NovelToon NovelToon
Takhta Sang Ratu Mineral

Takhta Sang Ratu Mineral

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

"Lima tahun lalu, aku hanyalah gadis desa yang dihargai murah dalam sebuah kontrak rahim. Zhang Liang membeliku untuk pewarisnya, lalu membuangku saat misinya selesai."
Alya menghilang membawa rahasia besar: sepasang anak kembar yang memiliki darah empat pria paling berpengaruh di Jakarta.
Kini, ia kembali bukan sebagai Alya yang lemah, melainkan Alana Wiratama—sang Ratu Mineral yang memegang kendali atas harta yang paling diinginkan dunia. Saat empat naga yang dulu menindasnya kini berlutut memohon pengampunan, Alana hanya punya satu aturan:
"Aku tidak butuh pelindung. Aku datang untuk mengambil kembali takhtaku."
Akankah cinta sang miliarder mampu melunakkan hati wanita yang sudah ia hancurkan? Ataukah ini akhir dari kekuasaan para Naga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GENCATAN SENJATA DI BALIK PINTU PUTIH

Rumah Sakit Medika Kencana kini menyerupai markas militer daripada tempat penyembuhan. Di lantai VIP yang telah dikosongkan secara khusus, suasana begitu sunyi hingga deru AC di lorong terdengar seperti suara desis ular. Alya terbaring di ranjangnya, dikelilingi oleh peralatan medis tercanggih yang bisa dibeli dengan uang, namun matanya tetap tertuju pada jendela kecil yang memperlihatkan langit Jakarta yang kelabu.

Ia tidak lagi mengenakan gaun sutra pemberian keluarga Zhang atau Wei. Ia mengenakan baju rumah sakit berwarna biru pucat yang longgar. Sederhana, tanpa identitas, dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ia merasa baju ini adalah seragam perangnya.

Di luar pintu kamarnya, berdiri dua pengawal wanita yang disewa khusus oleh Saraswati—bukan dari agensi keamanan milik para Naga, melainkan firma keamanan independen yang dipimpin oleh mantan anggota kepolisian wanita. Hal ini adalah syarat mutlak yang diajukan Saraswati agar Alya bisa beristirahat tanpa merasa diawasi oleh mata-mata pria-pria itu.

Sementara itu, di ruang tunggu VIP yang terletak di ujung koridor, empat pria paling berpengaruh di negeri ini duduk dalam keheningan yang menyesakkan.

Zhang Liang duduk di kursi tunggal, kepalanya tertunduk, tangannya yang masih lecet akibat perkelahian dengan Luo Cheng saling bertautan. Wei Jun berdiri di dekat jendela, terus-menerus menyesap kopi hitam yang sudah dingin. Luo Cheng mondar-mandir seperti harimau yang terkurung dalam kandang besi, sementara Han Zhihao duduk di pojok ruangan dengan laptop di pangkuannya, namun untuk pertama kalinya, layarnya gelap. Ia tidak berani meretas sistem kamar Alya setelah ancaman Saraswati.

"Kita semua adalah bajingan," suara Luo Cheng memecah keheningan. Ia berhenti melangkah dan menatap Liang dengan kebencian murni. "Terutama kau, Liang. Kau membiarkan ibumu dan sekretarismu merencanakan pembunuhan di bawah hidungmu sendiri."

Liang mendongak. Wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua. "Aku tahu. Aku tidak butuh kau untuk mengingatkanku, Cheng."

"Lalu apa rencanamu?" Wei Jun menyela, suaranya jernih dan tajam. "Persidangan yang diajukan Saraswati akan menghancurkan citra Zhang Maritime. Kau akan kehilangan segalanya jika kontrak itu dipublikasikan."

"Aku tidak peduli lagi dengan perusahaan," jawab Liang pelan, namun setiap kata mengandung beban yang berat. "Aku hanya ingin dia selamat. Aku ingin anak-anak itu selamat."

Zhihao tertawa sinis dari pojok ruangan. "Baru sekarang kau peduli? Setelah kau membiarkan Mei Hua memberikan obat penenang pada sistem sarafnya? Kau tahu, Liang, hasil lab yang kuambil menunjukkan dosis itu hampir merusak perkembangan kognitif si kembar. Beruntung Liyun menukarnya tepat waktu."

Liang tersentak. Informasi itu baru baginya. Ia merasa dadanya sesak oleh rasa bersalah yang kini telah menjadi beban fisik yang nyata.

Saraswati keluar dari kamar Alya dengan wajah yang kaku. Ia membawa setumpuk dokumen dan tablet yang berisi tuntutan kliennya. Keempat pria itu segera berdiri dan mengerumuninya.

"Mundur," perintah Saraswati dengan nada yang tidak menerima bantahan. "Klien saya sedang beristirahat. Kondisinya masih rentan terhadap kontraksi dini."

"Bagaimana keadaannya?" tanya Liang dengan suara serak.

"Dia stabil, namun dia menolak bertemu dengan siapa pun dari Anda berempat. Terutama Anda, Tuan Zhang," jawab Saraswati sambil menatap Liang dengan tajam. "Saya di sini untuk menyampaikan pesan. Alya bersedia menunda laporan pidana atas kasus perdagangan orang dan pemalsuan dokumen, dengan beberapa syarat."

"Sebutkan," ucap Wei Jun cepat. "Apa pun."

Saraswati membuka dokumennya. "Pertama, pembatalan kontrak pernikahan secara total dan mutlak. Alya harus mendapatkan status hukum sebagai ibu tunggal dengan hak asuh penuh atas anak-anaknya. Kedua, pengembalian seluruh aset keluarga Wiratama, termasuk rumah ayahnya yang saat ini berada di bawah kendali Tuan Wei Jun, tanpa syarat."

Wei Jun mengangguk tanpa ragu. "Akan kuserahkan sertifikatnya besok pagi."

"Ketiga," lanjut Saraswati, "pencabutan seluruh alat pengintai dan penghentian pemantauan digital oleh Tuan Han Zhihao. Jika saya menemukan satu bit data ilegal lagi yang keluar dari server klien saya, saya akan menyerahkan seluruh log aktivitas peretasan Anda ke divisi cyber crime Mabes Polri."

Zhihao terdiam. Rahangnya mengeras, namun ia akhirnya mengangguk pelan.

"Dan terakhir... Tuan Zhang Liang harus menandatangani surat pengakuan dosa secara tertulis mengenai keterlibatan keluarganya dalam upaya pembunuhan berencana terhadap Alya. Surat ini akan disimpan oleh saya sebagai jaminan. Jika Alya atau anak-anaknya mengalami 'kecelakaan' di masa depan, surat ini akan otomatis dirilis ke media internasional."

Liang memejamkan mata. Surat itu adalah lonceng kematian bagi karier politik dan bisnis keluarganya. Namun, ia melihat wajah Alya yang pucat di ingatannya. Ia teringat bagaimana Alya tetap mencoba menyelamatkan ponselnya di ruang kerja meskipun ia sedang kesakitan.

"Aku akan menandatanganinya," ucap Liang.

"Bagus. Sekarang, silakan tinggalkan lantai ini. Kehadiran Anda hanya akan meningkatkan kadar kortisol klien saya," tutup Saraswati.

Malam itu, setelah lorong rumah sakit benar-benar sepi, Alya menerima kunjungan yang tidak terduga. Bukan dari para pria itu, melainkan dari Zhang Liyun.

Liyun masuk dengan membawa sebuah kotak kayu tua yang berdebu. Ia duduk di pinggir tempat tidur Alya dan menggenggam tangan gadis itu.

"Alya... aku minta maaf atas nama keluargaku," bisik Liyun. "Ibu dan Mei Hua... mereka sudah kehilangan kewarasan karena kekuasaan."

"Kau tidak salah, Liyun. Kau yang menyelamatkanku," jawab Alya dengan senyum lemah.

Liyun meletakkan kotak itu di pangkuan Alya. "Ini milik mendiang nenekku—ibu dari ayahku. Beliau adalah satu-satunya orang di keluarga Zhang yang memiliki hati nurani. Sebelum meninggal, beliau meninggalkan wasiat rahasia berupa saham di sebuah perusahaan pelayaran di luar negeri yang tidak bisa disentuh oleh Ayah atau Liang."

Alya membuka kotak itu dan menemukan dokumen-dokumen saham atas nama dirinya.

"Nenek selalu bilang bahwa suatu saat, akan ada seorang wanita yang menderita karena ambisi pria Zhang. Beliau ingin wanita itu punya jalan keluar. Nilai saham ini cukup untukmu memulai hidup baru di mana pun di dunia ini, tanpa harus bergantung pada uang Wei Jun atau perlindungan Zhihao," jelas Liyun.

Alya meneteskan air mata. "Kenapa kau memberikan ini padaku?"

"Karena kau membawa harapan baru, Alya. Jika anak-anak itu lahir di bawah kendali Ayah atau Liang, mereka akan tumbuh menjadi monster yang sama. Bawalah mereka pergi. Jadikan mereka manusia, bukan ahli waris."

Keesokan paginya, Alya merasa kekuatannya kembali. Bukan kekuatan fisik, tapi kekuatan tekad. Ia memanggil Saraswati dan memintanya untuk mengatur pertemuan singkat dengan Zhang Liang—hanya Liang, tanpa yang lain.

"Anda yakin, Alya? Tekanan darah Anda bisa naik," tanya Saraswati khawatir.

"Saya harus menutup bab ini, Mbak Saras. Jika tidak, saya akan selamanya merasa dikejar," jawab Alya mantap.

Sepuluh menit kemudian, Liang masuk ke kamar. Ia berdiri di dekat pintu, tidak berani mendekat lebih dari dua meter. Ia melihat Alya yang kini duduk tegak di ranjang, bukan lagi sebagai gadis desa yang ketakutan, melainkan sebagai seorang ibu yang siap melindungi sarangnya.

"Kau ingin bertemu denganku?" suara Liang bergetar.

"Duduklah, Mas Liang," ucap Alya.

Liang duduk di kursi plastik di samping tempat tidur. Ia merasa sangat kecil di hadapan wanita yang pernah ia beli dengan harga murah itu.

"Saya sudah memaafkan Mas," ucap Alya mengejutkan Liang. "Tapi memaafkan bukan berarti saya akan kembali. Saya memaafkan agar saya tidak membawa dendam ini kepada anak-anak saya. Saya ingin mereka lahir dari rahim yang tenang, bukan rahim yang penuh kebencian."

"Alya... aku..."

"Dengarkan saya dulu," potong Alya. "Saya tahu Mas mencintai Mei Hua, atau setidaknya Mas mencintai bayangan Mei Hua. Pergilah cari dia. Temani dia di fasilitas kesehatannya. Jangan cari saya lagi setelah persalinan ini selesai. Surat-surat yang Mbak Saras siapkan akan saya simpan. Jika Mas membiarkan saya hidup tenang, rahasia keluarga Zhang akan terkubur bersama saya."

Alya mengambil sebuah foto hasil USG dari meja samping tempat tidur dan memberikannya kepada Liang. Di foto itu, dua sosok kecil tampak berpelukan di dalam rahim.

"Lihat mereka, Mas. Mereka bukan aset. Mereka bukan pewaris naga. Mereka adalah Alya yang kecil. Tolong, biarkan mereka memiliki nama belakang saya, bukan nama belakang Zhang."

Liang menatap foto itu, air mata jatuh membasahi kertas thermal yang tipis. Ia menyadari bahwa harta dan kekuasaan yang ia kejar seumur hidupnya tidak ada artinya dibandingkan dengan momen ini. Ia telah menghancurkan satu-satunya hal yang tulus dalam hidupnya.

"Aku akan melepaskanmu, Alya," bisik Liang. "Aku akan memberikan pernyataan publik bahwa pernikahan kita dibatalkan karena ketidakcocokan, dan aku akan memberikan semua aset yang diminta Saraswati. Aku akan memastikan tidak ada yang mengganggumu... termasuk Jun, Cheng, atau Zhihao. Aku akan menggunakan seluruh kekuatanku untuk menjadi perisaimu dari jauh, tanpa kau perlu melihatku lagi."

Liang berdiri, membungkuk dalam-dalam kepada Alya—sebuah penghormatan yang belum pernah ia berikan kepada siapa pun—lalu berjalan keluar tanpa menoleh lagi.

Namun, di luar rumah sakit, rencana lain sedang berjalan. Chen Yiren, yang berhasil lolos dari pengawalan Luo Cheng berkat bantuan Madam Liu Xian yang masih memiliki sisa-sisa loyalis di kepolisian, sedang berada di sebuah gudang di pelabuhan.

Wajahnya tampak berantakan, amarahnya telah berubah menjadi kegilaan murni. Di depannya, berdiri seorang pria dengan pakaian medis yang kumuh—Dr. Kelvin Huang yang baru saja melarikan diri dari penahanan rumah.

"Kau bilang kau bisa melakukan prosedur itu secara paksa?" tanya Yiren, suaranya parau.

"Terlalu berisiko, Yiren. Dia di rumah sakit sekarang, penjagaannya sangat ketat," jawab Kelvin ragu.

"Aku tidak peduli! Jika aku tidak bisa mendapatkan Liang, maka tidak ada yang boleh mendapatkan pewaris itu! Kita akan menculiknya saat dia dipindahkan ke vila rehabilitasi minggu depan. Aku sudah menyiapkan tim. Kita akan mengambil bayi-bayi itu, dan Alya... kita biarkan dia 'tidur' selamanya di dasar laut Jakarta."

Yiren tertawa, sebuah suara yang sangat mengerikan di tengah kesunyian gudang. Ia tidak tahu bahwa Han Zhihao, meskipun sudah berjanji pada Saraswati untuk berhenti memantau Alya, tidak pernah berjanji untuk berhenti memantau Yiren.

Di layar monitor Zhihao, koordinat lokasi Yiren baru saja menyala merah.

Zhihao menyandarkan tubuhnya di kursi, matanya berkilat dingin. "Jadi kau memilih jalan kekerasan, Yiren? Bagus. Ini akan menjadi alasan bagiku untuk menghancurkanmu selamanya dan membawa Alya ke Swiss bersamaku... demi keselamatannya."

Permainan baru saja dimulai. Empat naga mungkin sudah berhenti saling menyerang secara terbuka, namun di balik bayangan, masing-masing dari mereka masih memiliki rencana gelap untuk memiliki sang "berlian" yang sedang terluka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!