Deskripsi
Bagi Keylara Putri—atau Lara—hidup seharusnya sederhana. Lulus SMA, dan kuliah di Jakarta . Namun semua berubah saat orang tuanya memutuskan pindah ke luar negeri demi ekspansi bisnis besar. Lara keras kepala menolak ikut. Pilihannya hanya satu: tinggal bersama Arka Pratama—pamannya yang dingin, tegas, dan terakhir ia temui saat masih SD. Pertemuan kembali itu membuat Lara dan Arka terlibat sebuah konflik yang melibatkan perasaan satu sama lain,apa yang akan terjadi jika mereka harus tinggal diatap yang sama???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sosok Paman
Sore itu, tepat setelah jam mata kuliah terakhir selesai, ponsel Lara bergetar di genggamannya.
Nama Arka muncul di layar.
Aku sudah di parkiran kampus.
Lara terdiam sepersekian detik sebelum matanya melebar. Ini… pertama kalinya Arka menjemputnya langsung di kampus.
Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat tanpa alasan yang jelas. Dengan senyum yang bahkan tidak ia sadari, Lara segera membalas.
Sebentar lagi ya, Paman.
Ia merapikan tasnya, lalu tiba-tiba teringat pada satu hal lain.
Axel.
Tadi siang, Axel sempat dengan santai menawarkan pulang bersama seperti biasanya. Lara pun segera membuka chat mereka dan mengetik cepat.
Axel, hari ini aku pulang dijemput pamanku ya.
Balasan dari Axel datang tak lama kemudian.
Oh, oke. Hati-hati.
Hanya itu. Singkat dan sederhana.
Namun Axel menatap layar ponselnya sedikit lebih lama dari yang seharusnya. Ada rasa aneh yang menggelitik, tapi ia memilih mengabaikannya. Dari cerita Lara selama ini, pamannya terdengar seperti sosok dewasa—bahkan mungkin seumuran ayahnya sendiri.
Paman yang protektif. Paman yang menyayangi keponakannya seperti anak sendiri.
Wajar sih, pikir Axel.
Mungkin Lara memang punya figur ayah dari pamannya.
Sementara itu, Lara sudah melangkah menuju parkiran. Langkahnya sedikit lebih cepat dari biasanya, entah karena penasaran atau karena perasaan kecil yang menggelitik di dadanya.
Dan di sanalah Arka.
Bersandar di sisi mobilnya, jas kerja sudah dilepas, kemeja digulung sampai siku. Tatapannya langsung menemukan Lara begitu ia muncul di antara kerumunan mahasiswa.
Untuk sesaat, waktu seperti melambat.
Beberapa pasang mata mulai melirik—tidak sedikit yang berbisik.
Bukan hal biasa melihat direktur muda berdiri santai di parkiran kampus, menunggu seorang mahasiswi dengan wajah seterang itu.
Lara menghentikan langkahnya di depan Arka.
“Paman…” sapanya pelan, sedikit kikuk.
Arka menatapnya sejenak, lalu berkata dengan nada yang dibuat biasa saja,
“Lama ya.”
Padahal ia sendiri sudah datang lebih awal dari jadwal.
Lara tersenyum kecil. “Aku kira Paman bercanda.”
Arka membuka pintu mobil untuknya—sebuah gestur sederhana yang membuat Lara kembali terdiam sejenak sebelum masuk.
Sepanjang perjalanan, suasana terasa… berbeda.
Tidak terasa canggung. Hanya tenang, hangat, dan entah kenapa membuat Lara merasa aman.
Arka melirik sekilas ke arah Lara.
Ia memperhatikan hal-hal kecil yang dulu luput dari perhatiannya—cara Lara memainkan ujung tasnya, cara ia memandang keluar jendela sambil tersenyum samar.
Keheningan di dalam mobil akhirnya pecah ketika Arka menarik napas pelan, seolah sedang menimbang kata-kata.
“Kamu mau mampir ke mana?” tanyanya akhirnya. “Atau ada yang ingin kamu beli?”
Lara menggeleng pelan tanpa menoleh. “Nggak. Lagi nggak pengin apa-apa.”
Jawaban itu justru membuat Arka sedikit gusar. Bukan kesal—lebih ke perasaan gagal membaca Lara. Tangannya mengencang di setir, lalu ia menghela napas panjang sebelum berkata dengan suara lebih pelan,
“Sebenarnya… hari ini aku harus ke luar kota.”
Lara menoleh cepat.
“Aku ada penerbangan malam ini,” lanjut Arka. “Masih ada waktu sebelum itu. Kupikir… mungkin kamu mau belanja, atau sekadar jalan.”
Namun Lara sama sekali tidak menanggapi soal belanja.
“Paman pergi berapa lama?”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, tanpa dipikirkan. Nadanya lirih, nyaris seperti bisikan—lebih mirip seorang anak kecil yang takut rumahnya kembali sepi.
Arka terdiam.
Ia melirik Lara dari sudut mata dan melihat sesuatu yang membuat dadanya mengencang. Wajah Lara tetap tenang, tapi sorot matanya… rapuh. Seolah ia sedang bersiap ditinggalkan, lagi.
Apa Lara sudah setrauma ini? Atau aku yang tanpa sadar selalu datang dan pergi seenaknya?
“Aku belum tahu pasti,” jawab Arka akhirnya jujur. “Mungkin beberapa hari.”
Lara mengangguk kecil. Tidak protes. Tidak mengeluh. Tapi justru itu yang membuat Arka merasa lebih bersalah.
“Aku bakal usahain cepat pulang,” tambahnya. “Begitu urusanku selesai.”
Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan, kali ini dengan nada khawatir,
“Kamu sendirian di rumah… nggak apa-apa?”
Lara tersenyum tipis. “Aku baik-baik aja.”
Namun Arka tidak sepenuhnya percaya.
“Kalau mau,” katanya lagi, “kamu bisa ajak teman wanitamu menginap. Biar nggak kesepian.”
Lara menggeleng. “Nggak perlu, Paman. Aku bisa sendiri kok.”
Jawaban itu terdengar dewasa, tapi justru membuat Arka semakin sadar—Lara terlalu sering dipaksa untuk menjadi kuat.
Mobil melambat ketika Arka memutar setir menuju swalayan.
“Kalau begitu,” katanya mantap, “kita beli stok makanan saja. Biar aku tenang ninggalin kamu.”
Kali ini Lara tidak menolak. Ia hanya mengangguk pelan.
Mereka masuk ke dalam swalayan dengan troli kecil di depan. Lampu putih terang memantul di lantai, musik pelan mengalun samar—suasana yang entah kenapa terasa terlalu normal untuk hubungan mereka yang sebenarnya tidak sesederhana itu.
Arka mendorong troli, sementara Lara berjalan di sampingnya.
Dan di situlah perbedaannya terasa. Lara tidak lagi merasa canggung.
Ia meraih beberapa barang dari rak dengan santai, bahkan tanpa menunggu Arka bertanya. Sesekali ia mencondongkan badan ke troli, membaca label dengan ekspresi serius, lalu menghela napas kecil.
“Paman tahu nggak,” katanya tiba-tiba, “beras ini sering diskon tapi kualitasnya biasa aja.”
Arka menoleh, agak terkejut… lalu tersenyum. “Kok kamu tahu?"
Lara mengangguk bangga. “Aku kan sering belanja sendiri dulu.”
Arka mengangguk pelan, ada rasa bersalah yang kembali menyelinap, tapi Lara sudah keburu melangkah ke rak berikutnya.
Ia berhenti di depan deretan mi instan dan menoleh ke Arka. “Ini boleh, kan? Yang pedas.”
Arka mengernyit. “Memangnya Kamu kuat?”
“Lah, siapa bilang aku lemah?” Lara mendengus kecil sambil memasukkan dua bungkus ke troli. “Yang ini buat darurat.”
“Darurat lapar tengah malam?” Arka terkekeh.
“Darurat kangen,” jawab Lara asal—lalu terdiam sepersekian detik setelah menyadari ucapannya sendiri.
Arka ikut terdiam.
Namun Lara justru tertawa kecil, seolah ingin menutupinya. “Maksudnya… kangen makan.”
Arka tidak membalas. Ia hanya tersenyum tipis, mendorong troli kembali berjalan.
Di lorong susu dan makanan beku, Lara berdiri lama di depan freezer, lalu menunjuk salah satu rak.
“Es krim ini masih ada?” tanyanya sambil melirik Arka.
“Masih,” jawab Rafael cepat.
Lara tersenyum lebar. “Berarti boleh nambah satu.”
Arka mengangguk tanpa ragu.
Dari kejauhan, siapa pun yang melihat mereka pasti akan salah paham. Cara Lara berceloteh ringan. Cara Arka tanpa sadar menyesuaikan langkahnya dengan Lara. Cara mereka berdiri berdampingan, bahu nyaris bersentuhan, dan tanpa jarak.
Mereka terlihat seperti pasangan pengantin baru yang sedang belanja kebutuhan rumah tangga—hangat, santai, dan… terlalu serasi.
Dan mungkin itulah sebabnya, Lara merasa nyaman. untuk sesaat, ia lupa bahwa Arka akan pergi.
Balik ke Axel.
Ia masih berada di kampus, duduk santai di bangku panjang dekat taman fakultas bersama beberapa teman sejurusan. Tawa-tawa kecil terdengar, obrolan ringan tentang tugas dan dosen yang suka mendadak berubah mood jadi pengisi waktu. Axel ikut tersenyum, ikut nimbrung… tapi tidak sepenuhnya hadir.
Ada satu yang kurang hari itu. Kurang karena tidak melihat senyum Lara.
Kurang karena hari ini, pusat energinya pulang ke arah yang bukan dirinya.
Axel menyandarkan punggung, memainkan botol minum di tangannya, berusaha terlihat biasa saja.
Di sela percakapan, Dimas tiba-tiba menyela sambil meliriknya.
“Tumben hari ini nggak pulang bareng Lara?”
Axel mengangkat bahu santai. “Tadinya mau. Tapi pamannya udah jemput duluan.”
“Oh,” sahut Dimas singkat, tidak curiga apa pun. “Yaudah.”
Axel mengangguk kecil. Baginya, itu juga terdengar masuk akal.
Namun sebelum obrolan kembali mengalir, salah satu teman lain—yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya—ikut menyela.
“Eh, ngomong-ngomong soal Lara…”
Axel spontan menoleh.
“Gue tadi lewat parkiran. Lara emang dijemput, sih,” lanjutnya pelan, seolah sedang menceritakan hal sepele. “Tapi bukan sama bapak-bapak yang seumuran ayah lo.”
Tangan Axel berhenti bergerak.
“Maksud lo?” tanyanya, nadanya tetap datar, tapi alisnya sedikit mengerut.
Temannya terkekeh kecil. “Ya… gimana ya. Yang jemput tuh pria dewasa, tapi kelihatannya masih muda. Tinggi, rapi, mirip model. Auranya kayak CEO gitu. Jauh dari tipe om-om.”
Hening.
Axel tidak langsung merespons.
Di kepalanya, kata paman tiba-tiba kehilangan bentuk yang selama ini ia bayangkan.Yang seumuran ayah Lara. Atau sosok yang lebih tua.
Namun gambaran yang barusan masuk… tidak cocok dengan semua itu.
“Ah, mungkin pamannya awet muda,” celetuk Dimas, mencoba mencairkan suasana.
Axel terkekeh kecil, dipaksakan. “Mungkin.” Tapi setelah itu, ia terdiam.
Tatapannya kosong, menatap lapangan kampus tanpa benar-benar melihat. Ada sesuatu yang mengganjal—bukan rasa cemburu yang jelas, bukan pula kecurigaan yang berani ia akui.
Hanya perasaan aneh. Perasaan bahwa…sada bagian dari hidup Lara yang tidak ia ketahui.
Dan bagian itu mungkin tidak sesederhana yang ia kira.