Seorang wanita dari abad ke-21, dikenal sebagai President's Shadow-pemimpin tertinggi dunia gelap dan mafia internasional-terbangun setelah kecelakaan kecil. Bukan di rumah sakit modern, melainkan di dunia yang sangat asing: dunia sebuah buku yang sering dibaca oleh sahabatnya.
Ia kini hidup sebagai Anthenia Blackwood, putri tunggal Duke Blackwood-gadis bangsawan yang dulu dikenal lembut, ceria, penakut, dan mudah gemetar di hadapan siapa pun. Namun jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.
Di balik wajah tenangnya, Anthenia kini menyimpan:
• kecerdasan strategi,
• naluri pembunuh,
• dan mental baja seorang pemimpin dunia gelap.
Sang ayah, Duke Kaelen Blackwood, terkenal kejam dan tak kenal ampun pada musuh, namun berubah sepenuhnya saat bersama putrinya. Tak seorang pun berani menyentuh Anthenia-hingga Permaisuri Lunara Aurelius melihat gadis itu sekilas dan langsung menginginkannya sebagai menantu kekaisaran.
Calon suaminya adalah William Whiston, Putra Mahkota Kekaisaran Aurelius-p
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. The Trial Behind the Crown
Istana Araluen — pagi berkabut
Panggilan itu datang tanpa penjelasan panjang.
“Lady Anthenia Blackwood diminta menghadap Permaisuri Lunara Aurelius secara pribadi.”
Tidak ada saksi.
Tidak ada bangsawan.
Tidak ada William.
Hanya satu wanita yang dikenal sebagai ibu kekaisaran—dan satu gadis yang menolak menjadi pion.
—
Ruang Permaisuri — sunyi dan tertutup
Ruang itu hangat, beraroma teh herbal dan kayu tua. Tidak ada simbol kekuasaan mencolok—namun tekanan terasa jelas.
Permaisuri Lunara berdiri di dekat jendela.
“Duduklah,” ucapnya lembut.
Anthenia menurut.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan.
“Kau tahu,” kata Lunara akhirnya,
“aku tidak memanggilmu sebagai calon menantu.”
Anthenia mengangkat pandangannya.
“Aku memanggilmu,” lanjut Lunara,
“sebagai wanita yang memilih melawan arus.”
Anthenia menunduk hormat. “Aku tidak bermaksud melawan, Yang Mulia.”
“Justru itu,” Lunara tersenyum tipis,
“kau tidak berniat—dan tetap melakukannya.”
Ia duduk berhadapan.
“Katakan padaku,” tanya Lunara tenang,
“apa yang kau inginkan sebenarnya?”
Pertanyaan itu sederhana.
Namun berbahaya.
Anthenia menarik napas dalam.
“Aku ingin hidup tanpa diputuskan,” jawabnya jujur.
“Dan jika aku harus berada di pusat kekuasaan… aku ingin cukup kuat untuk tidak dihancurkan olehnya.”
Permaisuri menatapnya lama.
“Banyak wanita menginginkan hal itu,” katanya pelan.
“Sedikit yang berani mengucapkannya.”
—
Ujian pertama — pilihan tanpa jawaban benar
Permaisuri menggeser tiga gulungan kecil ke meja.
“Bayangkan,” katanya,
“kau adalah penguasa wilayah kecil yang terjepit antara Araluen dan Valerion.”
Ia menunjuk gulungan pertama.
“Jika kau berpihak pada Araluen—kau aman, tapi bergantung.”
Gulungan kedua.
“Jika kau berpihak pada Valerion—kau kuat, tapi terancam.”
Gulungan ketiga.
“Jika kau netral—kau bebas, tapi sendirian.”
“Pilih,” kata Lunara.
Anthenia tidak langsung menjawab.
Ia memejamkan mata sejenak—bukan untuk ragu, tapi menghitung.
“Aku akan memilih… ketiganya,” katanya akhirnya.
Permaisuri mengangkat alis.
“Jelaskan.”
“Aku akan menunjukkan kesetiaan pada Araluen secara terbuka,” kata Anthenia tenang.
“Menjalin kerja sama terbatas dengan Valerion secara strategis.”
“Dan menjaga satu jalur yang sepenuhnya berada di tanganku.”
Ia menatap Lunara lurus.
“Netral bukan berarti pasif. Netral berarti tidak bisa dikendalikan.”
Sunyi.
Kemudian—Lunara tertawa kecil.
“Kau berbahaya,” katanya.
“Dengan cara yang tepat.”
—
Ujian kedua — kelemahan
Permaisuri berdiri, berjalan ke rak buku.
“Apa kelemahanmu, Anthenia Blackwood?”
Pertanyaan ini lebih tajam dari yang pertama.
Anthenia tidak berpura-pura kuat.
“Aku terlalu cepat mengambil alih,” katanya jujur.
“Karena aku terbiasa bertahan sendirian.”
Lunara berhenti.
“Dan apa akibatnya?”
“Aku bisa melukai orang yang ingin melindungiku,” jawab Anthenia pelan.
Permaisuri menoleh.
“Termasuk putraku?”
Anthenia terdiam—lalu mengangguk kecil.
“Ya.”
Tidak ada kemarahan di wajah Lunara.
Hanya pemahaman.
—
Di luar — koridor panjang
William berjalan mondar-mandir—tidak sabar, namun menahan diri.
Nelia duduk di bangku, menggenggam ujung gaunnya.
“Kakak,” katanya lirih,
“kau takut?”
William berhenti.
“Aku takut,” katanya jujur,
“dia dinilai dengan standar yang tidak pernah dipakai untuk pria.”
—
Kembali ke ruang Permaisuri
Ujian terakhir.
“Jika suatu hari,” kata Lunara,
“kau harus memilih antara keselamatan Blackwood… atau kestabilan kekaisaran—apa yang kau lakukan?”
Ini pertanyaan yang bisa menghancurkan segalanya.
Anthenia menatap meja.
Lalu menjawab—
“Aku akan menyelamatkan Blackwood,” katanya tenang.
“Dan mencari cara agar kekaisaran tidak runtuh setelahnya.”
Permaisuri menatapnya lama.
Lalu berdiri.
“Jawaban yang jujur,” katanya.
“Dan itu cukup.”
Ia mendekat, menaruh tangan di pundak Anthenia.
“Mulai hari ini,” ucap Lunara,
“aku tidak akan melindungimu sebagai permaisuri.”
Anthenia menegang.
“Aku akan melindungimu,” lanjut Lunara,
“sebagai seorang wanita yang memahami harga kekuasaan.”
—
Koridor istana — setelah audiensi
Pintu terbuka.
William menoleh cepat.
Tatapan mereka bertemu.
Anthenia mengangguk kecil—satu isyarat sederhana.
Ia lulus.
William menghela napas pelan.
Namun jauh di balik dinding istana—
seseorang menggenggam bidak berikutnya.
Karena ujian telah selesai.
Dan permainan sesungguhnya
baru saja dimulai.
.....
Sayap Permaisuri — sore hari
Anthenia baru melangkah keluar ketika seorang pelayan senior mendekat dan membungkuk hormat.
“Mulai hari ini, Lady Blackwood,” ucapnya lirih,
“rute Anda di istana akan diatur ulang.”
Anthenia mengangkat alis kecil. “Atas perintah siapa?”
“Permaisuri.”
Jawaban itu sederhana—dan berat.
Perlindungan tanpa pengumuman, pikir Anthenia.
Dan pengawasan tanpa izin.
Ia mengangguk. “Aku mengerti.”
—
Ruang kecil arsip — waktu yang sama
Permaisuri Lunara berdiri bersama Kiel de Courcy.
“Mulai hari ini,” kata Lunara tenang,
“siapa pun yang menyentuh Lady Blackwood—langsung atau tidak—menyentuhku.”
Kiel menunduk. “Aku akan pastikan pesan itu… dipahami.”
Lunara menatap jendela.
“Namun jangan buat dia merasa dikurung,” tambahnya.
“Wanita itu tidak bertahan di dalam sangkar.”
—
Koridor utara — senja
William menunggu di sudut lorong yang jarang dilalui.
Saat Anthenia muncul, langkahnya otomatis melambat.
“Kau dipanggil lama,” katanya.
“Ujian,” jawab Anthenia singkat.
William menatapnya—mencari retakan, kelelahan, atau tanda kalah.
Namun yang ia lihat—
ketenangan.
“Kau lulus,” katanya, lebih sebagai pernyataan daripada pertanyaan.
Anthenia mengangguk.
William menghela napas, bahunya sedikit mengendur.
“Bagus.”
Hanya satu kata.
Namun penuh arti.
Mereka berjalan berdampingan tanpa bicara beberapa langkah.
“Aku tidak akan menanyakan apa yang kau jawab,” kata William akhirnya.
“Namun aku ingin kau tahu satu hal.”
Anthenia menoleh.
“Jika tekanan menjadi terlalu berat,” lanjut William,
“kau bisa bersandar padaku. Tanpa kehilangan pilihanmu.”
Anthenia tersenyum kecil.
“Itu tawaran paling jujur yang pernah kuterima,” katanya pelan.
William menatap ke depan lagi—menyembunyikan ekspresinya.
—
Sayap selir — malam
Heilen Valerius mendengar kabar itu dengan wajah tenang.
“Permaisuri melindunginya?” tanyanya pelan.
Dayang mengangguk. “Secara tidak langsung.”
Heilen tersenyum tipis.
“Baik,” katanya.
“Jika cahaya terlalu terang… maka serangan datang dari bayangan.”
Alistair menegang. “Ibu, jangan—”
“Tenang,” potong Heilen.
“Aku tidak akan menyentuh Lady Blackwood.”
Ia menatap putranya.
“Aku akan menyentuh… jalannya.”
—
Taman belakang — malam semakin larut
Anthenia duduk sendirian.
Ia memejamkan mata, mencoba merasakan dunia ini—tanpa novel, tanpa alur.
Ujian selesai, pikirnya.
Namun sekarang… aku resmi berada di papan.
Langkah kaki terdengar.
Kaelum Stormrage muncul dari bayangan pepohonan.
“Selamat,” katanya ringan.
“Permaisuri jarang melindungi seseorang.”
“Aku tidak meminta,” jawab Anthenia.
Kaelum tersenyum. “Itulah sebabnya kau mendapatkannya.”
Ia menatapnya dalam-dalam.
“Mulai sekarang,” lanjut Kaelum,
“serangan tidak akan datang padamu langsung.”
“Aku tahu,” kata Anthenia tenang.
“Mereka akan menyasar sekelilingku.”
Kaelum tertawa kecil. “Kau belajar cepat.”
Ia melangkah pergi, lalu berhenti.
“Dan Anthenia,” katanya tanpa menoleh,
“badai selalu datang… setelah langit terlalu tenang.”
Anthenia menatap langit malam.
“Datanglah,” bisiknya.
“Aku sudah berdiri.”
Di kejauhan, lonceng istana berdentang pelan.
Babak baru telah dimulai.
—
Fajar — wilayah utara Blackwood
Kabut masih menggantung rendah ketika lonceng peringatan berbunyi.
Bukan lonceng perang.
Bukan pula lonceng darurat penuh.
Lonceng batas.
Di pos Sungai Grey, seorang prajurit berlari ke menara pengawas.
“Laporan dari desa timur!” teriaknya.
“Gudang gandum terbakar. Tidak ada korban, tapi—”
“—api dipasang rapi,” potong Komandan Rhea setelah melihat bekasnya.
“Ini bukan kecelakaan.”
Matanya menyipit.
“Ini pesan.”
—
Istana Araluen — pagi yang sama
Anthenia sedang membaca laporan harian ketika langkah cepat terdengar.
Utusan Blackwood berlutut di hadapannya, napasnya belum stabil.
“Lady Anthenia,” ucapnya,
“Gudang pangan desa timur disabotase. Api dipadamkan cepat, tapi persediaan rusak.”
Ruangan mendadak sunyi.
William yang berdiri tak jauh langsung menoleh.
Kaelum—yang entah sejak kapan ada di dekat jendela—mengangkat alis tipis.
“Korban?” tanya Anthenia.
“Tidak ada.”
Anthenia mengangguk pelan.
Seperti yang kuduga,batinnya.
Bukan untuk melukai. Untuk menguji.
“Siapa pun pelakunya,” kata William dingin,
“mereka ingin melihat reaksimu.”
Kaelum tersenyum miring. “Dan seberapa cepat Blackwood bisa bangkit.”
Anthenia berdiri.
“Siapkan surat,” katanya tenang.
“Bukan ke Kaisar.”
William menatapnya. “Ke siapa?”
“Ke wilayah perbatasan,” jawabnya.
“Dan ke kepala desa.”
Ia menatap utusan itu.
“Katakan pada mereka:
Blackwood tidak akan mengirim pasukan.
Kami akan mengirim makanan.”
Utusan itu terkejut. “Tapi, Lady—”
“Gudang bisa terbakar,” potong Anthenia.
“Kepercayaan tidak.”
—
Sayap strategi istana
William mengikuti Anthenia keluar ruangan.
“Itu langkah berani,” katanya.
“Kau tahu itu membuatmu terlihat lemah… atau sangat kuat.”
Anthenia berhenti.
“Mereka ingin aku mengeraskan tangan,” katanya.
“Jika aku melakukannya, mereka menang.”
William menatapnya lama.
“Kaum bangsawan tidak suka kemurahan hati,” katanya pelan.
Anthenia tersenyum kecil.
“Aku tidak sedang mencoba disukai.”
—
Lorong samping — Kaelum
Kaelum berdiri menyilangkan tangan, menatap punggung Anthenia yang menjauh.
“Menarik,” gumamnya.
“Dia memilih jalan yang tidak bisa ditarik kembali.”
Seorang pengawal Valerion mendekat.
“Yang Mulia, apakah ini akan memengaruhi rencana kita?”
Kaelum tersenyum samar.
“Justru mempercepatnya.”
—
Malam — kamar Anthenia
Anthenia duduk sendirian, menatap nyala lilin.
Ini berbeda dari novel, pikirnya.
Serangan ini terlalu dini… dan terlalu bersih.
Ia memijat pelipisnya.
“Sepertinya,” gumamnya lirih,
“alur mulai bergeser.”
Ia membuka mata.
“Dan itu berarti…
aku tidak bisa hanya mengingat.
Aku harus memilih.”
Di luar jendela, angin malam berdesir pelan.
Bukan badai.
Namun cukup dingin untuk memberi peringatan.