Nadira Savitri mati di lorong kampus, sendirian. Dengan pesan yang tak pernah dibaca tunangannya. Saat membuka mata, waktu berputar kembali satu tahun sebelum kematiannya.
Raka Mahardika tetap sama, dingin, sibuk BEM, dan selalu percaya pada Aluna.
"Aku cuma minta kamu dengar aku sekali saja." Suara Nadira dulu bergetar.
"Kamu terlalu sensitif, Nadira." Jawab Raka tanpa menoleh.
Kesempatan kedua tidak membuat Nadira berjuang lebih keras. Justru sebaliknya, dia menyerah. Bukan dengan tangisan, tapi dengan diam. Dia berhenti menjelaskan, berhenti menunggu, berhenti berharap.
Perubahan Nadira perlahan membuat Raka gelisah. Aluna mulai kehilangan kendali.
Di saat yang sama, Dr. Arvin Pradipta, dosen yang selama ini hanya mengamati dari jauh, hadir bukan sebagai penyelamat, tapi sebagai tempat pulang yang aman. Cinta yang tidak berisik, tidak menuntut, dan tidak melukai.
Ini bukan kisah balas dendam dengan darah.
Ini tentang pergi saat mereka akhirnya ingin bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 - Ketika Tenang Tidak Lagi Terasa Aman
Nadira mulai menyadari bahwa hidup yang stabil justru menghadirkan ketakutan baru. Bukan takut mati. Bukan takut sakit. Takut kehilangan alasan untuk terus waspada.
Pagi itu datang dengan terlalu damai. Cahaya matahari masuk dari sela tirai, tidak menyilaukan, hanya cukup untuk membuat ruangan terasa hidup. Nadira terbangun tanpa mimpi buruk. Tanpa dada yang sesak. Tanpa alarm tubuh yang berteriak.
Dan itu membuatnya gelisah.
Ia duduk lama di tepi ranjang, memperhatikan Arvin yang masih tidur. Napasnya teratur. Wajahnya rileks terlalu tenang untuk seseorang yang hidup bersama perempuan dengan sejarah seperti Nadira.
Kenapa semuanya terasa... normal?
Pertanyaan itu tidak membawa kelegaan. Justru memicu denyut kecil di pelipis.
"Nadira?" Arvin membuka mata setengah. "Kamu kenapa?"
"Aku bangun." Jawab Nadira.
"Itu kabar baik." Katanya sambil tersenyum kecil.
Nadira ikut tersenyum, tapi ada sesuatu yang mengganjal. Ia berdiri, pergi ke kamar mandi, menatap wajahnya sendiri di cermin.
Tidak pucat. Tidak terlalu kurus. Tidak terlihat seperti seseorang yang hampir mati. Dan itu terasa salah.
"Aku tidak boleh lengah." Bisiknya.
Hari itu Nadira memutuskan keluar sendiri. Bukan karena ingin kabur. Lebih karena ingin membuktikan bahwa ia masih bisa berdiri tanpa pengaman emosional.
Ia berjalan menyusuri trotoar, melewati kafe-kafe kecil, suara kendaraan, orang-orang dengan hidup yang tidak mengenalnya.
Tubuhnya terasa cukup kuat. Tapi setiap langkah disertai kesadaran berlebih apakah napasnya masih teratur, apakah kepalanya ringan, apakah jantungnya berdetak terlalu cepat.
Burnout mental muncul dalam bentuk berbeda... kewaspadaan konstan.
Ia duduk di bangku taman, membuka botol air, meminum seteguk. "Aku baik-baik saja." Katanya keras-keras.
Seorang ibu yang lewat menoleh sebentar, lalu pergi. Nadira tertawa kecil. Gugup.
"Kenapa aku masih bicara seperti ini?"
Trauma tidak selalu datang sebagai kilas balik. Kadang ia muncul sebagai kebutuhan untuk memastikan hidup terus berjalan.
Sore itu, Arvin pulang lebih cepat.
"Kamu kelihatan capek." Katanya setelah melihat Nadira duduk di sofa, tatapannya kosong.
"Aku tidak melakukan apa-apa." Jawab Nadira cepat. Pride muncul lagi.
"Itu juga melelahkan." Kata Arvin ringan.
Nadira menoleh tajam. "Aku bukan pasien."
Arvin mengangguk. "Aku tahu."
Nada netral itu tidak memadamkan amarah Nadira. Justru membuatnya kehilangan sasaran.
"Kenapa kamu selalu tenang?" Tanyanya, sedikit menantang.
"Karena aku memilih tidak panik." Jawab Arvin.
"Itu mudah buatmu." Potong Nadira. "Tubuhmu tidak pernah mengkhianatimu."
Kalimat itu keluar sebelum sempat disaring.
Sunyi.
Arvin menatapnya lama. Tidak tersinggung, tapi jelas terluka.
"Kamu benar." Katanya akhirnya. "Aku tidak tahu rasanya hidup dengan rasa dikhianati oleh tubuh sendiri."
Guilt langsung menggigit Nadira.
"Tapi aku tahu rasanya mencintai seseorang tanpa ingin menjadi pengontrol hidupnya." lanjut Arvin.
Nadira menunduk.
"Aku tidak sedang menuduhmu." Katanya pelan. "Aku sedang lelah."
Nadira menarik napas panjang. "Aku juga."
Malam itu mereka makan dalam diam yang tidak canggung, tapi penuh pikiran.
Setelahnya, Nadira tiba-tiba berkata. "Aku takut kalau aku tidak sibuk, aku akan runtuh lagi."
Arvin berhenti mencuci piring. "Apa yang membuatmu percaya itu?"
"Karena selama ini, aku bertahan dengan memaksa." Jawab Nadira jujur. "Kalau aku berhenti, aku takut aku hilang."
Arvin mendekat, bersandar di meja. "Bagaimana kalau versi kamu yang tidak memaksa justru versi yang paling jujur?"
Rage Nadira ingin membantah. Tapi tubuhnya terlalu lelah.
"Aku tidak tahu siapa aku tanpa krisis." Katanya.
Arvin tidak langsung menjawab. Ia mengambil handuk, mengeringkan tangan, lalu duduk di depan Nadira.
"Mungkin kamu tidak perlu tahu sekarang." Katanya. "Mungkin kamu hanya perlu mengizinkan dirimu ada."
Kata mengizinkan itu asing. Nadira selalu merasa hidup harus direbut, bukan diberi izin.
Malam semakin larut ketika Nadira merasakan nyeri tumpul di punggung dan leher. Bukan sakit parah. Tapi cukup untuk mengingatkannya bahwa tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Ia meringis saat berdiri.
"Kamu kenapa?" Tanya Arvin.
"Cuma pegal." Jawab Nadira refleks.
Arvin tidak memaksa. Tapi ia berkata, "Kalau kamu mau istirahat lebih awal, tidak apa-apa."
Pride Nadira ingin menolak. Tapi tubuhnya sudah memberi suara. Ia berbaring lebih cepat dari biasanya. Lampu diredupkan. Arvin ikut berbaring di sampingnya.
"Nadira." Katanya pelan. "Kamu tidak perlu selalu kuat di depanku."
Kalimat itu menyentuh sesuatu yang rapuh.
"Aku takut kalau aku tidak kuat, kamu akan melihat betapa berantakannya aku." Jawab Nadira.
"Aku sudah melihatnya." Kata Arvin tanpa ragu. "Dan aku masih di sini."
Tidak ada janji selamanya. Tidak ada sumpah berlebihan. Hanya fakta...
Air mata Nadira jatuh diam-diam. Tidak deras. Tidak dramatis.
Beberapa hari kemudian, Nadira mengalami kemunduran kecil. Ia pingsan singkat di kamar mandi. Tidak lama. Tidak berbahaya. Tapi cukup untuk mengguncang.
Ketika sadar, ia menemukan dirinya di lantai, Arvin berlutut di sampingnya, wajahnya tegang.
"Aku baik-baik saja." Kata Nadira cepat, bahkan sebelum Arvin sempat bicara.
"Duduk dulu." Jawab Arvin tegas.
Rage muncul bukan karena Arvin, tapi karena kenyataan.
"Aku benci ini." Kata Nadira sambil menutup wajah. "Aku pikir aku sudah lewat."
Arvin membantu Nadira duduk, menyandarkannya ke dinding. "Kesembuhan bukan garis lurus."
"Aku lelah jatuh." Bisik Nadira. "Aku lelah jadi rapuh."
Arvin menatapnya. "Rapuh bukan lawan dari kuat. Rapuh adalah kondisi manusia."
Kalimat itu tidak menyembuhkan. Tapi cukup untuk menenangkan.
Malam itu, Nadira menolak tidur. Ia duduk di ruang tamu, menulis di buku catatan...
[Aku marah karena tubuhku mengingat hal-hal yang ingin kulupakan.]
[Aku bersalah karena aku menyakiti orang yang tidak berniat menyakitiku.]
[Aku bangga karena aku masih hidup, meski caraku berantakan.]
Ia berhenti menulis.
Obsesi lama mencoba muncul...
[Kamu harus lebih baik.]
Nadira menggarisbawahi satu kalimat terakhir.
[Tapi aku tidak harus sempurna untuk layak dicintai.]
Kalimat itu membuat dadanya sesak bukan karena sedih, tapi karena asing.
Hubungannya dengan Arvin mulai masuk fase yang lebih tenang dan justru lebih menantang.
Tidak ada drama besar. Tidak ada krisis eksternal. Yang ada hanyalah dua orang dengan luka masing-masing, belajar tidak menjadikan luka itu pusat segalanya.
Suatu malam, Arvin berkata, "Aku dapat tawaran pindah kota lagi. Sementara."
Jantung Nadira berdegup keras. "Berapa lama?" Tanyanya, berusaha tenang.
"Beberapa minggu. Aku belum jawab."
Trauma Nadira langsung menyala. Bayangan ditinggal, sendirian, kembali muncul.
"Kamu mau pergi?" Tanyanya pelan.
"Aku mau dengar perasaanmu." Jawab Arvin.
Pride Nadira ingin berkata aku tidak apa-apa. Tapi tubuhnya sudah lelah berbohong.
"Aku takut." Katanya jujur. "Tapi aku juga tidak mau menahanmu."
Arvin tersenyum tipis. "Itu jawaban yang dewasa.
Nadira menghela napas. "Aku belajar."
Malam itu, mereka berbaring berdampingan, tidak saling memeluk. Tenang terasa rapuh, tapi nyata.
"Aku tidak tahu masa depan seperti apa." Kata Nadira. "Aku hanya tahu aku tidak mau kembali hidup dalam ketakutan."
Arvin menoleh. "Aku tidak bisa menjanjikan tanpa takut. Tapi aku bisa menjanjikan kejujuran."
Itu cukup.
Nadira tertidur dengan tubuh yang masih menyimpan nyeri, pikiran yang masih gaduh, dan hati yang tidak lagi sendirian.
Hidup barunya tidak sempurna. Cintanya tidak menyembuhkan segalanya. Tapi kini, ketika rasa sakit datang, ia tidak langsung berpikir tentang akhir. Ia berpikir tentang pagi berikutnya.
Tentang memilih bangun lagi. Tentang mengatakan, aku masih di sini tanpa perlu membuktikan apa pun. Dan untuk Nadira, itu bukan akhir cerita. Itu awal hidup yang benar-benar ia pilih.
Perlu aku cium dulu supaya sadar kayanya.
maaf kak author, aku geregetan sama Nadira 🤭🙏🙏
lebih memain kan isi hati... memberikan sudut pandang berbeda d tiap perasaan pemeran nya...
kamu hanya menemukan sedikit dialog tapi dengan detail perasaan yg lengkap.... hingga.... kamu bahkan bisa merasakan bagaimana isi hati tokoh meski hnya diam... good job Thor.... 🤗
jd gimana nih Nadira yg pernah mati dn pertunangannya sm Raka,,juga si Aluna yg ngeselin🤣
Hanya berserah pada sang penciptalah yg membuat saya tetap waras 💪
Semangat Thor mohon dilanjut🙏👍