NovelToon NovelToon
Menyusui Bayi Mafia

Menyusui Bayi Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pernikahan rahasia / Ibu Pengganti / Mafia / Duda / Konflik etika
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Adrina salsabila Alkhadafi

Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Pilihan selalu ada

​Keheningan di kamar bayi itu terasa begitu padat, hanya dipecah oleh suara hisapan kecil Leonardo dan derit halus kursi goyang kayu yang diduduki Aruna. Di bawah temaram lampu tidur berbentuk bulan, Aruna menatap jemari mungil Leonardo yang menggenggam erat ujung bajunya. Ada rasa haru yang asing; seolah beban dunia yang ia pikul di luar sana—biaya rumah sakit, koma ibunya, dan ancaman mafia—menguap setiap kali ia merasakan denyut kehidupan dari bayi ini.

​Namun, rasa tenang itu segera terusik. Bayangan tinggi besar yang berdiri di ambang pintu perlahan bergerak mendekat. Dante Valerius melangkah masuk tanpa suara, seperti predator yang bergerak di bawah bayang-bayang. Ia tidak mengenakan jasnya lagi; hanya kemeja hitam dengan dua kancing atas terbuka dan lengan yang digulung hingga siku, memperlihatkan guratan otot dan tato hitam yang merambat di pergelangan tangannya.

​Dante berhenti tepat di samping kursi Aruna. Ia tidak duduk. Ia hanya berdiri di sana, menjulang seperti menara yang mengintimidasi, matanya yang tajam menatap pemandangan di hadapannya dengan ekspresi yang sulit dibaca.

​"Dia terlihat... tenang," suara Dante rendah, hampir seperti bisikan, namun getarannya terasa hingga ke tulang belakang Aruna.

​Aruna tidak berani menatapnya. Ia tetap menunduk, fokus pada Leonardo. "Dia hanya lapar. Bayi prematur membutuhkan kenyamanan lebih dari sekadar makanan. Mereka butuh merasakan detak jantung."

​Dante terdiam. Ia mengamati bagaimana kulit putih Aruna kontras dengan rambut hitamnya yang tergerai jatuh ke bahu. Ia juga melihat bagaimana gadis itu memperlakukan putranya—bukan dengan rasa jijik atau keterpaksaan karena uang, melainkan dengan kelembutan yang jujur.

​"Mengapa kau melakukannya?" tanya Dante tiba-tiba.

​Aruna mengernyit. "Melakukan apa? Menyusuinya? Kau yang membayarku untuk ini."

​"Bukan itu," Dante melangkah selangkah lagi, memperkecil jarak hingga lututnya hampir menyentuh ujung gaun Aruna. "Kau mahasiswa berprestasi. Aku membaca profilmu. Kau punya masa depan di dunia korporat atau akademisi. Seharusnya kau bisa memohon pada yayasan, atau meminjam pada bank. Tapi kau memilih masuk ke rumah ini. Kau tahu siapa aku, bukan?"

​Aruna akhirnya mendongak. Di bawah cahaya redup, matanya berkaca-kaca, memancarkan perpaduan antara keberanian dan keputusasaan. "Bank tidak memberikan uang dalam semalam, Tuan Valerius. Dan yayasan tidak peduli pada buruh pabrik yang kecelakaan karena kelalaian mesin mereka sendiri. Ibuku tidak punya waktu untuk menunggu birokrasi. Aku tidak punya pilihan."

​"Pilihan selalu ada," sahut Dante dingin. "Kau hanya memilih jalan yang paling ekstrem."

​"Karena ini adalah satu-satunya jalan yang pasti!" Aruna sedikit meninggikan suaranya, membuat Leonardo menggeliat kecil dalam tidurnya. Aruna segera menurunkan volumenya, kembali berbisik dengan nada pedas. "Lagipula, bukankah kau yang mengirim Marco untuk memburuku? Kau yang memanfaatkan kelemahanku untuk keuntunganmu sendiri. Jangan bertingkah seolah-olah kau memberikan aku kebebasan untuk memilih."

​Dante menatap bibir Aruna yang bergetar karena emosi. Pria itu tiba-tiba membungkuk, menumpukan kedua tangannya pada sandaran kursi goyang, mengurung Aruna di tengah-tengahnya. Aruna tersentak, punggungnya menempel rapat pada kursi. Aroma bourbon dan tembakau dari napas Dante menyergap indranya.

​"Kau benar," bisik Dante, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Aruna. "Aku tidak pernah memberikan pilihan. Apa pun yang aku inginkan, aku ambil. Termasuk kau."

​Tangan Dante yang besar terangkat. Dengan gerakan yang sangat pelan—hampir terasa seperti belaian—ia menyelipkan sejumput rambut Aruna ke belakang telinganya. Jarinya yang kasar dan dingin sempat menyentuh kulit leher Aruna, mengirimkan gelombang listrik yang aneh ke seluruh tubuh gadis itu.

​"Jika kau melayaninya dengan baik," Dante menatap mata Aruna dengan intensitas yang mematikan, "ibumu akan mendapatkan keajaiban medis yang tidak bisa dibeli oleh siapa pun di kota ini. Tapi jika kau mencoba melarikan diri, atau jika kau melakukan kesalahan sekecil apa pun yang membahayakan Leonardo..."

​Dante menjeda, jarinya kini turun ke dagu Aruna, memaksa gadis itu untuk terus menatapnya. "Aku akan memastikan kau memohon untuk mati, namun kematian tidak akan datang padamu."

​Aruna menelan ludah dengan susah payah. "Aku bukan tawananmu, Dante."

​"Oh, Sayang..." Dante menyeringai, sebuah ekspresi yang tampak lebih seperti ancaman daripada keramahan. "Sejak kau menandatangani dokumen itu, kau telah menyerahkan setiap inci tubuhmu kepadaku. Kau adalah milikku sampai aku mengatakan sebaliknya."

​Dante menarik diri, berdiri tegak kembali dengan aura otoritas yang tak tergoyahkan. Ia menatap Leonardo sekali lagi—sebuah tatapan yang menunjukkan sisi manusiawinya yang sangat tipis—sebelum berbalik menuju pintu.

​"Selesaikan tugasmu. Besok pagi, penjahit akan datang untuk mengukur pakaianmu. Aku tidak ingin melihatmu mengenakan kain rongsokan dari rumah sakit itu lagi di rumahku."

​Tanpa menunggu jawaban, Dante melangkah keluar, meninggalkan Aruna yang terpaku dengan jantung yang berdegup kencang. Leonardo sudah benar-benar terlelap sekarang, melepaskan hisapannya dengan tenang.

​Aruna merapikan kembali pakaiannya dengan tangan gemetar. Ia menatap ke arah jendela besar di kamar bayi yang memperlihatkan hutan pinus yang gelap dan pagar tinggi yang dialiri listrik. Di luar sana, dunianya yang lama sedang hancur. Di sini, di dalam sangkar emas ini, ia baru saja menyadari bahwa ia bukan hanya menyusui seorang bayi.

​Ia sedang memberi makan ego seorang monster, dan monster itu mulai menyukai kehadirannya.

​Aruna mendekap Leonardo lebih erat, mencari sedikit kehangatan di tengah dinginnya mansion Valerius. Ia tahu, babak baru hidupnya baru saja dimulai, dan di dunia ini, air mata tidak akan pernah cukup untuk membasuh darah yang mungkin akan tertumpah.

1
adrina salsabila alkhadafi
sungguh novel yang bagus sekali,aku menantikan bab selanjutnya,jangan lama2 ya up nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!