Di fajar zaman purba, semesta mengenal satu nama yang sanggup membekukan waktu: Dewa Kehampaan.
Ia adalah pemuncak segala eksistensi, penguasa tunggal yang titahnya menjadi hukum alam dan langkah kakinya adalah nubuat bagi kehancuran.
Di bawah bayang-bayang jubahnya, jutaan pendekar bersujud dan raja-raja siluman gemetar dalam ketakutan.
Namun, takhta yang dibangun di atas keagungan itu runtuh bukan oleh serangan musuh, melainkan oleh racun pengkhianatan.
Di puncak kejayaannya, pedang yang menembus jantungnya adalah milik murid yang ia kasihi. Jiwanya dihancurkan oleh sahabat yang pernah berbagi napas di medan laga.
Dan benteng pertahanannya yang tak tertembus diserahkan kepada maut oleh wanita yang merupakan pelabuhan terakhir hatinya.
Dalam kepungan pengkhianat, Dewa Kehampaan jatuh, namun kehendaknya menolak untuk padam.
Jiwanya yang retak terlempar menembus celah kehampaan, melintasi ribuan tahun untuk kemudian terjaga dalam raga yang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Darah di Balik Tirai Senyap
Dua hari kemudian, serangan pertama datang dengan senyap, layaknya racun yang disuntikkan ke dalam pembuluh darah.
Satu demi satu cabang kecil Paviliun Senyap di wilayah perbatasan menghilang dari peta. Tidak ada pesan terakhir. Tidak ada saksi mata yang tersisa. Hanya sisa-sisa mayat yang dingin dan formasi pertahanan yang hancur berkeping-keping.
Di Lembah Batu Hitam, sebuah tim intel Paviliun Senyap ditemukan tewas tergantung di dinding jurang, mata mereka tertutup rapat, tubuhnya dipenuhi luka tusuk yang presisi.
Di Sungai Darah Mati, sebuah gudang logistik terbakar habis bersama puluhan penjaga yang masih terkunci di dalamnya. Berita demi berita tiba bagai hujan pisau yang menyayat ketenangan markas.
Setiap laporan membuat atmosfer markas semakin mencekam. Luo Yan berdiri di tengah ruang rapat, memandang peta yang kini dipenuhi titik merah yang terus bertambah.
“Mereka menguji pertahanan kita,” gumam Luo Yan, suaranya hampir tak terdengar. “Sekaligus memotong jalur napas kita sedikit demi sedikit. Mereka ingin kita mati karena kehabisan sumber daya dan ruang gerak sebelum serangan utama dimulai.”
Seorang tetua menghela napas berat, wajahnya kusut. “Kalau ini dibiarkan, dalam sebulan kita akan lumpuh total. Kita tidak akan punya lagi akses ke pil pemulih, kristal energi, bahkan untuk sekadar berkomunikasi.”
Luo Yan mengangguk pelan, jemarinya memutih saat mencengkeram pinggiran peta.
“Dan dalam dua bulan, Paviliun Senyap akan tinggal nama dalam catatan sejarah Dunia Bawah.”
Keheningan berat menyelimuti ruangan. Tak seorang pun berbicara atau menyangkal kenyataan pahit itu.
Malam itu, hujan turun tipis di sekitar markas, butiran cahaya kelabu yang dingin dan beracun, menyelimuti bebatuan dengan lapisan tipis yang berkilauan.
Langit tampak lebih rendah dari biasanya, seolah dunia sedang menekan mereka dari segala arah, memeras harapan yang tersisa.
Ye Chenxu duduk sendirian di atap batu markas, menatap kegelapan yang tak berujung. Di sampingnya, Roh Dewa Kehampaan muncul sebagai bayangan samar, sosok yang seolah ditenun dari asap hitam yang menari-nari.
“Kau mencium bau darah itu, bukan?” Roh itu berbisik, suaranya seperti gesekan tulang. “Itu adalah aroma ribuan jiwa yang akan segera berpindah ke alam ketiadaan.”
Ye Chenxu mengangguk perlahan. “Dan ini baru permulaan. Dunia Bawah akan berubah menjadi ladang pembantaian yang tak pernah dilihat sejarah sebelumnya.”
Roh itu terdiam sejenak, bayangannya berkedip-kedip di bawah cahaya bulan yang redup. “Kau masih bisa pergi. Kau punya kemampuan untuk melangkah ke dalam kehampaan, untuk melompati dimensi. Jika kau menghilang sekarang, Paviliun Senyap mungkin akan bertahan lebih lama karena mereka tidak punya alasan untuk menyerang secara membabi buta.”
Ye Chenxu tersenyum pahit, menatap tangannya sendiri yang kini seringkali gemetar karena kelelahan kultivasi. “Kalau aku lari, aku akan mengkhianati satu-satunya tempat yang pernah menerimaku tanpa meminta imbalan apa pun. Aku bukan lagi pengembara yang hanya peduli pada nafas sendiri.”
Ia bangkit perlahan. Jubah hitamnya berkibar tertiup angin dingin yang membawa bau kematian. Tatapannya kini mengeras, sebuah tekad yang jauh lebih kuat daripada fragmen hukum yang ia miliki.
“Kalau perang memang tak bisa dihindari ...” ucapnya dengan nada dingin yang menggetarkan udara. “Biarlah darah pertama mengalir dari tanganku. Jika mereka ingin perang, maka aku akan memberikan mereka perang yang akan disesali selamanya.”
***
Di kejauhan, di wilayah inti Paviliun Darah yang kini menjadi pusat mobilisasi pasukan, Cao Tianxu berdiri di atas menara merah yang menjulang tinggi, menatap tajam ke arah lokasi Paviliun Senyap berada.
Angin kencang menggerakkan rambut peraknya, namun ia tetap tak bergerak, seolah-olah dirinya adalah bagian dari bangunan itu sendiri.
Di bawah menaranya, hampir seribuan pasukan bergerak dengan formasi yang rapi, dentuman kaki mereka menggetarkan tanah Dunia Bawah.
Seorang tetua berdiri di belakangnya, menunduk dengan rasa hormat yang luar biasa. “Semua persiapan telah selesai, Tuan. Pasukan telah dikerahkan ke titik koordinat. Kita menunggu perintah Anda untuk meratakan mereka.”
Cao Tianxu mengangguk pelan, tidak melepaskan pandangannya dari kejauhan. “Bagus.”
Ia merasakan kepuasan yang dingin dan kejam saat membayangkan kekacauan yang akan ia picu. “Waktunya menutup satu bab lama yang telah mengganggu kita selama ini.”
Matanya menyipit, sorotnya dingin, tajam, dan kejam—sebuah tatapan yang tidak lagi menganggap kehidupan sebagai sesuatu yang bernilai. “Dan membuka jalan menuju era baru dengan lautan darah sebagai pondasinya.”
***
Malam turun perlahan di Lembah Awan Retak, namun tidak ada kedamaian yang menyertai kegelapan tersebut.
Kabut tipis menggantung rendah, menyelimuti bangunan-bangunan batu Paviliun Senyap yang tampak tenang dari luar, namun di baliknya, ketegangan berdenyut seperti urat nadi yang hampir pecah.
Sejak serangan awal Paviliun Darah beberapa hari lalu, seluruh Paviliun Senyap telah berubah menjadi benteng siaga penuh.
Lampu-lampu minyak menyala sepanjang lorong batu yang dingin, menari-nari tertiup angin malam yang membawa aroma amis darah yang belum sempat dibersihkan.
Para murid berjaga dalam formasi berlapis, tangan mereka mencengkeram gagang pedang begitu kuat hingga buku jarinya memutih.
Di aula utama, suasana jauh lebih suram. Para tetua berkumpul di sana, wajah-wajah mereka adalah cermin dari kekalahan dan keputusasaan.
Beberapa kursi di meja bundar itu kosong—sebuah pengingat bisu akan tetua-tetua yang telah gugur dalam serangan pertama.
Xuan Yao, Pemimpin Paviliun Senyap, duduk di singgasananya dengan tangan terkepal erat di atas sandaran kursi. Aura tekanannya menyelimuti ruangan, berat dan menyesakkan.
“Paviliun Darah tidak datang untuk menggertak,” suara Xuan Yao dingin, memecah keheningan yang menyiksa. “Mereka tidak tertarik pada negosiasi, juga tidak pada upeti. Mereka datang untuk pemusnahan total.”
Seorang tetua tua bernama Shen Ku, yang rambutnya telah memutih seluruhnya, bersuara lirih namun berat, “Metode mereka ini berbeda dari biasanya. Terlalu agresif, bahkan untuk ukuran yang haus darah. Mereka bergerak seolah-olah tidak takut akan konsekuensi dari perang total, seolah-olah mereka telah mendapat perlindungan dari sesuatu yang lebih besar dari sekadar Raja Wilayah.”
Seorang tetua lain menyahut dengan nada gusar, “Benar. Setiap serangan mereka terhitung, setiap langkahnya presisi. Ini bukan lagi tentang perebutan kekuasaan, ini adalah eksekusi terencana.”
Suasana di aula kembali menjadi hening, sebuah keheningan yang diisi oleh rasa takut akan apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Pintu aula kayu itu terbanting terbuka, dan seorang utusan masuk tergesa-gesa dengan langkah yang tidak stabil.
Tubuhnya berlumuran darah segar, pakaiannya robek di sana-sini, meninggalkan jejak merah di lantai aula yang bersih.
“Pemimpin!” teriak utusan itu, suaranya parau karena panik. “Gerbang Timur ... Gerbang Timur runtuh!”
Semangat
Habiskan
Ye Chenxu 💪💪
Tdk sabar menunggu kelanjutannya