawa kelambu cadangan yang sudah direndam cairan permethrin antibakteri."
Malam pun tiba. Hutan Amazon menjadi sangat gelap dan riuh. Calvin sudah menyulap tempat tidur mereka menjadi seperti tenda medis darurat. Kelambu berlapis-lapis menutupi mereka.
"Kak, aku gerah," keluh Nirbi dari dalam dekapan Calvin. "Kita kayak lagi dibungkus jadi mumi tahu nggak."
"Diamlah, Nirbita. Di luar sana ada nyamuk Anopheles dan Aedes yang ukurannya mungkin sebesar jempol kaki saya. Belum lagi laba-laba pengembara Brasil. Kamu mau besok pagi bangun dengan wajah bengkak?" Calvin terus waspada, matanya melotot menatap kegelapan di balik kelambu.
Zzzzzzzzt... seekor serangga besar hinggap di jaring luar kelambu mereka.
"ITU APA?!" Calvin tersentak, refleks memeluk Nirbi dengan sangat erat.
"Cuma belalang sembah, Kak. Ya ampun, CEO Weinstein Group takut sama belalang?" Nirbi tertawa kecil, ia mendongak dan menatap wajah suaminya yang tampak sangat menderita. "Kak... Kakek Abraham ngirim kita ke sini tuh biar Kakak santai. Biar Kakak tahu kalau dunia nggak bakal kiamat cuma karena ada satu nyamuk yang lewat."
Calvin menatap mata Nirbi yang bersinar di kegelapan. Ia menghela napas panjang, mencoba menurunkan bahunya yang kaku. "Saya hanya... saya hanya tidak ingin kamu sakit, Nirbi. Dunia ini terlalu kotor untukmu."
"Aku kuat, Kak. Aku kan tumbuh besar dengan makan gorengan di pinggir jalan, inget?" Nirbi mengelus pipi Calvin. "Sini, coba dengerin suara hutannya. Anggap aja ini musik relaksasi yang harganya mahal."
Calvin memejamkan mata. Ia mencoba mengabaikan bau tanah yang menyengat dan suara-suara aneh. Ia fokus pada detak jantung Nirbi di dadanya.
"Nirbita..."
"Ya, Kak?"
"Besok... tolong pastikan Thiago menyediakan air yang sudah direbus tiga kali untuk mandi saya."
Nirbi tertawa terpingkal-pingkal sampai kelambu mereka bergoyang. "Iya, iya! Dasar Tuan Higienis! Udah, tidur!"
Nirbi mengecup bibir Calvin singkat, membuat pria itu akhirnya terdiam dan tersenyum tipis. Ternyata, di tengah hutan yang paling tidak steril di dunia pun, Calvin merasa cukup "bersih" selama ada Nirbi yang memeluknya.
udah ngasih beban nitipin NOBITA eehh.. maksudku Nirbita...
nglunjak lagi..🤣🤣🤣🤣🤣
dari sahabat jadi musuh ini kah... bukan musuh dari awal.
Nirbita lucu banget ... ini bukan kembaran nya Nobita kan ??? /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
udah ini mah lucu lucu romantis gemes dan lebbayyy tapi aku suka