NovelToon NovelToon
Kupinjam Waktu Untuk Membalasmu

Kupinjam Waktu Untuk Membalasmu

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Berondong / Ketos / Reinkarnasi / Obsesi / Pembaca Pikiran / Tamat
Popularitas:458
Nilai: 5
Nama Author: Ranu Kallanie Jingga

Seorang wanita yang dikhianati dan dihancurkan hidupnya kembali ke masa kuliah 6 tahun lalu. Berbekal ingatan masa depan, ia bertransformasi dari si "Memey" yang naif menjadi Odelyn yang predator, demi menghancurkan pria yang pernah menghamilinya dan meninggalkannya begitu saja. Memiliki misi Glow Up dan pola hidup sehat secara ekstrem buat balas dendam. Tapi dia malah terjebak di tengah konflik keluarga konglomerat yang misterius.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cemas

Pagi itu, Gavin datang ke kelas lebih awal dari biasanya. Dia duduk di kursi tengah, matanya terus melirik ke kursi barisan depan tempat Odelyn biasanya duduk. Jam menunjukkan pukul 08.00, dosen sudah masuk, tapi kursi itu tetap kosong.

​Gavin mulai gelisah. Dia bolak-balik mengecek HP, berharap ada kabar atau setidaknya status WhatsApp dari Odelyn. Tapi nihil. Odelyn seolah hilang ditelan bumi. Konsentrasinya buyar total. Dia bahkan nggak mendengarkan penjelasan dosen sama sekali.

​"Mey mana ya?" bisiknya ke teman sebelah, yang cuma dijawab dengan gelengan kepala.

​Yang Gavin nggak tahu, saat itu gue lagi duduk di ruangan Dekan. Pak Burhan, dosen senior yang paling disegani, baru saja menawarkan gue untuk bergabung dalam proyek riset besar tingkat nasional. "Kemampuan analisis kamu kemarin luar biasa, Odelyn. Saya butuh orang seperti kamu," ucap beliau.

​Gue tersenyum tipis. Ini adalah salah satu pintu sukses yang di kehidupan dulu nggak pernah gue buka karena sibuk ngerjain tugas-tugas Gavin.

Malam harinya, di kamar kos, gue baru saja selesai mempelajari berkas proyek ketika HP gue bergetar. Sebuah pesan masuk pukul 22.15.

​Gavin: "Mey, lo nggak masuk kelas tadi? Pak Burhan nanyain lo. Tugas kelompok kita gimana?"

​Gue membiarkan pesan itu selama satu jam. Gue sengaja membiarkan dia menunggu, merasakan sensasi diabaikan yang dulu selalu dia berikan ke gue. Baru pukul 23.30 gue balas.

​Odelyn: "Gue lagi ada urusan sama Pak Burhan soal proyek risetnya. Tugas kelompok aman kok, bagian gue udah selesai. Ada apa lagi?"

​Hanya butuh waktu satu detik bagi Gavin untuk membalas. Dia pasti lagi memegang HP-nya, menunggu balasan gue.

​Gavin: "Proyek riset? Gila, lo hebat banget bisa ditarik Pak Burhan. Tapi... lo nggak apa-apa kan? Tadi gue liat lo pucet pas terakhir di perpus. Asma lo aman?"

​Gue menyeringai. Perhatiannya sudah mulai bergeser dari "urusan tugas" ke "urusan perasaan". Gue nggak membalas lagi, sampai dia mengirimkan pesan berikutnya lima menit kemudian.

​Gavin: "Besok malem ada acara nggak? Ada kafe baru di daerah Setia Budi, katanya dimsumnya enak. Gue pengen bahas... proyek lo itu. Sekalian lo bisa jelasin materi kelas hari ini yang gue nggak paham. Gue jemput ya?"

​Gue menatap layar itu. Ini dia. First date. Tapi di mata Gavin, dia mungkin masih mau pakai kedok "bahas materi". Padahal gue tahu, dia bener-bener udah nggak tahan pengen ketemu gue.

Malam itu, di depan kos, sebuah mobil sport merah dengan atap terbuka sudah terparkir. Gavin berdiri di samping pintu, mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung sampai siku. Dia terlihat sangat percaya diri, sampai gue melangkah keluar dari gerbang.

​Gue sengaja menyembunyikan poni rata gue dengan gaya rambut wavy curly yang elegan. Little black dress yang pas di badan dan heels tipis membuat langkah gue terdengar mantap di aspal. Tanpa kacamata kotak, tanpa baju kedodoran. Gue bisa lihat jakun Gavin naik-turun saat dia menatap gue tanpa berkedip.

​"Odelyn?" suaranya hampir berbisik. "Lo... lo beda banget."

​Gue cuma tersenyum tipis, tipe senyum yang mahal. "Kenapa? Lo nggak suka?"

​"Bukan nggak suka. Gue cuma... lupa cara napas bentar," jawabnya jujur, sebuah pengakuan yang jarang keluar dari mulut sombongnya. Dia buru-buru membukakan pintu mobil buat gue—sesuatu yang nggak pernah dia lakukan untuk cewek-cewek lain di kampus.

​Kami makan malam di Setia Budi. Sepanjang makan, Gavin nggak fokus sama dimsumnya. Dia terus-menerus menatap gue, mencoba mencari sisa-sisa "Memey" yang dulu bisa dia remehkan. Tapi dia nggak menemukannya. Di depannya sekarang adalah wanita kelas atas yang bicaranya cerdas dan tatapannya penuh rahasia.

​Begitu selesai, Gavin nggak langsung mengantar gue pulang. Dia memutar kunci mobilnya, dan atap mobil sport itu perlahan terbuka, membiarkan angin malam Medan yang sejuk masuk.

​"Besok libur, kan? Gue nggak mau malam ini selesai secepat ini," katanya sambil menginjak pedal gas.

​Kami berkeliling kota, membelah jalanan Medan yang mulai sepi di bawah lampu-lampu jalan. Rambut curly gue tertiup angin, dan gue tahu Gavin sesekali melirik lewat spion tengah, memuja pemandangan di sampingnya.

​"Gue nggak pernah ngerasa se-intimidasi ini sama cewek, Odelyn," ucap Gavin tiba-tiba di tengah keheningan. "Gue pikir gue kenal lo. Tapi ternyata gue nggak tahu apa-apa tentang lo."

​Gue menyandarkan kepala, menatap bintang-bintang di langit yang bergerak cepat. "Mungkin karena selama ini lo cuma fokus sama apa yang mau lo liat, Vin. Bukan apa yang sebenernya ada di depan mata lo."

​Gavin menghentikan mobilnya di sebuah spot yang menghadap ke arah city light Medan. Dia menoleh ke arah gue, jarak kami cukup dekat sampai gue bisa mencium aroma parfumnya yang maskulin.

​"Kasih gue kesempatan buat kenal Odelyn yang sekarang. The real you," katanya dengan suara rendah yang sangat serius.

​Gue menatap matanya dalam-dalam. Di dalam hati, gue tertawa. The real me adalah orang yang bakal menghancurkan hidup lo, Gavin. Tapi lo nggak perlu tahu itu sekarang.

Suasana di dalam mobil sport itu baru saja mencapai puncaknya. Gavin menatap gue dengan tatapan yang sangat dalam, seolah dunia hanya milik kami berdua di bawah langit Medan. Namun, tepat saat dia hendak bicara lagi, keheningan itu pecah oleh dering ponsel di tas gue.

​Gue merogoh tas dan mengeluarkan ponsel. Di layarnya, nama Rizky menyala terang.

​Gue bisa melihat rahang Gavin mengeras seketika saat dia melirik layar HP gue. Gue sengaja mengangkatnya dan menyalakan loudspeaker karena tangan gue lagi pura-pura membetulkan rambut yang berantakan kena angin.

​"Halo, Kak Rizky?" sapa gue tenang.

​"Halo, Odelyn. Sori banget ganggu malem-malem. Gue lagi liat progres proyek smart city yang lo kasih tadi sore. Ada beberapa poin di bagian infrastruktur digital yang perlu kita brainstorming sekarang, soalnya besok pagi gue harus setor ke dekanat. Lo ada waktu bentar?"

​Gue melirik Gavin yang sekarang sudah membuang muka ke arah jalanan, tangannya mencengkeram stir mobil sampai buku jarinya memutih.

​"Boleh, Kak. Gue lagi di luar sih, tapi bisa sambil diskusi kok," jawab gue.

​Gavin tiba-tiba berdehem keras, lalu dia mendekatkan wajahnya ke arah ponsel gue. "Ky, ini Gavin. Gue lagi bareng Odelyn. Kalau mau diskusi, sekalian aja biar gue kasih masukan. Gue juga ngerti dikit soal sistem itu," potong Gavin dengan nada kompetitif yang nggak bisa ditutupi.

​Di seberang telepon, Rizky sempat terdiam sejenak, lalu terdengar kekehan kecil yang sangat tenang.

​"Oh, ada Gavin juga? Oke, bagus kalau gitu. Jadi gini, Lyn..." Rizky mulai memaparkan masalah teknis proyek itu.

​Diskusi berjalan sekitar sepuluh menit. Gue menjawab setiap poin Rizky dengan cerdas, sementara Gavin berusaha keras memberikan ide-ide yang terdengar "wah" tapi sebenarnya nggak sejalan dengan visi proyek kami. Gue berkali-kali mengoreksi Gavin di depan Rizky, bikin ego Gavin makin berdarah.

​Tepat sebelum menutup telepon, Rizky menurunkan nada suaranya, menjadi lebih personal.

​"Oke, Lyn. Makasih ya buat bantuannya. Gue nggak sabar ketemu lo besok di kampus buat lanjutin ini. Oh iya, satu lagi..." Rizky menjeda kalimatnya. "Tadi pas di parkiran gue nggak sempet bilang, tapi malam ini... Olyn, kamu tampil cantik seperti biasanya. Selamat istirahat ya."

​Klik. Sambungan terputus.

​Hening. Sunyi total di dalam mobil itu.

​Gavin perlahan menoleh ke arah gue. Matanya merah, bukan karena ngantuk, tapi karena cemburu yang sudah mencapai ubun-ubun. Panggilan "Olyn" dari Rizky terdengar seperti tamparan buat dia.

​"Olyn?" Gavin mengulang nama itu dengan nada getir. "Dia panggil lo Olyn? Dan 'tampil cantik seperti biasanya'? Berarti dia sering liat lo dandan kayak gini?"

​Gue cuma mengangkat bahu dengan santai sambil merapikan dress hitam gue. "Mungkin. Kak Rizky orangnya emang perhatian banget sama detail kecil, Vin. Dia menghargai gue bukan cuma sebagai 'Memey' si poni rata."

​Gavin nggak membalas. Dia langsung menginjak gas dalam-dalam, mesin mobil sport itu menderu keras membelah malam. Dia nggak lagi santai, dia sekarang bener-bener merasa terancam.

1
Anonymous
Keren banyak banget plot twisnya😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!