Di bawah kuasa Kaisar Jian Feng yang dingin dan tak terpuaskan, Mei Lin hanyalah pelayan jelata yang menyembunyikan kecantikannya di balik masker. Namun, satu pertemuan di ruang kerja sang Kaisar mengubah segalanya. Aroma jasmine dan tatapan lugu Mei Lin membangkitkan hasrat liar sang Penguasa yang selama ini mati rasa. Kini, Mei Lin terjebak dalam obsesi berbahaya pria yang paling ditakuti di seantero negeri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alzahraira Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rahasia di balik jubah hitam
Setelah berhari-hari memohon dengan sisa keberaniannya, Mei Lin akhirnya mendapatkan izin dari Jian Feng untuk keluar dari istana. Tentu saja, izin itu tidak datang dengan cuma-cuma; puluhan prajurit elit berbaju hitam membuntutinya dari jarak yang cukup jauh, mengawasi setiap gerak-geriknya seperti elang mengincar mangsa. Mei Lin mengenakan jubah abu-abu kusam dengan tudung besar yang menutupi seluruh tubuh dan wajahnya, menyembunyikan pakaian sutra mewah serta perhiasan Tian-Zhi-Bao yang melekat di tubuhnya.
Mei Lin berjalan menyusuri pasar tua menuju desa asalnya. Jantungnya berdegup kencang saat mendengar desas-desus yang dibicarakan orang-orang di kedai kopi.
"Pernahkah kau dengar? Kaisar tiran kita sekarang benar-benar gila. Dia menghancurkan seluruh Hutan Kegelapan hanya demi seorang pelayan rendahan!" bisik seorang pedagang.
"Kudengar pelayan itu memiliki sihir jasmine yang memikat hati kaisar. Sekarang dia dijadikan berhala di istana. Benar-benar penghinaan bagi negara!" timpal yang lain.
Mei Lin menunduk lebih dalam, tangannya yang membawa bungkusan makanan dan koin emas gemetar. Ia tidak ingin ibu dan adik-adiknya tahu bahwa "pelayan terkutuk" yang dibicarakan semua orang adalah dirinya. Ia tidak ingin keluarganya menanggung malu atau menjadi sasaran kebencian rakyat karena obsesi sang Kaisar padanya.
Saat melewati sebuah tikungan jalan yang berbatu dan licin akibat sisa hujan, kaki Mei Lin tersandung akar pohon yang menonjol. Ia kehilangan keseimbangan dan nyaris tersungkur ke atas tanah yang kotor. Namun, sebelum tubuhnya menyentuh tanah, sebuah lengan yang kuat dan kokoh menyambar pinggangnya dengan sigap, menahan tubuhnya tetap tegak.
Mei Lin tersentak, napasnya memburu. Karena guncangan itu, tudung jubahnya merosot jatuh ke bahu, memperlihatkan wajahnya yang cantik dengan mata yang berkaca-kaca karena terkejut. Aroma jasmine yang sangat murni seketika menguar, memenuhi udara di antara mereka.
Pria yang menolongnya adalah seorang asing yang mengenakan pakaian perjalanan berkualitas tinggi dari kain wol halus yang tidak ada di negeri ini. Ia memiliki wajah yang rupawan dengan rahang tegas dan mata biru laut yang meneduhkan. Dia adalah Pangeran Alaric dari Kerajaan Barat, yang sedang melakukan perjalanan diplomatik rahasia.
Alaric terpaku. Ia telah melihat banyak wanita bangsawan di Barat, namun ia belum pernah melihat kecantikan yang begitu rapuh namun mematikan seperti wanita di pelukannya ini. Aroma jasmine yang memabukkan seolah mengunci indranya.
"Kau tidak apa-apa, Nona?" suara Alaric terdengar dalam dan penuh perhatian, tangannya masih enggan melepaskan pinggang Mei Lin. "Lantai ini sangat licin untuk wanita seanggun dirimu."
Mei Lin segera menjauhkan diri, menarik kembali tudungnya dengan terburu-buru. "T-terima kasih, Tuan. Hamba hanya tidak berhati-hati," ucap Mei Lin dengan suara gemetar sebelum ia berbalik dan berlari pergi secepat mungkin, meninggalkan Alaric yang masih berdiri diam, mencoba mengecap sisa aroma jasmine yang tertinggal di tangannya.
Namun, di balik kegelapan sebuah lorong sempit tak jauh dari sana, seorang prajurit bayaran Jian Feng mencatat setiap detail kejadian itu. Ia melihat bagaimana tangan pria asing itu membelit pinggang sang Tian-Zhi-Bao. Ia melihat bagaimana mereka saling menatap selama beberapa detik yang terasa sangat lama.
"Lapor kepada Kaisar segera," bisik pemimpin prajurit itu kepada bawahannya. "Katakan padanya bahwa 'Harta Langit' telah disentuh oleh pria asing dari Barat. Jangan lewatkan detail tentang bagaimana pria itu memegang pinggangnya."
Prajurit itu menghilang ke arah istana seperti bayangan hitam. Sementara itu, Mei Lin sampai di depan gubuknya, tidak menyadari bahwa kebaikannya mengunjungi keluarga telah memicu sumbu ledakan amarah Jian Feng yang akan menghancurkan siapa pun yang berani menyentuh apa yang ia anggap milik abadinya.
Bersambung