Blurb:
Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.
Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.
Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.
"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."
Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.
"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."
Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Data Berbicara (Face-Slapping Moment)
"Apa maksud lo?!"
Suara Bella melengking, memecahkan ketegangan. Wajahnya retak oleh kepanikan. "Utang? Jatuh tempo? Jangan ngarang cerita ya, Lampir! Lo pikir lo bisa nipu kita?"
Elena tidak mundur, membiarkan noda teh di blazer putihnya terekspos sebagai bukti kebrutalan.
"Ngarang?" Elena terkekeh. "Bella, sayang... aku auditor. Aku membaca fakta."
Dia menoleh ke Reza. "Sambungkan tablet ke TV dinding. Sekarang."
"B... baik, Nyonya!" Reza menancapkan kabel HDMI.
"Jangan! Jangan nyalain!" Bella berlari panik, tapi terhalang gaun fuschia-nya sendiri.
Terlambat. Layar TV menyala terang. Zaaap.
Grafik merah menukik tajam terpampang raksasa.
PT WINATA COAL TBK - PERGERAKAN SAHAM HARIAN.
Berita terkini: KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP CABUT IZIN TAMBANG. DIREKTUR UTAMA DICEKAL.
Keheningan melanda ruangan. Elena menyorotkan laser merah ke angka paling bawah grafik.
"Lihat ini, Ibu-ibu," suaranya jernih bergema. "Harga saham perusahaan suami Bella pagi ini. Lima puluh rupiah. Saham gocap. Saham sampah."
"Bohong!" jerit Bella, air mata melunturkan maskara. "Itu grafik palsu! Lo edit kan?!"
"Ini live streaming Bursa Efek. Real time," potong Elena dingin. "Izin dicabut karena limbah merkuri. Aset perusahaan sedang dibekukan."
Elena berbalik menatap kerumunan sosialita yang kini pucat pasi.
"Nyonya Rudi," panggil Elena. "Bulan lalu suami Anda suntik dana sepuluh miliar ke Winata Coal, kan? Investasi pre-IPO?"
Wajah Nyonya Rudi berubah abu-abu. "K... kok kamu tahu?"
"Nama suami Anda di daftar kreditur tanpa jaminan. Saran saya? Telepon sekarang. Suruh tarik dananya detik ini. Besok pagi uang itu hangus jadi debu."
Nyonya Rudi memekik horor, merogoh ponsel panik. "Papi! Angkat Pi!"
Elena beralih ke sebelahnya. "Nyonya Tan. Suami Anda kontraktor alat berat, kan? Sudah dibayar tagihannya?"
"Be... belum. Nunggu termin..."
"Tidak ada pencairan termin. Rekening PT Winata kosong. Suruh suami Anda tarik semua excavator sebelum disita bank."
"Ya Tuhan!" Nyonya Tan ikut panik menelepon. "Halo? Ko! Tarik alat berat sekarang!"
Kekacauan melanda. Pesta teh berubah jadi bursa saham rusuh. Para wanita berlarian berteriak di telepon. Bella bukan lagi Ratu Lebah, dia pembawa sial.
Bella berdiri sendirian gemetar. "Kalian percaya perempuan gila ini?! Suami gue kaya! Mas Heru nggak mungkin bangkrut!"
Dia menatap Elena benci, memamerkan cincinnya. "Liat ini! Kalau bangkrut, dia nggak mungkin beliin berlian lima karat ini! Lo iri kan?!"
Elena berjalan mendekat, langkahnya tegas membuat Bella mundur menabrak meja kue.
"Bella, Bella... kau menyedihkan."
Elena mencondongkan tubuh, menatap cincin itu.
"Lihat pantulannya. Terlalu silau, kayak lampu disko. Dan ada goresan kecil. Berlian itu material terkeras, Bella. Kalau lecet kena pintu mobil..."
Elena menatap mata Bella yang basah.
"Itu bukan berlian. Itu Moissanite. Atau kaca Cubic Zirconia. Harganya lima juta perak di Pasar Baru."
"Nggak mungkin..." bisik Bella lemas. "Mas Heru bilang ini lima miliar..."
"Dia bohong. Supaya mulutmu diam dan tidak minta uang belanja. Dia kasih mainan kaca supaya kau merasa jadi ratu, sementara dia sibuk menyelamatkan diri dari penjara."
Knockout.
Bella merosot jatuh ke lantai, menangis meraung-raung di antara remah kue. "Mas Heru jahat! Penipu! Huwaaaa!"
Elena mengambil tisu, membersihkan tangan santai, lalu duduk menyilangkan kaki.
"Reza. Matikan TV-nya. Pertunjukan selesai."
Tepat saat TV mati, pintu ganda terbuka lebar. Brak!
Kairo Diwantara berdiri di sana, napas memburu, jas terbuka. Dia datang menyusul karena paranoid Elena kabur. Dia siap mendobrak, siap membela istrinya yang mungkin dibully.
Tapi pemandangan di depannya membuat otaknya error.
Istrinya tidak menangis. Istrinya duduk santai seperti ratu pemenang perang, meski blazer putihnya kotor kena teh. Sementara Bella Winata menangis di lantai seperti anak tantrum.
Dan yang paling aneh, Nyonya Rudi dan Nyonya Tan berlari menghampiri Elena memohon.
"Nyonya Sora! Gimana nasib uang saya? Papi bilang dana belum bisa ditarik! Tolong kasih saran!"
"Iya, Nyonya Diwantara! Alat berat suami saya gimana? Kasih tips dong, Jeng! Kita manut!"
"Tolong kami, Dewi Investasi!"
Elena dikerumuni dan dipuja. Dia tersenyum tipis, menatap bosan.
"Saran saya simpel, Ibu-ibu," suara Elena jelas terdengar oleh Kairo. "Ambil apapun yang bisa diambil. Sita mobil atau jam tangan suami Bella sekarang sebagai ganti rugi. Siapa cepat dia dapat."
Para sosialita langsung menatap Bella dengan tatapan lapar. Bella menjerit memeluk tasnya.
Elena mendongak, matanya bertemu Kairo di pintu. Tidak ada takut, dia mengangkat botol air mineral seolah bersulang.
Cheers, Suamiku. Misi selesai.
Lutut Kairo lemas, tapi bibirnya melengkung kagum.
Wanita ini... benar-benar berbahaya. Dan sialnya, Kairo menyukainya.
msih nunggu dimna elena alias sora mengungkapkan jati dirinya ke kairo, dripd trus berbohong yg ada nnti kairo kecewa, gk buruk jg klo jujur kairo kan bucin psti bsa nerima apa adanya 💪
suka banget karakter utama ceweknya kuat, pinter,dominan,
sampe bab ini, kairo belum sedominan gavin di cerita sebelah ya Thor, kesannya msh lbh dominan sora/elena
ditunggu next nya, kairo-soraelena sm kuat
semangat Thor