"Ketika kebenaran dibungkam paksa, ketika keadilan dipaksa untuk diam, beberapa orang terpaksa beraksi. "
Cinta rahasia Xiao Fei dengan Yu, aktor papan atas yang dipuja, berakhir dengan tragis. Publik meratapi "kematian karena overdosis" yang menyayat hati, namun duka Fei berubah menjadi teror murni saat sebuah kiriman video anonim tiba. Di dalamnya, Yu bukan hanya dibunuh—ia disiksa, dilecehkan secara keji, dan dikorbankan dalam sebuah ritual mengerikan oleh sekelompok individu bertopeng. Kematian Yu bukanlah akhir, melainkan awal dari neraka yang nyata.
Didorong oleh cinta dan dahaga akan kebenaran, Fei harus meninggalkan identitasnya yang aman dan menyusup ke dalam dunia glamor industri hiburan yang beracun. Akhirnya Xiao Fei dengan beberapa orang yang bertemu secara tak sengaja mengambil peran utama sebagai penegak keadilan. Mampukah aksi mereka menunjukkan keadilan yang kini berubah menjadi Keheningan Keadilan. Silence of Justice akan menuntun kita pada aksi mereka. Berhasilkah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Black _Pen2024, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Gudang Kematian
Jari-jari Fei menyentuh tiga lembar kertas yang ia curi dari Rumah Sakit Saint Glory. Berkas-berkas itu, meski tampak tidak signifikan di mata orang lain, adalah retakan pertama dalam dinding kebohongan yang dibangun di sekitar kematian Yu. Catatan perawat yang hampa, inventaris barang pribadi yang mencurigakan, dan paraf aneh pada formulir persetujuan kremasi—semuanya menunjuk pada satu kesimpulan mengerikan: Saint Glory hanyalah panggung sandiwara. Yu tidak pernah meninggal di sana. Atau lebih tepatnya, tubuhnya tidak pernah dirawat di sana.
Fei membuka kembali buku catatan kecil Yu yang ia temukan di apartemen rahasia mereka. Di dalamnya, Yu pernah menuliskan beberapa alamat samar, kode-kode, dan daftar nama yang tidak jelas. Salah satu alamat itu, yang dicoret dengan tergesa-gesa, tertera di bawah judul "Krematorium Pribadi - Darurat". Alamat itu tidak mengarah ke Saint Glory, melainkan ke sebuah kawasan industri di pinggir kota, yang tampak tidak cocok untuk sebuah krematorium.
"Ini dia," bisik Fei, matanya menyipit. "Krematorium fiktif untuk publik, dan krematorium asli untuk mereka."
Ia menyandingkan alamat itu dengan analisis video penyiksaan Yu. Suara sirene yang jauh, tetesan air, partikel debu yang samar—semuanya mengarah pada lingkungan industri yang lembap. Kawasan yang tertera di alamat itu adalah kompleks gudang-gudang terbengkalai, tempat yang sempurna untuk kejahatan yang tidak ingin ditemukan.
Fei menghabiskan sisa hari itu untuk mempersiapkan diri. Ia meneliti peta kawasan industri itu secara daring, mencari tata letak gudang, jalan masuk dan keluar, serta kemungkinan titik pengawasan. Ia membeli peralatan penyusupan dasar: senter kepala dengan filter cahaya merah, sarung tangan hitam tipis, pisau lipat kecil, sebuah tas punggung kecil yang tidak mencolok, dan yang terpenting, sebuah kit forensik mini yang ia pesan secara rahasia. Kit itu berisi lampu UV, kapas steril, wadah sampel kecil, dan beberapa cairan penguji kimia untuk darah dan residu. Ia juga mengenakan pakaian serba gelap yang memungkinkan gerak bebas.
Ketika malam tiba, langit bertabur bintang namun terasa dingin dan hampa, sama seperti hatinya. Fei mengendarai mobil sewaan yang tidak mencolok menuju pinggiran kota. Setiap tikungan, setiap lampu jalan yang dilewatinya, terasa seperti langkah menuju jurang. Rasa takut yang nyata mulai merayap di benaknya. Ini bukan lagi tentang menganalisis video di balik layar. Ini adalah tentang melangkah ke tempat di mana kekasihnya mengalami penderitaan yang tak terbayangkan.
Kompleks gudang itu menjulang di hadapannya seperti barisan monster raksasa yang tertidur. Gelap, sunyi, dan diselimuti bau karat, debu, serta kelembapan. Lampu jalan hanya sesekali menyala, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari-nari di antara bangunan-bangunan kosong. Alamat yang ia dapatkan mengarah ke sebuah gudang yang tampak lebih besar dan lebih terisolasi dari yang lain, dengan pagar kawat berduri yang rusak di beberapa bagian.
Fei memarkir mobilnya agak jauh, di balik rimbunnya semak-semak, memastikan tidak ada yang melihatnya. Ia mematikan mesin, lalu duduk sejenak, menatap gudang itu. Jantungnya berdebar kencang, memompa adrenalin ke seluruh tubuhnya. Ini adalah tempatnya. Tempat di mana Yu menjerit, tempat di mana hidupnya direnggut dengan kejam.
Ia mengambil napas dalam-dalam, mengusir rasa takut yang mengancam untuk melumpuhkannya. "Demi kamu, Yu," bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar.
Dengan hati-hati, Fei keluar dari mobil. Ia memeriksa sekeliling, memastikan tidak ada tanda-tanda pengawasan atau kehadiran orang lain. Malam itu benar-benar sepi, hanya ada suara jangkrik dan embusan angin yang membawa aroma laut dari kejauhan.
Ia berjalan di sepanjang pagar, mencari celah. Akhirnya, ia menemukan bagian yang kawatnya sudah terlepas, cukup untuknya menyelinap masuk. Dia merangkak melalui celah itu, merasakan kawat-kawat tajam menggores pakaiannya. Setelah berhasil masuk, ia berdiri, membersihkan debu dari celananya, dan melangkah menuju pintu utama gudang.
Pintu gudang itu terbuat dari baja tebal, digembok dengan rantai berkarat. Ini bukan pintu yang bisa dibuka dengan mudah. Fei memeriksa sekeliling, mencari pintu samping atau jendela yang bisa ia gunakan. Ia berjalan mengelilingi bangunan, menyalakan senter kepalanya dengan filter merah, agar cahayanya tidak terlalu mencolok.
Akhirnya, di sisi belakang gudang, ia menemukan sebuah pintu servis kecil yang tampak lebih tua dan kurang terawat. Kunci gemboknya tampak rapuh. Fei mengeluarkan pisau lipatnya, mencoba menusuk lubang kunci. Ini adalah trik yang Yu pernah ajarkan padanya, sebuah keterampilan kecil yang mungkin berguna. Setelah beberapa kali mencoba, dengan sedikit dorongan dan keberuntungan, gembok itu berderak dan terbuka.
Fei menarik napas lega. Ia membuka pintu perlahan, menciptakan celah kecil. Bau apek, lembap, dan bau logam berkarat menyeruak keluar. Aroma yang sama dengan yang ia bayangkan dari video.
Ia menyelinap masuk, menutup pintu di belakangnya dengan hati-hati. Kegelapan di dalam gudang itu mutlak, pekat, dan mencekik. Senter merahnya hanya mampu menembus sebagian kecil kegelapan itu, menciptakan lingkaran cahaya yang menari-nari di antara bayangan.
"Yu..." panggilnya pelan, suaranya bergetar. Tidak ada jawaban, hanya gema yang menghilang di antara pilar-pilar beton yang menjulang tinggi.
Fei mulai berjalan perlahan, melangkah di antara tumpukan kotak-kotak kosong dan peralatan industri yang sudah usang. Debu tebal menyelimuti segalanya, dan setiap langkahnya menciptakan suara renyah yang terasa sangat keras dalam keheningan itu. Ia mencoba mengingat detail dari video: dinding beton kasar, noda di lantai, simbol di dinding.
Ia menemukan sebuah area di tengah gudang yang tampak lebih bersih dari yang lain, seolah-olah baru saja dibersihkan. Lantai beton di sana sedikit lebih gelap, dan ada jejak-jejak samar yang terlihat seperti goresan. Ini adalah tempatnya.
Fei mengeluarkan kit forensiknya. Ia menyalakan lampu UV. Dalam cahaya keunguan itu, jejak-jejak yang tidak terlihat oleh mata telanjang mulai menampakkan diri. Ada noda-noda kecil, seperti percikan, yang bersinar redup di lantai. Bukan hanya noda biasa, tapi noda yang memiliki karakteristik darah yang sudah dibersihkan. Dan di beberapa area, ada residu kimia yang juga bersinar—residu pembersih yang kuat, mungkin untuk menghilangkan noda darah dan bukti lainnya.
Jantungnya kembali berdegup kencang. Ini adalah bukti fisik yang ia cari.
Ia juga melihat simbol burung gagak dengan mata tunggal yang terukir samar di salah satu pilar beton. Simbol itu kini tampak lebih nyata, lebih mengancam, seolah-olah ia sedang menatap langsung ke dalam inti kegelapan sekte itu.
Fei mendekat ke pilar, mengusap ukiran itu dengan jarinya. Debu tebal menempel, namun ia bisa merasakan garis-garis kasar ukiran itu. Di dekatnya, ia melihat beberapa goresan dalam di beton, seolah-olah sesuatu yang berat telah diseret. Mungkin tubuh Yu.
Rasa mual kembali menyerang. Ia membayangkan Yu diikat di sini, disiksa, dilecehkan, dan akhirnya dibunuh. Ia bisa merasakan dinginnya lantai, bau darah, dan keputusasaan Yu. Sebuah erangan tertahan keluar dari bibir Fei. Ia mengepalkan tangannya, menahan air mata yang ingin keluar. Ini bukan waktunya untuk emosi. Ini waktunya untuk bertindak.
Ia mengeluarkan kapas steril dan mulai mengambil sampel dari noda darah yang bersinar di bawah lampu UV. Ia mengumpulkannya ke dalam wadah sampel kecil, memberinya label dengan tanggal dan lokasi. Ia juga mengambil sampel residu kimia yang bersinar. Setiap gerakan dilakukan dengan presisi, meskipun tangannya sedikit bergetar.
Saat ia sedang sibuk mengumpulkan sampel, sebuah suara samar tiba-tiba memecah keheningan. Suara langkah kaki. Berat. Lambat.
Fei membeku. Ia mematikan senter kepalanya, bersembunyi di balik tumpukan kotak-kotak terdekat. Jantungnya berdebar kencang, nyaris meledak di dadanya. Apakah ia sendirian? Atau ada orang lain di sini?
Langkah kaki itu semakin dekat. Ada cahaya senter yang menembus kegelapan, menyapu dinding-dinding gudang. Seseorang sedang melakukan patroli. Penjaga keamanan. Mereka pasti dikirim untuk membersihkan sisa-sisa akhir, untuk memastikan tidak ada jejak yang tertinggal.
Fei menahan napas, tubuhnya merapat ke dinding kotak. Ia bisa mendengar suara napas berat, dan kemudian, sebuah batuk pelan. Cahaya senter itu menyapu tepat di atas kepalanya, hanya beberapa inci dari tempat persembunyiannya. Ia bisa merasakan hawa dingin dari kehadiran orang itu.
"Sialan, bau apa ini?" gumam suara serak itu. "Masih bau bangkai. Padahal sudah disemprot."
Fei merasakan bulu kuduknya merinding. "Bau bangkai." Mereka menyemprot gudang ini untuk menghilangkan bau darah dan kematian.
Penjaga itu berhenti sejenak, tampaknya mengamati area tempat Fei tadi mengumpulkan sampel. Fei berdoa dalam hati agar lampu UV dan wadah sampelnya tidak terlihat.
"Aduh, dingin banget malam ini," gerutu penjaga itu, lalu melangkah pergi, cahayanya perlahan menjauh.
Fei menunggu. Menunggu sampai suara langkah kaki itu benar-benar menghilang, sampai cahaya senter itu tidak terlihat lagi. Butuh waktu yang terasa seperti keabadian. Keringat dingin membasahi punggungnya. Ia hampir tertangkap. Nyaris.
Setelah memastikan penjaga itu pergi, Fei perlahan keluar dari persembunyiannya. Ia harus segera pergi. Ia sudah mendapatkan apa yang ia butuhkan.
Ia kembali ke pintu servis kecil, membuka kunci dari dalam, dan menyelinap keluar. Ia menutup pintu itu dengan hati-hati, memastikan tidak meninggalkan jejak. Ia merangkak kembali melalui celah pagar, merasakan goresan kawat berduri lagi, tetapi kali ini ia tidak peduli. Adrenalin masih memompa kencang.
Ia berlari kecil menuju mobilnya, tidak lagi memedulikan suara langkah kakinya. Ia harus keluar dari tempat terkutuk ini secepat mungkin.
Ketika ia tiba di mobilnya, Fei membuka pintu, lalu melirik ke wiper kaca depan.
Ada sesuatu yang terselip di sana. Sebuah kartu kecil.
Jantung Fei mencelos. Ia mengambil kartu itu dengan tangan gemetar. Di satu sisi, ada gambar seekor burung gagak hitam dengan sayap terentang, mengapit sebuah mata tunggal—simbol yang sama persis dengan yang terukir di pilar gudang. Di sisi lain, sebuah tulisan singkat, dicetak dengan huruf rapi, namun terasa dingin dan mengancam:
"Kami tahu kau sedang mencarinya."
Fei merasakan darahnya mengering. Mereka tahu. Mereka mengawasinya. Sejak kapan? Sejak ia datang ke Saint Glory? Atau bahkan sejak ia menerima kartu memori itu?
Sebuah firasat dingin menjalar di punggungnya. Ia mendongak, menatap kegelapan di sekitar. Apakah ada mata yang mengawasinya sekarang? Apakah ada lensa kamera yang merekam setiap gerakannya?
Fei segera masuk ke mobil, mengunci pintu, dan menyalakan mesin. Ia melaju pergi, meninggalkan kompleks gudang itu di belakangnya. Namun, kartu kecil di tangannya, dengan gambar burung gagak hitam yang mengancam, adalah pengingat yang mengerikan. Ia telah berhasil mendapatkan bukti fisik, tetapi ia juga telah mengumumkan keberadaannya. Ia telah menjadi target.
Perburuan Fei sekarang, baru saja dimulai, dan ia sudah menjadi yang diburu....