NovelToon NovelToon
DxD : Phenex Rebirth

DxD : Phenex Rebirth

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Sistem / Fantasi / Tamat
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Terlahir kembali sebagai Riser Phenex—bangsawan iblis paling dibenci dengan reputasi sampah—bukanlah pilihan yang buruk bagi seorang pemuda dari dunia modern. Dengan sistem "Yui" yang bermulut tajam namun setia, serta kekuatan terlarang dari masa lalu yang terkubur (Meliodas), Riser memutuskan untuk berhenti mengejar wanita yang tidak menginginkannya. Di hari Rating Game yang seharusnya menjadi kehancurannya, dia justru membakar naskah takdir. Dia membatalkan pertunangan, melepaskan gelar "pecundang", dan mulai membangun "keluarga" sejatinya sendiri. Dari pedang Saeko Busujima hingga kesetiaan Yasaka, Riser tidak hanya ingin bertahan hidup; dia ingin mendominasi dunia supranatural dengan gaya yang elegan, sarkastik, dan tak terbantahkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keheningan Sebelum Badai

Malam di sekitar Akademi Kuoh terasa lebih sunyi dari biasanya. Kabut tipis merayap di permukaan tanah, menyelimuti pagar besi tinggi yang membatasi dunia manusia dengan rahasia yang tersembunyi di dalamnya. Di balik kegelapan hutan yang mengelilingi gedung sekolah tua, Riser Phenex berdiri dengan tenang. Mantel hitamnya berkibar pelan tertiup angin malam, memberikan siluet yang dominan di bawah cahaya bulan yang pucat.

Di sekelilingnya, aliansi yang tidak biasa telah terbentuk. Xenovia Quarta dan Irina Shidou berdiri di sisi kiri, tangan mereka tak lepas dari gagang pedang suci masing-masing. Di sisi kanan, Saeko Busujima dan Ayaka Kamizato bersiaga dalam posisi yang lebih rendah, siap meledak dalam kecepatan penuh kapan saja.

Riser memejamkan mata, membiarkan indra sensoriknya meluas ke seluruh area akademi.

[ Pemindaian Area: Aktif ]

[ Target: Energi Cahaya Terdistorsi (Malaikat Jatuh) ]

[ Lokasi: Ruang Bawah Tanah Gedung Sekolah Tua ]

[ Kekuatan Musuh: 1 Kelas Atas (Kokabiel), 4 Kelas Menengah, 12 Kelas Bawah ]

"Mereka sudah di sana," ucap Riser tanpa membuka mata. "Kokabiel sedang menyiapkan lingkaran sihir pemanggil untuk menarik fragmen terakhir secara paksa. Dia tidak tahu kalau kepingan itu sudah ada di tangan kita."

Xenovia melangkah maju, pedang besarnya kini tidak lagi terbungkus kain. "Jika benar dia ada di bawah sana, kita tidak bisa membuang waktu. Tekanan energinya mulai merusak penghalang suci kota ini."

"Sabar, Xenovia," sela Riser sambil membuka mata yang kini berpendar ungu redup. "Menyerbu masuk begitu saja adalah rencana orang bodoh. Kita akan membagi tugas. Saeko, Ayaka... kalian ambil jalur ventilasi timur. Esdeath dan Yubelluna sudah bergerak di sisi barat untuk memancing perhatian para penjaga kelas bawah."

Ayaka menyentuh gagang Frozen Flash yang baru saja diciptakan. Rasa dingin yang akrab namun bertenaga mengalir ke telapak tangannya, memberinya ketenangan yang mutlak. "Kami akan memastikan jalur logistik mereka terputus, Tuan Riser."

Saeko hanya mengangguk kecil, senyum tipis yang penuh haus darah menghiasi wajahnya. Baginya, setiap detik yang dihabiskan untuk menunggu adalah siksaan.

Riser beralih ke dua utusan gereja. "Kalian berdua akan ikut denganku lewat pintu utama. Biarkan Kokabiel melihat bahwa pedang suci yang dia cari justru datang untuk menjemput nyawanya."

"Kau sangat percaya diri untuk ukuran seorang iblis," gumam Irina, meski ia tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya pada ketenangan Riser.

[ Sinkronisasi Jiwa: 94% ]

[ Efek: Dominasi Lapangan ]

Mereka mulai bergerak. Saeko dan Ayaka menghilang ke dalam kegelapan seperti bayangan, sementara Riser berjalan santai menuju gedung sekolah tua, diikuti oleh Xenovia dan Irina. Langkah kaki Riser yang berat di atas dedaunan kering menjadi satu-satunya suara di sana, sengaja dilakukan untuk memancing keluar siapa pun yang bersembunyi di balik kegelapan.

Tiba-tiba, beberapa tombak cahaya meluncur dari atap gedung. Riser bahkan tidak menoleh. Dengan jentikan jari yang santai, sebuah dinding api biru meledak di depan mereka, menguapkan tombak-tombak cahaya itu sebelum sempat mendekat.

"Tunjukkan dirimu, Valper Galilei. Aku tahu kau bersembunyi di balik jubah Malaikat Jatuh itu bersama eksperimen gagalmu," suara Riser bergema di seluruh halaman sekolah.

Dari balik bayangan pintu besar, seorang pria tua dengan wajah licik dan pakaian pendeta yang kotor muncul. Di belakangnya, berdiri beberapa sosok berjubah yang memancarkan aura pedang suci yang tidak stabil.

"Riser Phenex... sebuah variabel yang tidak terduga," Valper tertawa serak. "Kudengar kau telah berubah, tapi aku tidak menyangka kau akan bekerja sama dengan anjing-anjing Vatikan. Apa kau sudah kehilangan harga dirimu sebagai iblis?"

Riser berhenti tepat sepuluh langkah di depan Valper. Dia menarik napas dalam, merasakan aroma ketakutan yang mulai muncul dari arah lawan.

"Harga diriku tidak ditentukan oleh dengan siapa aku berdiri, tapi oleh siapa yang berlutut di bawah kakiku," jawab Riser dingin. "Ayaka, Saeko... mulai."

Detik itu juga, teriakan dari dalam gedung terdengar. Suhu udara di sekitar gedung turun drastis, menandakan Ayaka telah mulai membekukan jalur pelarian musuh. Di saat yang sama, Riser melesat maju. Bukan dengan api, melainkan dengan kecepatan murni yang meretakkan tanah di bawahnya.

[ Mode Tempur: Aktif ]

[ Target Terkunci: Valper Galilei ]

Pertempuran untuk menentukan masa depan Kuoh baru saja dimulai, dan Riser tidak berniat membiarkan satu pun musuhnya melihat matahari terbit.

Lantai kayu gedung sekolah tua berderit tajam saat Riser melangkah masuk ke aula utama. Ruangan ini telah diubah menjadi bengkel mengerikan; lingkaran sihir yang memancarkan cahaya ungu tidak sehat terukir di lantai, dengan tabung-tabung berisi energi pedang suci yang berdenyut di sepanjang dinding. Bau ozon dan logam terbakar memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang menyesakkan bagi siapa pun yang memiliki kepekaan terhadap energi suci.

Valper Galilei berdiri di belakang altar darurat, wajahnya yang keriput tampak semakin mengerikan di bawah cahaya ungu. "Terlambat, Riser Phenex! Proses penyatuan fragmen sudah hampir selesai. Aku telah menciptakan mahakarya yang akan melampaui Tuhan sendiri!"

Riser tidak menjawab. Dia hanya melirik ke arah langit-langit gedung. Di atas sana, dalam kesunyian yang mematikan, Saeko dan Ayaka telah mengambil posisi di balok penyangga kayu.

[ Analisis Musuh: Prajurit Eksperimen (4 Subjek) ]

[ Senjata: Pedang Suci Buatan (Tingkat Ketidakstabilan Tinggi) ]

[ Status: Siaga ]

Empat sosok berjubah melompat turun dari bayang-bayang, menghalangi jalan Riser. Mereka bukan lagi manusia; mata mereka kosong, dan tubuh mereka bergetar hebat akibat dipaksa menampung energi pedang suci yang tidak kompatibel dengan jiwa mereka. Mereka adalah boneka hidup Valper.

"Xenovia, Irina. Amankan Valper," perintah Riser datar. "Biarkan sampah-sampah ini menjadi urusanku."

Xenovia mengangguk, auranya meledak saat dia menghunus Excalibur Destruction. "Jangan mati dulu, Iblis. Aku masih harus menagih janjimu." Dengan satu lonjakan tenaga, dia dan Irina melesat melewati garis musuh, menuju ke arah Valper.

Dua prajurit eksperimen mencoba mengejar mereka, namun langkah mereka terhenti saat sebuah gelombang hawa dingin yang masif menghantam lantai.

"Lawan kalian adalah kami," suara Ayaka terdengar tenang namun dingin dari kegelapan atas.

Ayaka meluncur turun, mendarat dengan keanggunan seorang bangau. Frozen Flash di tangannya memancarkan pendaran biru yang menyilaukan. Di sampingnya, Saeko muncul dengan katana yang sudah setengah terhunus, auranya yang haus darah membuat para prajurit eksperimen itu ragu sejenak.

[ Perintah Sistem: Eliminasi Terfokus ]

Salah satu prajurit eksperimen meraung, mengayunkan pedang suci buatannya yang memancarkan kilatan listrik kuning. Saeko menyambutnya dengan kecepatan yang hampir tak kasat mata. Ting! Logam bertemu logam. Saeko tidak hanya menangkis; dia memutar bilahnya, menggunakan momentum musuh untuk mengarahkan serangan itu ke lantai, sebelum memberikan tendangan lutut yang menghancurkan tulang rusuk lawan.

Di sisi lain, Ayaka bergerak seperti dalam sebuah tarian. Setiap kali dia mengayunkan Frozen Flash, kristal es terbentuk di udara, bukan hanya sebagai rintangan, tapi sebagai senjata tajam yang mengincar titik buta lawan.

"Kamisato Art: Hyouka!"

Ayaka menghentakkan kakinya. Lingkaran es mekar di bawah kaki prajurit kedua, membekukan kakinya hingga ke lutut dalam sekejap. Sebelum prajurit itu sempat menggunakan energi sucinya untuk menghancurkan es, Ayaka sudah berada di belakangnya, menyarungkan pedangnya dengan bunyi klik yang menentukan. Seluruh tubuh prajurit itu kemudian tertutup lapisan es abadi.

Riser berdiri di tengah kekacauan itu, matanya tetap tertuju pada bagian terdalam aula di mana Kokabiel kemungkinan besar sedang menunggu. Dia tidak menggunakan kekuatan penuhnya; dia ingin melihat sejauh mana hasil latihan para srikandinya.

"Hehehe... kau membiarkan wanitamu bertarung sementara kau hanya menonton?" Valper berteriak dari kejauhan sambil terus mengoperasikan panel sihirnya.

Riser tersenyum miring. "Mereka bukan hanya 'wanitaku', Valper. Mereka adalah bagian dari kekuatanku. Dan jika kau merasa mereka adalah masalah kecil, maka kau benar-benar tidak menyadari bahwa kau sudah kalah sejak aku melangkah masuk ke sini."

[ Sinkronisasi Jiwa: 96% ]

[ Deteksi Ancaman: Kokabiel (Bangkit) ]

Tiba-tiba, tekanan energi yang luar biasa besar meledak dari arah belakang altar. Sepuluh sayap hitam legam membentang, menghancurkan atap gedung sekolah tua dan membiarkan cahaya bulan masuk menyinari aula yang hancur. Kokabiel, sang Malaikat Jatuh kelas atas, akhirnya menampakkan diri. Dia duduk di atas singgasana yang tercipta dari energi cahaya, menatap Riser dengan pandangan meremehkan.

"Jadi, kau adalah iblis Phenex yang telah membunuh pengintaiku?" suara Kokabiel menggelegar, membuat kaca-kaca jendela di seluruh gedung pecah berkeping-keping. "Kau berani datang ke sini hanya dengan membawa beberapa manusia dan iblis pelayan? Kau sangat sombong, Riser."

Riser melepaskan tangan dari sakunya. Api biru mulai menyelimuti kakinya, membakar lantai kayu hingga menjadi abu. "Sombong adalah ketika kau merasa bisa memicu perang hanya karena kau merasa bosan, Kokabiel. Apa yang aku lakukan sekarang... ini adalah eksekusi."

Suasana aula itu mendadak menjadi sangat sunyi, meskipun di sekeliling mereka pertarungan Ayaka dan Saeko masih berlangsung. Ketegangan antara Riser dan Kokabiel menciptakan vakum energi yang mengerikan.

1
SR07
plot nya kok kaya mundur ya?
SR07
bukannya udh gabung sama rias ya? atau di episode awal gue salah baca?
SR07
esdeath kemana dah?
SR07
cemburu Ama bocah🤣
SR07
intinya cemburu
SR07
awokawokawok 🤣
SR07
ada yang cemburu nih🤣
SR07
Yui cemburu 🤣
SR07
up lagi bro
mutia
sistemnya agak serem ya😂
SR07
jir galaknya 🤣
SR07
ngobrol Ama bantal guling gak tuh wkwkwk 🤣
SR07
system nya galak amat dah🤣
Muhd Zulfitri
thor buat anime cheined Soldier /Pray/
RavMoon: saya akan mempertimbangkan nya setelah proyek ini berjalan setengahnya🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!