NovelToon NovelToon
TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Blurb:

​Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.

​Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.

​Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.

"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."

​Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.

​"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."

​Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​Bab 15: Data Berbicara (Face-Slapping Moment)

​Bab 14: Data Berbicara

​"Apa maksud lo?!"

​Suara Bella melengking tinggi, memecahkan ketegangan yang sempat membeku di udara. Wajahnya yang tebal bedak kini retak oleh kepanikan yang tidak bisa disembunyikan.

​"Utang? Jatuh tempo? Jangan ngarang cerita ya, Lampir! Lo pikir mentang-mentang lo bawa tablet, lo bisa nipu kita semua?" Bella menuding wajah Elena dengan jari telunjuk yang gemetar. Cincin besarnya ikut bergetar, memancarkan kilau yang—jika diperhatikan dengan teliti—terlihat terlalu colorful untuk ukuran berlian asli.

​Elena tidak mundur satu inci pun. Dia justru melipat tangannya di dada, membiarkan noda teh di blazer putihnya terekspos jelas sebagai bukti kebrutalan Bella.

​"Ngarang?" Elena terkekeh pelan. "Bella, sayang... aku ini auditor. Aku tidak berimajinasi. Aku membaca fakta."

​Elena menoleh ke arah Reza yang berdiri kaku di samping meja.

​"Reza," panggil Elena tenang. "Sambungkan tablet ini ke layar TV di dinding itu. Sekarang. Biar semua orang bisa melihat betapa 'suksesnya' bisnis suami Nyonya Bella ini."

​"B... baik, Nyonya!" Reza bergerak cepat. Dia menarik kabel HDMI yang menjuntai di bawah TV LED 80 inci yang terpasang di dinding ruang VIP itu, lalu menancapkannya ke hub tablet Elena.

​"Jangan! Jangan nyalain!" teriak Bella panik. Dia mencoba lari menghalangi layar TV, tapi langkahnya terhalang oleh gaun fuschia-nya sendiri yang ribet.

​Terlambat.

​Layar TV berkedip sekali, lalu menyala terang.

​Zaaap.

​Tampilan layar tablet Elena kini terpampang raksasa di dinding. Semua orang di ruangan itu—para nyonya sosialita, pelayan hotel, bahkan Bella sendiri—mendongak menatap layar itu.

​Itu bukan sekadar grafik. Itu adalah pemandangan bencana.

​Sebuah grafik garis berwarna merah menukik tajam ke bawah, curam seperti air terjun. Di atasnya tertulis judul besar dengan huruf kapital: PT WINATA COAL TBK - PERGERAKAN SAHAM HARIAN.

​Di sebelahnya, ada jendela berita terkini dari portal berita hukum terpercaya.

​KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP CABUT IZIN OPERASIONAL TIGA TAMBANG DI KALIMANTAN.

KASUS LIMBAH B3: DIREKTUR UTAMA PT WINATA COAL DICEKAL KE LUAR NEGERI.

​Keheningan di ruangan itu begitu pekat sampai suara AC berdengung pun terdengar.

​Elena mengambil penunjuk laser (laser pointer) dari tas kerjanya—persiapan perang yang matang—dan menyorotkan titik merah tepat ke angka di sumbu grafik yang paling bawah.

​"Lihat ini, Ibu-ibu," suara Elena terdengar jernih, bergema seperti dosen yang sedang mengajar di kelas neraka. "Ini adalah harga saham perusahaan suami Bella pagi ini. Lima puluh rupiah. Saham gocap. Saham sampah."

​"Bohong!" jerit Bella, air mata mulai mengalir, melunturkan maskaranya. "Itu grafik palsu! Lo edit kan?! Lo pasti edit pakai Photoshop!"

​"Ini live streaming dari Bursa Efek, Bella. Real time," potong Elena dingin.

​Dia menggeser laser merahnya ke jendela berita di sebelah kanan.

​"Dan ini alasannya," lanjut Elena. "Izin tambang dicabut kemarin sore. Kenapa? Karena suamimu membuang limbah merkuri ke sungai warga desa. Bukan cuma izin dicabut, aset perusahaan juga sedang dalam proses pembekuan untuk jaminan ganti rugi."

​Elena berbalik badan, membelakangi layar, dan menatap langsung ke arah kerumunan sosialita yang kini wajahnya pucat pasi.

​Mereka bukan takut pada Elena. Mereka takut pada uang mereka.

​"Nyonya Rudi," panggil Elena, menatap wanita gemuk berkalung mutiara yang tadi mengejeknya. "Kalau tidak salah, bulan lalu suami Anda baru saja menyuntikkan dana sepuluh miliar ke proyek Winata Coal, kan? Katanya investasi pre-IPO?"

​Wajah Nyonya Rudi langsung berubah warna menjadi abu-abu. "K... kok kamu tahu?"

​"Saya baca laporan keuangannya. Nama suami Anda ada di daftar kreditur tanpa jaminan," Elena tersenyum miring. "Saran saya? Telepon suami Anda sekarang. Suruh dia tarik dananya detik ini juga. Karena kalau menunggu sampai besok pagi saat berita ini masuk koran cetak... uang sepuluh miliar itu akan hangus jadi debu."

​Nyonya Rudi memekik horor. Dia langsung merogoh tas mewah-nya dengan panik, mencari ponsel.

​"Papi! Angkat Pi, angkat!" teriak Nyonya Rudi histeris ke ponselnya, melupakan tata krama pesta teh.

​Elena beralih menatap wanita lain di sebelahnya.

​"Nyonya Tan," sapa Elena ramah tapi mematikan. "Suami Anda kontraktor alat berat di tambang Winata, kan? Sudah dibayar belum tagihan sewa alat beratnya tiga bulan terakhir?"

​Nyonya Tan membelalak. "Be... belum. Katanya nunggu pencairan termin..."

​"Nah, itu dia," potong Elena. "Tidak akan ada pencairan termin. Rekening PT Winata sudah kosong melompong. Kalau Anda tidak mau rugi bandar, suruh suami Anda tarik semua excavator dan truk dari lokasi tambang sekarang juga sebelum disita bank sebagai aset sengketa."

​"Ya Tuhan!" Nyonya Tan ikut panik. Tangannya gemetar saat mendial nomor suaminya. "Halo? Ko! Tarik alat berat sekarang! Iya, sekarang! Jangan tanya kenapa, pokoknya tarik!"

​Kekacauan melanda ruangan VIP itu.

​Dalam sekejap, pesta teh yang anggun berubah menjadi bursa saham yang rusuh. Para wanita bergaun pastel itu berlarian ke sudut-sudut ruangan, berteriak di telepon, memarahi suami mereka, atau menangis meratapi investasi bodong.

​Mereka tidak lagi peduli pada Bella. Bagi mereka, Bella bukan lagi Ratu Lebah. Dia sekarang adalah pembawa sial. Virus yang harus dihindari.

​Bella berdiri sendirian di tengah kekacauan itu. Tubuhnya gemetar hebat. Dia menatap teman-temannya yang kini sibuk menyelamatkan harta masing-masing. Tidak ada yang membelanya.

​"Kalian..." suara Bella parau. "Kalian percaya sama perempuan gila ini?! Dia cuma mau ngejatuhin gue! Suami gue kaya! Mas Heru nggak mungkin bangkrut!"

​Bella menatap Elena dengan tatapan penuh kebencian.

​"Lo iblis, Sora! Lo iri sama gue! Lo iri sama hidup gue yang sempurna!" Bella mengangkat tangannya lagi, memamerkan cincin di jari manisnya. "Liat ini! Kalau suami gue bangkrut, dia nggak mungkin beliin gue berlian lima karat ini! Ini buktinya!"

​Elena menghela napas panjang. Dia berjalan mendekati Bella perlahan. Suara langkah sepatunya yang tegas membuat Bella mundur ketakutan sampai pinggangnya menabrak meja kue.

​"Bella, Bella..." Elena menggeleng pelan. "Kau benar-benar menyedihkan."

​Elena mencondongkan tubuhnya, menatap cincin besar itu dari jarak dekat.

​"Coba lihat pantulan cahayanya," kata Elena, menunjuk batu itu. "Berlian asli memantulkan cahaya putih dan abu-abu (brilliance). Kalaupun ada warna pelangi (fire), itu di bagian dalam. Tapi batumu ini?"

​Elena menyeringai.

​"Ini memantulkan warna pelangi yang terlalu silau di seluruh permukaan. Kayak lampu disko. Dan lihat itu, ada goresan kecil di sudutnya. Berlian adalah material terkeras di bumi, Bella. Dia tidak bisa tergores kecuali oleh berlian lain. Kalau batumu bisa lecet kena pintu mobil..."

​Elena menegakkan tubuh, menatap mata Bella yang basah.

​"Itu bukan berlian. Itu Moissanite. Atau malah kaca Cubic Zirconia kualitas rendah. Harganya paling mahal lima juta perak di Pasar Baru."

​"Nggak mungkin..." bisik Bella. Kakinya lemas. "Mas Heru bilang ini lima miliar..."

​"Dia bohong," kata Elena kejam. "Dia bohong untuk menutupi mulutmu supaya kau tidak rewel minta uang belanja. Dia kasih kau mainan kaca supaya kau tetap merasa jadi ratu, sementara dia sibuk menyelamatkan diri dari penjara."

​Kalimat itu adalah pukulan knockout.

​Bella merosot jatuh ke lantai. Gaun fuschia-nya yang mekar kini tampak konyol saat dia terduduk lemas di antara remah-remah kue yang jatuh. Tangisannya pecah. Bukan tangisan manja, tapi tangisan meraung-raung yang jelek dan putus asa.

​"Mas Heru jahat! Penipu! Huwaaaa!"

​Elena tidak merasa kasihan sedikitpun. Di dunia bisnis, kalau kau bodoh, kau dimakan. Dan Bella adalah mangsa yang paling mudah.

​Elena mengambil selembar tisu dari meja, membersihkan sedikit cipratan teh di tangannya, lalu kembali duduk di kursinya dengan santai.

​Dia mengambil botol air mineralnya, menyilangkan kaki, dan menonton kekacauan di depannya seolah sedang menonton film komedi.

​"Reza," panggil Elena.

​Reza yang sedari tadi melongo melihat bosnya menghancurkan mental sepuluh orang dalam waktu lima menit, langsung tersentak sadar.

​"Y... ya, Nyonya?"

​"Matikan TV-nya. Hemat listrik. Pertunjukannya sudah selesai," perintah Elena sambil membuka tutup botol.

​Tepat saat layar TV mati, pintu ganda ruangan VIP itu terbuka lebar.

​Brak!

​Semua orang menoleh kaget. Para sosialita yang sedang menelepon suami langsung diam. Bella yang sedang menangis di lantai mendongak.

​Di ambang pintu, berdiri sosok tinggi tegap dengan aura yang mendominasi ruangan.

​Kairo Diwantara.

​Pria itu berdiri di sana dengan napas sedikit memburu, seolah baru saja berlari dari lobi. Jasnya sedikit terbuka, rambutnya tidak serapi biasanya. Matanya yang tajam menyapu seluruh ruangan dengan waspada.

​Kairo datang karena dia melihat GPS mobil berhenti di hotel ini terlalu lama. Dia juga melihat notifikasi transaksi pembelian di Starbucks lobi hotel (Reza yang beli kopi). Pikiran paranoidnya bekerja lagi: Apakah Elena kabur lewat pintu belakang hotel?

​Jadi dia menyusul. Dia siap mendobrak masuk dan menyeret istrinya pulang. Dia siap melihat istrinya dipojokkan, menangis, atau dibully oleh geng Bella. Dia sudah siap untuk marah dan membela "miliknya".

​Tapi pemandangan yang dia lihat di depan matanya membuat otak CEO-nya error sesaat.

​Istrinya tidak menangis.

​Istrinya tidak dipojokkan.

​Elena sedang duduk santai di kursi utama, memegang botol air mineral seperti memegang piala kemenangan. Blazer putihnya kotor kena teh, tapi dia terlihat seperti ratu yang baru saja memenangkan perang.

​Sementara itu, Bella Winata—si Ratu Lebah yang sombong—sedang menangis meraung-raung di lantai seperti anak kecil tantrum.

​Dan yang paling aneh...

​Nyonya Rudi dan Nyonya Tan tiba-tiba berlari menghampiri Elena. Bukan untuk menjambak, tapi untuk... memohon?

​"Nyonya Sora! Duh, Jeng Sora!" Nyonya Rudi memegang tangan Elena dengan wajah penuh harap. "Terus gimana dong nasib uang saya? Papi bilang dananya belum bisa ditarik! Tolong dong kasih saran, Jeng Sora kan pinter banget baca data!"

​"Iya, Nyonya Diwantara!" Nyonya Tan ikut nimbrung, menyingkirkan Bella yang menghalangi jalan. "Alat berat suami saya gimana? Mending dijual rugi atau ditahan dulu? Kasih tips dong, Jeng! Kita manut deh apa kata Jeng Sora!"

​"Tolong kami, Dewi Investasi!"

​Elena dikerumuni. Dia dipuja. Tatapan para sosialita itu bukan lagi tatapan meremehkan, tapi tatapan pemujaan pada sang penyelamat dompet mereka.

​Elena hanya tersenyum tipis, sangat tipis. Dia menatap kerumunan itu dengan bosan.

​"Saran saya simpel, Ibu-ibu," kata Elena tenang, suaranya terdengar jelas di telinga Kairo yang masih mematung di pintu. "Ambil apapun yang bisa diambil. Kalau perlu sita mobil atau jam tangan suami Bella sekarang juga sebagai ganti rugi. Siapa cepat dia dapat."

​Mendengar itu, para sosialita langsung menatap Bella dengan tatapan lapar. Bella menjerit ketakutan sambil memeluk tasnya.

​Elena mendongak. Matanya bertemu dengan mata Kairo di ambang pintu.

​Tidak ada rasa takut di mata Elena. Dia mengangkat botol air mineralnya sedikit ke arah Kairo, seolah bersulang dari kejauhan.

​Cheers, Suamiku. Misi selesai.

​Kairo merasakan lututnya lemas, tapi bibirnya tanpa sadar melengkung membentuk senyum kagum yang tak bisa ditahan.

​Wanita ini... benar-benar berbahaya.

​Dan sialnya, Kairo menyukainya.

1
Rossy Annabelle
next,,seruuuu iih🤯
Savana Liora: #terbit🤭
total 3 replies
wwww
ayok ges ramaikan novelnya seru loh ceritanya 😍
Savana Liora: iyaa ayok mari mari sinii
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!