NovelToon NovelToon
Sang Ratu Dua Dunia

Sang Ratu Dua Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Fantasi Wanita / Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: JulinMeow20

Dua Benua. Satu Darah Campuran. Sebuah Takdir yang Terbuang.

Maria Joanna adalah kesalahan terindah dalam sejarah kerajaan. Terlahir dari perpaduan darah Kekaisaran China dan Kerajaan Spanyol, identitasnya adalah rahasia yang lebih mematikan daripada perang itu sendiri. Ia dibuang, disembunyikan, dan diasah menjadi senjata rahasia.

Namun, kesunyian itu berakhir ketika Adrian, bangsawan haus kekuasaan, menculik sosok paling berharga dalam hidupnya.

Di puncak Montserrat yang diselimuti kabut, Maria Joanna melepaskan amarahnya. Dengan Shadow Step dari Timur dan Estocada dari Barat, ia menumpahkan darah demi keadilan. Di tengah dentingan pedang dan intrik pengkhianatan yang melibatkan ayah kandung yang tak pernah dikenalnya, Maria harus memilih: menjadi pion dalam permainan takhta, atau menjadi Ratu sejati yang menyatukan dunia di bawah kekuatannya.

Siapapun yang berani mengusik kedamaiannya, akan merasakan amukan Sang Ratu!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JulinMeow20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prahara di Puncak Montserrat – Darah Sang Pewaris

POV Maria Joanna

Angin di puncak Montserrat tidak lagi sekadar berhembus; ia menderu layaknya jeritan jiwa-jiwa yang teraniaya. Di ketinggian ini, oksigen terasa tipis, namun aroma kematian dan belerang terasa begitu tebal. Aku berdiri di atas tanah berbatu yang licin oleh darah prajurit, menatap dua sosok yang telah menenun benang pengkhianatan dalam hidupku: Isabel dan Adrian.

Adrian, pria yang dulu kupuja sebagai ksatria pelindungku di istana Madrid, kini bersimpuh dengan napas yang tersengal parah. Luka menganga di dadanya—hasil dari tebasan pedang Sebastian yang presisi—masih mengucurkan cairan merah kental yang membasahi jubah beludru kebesarannya. Namun, meski tubuhnya hancur, matanya tetap memancarkan kegilaan yang tak padam.

"Kau tidak akan bisa membawanya pergi, Maria," desis Adrian, tawanya terdengar seperti gesekan logam karatan di atas batu nisan. "Julia adalah kunci terakhir. Tanpa darah dari garis keturunan murni yang dikorbankan di altar kuno ini, takhta dua dunia ini hanyalah debu yang tertiup angin! Kau hanya seorang wanita dengan darah campuran yang tidak diinginkan siapa pun!"

Di belakangnya, Isabel—wanita yang selama belasan tahun kupanggil 'Ibu' namun ternyata hanyalah monster haus kekuasaan yang membunuh ibu kandungku—memegang leher Julia. Adik kecilku itu menangis tanpa suara, air matanya membasahi pipi mungilnya yang kotor oleh debu. Matanya yang bulat ketakutan menatapku, memohon keselamatan yang mungkin tak bisa kuberikan di ujung tebing yang curam ini.

"Lepaskan dia, Isabel!" teriakku, suaraku parau oleh amarah. Tanganku gemetar, bukan karena takut, tapi karena kekuatan kuno yang bergejolak di dalam nadiku. "Kau sudah kehilangan segalanya. Benteng di bawah telah jatuh. Arthur sedang menuju ke sini untuk mengambil kembali mahkota yang kau curi dengan darah!"

Mendengar nama itu, wajah Isabel berubah pucat sesaat, sebelum digantikan oleh seringai kejam yang merusak wajah aristokratnya yang cantik. "Arthur? Pria lemah yang membiarkan istrinya mati dan membuang putri kandungnya ke daratan China karena takut pada bayangannya sendiri? Dia bukan ayahmu, Maria. Dia hanyalah sisa-sisa kegagalan yang menyedihkan!"

"Cukup!" Suaraku menggelegar, membelah badai yang mulai berkumpul di puncak gunung.

Aku merasakan aliran panas dari dua garis keturunan yang berbeda menyatu dalam jantungku. Darah bangsawan Spanyol yang dingin dan penuh perhitungan, bertemu dengan api naga dari daratan China yang liar dan tak terpadamkan. Cahaya keemasan mulai berpijar dari ujung jemariku, membakar sutra China yang kukenakan.

"Aku adalah Maria Joanna de Aragon y Sun. Dan hari ini, amukanku akan menjadi akhir dari kebohongan kalian!"

Aku melesat maju. Gerakanku bukan lagi gerakan manusia biasa; itu adalah Wushu tingkat tinggi yang kupelajari dari rahib-rahib rahasia di Pegunungan Kuning. Adrian mencoba menyerangku dengan sisa tenaganya, mengayunkan belati beracun, namun dengan satu putaran tubuh yang anggun, aku menghindari serangannya dan memberikan tendangan telak di ulu hatinya.

BRAKK!

Dia terlempar menabrak pilar batu biara hingga retak. Aku tidak memberinya waktu untuk bernapas. Aku menerjang, menancapkan belati perak warisan ibuku ke bahunya, memaku tubuhnya ke batu. "Ini untuk setiap air mata yang kucucurkan di tanah pengasingan!" desisku di telinganya.

Kini, pandanganku beralih pada Isabel. Dia mundur hingga ke tepi jurang yang curam, masih mencengkeram kerah baju Julia. "Jangan mendekat! Atau aku akan membawa anak ini terjun bersamaku ke neraka!"

POV Arthur (Sang Raja Sejati)

Setiap langkah yang kuambil menaiki tangga batu Montserrat terasa seperti langkah penebusan dosa belasan tahun. Pedang di tanganku terasa berat, namun tidak seberat rasa bersalah yang menghimpit dada. Aku telah menjadi raja yang buta—tertipu oleh rayuan ular Isabel dan muslihat licin Adrian yang kukira adalah tangan kananku.

"Hancurkan gerbangnya! Jangan sisakan satu pun pengkhianat hidup!" perintahku pada Sebastian.

Sebastian, komandan setiaku, menebas setiap prajurit bayaran dengan efisiensi yang mengerikan. Wajahnya bersimbah darah, namun matanya tetap tajam menatap ke puncak. "Yang Mulia! Gerbang Barat telah runtuh! Naiklah! Maria sedang menghadapi mereka sendirian. Dia adalah putrimu... dia memiliki keberanian yang dulu pernah kau miliki!"

Aku memacu kudaku hingga hewan itu meringkik kelehahan, lalu melompat turun dan berlari mendaki sisa tanjakan. Jantungku berdegup kencang hingga telingaku berdenging. Maria, tunggu Ayah... Maafkan Ayah yang terlambat menyadari bahwa kaulah satu-satunya alasan takhta ini layak dipertahankan.

Tiba-tiba, sebuah ledakan cahaya terjadi di puncak. Aku melihat Isabel berdiri di tepi jurang, siap menjatuhkan diri bersama Julia. Maria melompat tanpa ragu.

"TIDAAAK!" Raunganku membelah langit.

Aku berlari secepat kilat, meluncur di atas tanah berbatu, dan menjatuhkan tubuhku ke pinggir tebing. Tanganku secara ajaib berhasil menangkap pergelangan kaki Maria yang sedang memeluk Julia di udara.

"Pegang dia, Maria! Ayah memegangmu! Jangan lepaskan!" teriakku. Otot-otot lengannya menegang hingga pembuluh darahnya menonjol, wajahku memerah menahan beban dua orang yang paling kucintai di dunia ini.

Dengan raungan yang membelah langit, aku menarik mereka berdua naik. Seluruh kekuatanku tercurah pada satu tarikan terakhir. Saat Maria dan Julia mendarat di tanah yang stabil, aku jatuh terduduk, napas kembang kempis.

Maria segera memeluk Julia yang gemetar hebat. Kemudian, perlahan, dia menoleh padaku. Matanya yang tajam, yang biasanya penuh curiga, kini meredup. Ada genangan air mata yang dia tahan sekuat tenaga.

"Kenapa kau mempertaruhkan nyawamu untukku setelah membuangku?" tanyanya dengan suara serak yang memilukan hati.

Aku menatapnya, membiarkan air mata yang selama ini kupendam jatuh membasahi pipiku. "Karena aku adalah seorang raja yang bodoh, Maria. Aku telah menghabiskan waktu bertahun-tahun menjaga takhta emas, tanpa menyadari bahwa mahkota sejatiku adalah putriku sendiri. Maafkan Ayah..."

Maria terdiam. Dia tidak langsung memelukku, namun dia tidak lagi memandangku sebagai musuh. Ketegangan itu sejenak mencair, seolah badai di puncak Montserrat mulai mereda. Namun, kedamaian itu hanya berlangsung sesaat.

Tiba-tiba, tawa melengking terdengar dari arah pilar tempat Adrian terpaku. Adrian tidak lagi tampak seperti manusia. Tubuhnya mulai mengeluarkan uap hitam yang pekat, dan matanya berubah menjadi putih seluruhnya.

"Kalian pikir ini sudah berakhir?" Adrian bangkit, menarik belati Maria dari bahunya seolah itu hanya tusukan jarum. Luka-lukanya menutup secara tidak wajar dengan sisik-sisik hitam yang muncul di kulitnya. "Darah Julia sudah cukup untuk membuka segelnya. Isabel hanyalah umpan, dan kalian semua hanyalah penonton untuk kebangkitan Sang Penguasa Kegelapan yang sebenarnya!"

Bumi di bawah kaki kami mulai bergetar hebat. Dari arah laut di kaki gunung, terlihat ribuan kapal dengan bendera naga hitam milik Pangeran Li dari China bersiap menembakkan meriam ke arah biara.

"Maria..." Sebastian muncul dengan napas terputus-putus, menunjuk ke langit. "Itu bukan hanya pasukan Pangeran Li. Mereka membawa penyihir terlarang dari daratan Timur!"

Maria berdiri tegak, menggenggam kembali belatinya yang kini berpijar merah. Namun, saat dia hendak melangkah, dia jatuh berlutut sambil memegang dadanya. Sebuah segel hitam tiba-tiba muncul di lehernya, menjalar seperti akar pohon yang busuk.

"Apa yang kau lakukan pada putriku, Adrian?!" raung Arthur.

"Aku tidak melakukan apa-apa," Adrian menyeringai, tubuhnya kini melayang beberapa senti dari tanah. "Itu adalah kutukan darah yang ditanamkan ibumu sendiri di rahimnya, Maria. Dan saat bulan mencapai puncaknya malam ini, tubuhmu akan menjadi wadah bagi iblis yang paling kau benci."

Maria mengerang kesakitan, matanya mulai berubah warna menjadi hitam pekat. Julia berteriak ketakutan saat melihat anaknya mulai kehilangan kesadaran.

Di bawah, armada kapal mulai melepaskan tembakan pertama. Ledakan meriam menghantam dinding biara. Maria Joanna, Sang Ratu Dua Dunia, kini terjepit di antara pengkhianatan sihir di dalam tubuhnya dan serbuan ribuan pasukan dari tanah kelahirannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!