NovelToon NovelToon
Assalamualaikum, Pak KUA

Assalamualaikum, Pak KUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Pengantin Pengganti / Romansa pedesaan / Nikahmuda
Popularitas:332k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Di hari pernikahannya, Andi Alesha Azahra berusia 25 tahun, dighosting oleh calon suaminya, Reza, yang tidak muncul dan memilih menikahi sahabat Zahra, Andini, karena hamil dan alasan mereka beda suku.

Dipermalukan di depan para tamu, Zahra hampir runtuh, hingga ayahnya mengambil keputusan berani yaitu meminta Althaf berusia 29 tahun, petugas KUA yang menjadi penghulu hari itu, untuk menggantikan mempelai pria demi menjaga kehormatan keluarga.

Althaf yang awalnya ragu akhirnya menerima, karena pemuda itu juga memiliki hutang budi pada keluarga Zahra.

Bagaimanakah, kisah Zahra dan Althaf? Yuk kita simak. Yang gak suka silahkan skip!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Salah Dengar?

Di acara puncak panen raya, Zahra ikut menumbuk alu bersama Karel dan para ibu-ibu lainnya. Senyumnya mengembang lebar, tawanya lepas, gerakannya luwes mengikuti irama lesung yang berdentum beraturan.

Tanpa Zahra sadari, pesonanya seketika mencuri perhatian banyak orang, termasuk Erlangga yang berdiri tak jauh dari sana. Beberapa warga bahkan mulai mengeluarkan ponsel mereka, berniat merekam momen itu.

Namun baru saja beberapa kamera menyala, seseorang tiba-tiba menarik tangan Zahra dari kerumunan.

Zahra terkejut. Ia menoleh cepat, lalu langsung cemberut begitu tahu siapa yang menariknya.

“Ih, aku lagi mau coba tahu, main lesung itu. Malah ditarik-tarik kayak ayam jago.”

Orang itu adalah Althaf. Ia menatap Zahra sambil memegang lengannya sendiri, lalu berkata dengan suara dibuat-buat, “Lenganku tiba-tiba nyeri bekas luka itu.”

Ia bahkan berpura-pura meringis kecil.

Melihat itu, kemarahan Zahra langsung surut. Wajahnya berubah cemas. “Ya ampun. Benarkah?” ujarnya panik. “Sini-sini, ayo duduk saja.”

Althaf tersenyum tipis dan menuruti ajakan Zahra. Mereka duduk di kursi plastik yang tersedia.

“Masih nyeri ya?” tanya Zahra lagi, nadanya lembut. “Padahal udah beberapa hari. Kok masih sakit ya?”

“Aku juga gak tahu kenapa,” jawab Althaf santai. “Makanya aku pulang.”

Zahra langsung merasa bersalah. Sementara itu, beberapa pria yang sejak tadi memperhatikan Zahra tampak kecewa, dan para gadis tak kalah kesalnya melihat kemesraan keduanya.

“Kamu udah makan belum?” tanya Zahra.

Althaf menggeleng.

“Ya udah,” kata Zahra cepat. “Aku ambilkan makanan dulu ya. Kamu di sini aja.”

Althaf mengangguk.

Zahra berjalan ke arah meja prasmanan. Ia mengambil nasi secukupnya, memilih beberapa lauk, lalu mengambil segelas air minum. Dengan senyum kecil, ia berbalik menuju tempat Althaf duduk.

Namun langkahnya melambat. Senyum Zahra memudar ketika melihat Anida sedang duduk di dekat Althaf. Keduanya tampak berbincang ringan. Entah kenapa, dada Zahra langsung bergemuruh.

Ia mempercepat langkahnya.

Begitu melihat Zahra datang, Anida langsung berdiri. Ia tersenyum manis ke arah Zahra, lalu menoleh pada Althaf.

“Janganki lupa datang nah,” katanya lembut.

Setelah itu, Anida langsung pergi.

Zahra duduk di samping Althaf dengan wajah masam. “Si Anida ngapain ke sini?”

“Bukan apa-apa kok,” jawab Althaf tenang.

Zahra hanya mengangguk. Meski berusaha terlihat biasa saja, rasa kesal itu tetap tertinggal di dadanya.

*

Acara panen raya telah selesai. Warga mulai berangsur pulang, tenda-tenda terlihat lengang, hanya tersisa beberapa orang yang masih berbincang. Zahra dan Althaf berjalan berdampingan menyusuri jalan kampung.

Namun, Zahra memilih diam. Wajahnya datar, matanya menatap lurus ke depan. Sementara Althaf sendiri merasa canggung. Ia ingin bicara, tapi lidahnya terasa kelu. Ada rasa malu dan serba salah yang mengganjal dadanya.

Tiba-tiba, suasana hening itu pecah oleh teriakan seseorang.

“Aaaaaaaa, uangku hilang semua mi! Huhuhu!”

Teriakan itu disusul tangisan keras. Tak lama kemudian, suara seorang pria terdengar lantang penuh amarah. Itu suara Pak Bahri.

“Kau memang perempuan bodoh, perempuan cilaka! Gara-gara kau mi, hilang semua uang ee! Apami itu? Gara-gara tergiur ko hadiah!”

Tangisan Bu Raodah kembali menggema, suaranya parau dan putus asa. “Apa ku taukan bilang penipu itu … karena seperti memang suaranya Rafi Ahmad,” katanya sambil menangis keras, masih membela diri.

Pak Bahri kembali membentak tanpa ampun. “Beleng ko memang kau jadi perempuan! Ndag becus sekali!”

Zahra dan Althaf saling pandang, sama-sama terkejut. Beberapa tetangga sudah berkumpul di depan rumah batu dua lantai milik Bu Raodah. Raut wajah mereka penuh rasa ingin tahu.

Mak Mia ikut mendekat, diikuti Zahra dan Lisa. Althaf hanya mengikuti langkah istrinya dari belakang.

Zahra langsung bertanya pelan, “Ada apa Mak? Itu Bu Saodah kenapa?”

Mak Mia menggeleng kecil. “Bukan Saodah, Zahra. Tapi Raodah.”

Zahra mengangguk asal, lalu berujar, “Iya itu. Kenapa sih nenek lampir itu teriak-teriak terus nangis?”

Mak Mia hanya menghela napas.

Tiba-tiba Bu Siti menyela dengan nada menggebu-gebu, “Itu ee, Bu Raodah kasihan sekali. Kena tipu ii. Uangnya di rekening sebanyak tiga puluh juta habis semua.”

Mata Mak Mia, Zahra, dan Lisa langsung membulat. Mak Mia dan Lisa refleks menutup mulut.

“Innalillah,” ucap mereka hampir bersamaan.

Zahra menoleh penasaran. “Kok bisa Buu?”

Bu Siti kembali bercerita, suaranya penuh semangat gosip. “Kan tadi siang, Bu Raodah ada yang telfon atas nama Rafi Ahmad. Dapat katanya hadiah mobil mewah, tapi harus isi data dulu. Setelah isi data, habis semua uang di rekeningnya. Pasti passobis itu kenna ii toh.”

Zahra menggeleng pelan, tak habis pikir.

Baru saja ia ingin berkomentar, tiba-tiba Pak Bahri keluar dari rumah dengan wajah merah padam.

“Pulang meki semua! Ini bukan tontonan!”

Althaf sigap menarik tangan Zahra, mengajaknya menjauh dari kerumunan.

Di perjalanan pulang, Zahra masih menggeleng-gelengkan kepala. “Aku masih gak habis pikir. Jaman sekarang masih ada aja yang kena scam.”

Lisa langsung menimpali, “Sudah banyak mi memang kak. Passobis semua kelakuannya itu.”

Zahra menoleh. “Passobis apa?”

“Itu kak,” jawab Lisa, “penipuan lewat online begitu.”

Zahra mengangguk pelan, baru memahami istilah itu.

Baru saja ia hendak menimpali lagi, Althaf berkata dengan nada tenang, “Udah. Gak usah ghibahin orang. Cukup doakan agar diberikan ketabahan.”

Zahra cemberut. Ia mendekat ke Lisa lalu berbisik, “Kakakmu gak asik banget. Sedingin kulkas sepuluh pintu.”

Lisa terkekeh kecil, menahan tawa sambil melirik ke arah Althaf yang berjalan di depan mereka. Althaf hanya tersenyum kecil mendengarnya.

*

*

Malam itu, suasana rumah sudah tenang. Lampu kamar menyala temaram, hanya cukup menerangi ranjang kayu tempat Zahra berbaring dan kasur tipis di lantai yang sedang dirapikan Althaf.

Zahra memandangi langit-langit sebentar sebelum akhirnya berceletuk santai, “Tadi si Anida ngajakin apa?”

Althaf yang baru saja memejamkan mata langsung membukanya kembali. Ia menoleh sedikit ke arah Zahra, lalu menjawab dengan nada datar, “Itu acara reunian. Anida datang kasih undangan.”

Zahra mengangguk pelan, seolah mencerna jawabannya.

Althaf kembali berkata, “Kenapa? Kamu mau ikut?”

Zahra menggeser tubuhnya sedikit, lalu menjawab, “Memangnya boleh ikut?”

“Boleh,” jawab Althaf singkat.

Zahra tersenyum kecil. “Ya udah. Kalau kamu maksa, aku ikut deh. Aku juga kasihan kalau kamu sendiri.”

Althaf tersenyum tipis, lalu berkata, “Aku memaksa? Perasaan aku gak maksa.”

Zahra langsung melotot tajam ke arahnya. “Kamu—”

Althaf terkekeh kecil. “Iya-iya, aku yang maksa.”

Zahra mendengus, lalu melanjutkan dengan nada lebih santai, “Kok kamu akhir-akhir ini sering ketawa deh. Tapi bagus deh. Soalnya kamu tambah tampan.”

Begitu menyadari ucapannya sendiri, Zahra langsung menutup mulut. Wajahnya memanas karena keceplosan.

Althaf menaikkan salah satu alisnya. “Aku apa tadi?”

Zahra buru-buru memutar tubuhnya, membelakangi Althaf. “Kamu salah dengar. Aku gak pernah bilang tampan kok.”

Althaf hanya terkekeh kecil sambil menggelengkan kepalanya, lalu kembali berbaring. Malam pun kembali sunyi, dengan senyum tipis yang masih tertinggal di wajahnya.

1
Astrid Fera
ceept hempaskn ulet bulunya kak jngan lama",,
Sribundanya Gifran
lanjut
Ray
🤣🤣🤣🤣🤣 Pohonnya ya jelas sama Mak
Ray
Jadi... mau ratusan Zahra.... gitu ...🤣🤣🤣🤣
Ray
anggur ya?
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Yulianti Azis: Bukan anggur kak 🤣🤣.
total 1 replies
Ray
Anak tercintah pa 🤣🤣🤣
Ray
Jatel ( Janda Gatel ) 🤣🤣🤣🤣
mana syar'i pulak lagi
Ray
kufikir pedagang pete lewat 🤣🤣🤣
Rasidah Ny Kamri
ceritanya TDK membosankan 🥰🥰
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Yulianti Azis: terima kasih kak 🫶🫶😍😍
total 1 replies
Ray
saya fikir dikampung gak ada gosip, sebab sibuk bertani menanam jagung dan mencangkul tanah, mana sempat dan badanpun sudah lelah,,,,,, tak seindah dibayangkan 🤭
✍️⃞⃟𝑹𝑨 Yulianti Azis: Justru di kampung itu, gosipnya lebih panas kak 🤣🤣. Cctv 24 jam 😭😭
total 1 replies
V
HAH gak sadar diri banget ibu sama anak gatel nya gak ketulungan kemasukan arwah apaan sampe gatel banget 🤪🤪🤪
vj'z tri
altaf macem macem sama Zahra yakin langsung kembali ke asal mula 🤧🤧🤧🤧🤧 karna semua milik Zahra 🤧🤧🤧
vj'z tri
yang nama nya copy an ya ke lihatan jelas beda jauh sama yang asli 🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
alarm siaga mulai menyala ya 🫣🫣
vj'z tri
ngajak tawuran pagi pagi ni horang 😡😡😡
Yul Kin
huhu ulat bulu muncul, anak sama maknya sama² edan
lin
althaf gk mngkin trgoda sm sianida yg karakter nya kyk ani2 klo smpe berani jebak siap2 dibales sm zahra gk tau aj zahra cerdik
Dini Anggraini
Mimpi kamu kejauhan nani dan anida bila althaf selingkuh denganmu yang ada papa Sultan tarik semua fasilitasnya termasuk perusahaannya yang di kelola althaf dan rumah putih itu di jual zahra dan kedua anak kembarnya di ajak balik jakarta karena yang kaya raya zahra dan keluarganya bukan althaf. 🙏🙏😍😍😍
mamaqe
wooii makcik kl pun dp altaf emang dapat hartanya..yg ada altaf ditendang sm papa sultan sm zahra🤣🤣..bodok dipelihara
rose🦋
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!