NovelToon NovelToon
Menyusui Bayi Mafia

Menyusui Bayi Mafia

Status: tamat
Genre:Kriminal dan Bidadari / Pernikahan rahasia / Ibu Pengganti / Mafia / Duda / Konflik etika / Tamat
Popularitas:16.8k
Nilai: 5
Nama Author: Adrina salsabila Alkhadafi

Di mansion mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas, Aruna terjebak dalam dilema mematikan:
Menyelamatkan ibunya dengan tetap menjadi bagian dari dunia berdarah ini.
Atau melarikan diri sebelum ia benar-benar jatuh cinta pada sang bayi—dan ayahnya yang iblis.
"Dia memintaku memberikan hidup bagi anaknya, tanpa menyadari bahwa akulah yang sedang sekarat dalam genggamannya."
kepoin di malam Minggu, bikin malam Minggu mu lebih bermakna dengan sosok aruna dan dante

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adrina salsabila Alkhadafi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Sangkar Emas dan Peraturan Sang Iblis

​Malam di mansion Valerius tidak pernah benar-benar sunyi. Di balik kemegahan dinding marmer dan pilar-pilar Gotik yang menjulang, ada ketegangan yang berdenyut seperti detak jantung yang tidak stabil. Aruna duduk di tepi tempat tidur berukuran king size di sebuah kamar yang lebih luas dari seluruh apartemen kecilnya dulu. Kamar ini beraroma melati dan kayu ek, namun bagi Aruna, ini tetaplah sebuah sel penjara.

​Setelah momen intens di kamar bayi tadi, Dante meninggalkannya begitu saja tanpa sepatah kata pun, hanya menyisakan tatapan yang seolah menguliti harga dirinya. Aruna menatap tangannya yang masih sedikit gemetar. Bayi itu—yang ia ketahui bernama Leonardo—telah tertidur lelap setelah mendapatkan apa yang ia butuhkan. Namun, Aruna justru merasa semakin terjaga.

​Pintu kamar terbuka tanpa ketukan. Marco masuk membawa sebuah map kulit berwarna hitam.

​"Anda belum tidur, Nona Aruna?" Marco bertanya, nada suaranya selalu datar, profesional, namun menyimpan otoritas yang tak terbantahkan.

​"Bagaimana aku bisa tidur di tempat seperti ini?" Aruna menyahut getir. Ia merapatkan piyama sutra pemberian pelayan rumah—yang entah sengaja atau tidak, memiliki potongan rendah di bagian dada. "Bagaimana kondisi ibuku?"

​"Operasi telah selesai sepuluh menit yang lalu. Dr. Klaus dari Berlin telah menangani pendarahannya. Kondisinya stabil, meski masih dalam pengaruh anestesi. Anda bisa melihat rekam medisnya besok pagi melalui tablet yang kami sediakan."

​Aruna mengembuskan napas lega yang panjang. Setidaknya, satu beban di pundaknya terangkat. Namun, ia tahu harga yang harus dibayar belum sepenuhnya lunas.

​"Sekarang," Marco meletakkan map itu di atas meja rias marmer, "kita harus membicarakan peraturan selama Anda tinggal di sini. Tuan Dante adalah pria yang sangat teliti. Dia tidak menyukai improvisasi atau pelanggaran."

​Aruna berdiri, melangkah mendekati map itu. Ia membukanya dan mendapati lembaran kertas dengan poin-poin yang tertulis tegas.

​"Poin pertama," Marco mulai membacakan, "Anda dilarang meninggalkan sayap timur mansion tanpa pengawalan. Anda dilarang memiliki alat komunikasi pribadi. Semua kebutuhan Anda akan disediakan oleh kepala pelayan."

​"Itu namanya tahanan kota," potong Aruna.

​"Itu namanya keamanan, Nona. Musuh Tuan Dante ada di setiap sudut kota ini. Keamanan Anda adalah keamanan Tuan Muda Leonardo." Marco melanjutkan tanpa terganggu. "Poin kedua, yang paling krusial. Jadwal pemberian nutrisi. Anda akan menyusui Leonardo setiap tiga jam sekali, atau kapan pun ia menangis. Tidak ada pengecualian, bahkan di tengah malam sekalipun."

​Aruna merasakan wajahnya memanas. "Lalu?"

​"Poin ketiga. Nutrisi Anda. Anda harus mengonsumsi menu yang sudah disusun oleh ahli gizi kami. Tidak ada kafein, tidak ada makanan olahan, tidak ada hal yang bisa merusak kualitas ASI Anda. Tubuh Anda sekarang adalah laboratorium organik bagi pewaris Valerius."

​Aruna mengepalkan tangannya. "Apakah aku punya hak untuk setidaknya berbicara dengan Tuan Dante tentang... batasan privasiku?"

​"Tuan Dante tidak suka dibantah, Nona. Tapi jika Anda merasa perlu, beliau menunggu Anda di ruang kerja. Sekarang."

​Ruang kerja Dante Valerius berada di ujung lorong yang gelap. Pintunya terbuat dari kayu mahoni berat dengan ukiran rumit. Saat Marco membukakannya, Aruna disambut oleh aroma cerutu mahal dan minuman keras yang kuat.

​Dante duduk di balik meja kerja raksasa. Lampu meja yang temaram memberikan bayangan tajam pada garis rahangnya yang kokoh. Pria itu sedang menyesap wiski, matanya terpaku pada layar monitor yang menunjukkan pergerakan saham atau mungkin rute pengiriman ilegal—Aruna tidak tahu pasti.

​"Duduk," perintah Dante tanpa menoleh.

​Aruna duduk di kursi kulit di hadapannya. Ia merasa sangat kecil di hadapan pria ini. Dante meletakkan gelas wiskinya dengan bunyi denting yang tajam. Ia menyandarkan tubuhnya, menatap Aruna dengan intensitas yang membuat gadis itu lupa cara bernapas.

​"Kau sudah membaca peraturannya?" tanya Dante.

​"Sudah. Tapi ada beberapa hal yang ingin aku negosiasikan," Aruna mencoba memberanikan diri.

​Dante sedikit memiringkan kepalanya, sebuah seringai dingin muncul. "Negosiasi? Kau berada di posisi di mana kau hanya bisa menerima, Aruna. Aku sudah membeli nyawa ibumu. Aku sudah membeli waktumu. Apa lagi yang ingin kau negosiasikan?"

​"Privasiku," suara Aruna bergetar namun tegas. "Tadi... di kamar bayi. Kau memperhatikanku. Aku tahu kau adalah ayahnya, tapi aku bukan objek tontonan. Aku ingin kau atau siapa pun tidak berada di ruangan yang sama saat aku sedang... melakukan tugas itu."

​Dante terdiam sejenak. Ia berdiri, melangkah perlahan mengitari meja kerjanya. Langkahnya seperti macan tutul yang sedang mengintai mangsa. Ia berhenti tepat di belakang Aruna, membungkuk hingga bibirnya berada beberapa inci dari telinga gadis itu.

​"Anakku adalah segalanya bagiku," bisik Dante, suaranya rendah dan serak. "Aku tidak percaya pada siapa pun di rumah ini. Bagaimana aku bisa tahu kau tidak meracuninya? Bagaimana aku bisa tahu kau tidak menyakitinya jika aku tidak mengawasimu?"

​Aruna bisa merasakan hawa panas dari tubuh Dante. "Aku bukan pembunuh! Aku mahasiswi, Dante. Aku punya hati."

​"Hati adalah beban di dunia ini, Aruna," Dante meletakkan tangannya di sandaran kursi Aruna, mengurung gadis itu. "Di rumah ini, kau hanya punya satu tugas. Dan aku akan mengawasimu sesukaku. Jika aku ingin melihat bagaimana kau memberikan kehidupan bagi putraku, aku akan melakukannya. Itu adalah hak milikku."

​Dante mengulurkan tangan, jemarinya yang kasar menyentuh tengkuk Aruna, membuat bulu kuduk gadis itu berdiri. "Kau sangat cantik, Aruna. Terlalu cantik untuk seorang gadis yang sedang berduka. Jangan buat aku harus mengingatkanmu dengan cara yang kasar bahwa di sini, suaraku adalah hukum."

​Aruna memejamkan mata, mencoba menahan air mata yang mendesak keluar. Ia merasa terjepit antara rasa benci yang luar biasa pada pria ini dan ketergantungan yang tidak terhindarkan.

​Tiba-tiba, suara tangisan bayi kembali terdengar lewat baby monitor di atas meja. Tangisan Leonardo yang memecah ketegangan di ruangan itu.

​Dante melepaskan cengkeraman auranya. "Dia bangun. Pergilah. Lakukan tugasmu."

​Aruna segera berdiri dan bergegas keluar ruangan tanpa menoleh lagi. Ia berlari kecil menuju kamar bayi, jantungnya berdegup kencang. Saat ia menggendong Leonardo yang kecil dan merah itu, rasa hangat menjalar di hatinya. Bayi ini tidak bersalah. Bayi ini tidak tahu bahwa ayahnya adalah seorang monster.

​Saat Aruna mulai menyusui Leonardo di kursi goyang yang nyaman, ia merasakan kehadiran seseorang di ambang pintu. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu. Aroma cerutu dan otoritas itu milik Dante.

​Dante berdiri di sana, di kegelapan pintu yang setengah terbuka. Ia tidak masuk, tapi ia juga tidak pergi. Ia hanya memperhatikan dalam diam. Aruna menunduk, menatap wajah polos Leonardo yang sedang menyusu dengan tenang. Di tengah kegelapan mansion ini, hanya bayi inilah satu-satunya cahaya yang tersisa bagi Aruna.

​Namun, ia juga tahu, setiap kali Leonardo merasa kenyang, ikatan antara dirinya dan Dante Valerius akan semakin kuat dan berbahaya. Ia bukan lagi sekadar ibu susu. Ia adalah jantung dari kediaman ini, dan Dante Valerius tidak akan pernah membiarkannya pergi dengan mudah.

1
Widia Aldiev
nggak buyar buyar Thor ceritone koyo Tante sepur wae 😭😭😭
putri lindung bulan: ya kk, akan ada kejutan di bab selanjutnya,baca aja dulu nanti kita akan di buat baper oleh mereka berdua
total 1 replies
Widia Aldiev
Dante kemampuan kau membawa Aruna dan Leonardo pergi pasti para iblis masih mengejar kalian
Widia Aldiev
sampai kapan perang ini akan terjadi Aruna bagaikan binatang buruan yg harus segera di tangkap dan di jadikan santapan liar para pemangsa 😭😭😭
Widia Aldiev
sebegitu mengerikannya dunia mafia kasihan Aruna dan Leonardo 😌😌
Widia Aldiev
mengandung bawang Bombay 😭😭😭😭 akhirnya mereka bersatu apakah Dante akan menikahi Aruna Thor agar mereka menjadi keluarga yg utuh,semoga setelah ini semua mereka hidup berbahagia tanpa ada embel" mafia 🤧😅
Widia Aldiev
WAWWWWW KEREEEEEN THOR 🔥🔥🔥❤️❤️❤️SUNGGUH IMJINASI YG SANGAT LUAR BIASA SEPERTI NONTON FILM LAGA DI BIOSKOP 🥳🥳🥳🥳
Widia Aldiev
dirimu pantas di sebut sebagai RATU VALERIUS Aruna karena kamu yg menyelamatkan Leonardo dan menjadi ibu baginya 🔥🔥🔥 tetap tegar dan terus berjuang demi masa depanmu dan Leonardo ❤️❤️❤️
Widia Aldiev
oooh Aruna semoga kalian selamat dan bisa hidup bebas juga bahagia 😌😌
Widia Aldiev
😤😤😤😤😪😪😪 kasihan si kecil Leonardo di usia yg masih bayi harus ikut berpetualang kedua orangtuanya
Widia Aldiev
semoga kamu g menyesal Aruna dengan semua yg kamu lakukan pada Dante 😌😌
Widia Aldiev
gmana g bimbbang si Aruna jika dia merasa hanya di manfaatkan saja...yg tegar Aruna dunia memang tak seindah yg di bayangkan..sekedar menghibur diri anggap saja simbiosis mutualisme dirimu dengan Dante 😌😌
Widia Aldiev
terlanjur basah ya sudah mandi sekali...itulah ungkapan yg menurutku pas buat Aruna hidup di dunia bawah yg penuh dengan kekerasan dan taktik tipu daya kalo g pinter" menguasai ya hanya akan berakhir jadi mangsa,lebih baik jadi pemangsa ya Aruna selamat menikmati kehidupan mu yg baru Aruna selamat datang di dunia tipu tipu 🔥🔥🔥
Widia Aldiev
yaaaaah adegan hot hot popnya menggantung di udara dan lenyap begitu saja padahal udah fokus banget ini bacanya berharap akan ada....😅🤣🤣🤣
Widia Aldiev
MANTAB teka teki mulai terjawab satu persatu dan Aruna makin tak bisa lepas dari Dante karena ia kunci dari semua drama mengerikan yg terjadi 🔥🔥🔥
Widia Aldiev
BODOH kamu Aruna cari mati namanya jika kau sayang ibumu menurutlah gadis kecil jngan buat Dante menjadi monster yg sesungguhnya lihatlah dia akan melahapmu mentah" 🔥🔥🔥
Widia Aldiev
serasa nonton film beauty and the best 😅😅Aruna hidup dengan monster seram tp menginginkannya sebagai pendamping dengan cara yg ekstrim...lanjut Thor ❤️❤️❤️
Widia Aldiev
lihatlah Aruna betapa Dante melindungi dirimu dari para musuhnya so jangan buat Dante naik pitam lagi ya...dapatkan hatinya dan nikmati semuanya yg ia berikan
Widia Aldiev
tak usah ambil pusing dengan kata" wanita yg tak bisa memiliki Dante seutuhnya,lakukan tugasmu Aruna nikmati jalani ingat sekejam" nya Dante dialah yg berjasa terhadap keselamatan ibumu Aruna jangan kau lupakan hal itu,anggap semua balas budimu terhadap Dante,urusan yg lain kamu tak perlu ikut campur,kalo bisa taklukkan Dante ingat seberbahayanya buaya pasti ada pawangnya 😄😄
Widia Aldiev
karyamu sungguh sangat luar biasa Thor ❤️❤️❤️q sampe ikut merasakan suasana di cerita ini merinding,takut, terintimidasi semua jadi satu, bagai jadi pemeran Aruna diri ini 🔥🔥😅😅🙏🙏
Widia Aldiev
semua ada konsekuensinya Aruna jika kamu patuh kamu akan selamat dan bisa melihat ibumu,kini setelah semua kebodohan yg kamu lakukan akhirnya kamu jadi tawanan sesungguhnya oleh Dante bahkan dirimu tak lagi leluasa menemui Leonardo yg menjadi pelita dalam hidupmu 😌😌😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!