Di malam Festival Bulan Darah yang kelam, klan kecil Lin di pinggiran Benua Timur Dunia Fana Bawah dibantai habis-habisan oleh pasukan elit Sekte Bayangan Abadi.
Sebuah Tanah Suci 8 bintang yang ditakuti seluruh alam rendah. Penyebabnya? Hanya sebuah cincin perak tua yang tampak biasa, namun menyimpan rahasia mengerikan.
Lin Xuan, pemuda berusia 17 tahun dengan bakat kultivasi biasa-biasa saja di Qi Condensation Lapisan 3, menyaksikan segalanya dengan mata terbuka lebar.
Ayahnya Kepala Klan Lin dibunuh di depan matanya. Ibunya, dalam keputusasaan terakhir, merobek jantungnya sendiri dengan tangan gemetar, menyerahkan cincin itu ke telapak tangan anaknya sambil berbisik.
“Jangan pernah menyerah… balas dendam… bahkan jika kau harus menjadi iblis.”
Lin Xuan dilempar ke jurang maut Laut Darah Terlarang, tubuhnya hancur, darah mengalir deras. Di ambang kematian, cincin itu bergetar hebat. Cahaya hitam pekat menyelimuti tubuhnya. Suara tua yang dalam dan dingin bergema di benaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Hutan Manusia dan Topeng Ramah
Gunung Awan Hijau menjulang menembus awan, puncaknya tertutup kabut abadi yang konon menyembunyikan binatang roh penjaga sekte.
Di kaki gunung, lautan manusia berkumpul.
Ribuan pemuda dan pemudi dari berbagai kota dan desa di sekitar wilayah selatan Benua Timur datang dengan satu mimpi: Menjadi Abadi.
Ada anak petani dengan pakaian kasar yang gugup, ada tuan muda dari klan pedagang yang dikawal pelayan, dan ada juga pemburu liar dengan tatapan tajam.
Di tengah kerumunan itu, Lin Xuan berdiri diam.
Dia mengenakan jubah abu-abu sederhana, topi caping bambu menutupi separuh wajahnya, dan sebilah pedang besi biasa tergantung di pinggang. Tidak ada yang istimewa. Auranya ditekan hingga tampak seperti Qi Condensation Lapisan 3 biasa cukup untuk memenuhi syarat minimal, tapi tidak cukup untuk menarik perhatian.
"Hei, Saudara!"
Sebuah tepukan ringan mendarat di bahu Lin Xuan.
Otot Lin Xuan menegang seketika. Tangan kanannya hampir bergerak, tapi dia menahannya di detik terakhir.
Dia menoleh perlahan.
Seorang pemuda seusianya berdiri di sana sambil tersenyum lebar. Wajahnya tampan dengan cara yang bersih dan jujur, matanya jernih, dan pakaiannya rapi meski sederhana. Dia memancarkan aura Qi Condensation Lapisan 4 yang stabil.
"Maaf, aku mengagetkanmu?" tanya pemuda itu, melihat reaksi kaku Lin Xuan. "Namaku Zhao Yun. Dari Kota Sungai Putih. Aku lihat kau sendirian, jadi kupikir kita bisa mengantre bersama. Lebih aman, kan?"
Lin Xuan menatap pemuda itu Zhao Yun dengan tatapan menilai.
Terlalu ramah, pikir Lin Xuan. Di dunia kultivasi, orang yang terlalu ramah biasanya punya motif tersembunyi atau bodoh.
"Mu Chen," jawab Lin Xuan singkat, menggunakan nama samarannya.
"Salam kenal, Saudara Mu!" Zhao Yun tidak terganggu dengan sikap dingin Lin Xuan. Dia justru berdiri di sampingnya seolah mereka kawan lama. "Kau lihat antrean itu? Panjang sekali. Kudengar tahun ini mereka hanya menerima 100 Murid Luar dari 2.000 pendaftar. Sisanya akan dijadikan pelayan atau disuruh pulang."
Lin Xuan hanya mengangguk pelan. Matanya fokus ke depan, ke gerbang batu raksasa tempat para Tetua Sekte sedang duduk mengawasi.
"Hati-hati dengan orang itu," bisik Zhao Yun tiba-tiba, menunjuk dengan dagunya ke arah seorang pemuda berjubah sutra merah yang dikelilingi empat pengawal.
"Itu Tuan Muda Wang Long dari Klan Wang. Konon dia punya Akar Roh Dua Elemen (Tanah dan Api). Dia sombong setengah mati. Tadi pagi dia mematahkan kaki seorang peserta hanya karena tidak sengaja menginjak sepatunya."
Lin Xuan melirik sekilas. Wang Long sedang tertawa keras, menikmati pujian dari para penjilat di sekitarnya.
"Sampah," gumam Lin Xuan pelan.
Zhao Yun tertawa kecil. "Sepakat. Tapi sampah yang kuat tetap berbahaya bagi orang seperti kita, kan?"
"Peserta selanjutnya! Barisan 15!" teriak seorang diaken sekte.
Giliran mereka tiba.
Ujian pertama: Tes Akar Roh (Spirit Root).
Seorang Tetua berjanggut putih memegang bola kristal bening. Peserta harus meletakkan tangan di atasnya.
"Wang Long!" panggil diaken.
Wang Long maju dengan dagu terangkat. Dia meletakkan tangannya di bola kristal.
WUUUNG!
Cahaya merah dan kuning menyala terang, memancar keluar hingga menyilaukan mata penonton.
"Akar Roh Dua Elemen! Kemurnian Tinggi!" seru diaken itu kaget. "Lulus! Masuk ke tenda Murid Inti Potensial!"
Kerumunan berbisik kagum. Wang Long tersenyum puas, melirik merendahkan ke arah antrean di belakangnya sebelum berjalan masuk.
"Sial, dia benar-benar berbakat," desis Zhao Yun iri. "Giliranmu, Saudara Mu."
Lin Xuan maju. Wajahnya datar.
Dia meletakkan tangan pucatnya di atas bola kristal.
Sebenarnya, bakat Lin Xuan adalah Tiga Elemen (Api, Kayu, Logam). Di dunia kultivasi, semakin sedikit elemen, semakin murni dan cepat kultivasinya. Satu elemen (Heavenly Root) adalah legenda. Dua elemen adalah jenius. Tiga adalah rata-rata. Empat dan lima adalah sampah.
Lin Xuan tidak perlu memalsukan apa pun di sini. Bakatnya memang rata-rata.
Bzzzt.
Tiga warna cahaya muncul: Merah, Hijau, dan Emas. Cahayanya redup, tidak menyilaukan seperti milik Wang Long.
Tetua itu melirik bosan. "Akar Roh Tiga Elemen. Kemurnian Menengah. Lulus. Masuk ke tenda Murid Luar."
Lin Xuan menarik tangannya dan berjalan minggir. Sempurna. Tidak ada yang peduli padanya.
"Selanjutnya, Zhao Yun!"
Zhao Yun maju. Dia menarik napas panjang, lalu menyentuh bola itu.
Wuuung!
Cahaya Biru (Air) dan Hijau (Angin) muncul. Terang, tapi tidak sekuat Wang Long.
"Akar Roh Dua Elemen Variasi Angin! Kemurnian Menengah-Atas!" Mata Tetua itu sedikit membelalak. "Bagus! Masuk ke tenda Murid Inti Potensial!"
Lin Xuan sedikit terkejut. Dia punya bakat sebagus itu?
Zhao Yun menoleh ke arah Lin Xuan dan mengedipkan mata sambil tersenyum lebar, seolah berkata: Lumayan, kan?
Ujian Kedua: Tes Kekuatan (Strength Test).
Peserta harus memukul drum kulit naga raksasa. Syarat lulus Murid Luar: Kekuatan pukulan minimal 300 Jin (sekitar 150 kg).
Wang Long maju lagi. Tanpa kuda-kuda, dia memukul santai.
DUMMM!
Angka muncul di atas drum: 900 Jin.
"Luar biasa!" puji diaken.
Giliran Zhao Yun. Dia mengambil kuda-kuda serius, mengalirkan Qi Angin ke tinjunya.
BAM!
850 Jin.
Hampir menyamai Wang Long. Tatapan Wang Long menajam ke arah Zhao Yun, merasa tersaingi.
Akhirnya, giliran Lin Xuan.
Dia berdiri di depan drum besar itu.
"Ingat," suara Gu Tianxie memperingatkan di kepalanya. "Jangan gunakan Tulang Asura. Jangan gunakan Qi Merah. Gunakan Qi biasa dan tekan kekuatanmu. Jika kau memukul terlalu keras, kau akan menarik perhatian Tetua di puncak gunung."
Lin Xuan mengangguk dalam hati.
Kekuatan aslinya sekarang, dengan gabungan Qi Condensation Lapisan 4 Puncak dan Tulang Asura, mungkin bisa mencapai 2.000 Jin kekuatan yang bisa menghancurkan drum itu berkeping-keping.
Dia menarik napas, menekan 80% kekuatannya, hanya menyisakan sedikit Qi biasa di kepalan tangannya.
Dia memukul.
Buk.
Suaranya tumpul. Tidak menggelegar.
Angka muncul perlahan: 310 Jin.
Hanya sedikit di atas batas lulus. Pas-pasan.
"Lulus," kata diaken itu tanpa melihat wajah Lin Xuan, langsung memanggil nama berikutnya. "Minggir."
Lin Xuan berjalan ke area yang ditentukan, menyatu dengan kerumunan peserta lain yang lulus pas-pasan. Wajah mereka penuh kelegaan. Wajah Lin Xuan tetap datar.
"Akting yang bagus," cemooh Gu. "Kau terlihat sangat menyedihkan."
Lin Xuan mengabaikannya. Tujuannya tercapai.
Tiba-tiba, Zhao Yun muncul lagi di sampingnya. Dia seharusnya berada di area elit bersama Wang Long, tapi dia malah menyelinap ke area umum.
"Hei, Saudara Mu! Selamat!" sapa Zhao Yun ceria. "310 Jin? Itu tipis sekali! Untung kau makan tadi pagi, ya?"
Lin Xuan mengerutkan kening. "Kenapa kau di sini? Tempatmu di sana."
"Ah, di sana isinya orang-orang sombong seperti Wang Long. Membosankan," Zhao Yun mengibaskan tangan. "Aku lebih suka di sini. Lagipula, kita masuk bersama, kan?"
Mata Lin Xuan menatap Zhao Yun lekat-lekat.
Di mata pemuda ini, tidak ada kelicikan. Hanya ada kehangatan yang tulus. Sesuatu yang sudah lama hilang dari hidup Lin Xuan sejak malam Festival Bulan Darah.
"Kau aneh," kata Lin Xuan akhirnya.
"Ibuku juga bilang begitu," Zhao Yun tertawa. "Ayo, pembagian token sebentar lagi. Kudengar asrama Murid Luar itu keras. Kita sebaiknya satu kamar biar bisa saling jaga punggung."
Saling jaga punggung...
Kata-kata itu menyentuh sisi kecil di hati Lin Xuan yang belum sepenuhnya membeku.
Dia teringat ayahnya. Teringat klannya.
"Baiklah," kata Lin Xuan pelan. "Tapi jangan berharap aku akan melindungimu jika kau cari masalah."
"Tenang saja! Aku hebat dalam melarikan diri!" Zhao Yun menepuk punggung Lin Xuan lagi.
Saat mereka berjalan menuju gerbang sekte, Lin Xuan tidak menyadari satu hal.
Di kejauhan, di atas panggung tinggi, seorang Tetua berjubah hitam bukan Tetua penguji tadi sedang menatap punggung Lin Xuan dengan mata menyipit. Di tangannya, ada kompas pelacak Qi yang jarumnya bergetar sangat tipis setiap kali melintasi arah Lin Xuan.
"Darah..." gumam Tetua itu pelan. "Anak itu punya bau darah yang aneh. Seperti... pembunuh yang baru keluar dari neraka."
Tetua itu tersenyum tipis, menyimpan kompasnya. "Menarik. Mari kita lihat berapa lama dia bertahan di 'Kolam Buaya' Sekte Awan Hijau."