NovelToon NovelToon
Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Aku Tidak Membencimu, Aku Hanya Selesai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Obsesi / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:33.6k
Nilai: 5
Nama Author: Erchapram

Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.

Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.

"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.

"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.

Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.

Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.

Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.

Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.

Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 - Ketika Tenang Tidak Lagi Terasa Aman

Nadira mulai menyadari bahwa hidup yang stabil justru menghadirkan ketakutan baru. Bukan takut mati. Bukan takut sakit. Takut kehilangan alasan untuk terus waspada.

Pagi itu datang dengan terlalu damai. Cahaya matahari masuk dari sela tirai, tidak menyilaukan, hanya cukup untuk membuat ruangan terasa hidup. Nadira terbangun tanpa mimpi buruk. Tanpa dada yang sesak. Tanpa alarm tubuh yang berteriak.

Dan itu membuatnya gelisah.

Ia duduk lama di tepi ranjang, memperhatikan Arvin yang masih tidur. Napasnya teratur. Wajahnya rileks terlalu tenang untuk seseorang yang hidup bersama perempuan dengan sejarah seperti Nadira.

Kenapa semuanya terasa... normal?

Pertanyaan itu tidak membawa kelegaan. Justru memicu denyut kecil di pelipis.

"Nadira?" Arvin membuka mata setengah. "Kamu kenapa?"

"Aku bangun." Jawab Nadira.

"Itu kabar baik." Katanya sambil tersenyum kecil.

Nadira ikut tersenyum, tapi ada sesuatu yang mengganjal. Ia berdiri, pergi ke kamar mandi, menatap wajahnya sendiri di cermin.

Tidak pucat. Tidak terlalu kurus. Tidak terlihat seperti seseorang yang hampir mati. Dan itu terasa salah.

"Aku tidak boleh lengah." Bisiknya.

Hari itu Nadira memutuskan keluar sendiri. Bukan karena ingin kabur. Lebih karena ingin membuktikan bahwa ia masih bisa berdiri tanpa pengaman emosional.

Ia berjalan menyusuri trotoar, melewati kafe-kafe kecil, suara kendaraan, orang-orang dengan hidup yang tidak mengenalnya.

Tubuhnya terasa cukup kuat. Tapi setiap langkah disertai kesadaran berlebih apakah napasnya masih teratur, apakah kepalanya ringan, apakah jantungnya berdetak terlalu cepat.

Burnout mental muncul dalam bentuk berbeda... kewaspadaan konstan.

Ia duduk di bangku taman, membuka botol air, meminum seteguk. "Aku baik-baik saja." Katanya keras-keras.

Seorang ibu yang lewat menoleh sebentar, lalu pergi. Nadira tertawa kecil. Gugup.

"Kenapa aku masih bicara seperti ini?"

Trauma tidak selalu datang sebagai kilas balik. Kadang ia muncul sebagai kebutuhan untuk memastikan hidup terus berjalan.

Sore itu, Arvin pulang lebih cepat.

"Kamu kelihatan capek." Katanya setelah melihat Nadira duduk di sofa, tatapannya kosong.

"Aku tidak melakukan apa-apa." Jawab Nadira cepat. Pride muncul lagi.

"Itu juga melelahkan." Kata Arvin ringan.

Nadira menoleh tajam. "Aku bukan pasien."

Arvin mengangguk. "Aku tahu."

Nada netral itu tidak memadamkan amarah Nadira. Justru membuatnya kehilangan sasaran.

"Kenapa kamu selalu tenang?" Tanyanya, sedikit menantang.

"Karena aku memilih tidak panik." Jawab Arvin.

"Itu mudah buatmu." Potong Nadira. "Tubuhmu tidak pernah mengkhianatimu."

Kalimat itu keluar sebelum sempat disaring.

Sunyi.

Arvin menatapnya lama. Tidak tersinggung, tapi jelas terluka.

"Kamu benar." Katanya akhirnya. "Aku tidak tahu rasanya hidup dengan rasa dikhianati oleh tubuh sendiri."

Guilt langsung menggigit Nadira.

"Tapi aku tahu rasanya mencintai seseorang tanpa ingin menjadi pengontrol hidupnya." lanjut Arvin.

Nadira menunduk.

"Aku tidak sedang menuduhmu." Katanya pelan. "Aku sedang lelah."

Nadira menarik napas panjang. "Aku juga."

Malam itu mereka makan dalam diam yang tidak canggung, tapi penuh pikiran.

Setelahnya, Nadira tiba-tiba berkata. "Aku takut kalau aku tidak sibuk, aku akan runtuh lagi."

Arvin berhenti mencuci piring. "Apa yang membuatmu percaya itu?"

"Karena selama ini, aku bertahan dengan memaksa." Jawab Nadira jujur. "Kalau aku berhenti, aku takut aku hilang."

Arvin mendekat, bersandar di meja. "Bagaimana kalau versi kamu yang tidak memaksa justru versi yang paling jujur?"

Rage Nadira ingin membantah. Tapi tubuhnya terlalu lelah.

"Aku tidak tahu siapa aku tanpa krisis." Katanya.

Arvin tidak langsung menjawab. Ia mengambil handuk, mengeringkan tangan, lalu duduk di depan Nadira.

"Mungkin kamu tidak perlu tahu sekarang." Katanya. "Mungkin kamu hanya perlu mengizinkan dirimu ada."

Kata mengizinkan itu asing. Nadira selalu merasa hidup harus direbut, bukan diberi izin.

Malam semakin larut ketika Nadira merasakan nyeri tumpul di punggung dan leher. Bukan sakit parah. Tapi cukup untuk mengingatkannya bahwa tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Ia meringis saat berdiri.

"Kamu kenapa?" Tanya Arvin.

"Cuma pegal." Jawab Nadira refleks.

Arvin tidak memaksa. Tapi ia berkata, "Kalau kamu mau istirahat lebih awal, tidak apa-apa."

Pride Nadira ingin menolak. Tapi tubuhnya sudah memberi suara. Ia berbaring lebih cepat dari biasanya. Lampu diredupkan. Arvin ikut berbaring di sampingnya.

"Nadira." Katanya pelan. "Kamu tidak perlu selalu kuat di depanku."

Kalimat itu menyentuh sesuatu yang rapuh.

"Aku takut kalau aku tidak kuat, kamu akan melihat betapa berantakannya aku." Jawab Nadira.

"Aku sudah melihatnya." Kata Arvin tanpa ragu. "Dan aku masih di sini."

Tidak ada janji selamanya. Tidak ada sumpah berlebihan. Hanya fakta...

Air mata Nadira jatuh diam-diam. Tidak deras. Tidak dramatis.

Beberapa hari kemudian, Nadira mengalami kemunduran kecil. Ia pingsan singkat di kamar mandi. Tidak lama. Tidak berbahaya. Tapi cukup untuk mengguncang.

Ketika sadar, ia menemukan dirinya di lantai, Arvin berlutut di sampingnya, wajahnya tegang.

"Aku baik-baik saja." Kata Nadira cepat, bahkan sebelum Arvin sempat bicara.

"Duduk dulu." Jawab Arvin tegas.

Rage muncul bukan karena Arvin, tapi karena kenyataan.

"Aku benci ini." Kata Nadira sambil menutup wajah. "Aku pikir aku sudah lewat."

Arvin membantu Nadira duduk, menyandarkannya ke dinding. "Kesembuhan bukan garis lurus."

"Aku lelah jatuh." Bisik Nadira. "Aku lelah jadi rapuh."

Arvin menatapnya. "Rapuh bukan lawan dari kuat. Rapuh adalah kondisi manusia."

Kalimat itu tidak menyembuhkan. Tapi cukup untuk menenangkan.

Malam itu, Nadira menolak tidur. Ia duduk di ruang tamu, menulis di buku catatan...

[Aku marah karena tubuhku mengingat hal-hal yang ingin kulupakan.]

[Aku bersalah karena aku menyakiti orang yang tidak berniat menyakitiku.]

[Aku bangga karena aku masih hidup, meski caraku berantakan.]

Ia berhenti menulis.

Obsesi lama mencoba muncul...

[Kamu harus lebih baik.]

Nadira menggarisbawahi satu kalimat terakhir.

[Tapi aku tidak harus sempurna untuk layak dicintai.]

Kalimat itu membuat dadanya sesak bukan karena sedih, tapi karena asing.

Hubungannya dengan Arvin mulai masuk fase yang lebih tenang dan justru lebih menantang.

Tidak ada drama besar. Tidak ada krisis eksternal. Yang ada hanyalah dua orang dengan luka masing-masing, belajar tidak menjadikan luka itu pusat segalanya.

Suatu malam, Arvin berkata, "Aku dapat tawaran pindah kota lagi. Sementara."

Jantung Nadira berdegup keras. "Berapa lama?" Tanyanya, berusaha tenang.

"Beberapa minggu. Aku belum jawab."

Trauma Nadira langsung menyala. Bayangan ditinggal, sendirian, kembali muncul.

"Kamu mau pergi?" Tanyanya pelan.

"Aku mau dengar perasaanmu." Jawab Arvin.

Pride Nadira ingin berkata aku tidak apa-apa. Tapi tubuhnya sudah lelah berbohong.

"Aku takut." Katanya jujur. "Tapi aku juga tidak mau menahanmu."

Arvin tersenyum tipis. "Itu jawaban yang dewasa.

Nadira menghela napas. "Aku belajar."

Malam itu, mereka berbaring berdampingan, tidak saling memeluk. Tenang terasa rapuh, tapi nyata.

"Aku tidak tahu masa depan seperti apa." Kata Nadira. "Aku hanya tahu aku tidak mau kembali hidup dalam ketakutan."

Arvin menoleh. "Aku tidak bisa menjanjikan tanpa takut. Tapi aku bisa menjanjikan kejujuran."

Itu cukup.

Nadira tertidur dengan tubuh yang masih menyimpan nyeri, pikiran yang masih gaduh, dan hati yang tidak lagi sendirian.

Hidup barunya tidak sempurna. Cintanya tidak menyembuhkan segalanya. Tapi kini, ketika rasa sakit datang, ia tidak langsung berpikir tentang akhir. Ia berpikir tentang pagi berikutnya.

Tentang memilih bangun lagi. Tentang mengatakan, aku masih di sini tanpa perlu membuktikan apa pun. Dan untuk Nadira, itu bukan akhir cerita. Itu awal hidup yang benar-benar ia pilih.

1
sukensri hardiati
nadira.....jangan keras kepala...semua orang sayang kamu...tp kamu nggak sayang dirimu sendiri
mimief
jujur itu mahal..
tapi kalau dengan konteks yg berbeda akan lebih banyak yg terluka..
mimief
walaupun terkesan kaku bahasa nya.
tapi sialnya ini lah yg terjadi di kehidupan realita
yg punya prinsip dan idealisme akan tersingkir kan.
korupsi dan kolusi yg terorganisir dan sialnya kita semua menormalisasikan dan ikut menikmati nya.
kalau mau jujur malah dibilangin nya aneh dan berlebihan.
sebenarnya salahnya dimana?
mimief
hmmm...
bales dendam yg epic adalah membuat diri sendiri nyaman dengan hidup kita.
bukan membalas dengan membuta tapi pada ending malah kekosongan yg kita terima
mimief
dan berhenti keras kepala untuk sesuatu yg dikira akan memberikan bahagia.ternyata hanya fatamorgana
💞DARRA💞💖
aq baca bab 1-2 udah sesek karna hampir sama dengan yg kujalani
Mamah Kaila
tahu ah dialognya terlalu membosankan, jadi hambar
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐚𝐝𝐢𝐫𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐨𝐛𝐬𝐞𝐬𝐢 𝐛𝐧𝐠𝐭 𝐝𝐢𝐚 𝐤𝐲𝐤 𝐩𝐠𝐧 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐞 𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠𝟐 𝐤𝐥𝐨 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐩𝐝𝐡𝐥 𝐩𝐫𝐜𝐦....


𝐤𝐫𝐧 𝐛𝐫𝐡𝐫𝐩 𝐩𝐝 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫 𝐤𝐞𝐜𝐞𝐰𝐚

𝟗𝟗 𝐤𝐞𝐛𝐚𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐩𝐚𝐝𝐚 𝐦𝐚𝐧𝐮𝐬𝐢𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐝𝐢𝐥𝐮𝐩𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐨𝐥𝐞𝐡 𝟏𝐤𝐞𝐛𝐮𝐫𝐮𝐤𝐚𝐧, 𝐤𝐦𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐡𝐫𝐬 𝐦𝐞𝐦𝐛𝐮𝐤𝐭𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐞 𝐬𝐢𝐚𝐩𝐚𝐩𝐮𝐧 𝐤𝐫𝐧 𝐢𝐭𝐮 𝐭𝐝𝐤 𝐩𝐧𝐭𝐧𝐠 𝐧𝐚𝐝 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐦𝐮 𝐬𝐧𝐝𝐢𝐫𝐢 𝐬𝐚𝐣𝐚 𝐬𝐝𝐡 𝐜𝐤𝐮𝐩, 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐍𝐀 𝐀𝐏𝐀? 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐍𝐘𝐔𝐊𝐀𝐈𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐁𝐔𝐓𝐔𝐇 𝐈𝐓𝐔, 𝐎𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐘𝐆 𝐌𝐄𝐌𝐁𝐄𝐍𝐂𝐈 𝐌𝐔 𝐓𝐈𝐃𝐀𝐊 𝐏𝐄𝐑𝐂𝐀𝐘𝐀 𝐈𝐓𝐔.. 𝐭𝐡𝐚𝐭𝐬 𝐬𝐢𝐦𝐩𝐥𝐞 𝐧𝐚𝐝 𝐣𝐠𝐧 𝐝𝐢𝐩𝐥𝐢𝐧𝐭𝐢𝐫 😭😭🤪🤪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐠𝐚𝐦𝐛𝐚𝐫𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐥𝐨 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐬𝐞𝐛𝐚𝐛 𝐚𝐝𝐚 𝐚𝐤𝐢𝐛𝐚𝐭 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐬𝐞𝐭𝐢𝐚𝐩 𝐤𝐞𝐩𝐮𝐭𝐮𝐬𝐚𝐧 𝐚𝐝𝐚 𝐤𝐨𝐧𝐬𝐞𝐤𝐰𝐞𝐧𝐬𝐢....

𝐦𝐧𝐞𝐫𝐭𝐪𝐮 𝐠𝐢𝐭𝐮 𝐬𝐢𝐡.... 𝐠𝐤 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐞𝐫 𝐤𝐫𝐧 𝐚𝐪 𝐠𝐤 𝐤𝐮𝐥𝐢𝐚𝐡 😁😁😁

𝐣𝐝𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐚𝐫𝐢𝐤 𝐤𝐞𝐬𝐢𝐦𝐩𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐬𝐭𝐥𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐣𝐚 𝐡𝐞𝐡𝐞𝐡𝐞𝐠
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐞𝐡𝐦 𝐞𝐡𝐦 𝐞𝐡𝐦 𝐛𝐫𝐬 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐩𝐮𝐢𝐬𝐢 𝐤𝐫𝐧 𝐩𝐞𝐫𝐜𝐚𝐤𝐚𝐩𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚 𝐭𝐞𝐫𝐥𝐚𝐥𝐮 𝐭𝐨 𝐭𝐡𝐞 𝐩𝐨𝐢𝐧𝐭 𝐭𝐧𝐩 𝐞𝐦𝐛𝐞𝐥𝟐 𝐭𝐧𝐩 𝐛𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐬𝐢 𝐛𝐮𝐬𝐮𝐤 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐚𝐩𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐢𝐭𝐮😁😁😁 𝐨𝐯𝐞𝐫 𝐚𝐥𝐥 𝐛𝐠𝐬 𝐬𝐢𝐡 😘😘😘
Hari Saktiawan
cerita tak masuk akal
bakpao
/Good/
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐣𝐡𝐭 𝐩𝐝 𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐚𝐤𝐧 𝐣𝐚𝐭𝐮𝐡 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐡, 𝐜𝐩𝐭 / 𝐥𝐦𝐛𝐭 𝐢𝐭𝐮 𝐩𝐚𝐬𝐭𝐢 😤😤😤
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝟐 𝐢𝐧𝐢 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐤𝐞𝐫𝐞𝐧 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐭𝐩 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐢𝐤𝐢𝐭, 𝐭𝐩 𝐲𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝐚𝐝𝐮𝐭 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐩𝐞𝐧𝐨𝐤𝐨𝐡𝐚𝐧 𝐚𝐦𝐛𝐮𝐫𝐚𝐝𝐮𝐥 𝐭𝐩 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐧𝐲𝐤 🤪🤪🤪😤😤😤
Muhammad Azri
certanya bertele tele muter2 d situ2 aja , gk jelas....
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐤 𝐝𝐢𝐭𝐚𝐧𝐠𝐠𝐞𝐩𝐢𝐧 𝐭𝐚𝐮 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐡𝐬 𝐈𝐧𝐠𝐠𝐫𝐢𝐬𝐧𝐲𝐚 " 𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐩𝐢𝐧𝐭𝐮 𝐥𝐞𝐛𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐫𝐠𝐢 " 😡😡😡
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐛𝐚𝐫𝐮 𝐦𝐚𝐦𝐩𝐢𝐫 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫😊
Asyatun 1
keren thoor
Gristia Pramesti
bagus
Erchapram: Terima kasih
total 1 replies
Ana Akhwat
Ceritanya membingungkan dari awal sampai akhir yang bahas tentang mengalah, bertahan, tertekan, trauma dll, tidak ada akhir bahagia serasa hidup drama terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!